
Dion PoV
Di ruangan serba putih, seorang lelaki tengah duduk di ranjang pasien. Dengan tatapan kosong, dia melewati setiap detik waktunya. Jika aku seorang berhati jahat, pasti aku bahagia mendapatinya seperti ini. Rival terbesarku sedang bergelut dengan ketidakmampuan ingatan. Sayangnya aku justru merasa iba. Ingatan yang hanya bertumpu padamu, membuatku semakin ingin mempertemukan kalian.
"Nak Dion, terimakasih sudah menjenguk Rud," ucap seorang wanita paruh baya yang mengenalkan diri sebagai Bunda dari Rud.
Kuukir senyum dan kupasang wajah teramahku. "Iya, Tan. Maafkan, saya hanya datang sendiri," ujarku tanpa mengatakan alasan kenapa tidak mengajakmu.
"Bunda, mengerti," jawab Bunda Rud dengan bijaksana.
Sesekali, aku beralih pandang pada Rud yang masih setia dengan tatapan kosongnya. Saat kukembalikan tatapan, kulihat Bunda juga menatap anak lelakinya itu. Begitu menyadari pandanganku mengarah padanya, sebuah senyuman ia kembangkan.
"Nak, hal yang berkaitan dengan perasaan itu memang rumit. Kesalahan mengambil keputusan, penyesalan dan datang kembali pada waktu yang salah dilakukan Rud terhadap Rosa. Bunda meminta maaf untuk semua itu. Jangan jadikan Rud sebagai alasan untuk kalian saling menyakiti. Jodoh yang Tuhan satukan untuk kalian harus dijaga sampai akhir hayat. Kalian harus bahagia," tutur bijak Bunda yang membuka sedikit kegamangan hatiku.
"Saya melihat cinta yang sangat dalam dari Rud untuk Rosa, Tan," jelasku sambil memperhatikan lelaki itu lekat.
"Cintanya sudah terhalang tembok pernikahan kalian. Jangan khawatirkan Rud, Bunda yakin anak Bunda bisa melewati ini semua, tinggal menunggu waktunya saja," terang Bunda yang semakin menenangkan hatiku.
"Tante, maafkan jika kami egois. Kami tidak bisa banyak membantu. Hanya doa semoga Rud segera mengingat semuanya," ucapku dengan sendu.
Bunda Rud menepuk pundakku dengan lembut. "Kalian tidak egois, memang seharusnya itulah jalan yang kalian ambil. Bunda pun tidak akan mengizinkan Rosamu untuk menemani penyembuhan Rud. Dia milikmu, Nak."
Aku terharu mendengar kalimat penuturan dari Bunda Rud. Kebijaksanaan seorang ibu yang tidak menjadikan keadaan anaknya sebagai alasan untuk memisahkan, tetapi justru menyatukan. Rasa was-wasku harus kucukupkan sampai di sini.
__ADS_1
"Rud, kamu bisa melewati ini," ucapku berikutnya sebelum meninggalkan ruangan itu. Ku tepuk pundaknya sama seperti Bunda Rud yang menepuk pundakku. Sama-sama saling menguatkan dibalik doa yang menginginkan kebahagiaan, untukku dan untuknya.
******
"Pak, apa saya salah kalau menolak bertemu Mas Rud?" curhatku begitu aku sampai di apartemen Pak Aryan.
"Kamu, justru salah kalau menemuinya," jawab Pak Aryan dengan tenang.
"Kenapa Mas Dion justru memaksaku menemuinya?" gerutuku sebal.
"Suamimu itu jelmaan malaikat, kita yang manusia biasa tak akan bisa memahaminya. Kekehlah dengan keyakinanmu, aku yakin nanti dia juga akan mengerti," nasihat Pak Aryan tetap dengan gaya santainya.
"Kalian kalau ke sini sendirian, pasti lagi marahan. Benarkan?" tebak Pak Aryan yang kuangguki sebagai jawaban.
"Marahan kalian tuh gak penting. Pasti karena Rud lagi, bosen aku dengenya. Sekali-kali kek cemburunya sama aku, kenapa sama Rud lagi, Rud lagi," goda Pak Aryan sambil mengambil cemilan di toples dan mengunyahnya.
"Aww ...," pekikku lantang dan memilih diam saat kudapati yang kutabrak adalah Dion. Mematung sebentar dan kemudian mulai berjalan. Belum sempat melepas dua langkah, lenganku sudah ditahannya.
"Tetaplah di sini! Aku mencabut perintahku untukmu menemui Rud," jelasnya kemudian.
"Hmmm ... aku masih marah sama kamu. Bisa-bisanya istri disuruh nemuin mantan yang ngarep balikan," gerutuku sebal.
Kutepiskan tangannya yang memegang lenganku. Tanpa berkata lagi kutinggalkan dia. Keluar apartemen Pak Aryan dan memilih masuk ke apartemenku. Menuju kamar dan membaringkan diri di sana. Samar-samar ku dengar derap langkah yang semakin mendekat. Pintu kamar yang tak kututup sempurna, dilewati Dion begitu saja. Menuju ke arahku dan duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
Memunggungiku, Dion menyugar rambut tebalnya yang sedikit memanjang. "Aku tadi menemuinya."
Kalimat pengakuannya membuatku mengabaikan kekesalan dan duduk seketika. "Apa yang terjadi hingga kamu berubah pikiran? Apa dia baik-baik saja dan ingatannya sudah kembali?"
"Dia menyedihkan, tapi ... Bunda Rud bilang tak akan mengizinkanmu membantunya mengembalikan ingatan," terang Dion dengan menahan napas yang besar.
Kubalikkan badan Dion. Tanpa kesusahan dia sudah tepat berada di hadapanku karena ia memutar sendiri tubuhnya. "Seorang Bunda saja tak membiarkan anak lelakinya dibantu penyembuhan oleh wanita yang sudah bersuami, lalu kenapa kamu sebagai suami memaksaku untuk menemuinya? Aku tahu bagaimana hatimu, Mas. Tanpa aku sadari, selama ini aku mengenalmu dengan baik. Dan aku tahu kamu akan mengorbankan apapun asal aku bahagia. Namun, kali ini kamu salah. Sudah cukup kamu selalu berusaha membahagiakan aku dengan mengabaikan perasaanmu sendiri. Sekarang, aku yang akan membahagiakanmu!"
"Hidupku adalah untuk membahagiakanmu," terang Dion singkat tapi sudah menjawab semua alasan atas apa yang dilakukannya padaku.
"Bahagiakan aku dengan selalu beriring jalan di sisiku. Bukan di depan untuk meninggalkanku ataupun di belakang sebagai penonton atas kebahagiaanku bersama orang lain" jujurku sambil menatap erat manik hitamnya.
"Aku hanya memastikan siapa yang benar-benar akan membuatmu bahagia, aku atau dia?" ujar Dion dengan ketegaran yang kuyakin itu adalah sebuah kebohongan.
Pencinta mana yang tidak egois? Mencintai untuk membahagiakan mungkin bisa Dion lakukan. Namun aku tahu dengan pasti bahwasanya ada sudut kecil di hatinya yang tetap terluka. Hati malaikatnya tetap tak bisa meluruhkan asal-usulnya sebagai manusia biasa. Terluka dan kecewa itu pasti ada.
"Aku memang pernah ragu pada hatiku sendiri. Membiarkannya di sela pikiranku padahal seharusnya hanya kamu yang memenuhi ingatanku. Namun, celah itu sudah kututup, aku tak ingin menduakanmu, Mas," tuturku murni dari dasar hatiku yang terdalam.
Dion menggenggam jemariku erat. "Apakah aku sudah bisa menggantikan posisinya di hatimu?"
"Cinta tidak bisa saling menggantikan. Hati bukan podium kemenangan, siapa yang mencapai garis finish pertama dia yang menang. Posisimu di hatiku pemenang tunggal, Sayang. Tak ada lagi Mas Rud untuk hati Rosa sebagai seorang istri. Hanya Dion untuk Rosa," ungkapku seraya merangsek ke dalam pelukannya.
Dion pun membalas pelukanku. Sebelah tangannya membelai rambutku dengan lembut. "Maafkan, aku Sayang. Cintaku padamu membutakanku, aku ingin kamu bahagia tapi aku lupa jika seharusnya akulah yang membahagiakanku, bersamaku, disisiku, selamanya."
__ADS_1
"Dan kamu juga lupa, Mas. Kalau istrimu ini adalah si ketus yang keras kepala. Sekali jatuh cinta itu dalam. Dan sekarang aku benar-benar jatuh cinta padamu. Jangan harap aku akan melepaskanmu begitu saja, itu tidak akan terjadi," tegasku masih bertahan di pelukannya.
Kurasakan Dion bertubi-tubi menciumi puncak kepalaku. Mengeratkan pelukan dan semakin memaniskan senyumannya. Kehangatan cintanya mengalir dan menyusup ke dalam tubuhku. Cinta yang luar biasa, begitulah yang kurasa detik ini. Pertautan rasaku dan rasanya yang menyatu menjadi cinta yang bahagia.