Tentang Hati

Tentang Hati
Pergi


__ADS_3

"Jadi, kapan kalian akan menikah?" tanya Papi begitu aku kembali ke ruang tamu dan duduk di sebelah Dion.


Kulirik Dion dari sudut mata kiriku. Dapat kulihat wajahnya yang terpaku dengan benda pipih pintarnya. Entah apa yang dia lakukan, tapi yang tertangkap oleh indraku, dia hanya menggeser-geser layarnya berulangkali.


"Maaf, Pi, sepertinya rencana pernikahan ini tak bisa dilanjutkan. Kami ... putus!" jelasku dengan ketegaran yang kupaksakan.


Mambendung airmata yang sudah bersiap menjebol dinding penghalang di sudut mataku. Menguatkan tulang-belulang agar kuat menopang raga yang rapuh ini.


Papi nampak terkejut, begitu pula Mami dan Mama yang ada di ruangan ini. Dion, dia begitu santai, tak menanggapi pengakuanku.


Dia malah beranjak berdiri dan melangkah pergi.


"Jangan kemana-mana! Kalian jangan terbawa emosi. Selesaikan masalah kalian! Bukan putus solusi dari permasalahan yang kalian hadapi," ungkap Papi menghalangi kepergian Dion.


"Dia yang memilih, Pi. Dion tidak akan memaksa Rosa untuk bertahan jika ia sendiri tidak yakin dengan perasaannya. Mungkin ini yang terbaik untuk kami, Pi."


Dion melangkah mendekati Mama. "Dion akan tetap menjadi anak laki-laki Mama meskipun Dion dan Rosa tidak berjodoh," papar Dion dengan senyum tulusnya. "Besok, Dion bakal anterin Mama dan Rosa pulang ke Jakarta."


Mama mengusap kepala Dion dengan penuh rasa sayang. "Tidak bisakah kalian pikirkan, lagi? Mama yakin kalian saling menyayangi."


"Maaf, Ma," ucap Dion sambil menundukkan kepalanya.


Entahlah, apa yang ada dalam pikirannya. Dia sama sekali tak berkata-kata saat aku mengatakan putus. Dia tak berusaha mempertahankanku. Dia bukanlagi Dion yang dulu. Dion yang kekeh meminta status sebagai kekasihku.


Aku asyik sendiri dengan lamunanku, hingga tak kusadari sejak kapan Dion sudah meninggalkan ruangan ini.


"Ma, kita pulang malam ini, saja, ya?" usulku begitu berpindah duduk di samping Mama.


"Papi tidak mengizinkan kamu pulang tanpa status sebagai istri Dion. Biarkan dia melewati malam ini dengan berpikir. Sekarang jangan terlalu memikirkan masalah ini, istirahatlah," nasihat Papi yang sedikit menenangkan buncahan perasaanku.


Mami meraihku dalam pelukannya. "Kamu pasti jadi istri Dion," ucap Mami seraya menghapus airmataku.


Aku menangis dalam pelukan Mami. Tak ikhlas rasanya jika harus melepaskan kasih sayang mereka yang sudah menganggapku sebagai anak sendiri. "Mi, Rosa boleh gak jalan-jalan sendiri malam ini?"


Rasanya aku ingin membahagiakan diriku sendiri. Menolak semua rasa yang sedang mengetuk untuk merangsek ke dalam hatiku. Hati yang sudah dipenuhi dengan rasa perih yang tersiram air garam. Menjernihkan pikir yang semrawut dengan kisah hati yang tak pasti. Sudah kuakhiri tapi mereka meyakinkan ini tak akan berakhir begitu saja.


"Biar diantar Septian, ya! Mami gak bisa melepasmu sendiri, Sayang," solusi Mami yang justru membuatku sungkan.


Om Septian? Ya ... walaupun kurasa dia mengetahui semuanya, tapi tetap saja aku tak enak. "Rosa gak enak merepotkan Om Septian, Mi," alasanku.


"Anggap dia Ommu, walaupun dia sudah lebih dari matang untuk menikah, tapi dia masih terlihat seumuran Rendra, kok. Kamu gak akan kelihatan jalan sama Om-Om, malah bisa-bisa dikira jalan sama pacarmu," ucap Mami mencairkan suasana dengan guyonannya.


*****


Dengan mengendarai motor CB antiknya, Om Septian menemaniku berkeliling. Menikmati Jogja diwaktu malam, tetap indah dengan keklasikannya. Sepanjang jalan yang kami lewati banyak sekali pasangan muda-mudi yang tengah asyik bercanda tawa. Bahkan, banyak anak muda usia awal dua puluhan yang menghabiskan waktu di angkringan yang berjejer sepanjang mata memandang.


Om Septian membelokkan motornya di sebuah parkiran yang ramai dengan hiruk-pikuk pasangan muda. Sebuah kafe di pendopo lawas, di sinilah Om septian mengajakku menikmati waktu. Menukar lara dengan dimensi rasa yang berbeda.


"Mau request lagu, gak?" tanya Om Septian ketika Tri Suaka mulai berduet dengan Nabila Maharani menyanyikan lagu Fiersa Besari "Waktu Yang Salah".


"Gak usah deh, Om," tolakku halus.


Lebih baik menikmati saja, merasakan setiap baris kalimat dari lagu yang kebetulan sangat mewakili perasaanku kali ini. Bersiap hati untuk kembali menangis, meratapi kisah yang sama dengan lagu yang mereka bawakan.


🎶🎶🎶

__ADS_1


Jangan tanyakan perasaanku


Jika kau pun tak bisa beralih


Dari masa lalu yang menghantuimu


Karena sungguh ini tidak adil


(Apakah seperti ini yang kamu rasakan, Di?)


Bukan maksudku menyakitimu


Namun tak mudah 'tuk melupakan


Cerita panjang yang pernah aku lalui


Tolong yakinkan saja raguku


(Airmataku mulai meleleh, merasakan betapa lagu itu benar-benar mewakili perasaanku)


Pergi saja, engkau pergi dariku


Biar kubunuh perasaan untukmu


Meski berat melangkah


Hatiku hanya tak siap terluka


(Inikah yang kamu lakukan sekarang, Di? Meninggalkanku, pergi meskipun kamu juga tersakiti.)


Beri kisah kita sedikit waktu


Semesta mengirim dirimu untukku


Di waktu yang salah


Hidup memang sebuah pilihan


Tapi hati bukan 'tuk dipilih


Bila hanya setengah dirimu hadir


Dan setengah lagi untuk dia


(Di, inikah yang kamu rasakan? Saat aku masih menduakan hatiku, untukmu dan untuknya? Semakin deraslah airmata itu mengalir meskipun aku sudah berusaha keras untuk membendungnya.)


Pergi saja, engkau pergi dariku


Biar kubunuh perasaan untukmu


Meski berat melangkah


Hatiku hanya tak siap terluka


Beri kisah kita sedikit waktu

__ADS_1


Semesta mengirim dirimu untukku


Kita adalah ...


(Di, masih pantaskah jika aku memohon padamu? Sebuah kesempatan terakhir. Kesempatan untuk bisa lagi mendapatkan hatimu.)


🎶🎶🎶


"Sa, kamu baik-baik, saja?" tanya Om Septian setelah melihatku menangis.


Kutundukkan kepalaku, memperbaiki hati yang semakin berantakan setelah mendengar lagu itu. Mengusap sisa airmata yang meluruh meskipun lagi-lagi ia meluruh kembali. "Om, tidak usah mengkhawatirkanku. Aku akan baik-baik saja, kok," kukuatkan hatiku di hadapannya meskipun aku tahu aku terlihat sangat rapuh waktu ini.


"Kurasa ini bukan yang terbaik untuk kalian, aku tahu kalian sama-sama tersakiti," ungkap Om Septian seraya menyerahkan beberapa lembar tisu padaku.


Kuputar kembali pandanganku pada Tri Suaka. "Mungkin putus adalah jalan terbaik untuk kami saat ini," jujurku.


"Ha? Kalian putus? Aku pikir hanya berantem," Om Septian membelalakkan matanya.


Ekspresinya berbicara jika ia sangat terkejut mendengar pengakuanku. Dia hentikan seruputannya pada minuman di gelasnya. Memutar tubuhnya untuk bisa dengan jelas membaca mimik wajahku. Menentukan apakah aku sedang bercanda ataukah tidak.


"Iya ... kami putus satu jam yang lalu," jelasku memastikan.


"Aku mimpi bukan, sih?" Om Septian belum percaya juga.


"Kenapa Om gak percaya?" tanyaku mengurai kebingungan.


"Dion tuh sanggup bertahan 10 tahun tanpa status, masa iya pernikahan yang di depan mata dia gagalkan begitu saja?" Om Septian menelisik lebih jauh.


"Kenyataannya kayak gitu, Om. Emang sih, aku yang salah. Aku sadar, tapi sepertinya aku terlambat," ucapku seraya memainkan sedotan yang ada di gelasku.


"Tidak ... tidak ...!" Om Septian terlihat mengambil telepon pintarnya dan menghubungi seseorang.


Ia menjauh saat samar-samar ku dengar dering teleponnya diangkat oleh seseorang di seberang sana. "Tunggu, di sini!" perintahnya.


Aku kembalikan fokusku pada nyanyian Tri Suaka dan Nabila. Duet mereka membuatku terhanyut, apalagi tatapan mata Nabila. Seperti bisa kubaca, bahwa sebenarnya ada cinta untuk lawan duetnya. Cinta yang harus berhenti pada " Mencintai Pacar Orang". Karena semua tahu bahwa Tri Suaka sudah menambatkan hatinya pada Dianita Sari. Yah ... sepertinya aku memiliki kisah yang mirip dengan mereka. Cinta Yang Terluka!


Kurasakan Om Septian sudah kembali duduk di kursi sebelahku. Namun fokusku masih tak beralih pada binar mata penuh cinta dari seorang Nabila. Baru kusadari jika mata itu berbicara, mengungkap isi hati tanpa harus mengeluarkan kata. Pantas saja, jika kemarin Dion bisa membaca apa yang ada di hatiku dan Mas Rud walaupun hanya dengan melihat tatapan mata kami.


"Kalian tidak berniat untuk saling bicara?" tegur Om Septian yang baru saja duduk di kursi seberang meja kami.


Om Septian di hadapanku, lalu ...?


Kutolehkan pandanganku pada seseorang di sampingku yang tadi ku pikir adalah Om Septian.


Deg!


Dion?


Kekasihku? Mantan kekasihku? Atau apalah status hubungan kami. Kenapa dia ada di sini?


Dia terlihat sangat kaku. Duduk dengan tegap dan pandangannya lurus, entah fokus pada apa.


"Kalian bukan anak kecil lagi, gak malu memutuskan masalah dengan emosi?" Om Septian membuka lagi percakapan untuk memancing kami berbicara.


Gagal! Kami masih terdiam. Aku sudah tak memiliki kata untuk mempertahankan ini. Aku sudah mengakui kesalahanku dan memohon untuk kesempatan kedua. Namun Dion tak bisa menerima, maka masih perlukah percakapan ini kami lanjutkan?

__ADS_1


"Kalian jangan pulang kalau belum bisa berbaikan. Bicarakan dari hati ke hati!" Om Septian meninggalkan kunci motornya di meja dan segera beranjak pergi.


*****


__ADS_2