Tentang Hati

Tentang Hati
Kamu Menggodaku


__ADS_3

"Hai, Mas, gimana pesta bujangnya semalem?" sapa Maya begitu menemukan calon suaminya sedang menonton televisi.


"Rusuh," jawab Mas Rendra santai.


Mendengar kata rusuh, bayangan yang terlintas pasti kondisi ruangan yang berantakan, penuh sampah dan penghuni yang masih tertidur tanpa aturan. Namun yang ada malah aroma nasi goreng yang wangi dari arah dapur. Ku ikuti GPS yang mengusik indra penciumanku. Ku lihat Dion sedang berdiri di depan kompor dengan spatula di tangannya.


Ku lingkarkan dua lenganku di perutnya, "I love you, Sayang."


Dion menoleh dan mengembangkan sudut bibirnya membentuk senyum yang selalu ku rindukan. "Kamu mau menyuapku? bilang sayang biar dapet nasi goreng ini."


"Tentu saja," ucapku seraya melepaskan pelukan dan mencium pipi kanannya.


"Mandi dulu, sana! Baju ganti ada di lemariku, di gantungan," perintahnya kemudian.


"Sebentar lagi, ya, aku masih mau melihatmu memasak," alasanku.


Cubitan di hidung kembali ku terima diawal pagi ini. "Jadi perawan jangan jorok!"


Ku angkat alisku untuk menggodanya. "Aku jorok aja, kamunya bucin. Gimana kalau aku gak jorok?"


"Kamu gak mandi seminggu, aku juga tetep cinta," gombalnya lagi.


Aku memicingkan mataku. Rayuannya itu manis sekaligus miris. Apakah aku sejorok itu? Seminggu gak mandi? Ah, mana ada begitu.


"Tapi sebelum seminggu aku akan memandikanmu," godanya.


Skak mat!


Meleleh lagi hatiku. Ah ... dasar makhluk hawa. Tahu digombalin tetep aja gak kebal, tetep girang juga.


"Pak Aryan sudah pulang, Sayang?" tanyaku karena tak melihatnya dari tadi.


"Aku di sini," jawab Pak Aryan yang baru saja menginjakkan kaki di dapur.


Aku menoleh ke arahnya. Rupanya ia baru saja selesai mandi. Terlihat dari rambut basahnya sekaligus wajahnya yang sudah segar. Kemeja kerja yang semalam ia pakai juga sudah berganti dengan kaos pendek dan celana jeans yang sama-sama berwarna hitam. Membuatnya nampak lebih muda dari biasanya yang selalu berpakaian formal.


"Kalian, pagi-pagi udah mesra-mesraan aja, bikin jiwa jombloku menggeliat," ucapnya kemudian memilih duduk di kursi dekat kami.


"Makanya move on dong, Bapak yang terhormat," celetukku.


"Gimana mau move on, kalau kamunya mesra-mesraan gitu, aku kan juga pengen," ucapnya tanpa ragu meskipun ada Dion di depannya.


Ku perhatikan wajah kekasihku yang juga mendengar celotehan Pak Aryan. Sepertinya dia menahan rasa cemburunya. Eh ... bukan cemburu tapi amarah karena Pak Aryan benar-benar menggodaku di depannya tanpa ragu. Namun ia tetap fokus dengan nasi goreng yang sedang ia bolak-balik dengan spatulanya.


Kembali ku sentuhkan bibirku pada pipi kanan Dion. "Ini motivasi biar Bapak cepat cari pacar." Satu tepukan dua nyamuk mati sekaligus. Sebuah ciuman untuk meredam amarah Dion sekaligus untuk menyadarkan Pak Aryan untuk segera memusnahkan perasaannya padaku.


Dion nampak terkejut dengan apa yang ku lakukan. Senyum terkembang dari bibirnya, menunjukkan kalau ia telah menangkan hatiku pagi ini. Sementara, aku bisa menemukan suatu kegetiran rasa dari hati Pak Aryan. Dia sempat menolehkan wajahnya dariku sejenak. Beberapa detik kemudian ia kembali melihat kami dengan senyumnya.


Dia pintar menata hatinya, aktor yang hebat!


"Sayang, bantu aku ambilkan piring untuk plating," pinta Dion.


Dengan cekatan ku siapkan lima piring di meja yang berada di hadapan Pak Aryan. Dion mulai membagi masakannya ke dalan lima piring tersebut. Aku membantunya membuat garnis, potongan timun dan tomat.


Tiba-tiba Dion melemparkan satu buah cabe ke arah Pak Aryan. "Jangan menatap wanitaku seperti itu."


Pak Aryan nampak gelagapan, tak menyangka jika Dion menangkap basah dirinya yang tengah menatapku. Ku geleng-gelengkan kepalaku menyaksikan tingkah dua lelaki di hadapanku.

__ADS_1


"Mau sarapan di sini atau di depan tv?" tanyaku mengalihkan ketegangan mereka.


"Tanya pengantinnya, aja," saran Dion.


Aku pun beranjak menemui Maya yang tengah berdua di ruang tamu. "Kalian menodai mata suciku," ucapku setelah menemukan mereka sedang suap-suapan kuaci. "Yang mulia, mau sarapan di sini atau di meja makan?" tanyaku kemudian.


"Bawa sini, aja," jawab Mas Rendra.


"Hu uh," timpal Maya dengan mulutnya yang penuh dengan kuaci.


Langkahku berhenti setelah sempat dua langkah meninggalkan mereka. "Pending dulu kemesraan kalian, ada jomblo yang jiwanya sedang meronta-ronta."


Tanpa menunggu reaksi mereka, aku kembali melangkahkan kaki meninggalkan ruang tamu dan kembali ke dapur. Dion dan Pak Aryan terlibat obrolan santai. Sesekali senyuman terlihat dari wajah mereka saling bergantian.


"Ayo, bawa ke ruang tamu," perintahku pada mereka berdua.


"Kamu, gak mandi dulu, Sayang?" tanya Dion melihat ke arahku.


"Makan dulu bolehkan, ya?" rengekku manja.


"Mandi dulu, aku juga mau mandi. Atau mau aku mandiin sekalian?" ucap Dion yang sukses membuatku tak berkutik.


Setelah selesai menyiapkan sarapan di ruang tamu, Dion tak ikut duduk di sofa. " Kalian sarapan, aja, dulu. Aku mau mandi dulu," seru Dion.


Dion kemudian merangkulku, "Ayo!"


"Masih pagi, woy ...! Langsung mandi! Jangan ngapa-ngapain dulu, baru mandi."


"Makasih sepupuku sudah diingatkan untuk ngapa-ngapain," balas Dion dengan senyum smirknya.


Ku lemparkan senyuman untuk candaannya. Sok-sokan berlagak mesum padahal remnya masih cakram. Hembusan napas kasarku berhasil membuatnya memperhatikanku lebih dalam.


Ia semakin mendekatkan bibirnya ke bibirku. "Apa kamu sudah ingin sekali merasakan ini?"


Jantungku seakan diajak maraton. Dag dig dug tak karuan. Mengapa ia bisa membaca pikiranku? Ah salah ... bukan berhasil membaca pikiranku tapi bisa mengetahui obrolanku dengan Maya semalam.


"Mandi dulu," ucapnya sambil mengacak puncak kepalaku.


"Habis itu?" telisikku.


Dion menatapku dalam, "Habis itu kita lanjutkan ...."


Oh, aku merona.


Dia cubit hidungku, "Sarapan, pikiranmu jangan mesum nanti aku ruqyah."


Huh ... dia yang melempar kail tapi begitu umpannya nyangkut malah disentakkan, lepas deh tuh, ambyar.


Dengan langkah gontai ku tuju kamarnya untuk mandi. Melebur angan-angan yang terlanjur melambung tapi dihempaskan begitu saja.


Huft!


Tak butuh waktu lama, ku akhiri ritual mandiku. Ku cari baju ganti yang Dion Maksud, tapi ternyata sudah disiapkan di ranjang. Aku bisa menebak siapa yang melakukannya. Siapa lagi kalau bukan tunanganku yang manis itu.


Tok-tok-tok!


"Sayang, kalau mau keluar ambilkan sekalian jam tanganku yang di nakas, ya," pinta Dion dari luar kamar.

__ADS_1


Pandanganku mengarah ke nakas dan berhasil menemukan apa yang Dion inginkan, "Iya."


Setelah mengikat rambutku, segera ku ambil jam tangan Dion dan segera menemuinya.


"Ayo," ajakku setelah sampai di sofa ruang tamu di mana ia sedang menungguku sambil menonton televisi.


Tiba-tiba saja Dion berdiri tepat di hadapanku dan menarik tengkukku.


Deg-deg-deg!


Jantungku kembali berpacu tak beraturan.


Oh Shit! Mengapa jadi berdebar tak karuan begini? Jangan percaya Rosa, dia pasti hanya menggodamu, kali ini! Palingkan wajahmu darinya!


"Yakin, mau sekarang?" Dion semakin mendekatkan bibirnya hingga memangkas jarak dengan bibirku.


Rasanya sudah melayang tak bisa digapai. Benarkah? Benarkah pagi ini aku akan mendapatkannya?


"Biar sah, dulu!" ucapnya menghancurkan fantasi liarku.


Sebuah cubitan di hidung kembali ia hadiahkan. Segera ku tepis dan meninggalkan dia dengan hati dongkol. Lagi-lagi dia menggodaku. Aku malu!


*****


"Mana Dion?" tanya Mas Rendra begitu aku sampai di apartemen Mas Rendra.


"Nanti juga nyusul," jawabku dengan ekspresi tak ceria seperti biasanya.


"Kamu kenapa, Sa? Cemberut gitu makin cantik, tau," Pak Aryan ikut bersuara.


"Aryan, jangan kenceng-kenceng. Dion muncul dihajar, kamu!" ingat Mas Rendra.


"Sebel aku sama dia, bikin hati dongkol aja," gerutuku.


"Ditolak lagi?" Maya to the point seolah tahu akar masalahku.


"Tau, ah," aku sok fokus menonton televisi.


"Apaan, sih?" Mas Rendra mulai kepo.


Maya menunjuk bibirnya. Mas Rendra butuh waktu untuk mencerna isyarat dari Maya. Pak Aryan pun ikut mengerutkan keningnya tanda sedang berpikir. Tiba-tiba tawa mengular dari bibir Mas Rendra, "Astaga Rosa, malang benar nasibmu, Nak!"


"Apa?" Pak Aryan ingin tahu juga.


"Permen kiss," sandi dari Mas Rendra pada Pak Aryan.


"Oh ... sini aku wakilin tunanganmu, itu!" Pak Aryan menoleh ke arahku yang tepat berada di sebelah kirinya.


"Wakilin apa?" tiba-tiba saja Dion duduk menengahiku dan Pak Aryan.


Dion mengecup kening dan mendekatkan bibirnya ke telingaku. "Kalau semua kamu habiskan sekarang, nanti gak ada istimewanya lagi, Sayang." Lagi-lagi dia mengecup kening dan lantas membelai rambut panjangku.


Aku menepis sentuhannya dan kemudian berdiri. "Aku sebel bukan karena Itu tapi karena kamu terus menggodaku."


Dia meraih jemariku saat aku mulai melangkah. Langkahku tertahan, aku berhenti dan membalik badanku. "Apa lagi?"


"Maafkan aku, Sayang, aku bukan mau menggodamu. Aku hanya ingin menjagamu," ucapnya lembut.

__ADS_1


Dia cium lagi keningku dan segera membimbing ke dalam pelukannya. Terjadi lagi, kemarahanku tak bisa bertahan lama. Hatiku luluh lantak oleh kelembutannya.


__ADS_2