Tentang Hati

Tentang Hati
Rasa Baru


__ADS_3

Dion PoV


"Ma, Dion, pamit dulu, ya," kataku saat jam dinding di ruang keluargamu sudah menunjukkan pukul 19.30 WIB.


"Makan dulu, Mama sudah siapkan, ayo!" pinta Mama.


Aku bukannya lekas beranjak ke ruang makan, malah menatap wajahmu yang terlelap di sofa ruang keluarga.


"Istirahatlah, Sayang," ucapku sambil membenarkan kain pantai, yang kamu gunakan sebagai selimut.


Setelahnya, aku bergegas ke ruang makan. Mama dan Kristy sudah menungguku, untuk menyantap aneka masakan, yang sengaja Mama masak untuk makan malam kali ini.


"Ayo, makan dulu, ini sudah waktunya makan malam," Mama hendak mengambilkan nasi, tapi aku menolaknya.


"Biar Dion ambil sendiri aja, Ma," tolakku.


"Baiklah, jangan malu-malu. Ini juga rumahmu," Mama mengingatkan.


Aku tersenyum. Kristy yang sedari tadi memperhatikan senyumku yang tak pernah pudar itu, jadi ikut mengulas senyum.


"Mas Dion, pajak jadiannya kapan?" tukas Kristy.


"Kamu, nguping?" selidikku kemudian.


"Gak sengaja denger, Mas," jawab Kristy dengan senyum mencurigakan.


Mama tersenyum, "Coba jelaskan sama Mama, apa ada sesuatu yang Mama lewatkan hari ini?"


"Mbak Rosa nerima cinta Mas Dion, Ma," Kristy yang menjawab.


"Selamat, ya, Nak! Akhirnya, anak gadis Mama yang keras kepala itu, luluh juga," Mama menepuk pundakku.


Aku terlihat malu-malu. Senyum bahagia bercampur rona merah di pipiku, benar-benar menampakkan suasana hatiku yang sedang berbunga. Rasanya, itu tidak berlebihan, mengingat bagaimana perjuanganku untuk merebut perhatianmu.


"Dion akan menjaga Rosa, Ma. Mama jangan khawatir," janjiku.


"Mama, Sudah bosan mendengar janjimu, itu," gurau Mama.


Benar saja, selama ini, aku selalu meyakinkan Mama, untuk memberikan kesempatan padaku agar selalu bisa menjagamu, meskipun kamu selalu menolakku. Aku tak pernah menyerah untuk merebut hatimu, dan semua itu Mama tau.


*****


"Ma, semalam jam berapa, ya, Rosa pindah kamar?" tanyaku sambil menguyah nasi gorengku.


Emang, kamu lupa?" tanya Mama.


Aku memejamkan mataku, memutar ingatanku untuk sampai di lorong waktu semalam. Gelap, gak ada yang tergambar.


"Mbak Rosa kan digendong sama Mas Dion, so sweet," celetuk Kristy.


"Kebanyakan nonton drama Korea nih bocah, pikirannya ngaco," kataku sambil menjitak kepala Kristy.


"Benar, yang Kristy bilang," Mama menimpali.


"Masa, sih, Ma?" aku tak percaya.


"Iya, aku yang memindahkanmu ke kamar," ucap Dion tiba-tiba.

__ADS_1


Jangan tanya, kenapa aku langsung tau, kalau itu suara Dion. 10 tahun terakhir, suaranya sudah menyusup ke setiap sel-sel tubuhku. Hingga tak ku sadari, aku begitu mengenalnya. Sebelum dia mengeluarkan katanya, bahkan aku sudah bisa memastikan jika itu suara miliknya.


"Mas Dion, pagi-pagi dah ganteng aja," sapa Kristy.


"Iya, dong, Masnya siapa dulu," jawab Dion sambil tersenyum.


"Ma, kenapa dia di sini, mulu, sih?" gerutuku.


"Lhaaa, bukannya dia pacarmu, kok, malah tanya Mama," Mama ikut bertingkah menyebalkan.


"Siapa yang bilang itu, pagi-pagi 'dah fitnah," kataku dengan mimik marah.


"Waah, Mbak Rosa kayaknya amnesia. Siapa yang kemarin nangis-nangis di ruang keluarga?" Kristy membongkar fakta.


"Hei, kalian semua menyebalkan. Rosa berangkat aja," aku mencium tangan Mama dan meninggalkan meja makan.


"Kenapa mengikutiku?" aku tiba-tiba berhenti, sengaja untuk membuat Dion kaget karena dari tadi berjalan di belakangku.


"Aku, akan mengantarmu," jawab Dion santai.


"Gak usah, aku bisa berangkat sendiri!" tolakku ketus.


"Pacarku ketus lagi, mending kamu galau lagi deh, bisa manis," goda Dion sambil menggandengku masuk ke mobilnya.


Aku, ketus lagi?


Ya, memang begitulah sikapku selama ini sama Dion, lelaki yang belum genap 24 jam ku pacari itu.


Gak mungkinkan, aku langsung bersikap manis-manis manja seperti ABG baru jatuh cinta. Bayanginnya aja, sudah membuatku bergidik.


"Habis anterin kamu, aku berangkat," jawab Dion.


"Jangan memintaku, jangan pergi lagi ya! Aku hanya seminggu, kok, di rumah Eyang," pintanya menggodaku.


"Siapa juga, yang melarangmu pergi. Aku justru senang," aku balas menggodanya.


"Jangan nakal, emang dah lupa gimana sakitnya patah hati?" Dion tersenyum nakal.


"Sedikit nakal, gak akan menyakitkan. Kan, ada, kamu," kataku merajuk.


"Aku hanya mentolerir Rud, setelahnya tidak masuk dalam pertanggungjawabanku," tegas Dion menatap lurus jalanan.


"Katamu, kamu tempatku kembali," rajukku sambil meraih lengan kirinya.


"Kenapa kalau begini, ingat aku sebagai tempatmu kembali?" Dion cemberut.


"Di," panggilku mesra dengan menyunggingkan senyum termanisku.


"Jangan merengek untuk bermain api, hanya aku lelakimu!" tegas Dion.


Aku hanya tersenyum melihat ekspresi Dion. Ternyata, diposesifin itu, terkadang menyenangkan. Aku menikmati kecemburuanmu, pacar baruku. Aah ... kenapa aku jadi dimabuk perhatiannya. Benarkah, aku benar-benar jatuh cinta padanya?


"Apa kamu mau ikut aku ke Yogya?" Dion memandangku.


"Gak," jawabku tegas.


"Kalau begitu, turunlah! Ini sudah sampai kantormu," pinta Dion.

__ADS_1


Aku melihat ke luar mobil. Benar, ini depan kantorku. Rasanya baru saja, aku naik ke mobilnya, tau-tau sudah sampai.


"Aku, turun dulu! Jangan nakal di Yogya," pesanku.


"Kamu, yang seharusnya jangan nakal," balas Dion sambil mencium keningku.


"Da ... da ... pacar baruku," ucapku sambil mengulur senyum.


Ku perhatikan rona merah di wajah Dion. Kekasih baruku itu, sepertinya kaget dengan sikap manisku pagi ini. Kalau ketusku saja, bisa membuat Dion tergila-gila padaku, wajarlah setetes sikap manisku,sudah sanggup membuatnya salah tingkah.


******


Aku sudah duduk di kursi kebesaranku, kursi yang sudah ku tinggalkan beberapa hari ini.


"Aku kangen, menghabiskan waktuku di sini," gumamku.


"Aku juga kangen, kamu," ucap Maya dari meja sebelahku.


"Kerja ... kerja ..., nanti saja kangen-kangenannya," suara Mas Rendra yang lewat di belakangku.


"Gak ikut ke Yogya, Mas?" tanyaku pada Mas Rendra.


"Ngapain," tanyanya.


"Dion kan ke Yogya, aku pikir Mas Rendra ikut juga," jelasku.


"Tumben, perhatiin jadwalnya Dion," celetuk Mas Rendra.


"Iya, tumben," jawabku menyelesaikan obrolan.


Kring-kring-kring!


Dering telepon di mejaku, membuat mataku mengalihkan pandangan dari laptopku.


"Baik, Pak," kataku membuka dan menutup percakapan.


Telepon dari ruang manajer.


Deg!


Mas Rud?


Oh iya, aku lupa!


Aku melupakan, kalau dia sudah menghempaskan diri, bukan hanya dari sisiku, tapi juga dari ruangan manajer di kantorku.


Ada manajer barukah?


Ragu-ragu ku berdiri.


"May, ada manajer baru?" selidikku.


"Kamu, belum tau? Aku belum cerita, ya?" Maya mengingat-ingat.


Aku mengangguk, " Ya udah, aku ke ruangannya dulu."


Ku hela nafas panjangku. Berat sekali harus memutuskan untuk memasuki ruang itu. Ruangan, yang banyak menyimpan cerita bahagia antara aku dan Mas Rud.Lelaki tersingkat yang pernah singgah di hatiku, namun juga membawa kisah bahagia sebagai kenangan dan perih sebagai kado perpisahan yang mengenaskan.

__ADS_1


__ADS_2