Tentang Hati

Tentang Hati
Maaf


__ADS_3

Dion PoV


Istilah pemanasan yang kupilih untuk aktivitas makan malam dan cuci piring sudah selesai. Saatnya menuju acara inti, pertautan keturunan jauh adam dan hawa yang akan memasuki fase memanas. Hawa dingin ruangan sudah kusetel dengan suhu dingin maksimal. Cahaya lampu kupilih yang temaram, remang-remang menggairahkan. Dua raga telah merebahkan diri di atas ranjang dengan tatapan penuh cinta.


Melihatmu begitu indah dengan senyum yang selalu menggoda, membuatku semakin tak ingin kehilangan. Ini adalah mimpiku sejak puluhan tahun lalu dan tak akan kulepaskan begitu saja. Cinta yang kurasakan mulai memenuhi ruang hatimu hanya untukku, tak 'kan kurelakan pergi untuk hati yang pernah kau miliki. Aku ingin menjadi egois kali ini. Tak melepaskan sesuatu yang telah kugenggam. Tiada kamus mengalah dan menyerahkan ulang. Dion yang pejuang akan tetap berjuang, mempertahankanmu untuk selamanya di sisiku.


"Apakah kamu menggodaku, Sayang?" tanyaku saat manik hitammu tak sekalipun berhenti menatapku.


Kamu sentuhkan jemarimu di dadaku. "Iya."


"Yakin?" selidikku seolah tak ingin menjadi korban PHP seperti semalam.


"Aku ingin menjadi liar malam ini," jujurmu yang membuatku terkesiap.


"Memang bisa?" godaku dengan membiarkan tubuhku terlentang dengan salah satu lenganku sebagai bantal dan lengan lainnya mengusap salah satu pipimu.


"Aku sudah banyak bersalah kepadamu, Sayang. Pikiranku tentang lelaki lain, itu sudah menjadi zina hati. Aku jahat," akumu seraya memegang jemariku yang tadi kugunakan untuk membelai lembut pipimu.


"Mulai detik ini, aku ingin menjadi seseorang yang jahat padanya. Aku tak ingin mendengar apapun lagi tentangnya. Biarlah aku memisahkan takdirku dari takdirnya," janjimu yang kau ucap dengan begitu tegar. Meski aku tahu kamu rapuh tetapi berusaha kamu kuatkan hatimu sepenuhnya.


Anehnya, justru aku yang tak sanggup menahan kristal bening dari kedua sudut mataku. Hatiku trenyuh. Sudah beberapa kali kamu bilang tak ingin lagi mengingatnya, bahkan memintaku untuk membantumu melupakannya. Meskipun hatimu tak bisa menepatinya, tetapi aku tak bisa untuk tak percaya kali ini. Entah ini janji untuk yang terakhir atau akan ada janji berikutnya, bagiku usahamu membuangnya tak bisa aku pandang sebelah mata.


"Kenapa kamu menangis, Mas?" tanyamu seraya menghapus air mata yang mulai menganak sungai di pipiku.

__ADS_1


Kukerjapkan mataku berkali-kali. Berusaha tak menambah derai air mata. Kuambil jemarinya dan kuletakkan di dadaku. "Yang, ...," bibirku menjadi kelu, tak mampu berkata.


Lagi-lagi air mataku meluruh. Malam ini aku benar-benar cengeng. Rud mungkin jahat karena hadir diantara kita dan sekarang kamu ingin menjadi jahat karena tak mau lagi mendengar segala tentangnya. Namun, aku merasa menjadi yang paling jahat. Aku menyembunyikan sebuah rahasia tentang masa depan seseorang. "Maaf."


"Izinkan aku mulai mencintaimu dari nol lagi, ya, Mas. Aku akan mengosongkan hatiku dan mengisinya hanya dengan namamu. Biarkan aku menjadi istri yang bangga bisa berdiri di sampingmu. Istri yang mencintai suaminya secara utuh," tuturmu dengan tatapan yang begitu lembut.


Tiada kata yang ingin kuucap, yang kubisa adalah meraihmu ke dalam pelukanku. Menghangatkan hatimu yang telah kau dinginkan untuk sebuah nama yang berstatus mantan. Saat aku masih erat memelukmu, perlahan kau longgarkan pelukanku. Kau tinggalkan aku sesaat dan kemudian datang lagi dengan sebuah benda di tanganmu.


"Mas Rud memberikan ini padaku beberapa hari lalu. Dia bilang ini adalah janji yang harus ia tunaikan. Dia tidak memberitahuku apa isinya. Selain itu, ia juga membawa kunci dari gembok ini," jelasmu seraya menyerahkan sebuah kotak hitam tergembok padaku.


Sepertinya sekarang aku sedang berdiri di podium kemenanganku. Benar-benar menaklukkanmu di garis finish, itulah prestasiku setelah kau mengakui sebuah ketidakjujuran yang beberapa hari kau sembunyikkan. Masalahnya, aku masih menyimpan 1 rahasia yang belum sanggup untukku jujurkan padamu. Jika engkau tahu, mungkin keputusan yang baru saja kau ambil akan engkau batalkan. Aku tidak mau itu, maafkan aku egois untuk masalah itu sampai detik ini.


"Kamu simpan, saja!" tolakku seraya kembali menyodorkan kotak itu ke tanganmu lagi.


"Aku menyerahkan ini sama Mas. Kalau Mas gak ingin melihatnya, bisa dibuang atau dikembalikan padanya. Aku ikhlas," tuturmu yang justru membuatku gamang.


"Mas gak keberatan kamu menyimpan ini. Toh kotak ini tak akan bisa terbuka jika Rud tak memberikan kuncinya. Kecuali kamu membukanya paksa dan Mas yakin kamu tak akan melakukan itu," ujarku masih memegang kotak itu dan berusaha meletakkannya di tanganmu.


Percayalah, aku sama sekali tak mengkhawatirkan isi kotak itu. Yang mengganggu pikiranku adalah ingatan Rud sekarang dan reaksimu jika mengetahui kenyataan itu. Memang kamu sudah berjanji untuk mengosongkan hati untuknya tapi jika tahu keadaannya apakah kamu akan membantu mengembalikan ingatannya?


"Aku akan mengabaikannya Mas, meskipun ia menyuruhku datang saat detik terakhir hidupnya," janjimu yang segera kututup bibirmu dengan jari telunjukku.


"Sssttt ... Mas tidak mengajari seperti itu. Jangan membencinya, cukup kamu simpan kenangannya sebagai bagian dari perjalanan hidupmu," ucapku seraya memeluknya.

__ADS_1


"Aku tidak ingin kehadirannya kembali mengusik hatiku, Mas. Aku akan menyerahkan hidupku, padamu," jelasmu dengan mengeratkan pelukan pada lingkaran pinggangku.


Kucium pangkal rambutmu dengan lembut. Memberikan sentuhan yang bisa membuatmu merasa terlindungi oleh kehadiranku. Yang ingin kamu lakukan adalah sesuatu yang memang aku perjuangkan kali ini. Namun, bukan dengan jalan menyimpan benci yang mendalam untuknya.


"Jangan memaksa, Sayang. Biarlah rasa itu mengalir dengan sendirinya. Jika kamu membencinya sebenarnya hatimu yang akan merasa sakit karena semuanya itu menjadi sesuatu yang dipaksa," ujarku seraya mencium keningmu.


"Mas ...," panggilmu dengan mendongakkan kepala untuk mencapai manik mataku.


"Hm ...," gumamku dengan senyum manis.


"Maafkan aku terlambat menyadari jika kamu begitu berharga di hidupku," akumu dengan bersandar di dada bidangku.


Lagi, kucium puncak kepalamu. "Bagaimana perasaanmu padaku, sekarang? Apakah terpaksa? Ataukah mengalir begitu saja?" tanyaku seraya membelai rambut panjangmu.


"Aku bahagia, perasaan ini datang sendirinya. Rasa benciku menguap begitu saja dan berganti cinta yang aku sendiri tidak menyadari kapan bermula. Sayangnya aku tidak peka dan terus memaksa untuk selalu terpaku pada dia yang dulu pernah kucinta," jelasmu panjang lebar.


"Itulah yang tadi kubilang, biarkan benci itu menghilang dengan sendirinya tanpa kau paksakan," ucapku sambil mencubit hidungmu. Berusaha mengubah suasana penuh air mata menjadi tawa.


"Sakit," pekikmu sambil memegang hidungmu yang baru saja ku cubit.


Aku tersenyim nakal. "Dipaksa itu memang sakit, hanya satu dipaksa yang enak itu, mau tahu gak?"


Kamu mengernyitkan kening, dan kemudian menampakkan muka sebal. "Aku tahu, tapi waktumu sudah habis. Tadi aku tawari gak berminat, sekarang aku hanya bisa bilang ... maaf ....."

__ADS_1


__ADS_2