Tentang Hati

Tentang Hati
Rosa Beraksi


__ADS_3

Aku tengah berkutat dengan pikiran. Mencari jalan agar bisa menengahi masalah tentang tempat tinggal yang akan kami pilih setelah ini. Pindah sesuai keinginan Dion atau tetap bertahan seperti permintaan Pak Aryan. Sebenarnya aku sudah punya keputusan tinggal menyampaikan secara manis kepada Dion agar dia bisa menerima.


"Mas," sebutku lirih pada Dion yang sedang merebahkan kepalanya di pangkuanku.


Sambil memasukkan tangan kanannya ke toples mengambil camilan, Dion menggumam untuk menjawab panggilanku. Matanya tetap fokus pada layar benda pintarnya. Membalas beberapa chat dari keluarga yang menanyakan keadaannya.


"Jadi, kita tinggal di mana?" tanyaku dengan ragu.


"Maumu di mana, Sayang?"


Aku bersorak mendengar pertanyaan balik Dion. Umpanku dimakan. Saatnya menarik keluar dari pendiriannya dan memasukkan ke ember sasaran. Namun harus diingat untuk tak disentak tapi diulur perlahan. Setelah dekat baru ditarik kuat. Jangan memaksa untuk langsung dieratkan karena dia akan putus. Dan harapan tinggal penyesalan.


"Kita punya banyak kenangan di sini, ya, Sayang?" awalku melancarkan serangan.


"Hm,"


"Aku masih ingat waktu kamu tak bisa menahan diri, mencuri ini," tunjukku pada bibirnya, mengingatkan saat pertama kami saling menyentuhkan bendà kenyal yang sensitif itu.


Dion sejenak melepaskan pandangan dari benda di tangannya, memerhatikan telunjukku yang mengusap bibirnya. Tanpa ku duga ia membuka sedikit bibirnya dan secepat kilat menggigit kecil jariku. Pekikan kagetku membuatnya mengulas senyum miring. Sejenak kemudian dia kembali mengembalikan pandangan pada benda kesayangannya itu.


"Kok, digigit, sih?" gerutuku sambil meniup jari yang sedikit merasa sakit.


"Bukankah waktu itu kamu kugigit?" celetuk Dion dengan senyum smirknya.


Kutatap Dion dengan pandangan sebal. Mengerucutkan bibir membentuk huruf U. Mengambil toples yang sedari tadi dikuasainya dan mencomot cemilan. Memasukkan ke mulut dan mengunyah dengan arogan. Melampiaskan kekesalan sembari menata hati kembali. Aku tak boleh terpancing amarah. Jangan sampai aku kalah dan menyerah.


Mengingat tujuan awal menggodanya, berusaha kukuasai diri kembali. Aku yang memancing jangan sampai aku yang terjerat oleh tebaran jaring yang ia tebarkan. kuembuskan napas sambil memejamkan mata. Membuyarkan kesal biar berganti menjadi senyum setulus hati.


"Mau kugigit balik gak, Yang?" ucapku ambigu. Antara sungguhan ingin membalas dendam dan merayunya. Melambungkan angan, menggiring dalam jerat dan menghipnotis agar menurut.


"Gak ah," jawab Dion diluar dugaanku.


Tumben sekali lelaki ini tak tergoda. Biasanya ia akan termakan rayuan dengan gampang. Namun kali ini, seakan ia mendirikan tembok tinggi sebagai benteng. Pertahanan kuat dari tebaran jerat yang kubuat.

__ADS_1


"Mau dong, Sayang. Aku kasih bonus deh," rayuku sambil tersenyum untuk meluluhkan hatinya.


"Kok maksa, sih. Orang gak mau juga," timpal Dion seraya mengambil kembali toples cemilan.


"Dipaksa enak kok nolak. Diluar sana banyak loh yang pengen aku paksa," celetukku enteng sengaja membuat emosinya melonjak.


"Maksud kamu, dibalik pintu apartemen depan?" timpal Dion menyasar nama seseorang yang memang menjadi alasan aku merayu Dion kali ini.


"Mungkin."


Sengaja kupilih kata itu agar Dion merasa cemburu. Kusadari jika hatinya sedang tenang tanpa kecemasan dan tekanan maka saat itulah waktu tersulit untuk menyakitinya. Kebaikan hatinya berada pada level tertinggi dan kebijaksanaan sedang meraja tanpa bisa diserang dari segala sisi yang berbeda.


"Karenanya, kamu sekarang sedang merayuku untuk tetap di sini?" ungkap Dion dengan senyum menelisik.


Tertangkap basah. Bukan, tetapi terciduk. Ah, bukankah itu sama saja. Intinya Dion sudah bisa membaca gelagat yang kubuat. Dia sanggup menerka bahwa istrinya ini sedang berkhianat dari keputusannya dan tersesat untuk menepi dengan keinginan lelaki lain.


"Itu salah satunya," jawabku santai juga.


Pertanyaan Dion membuat otak encerku memijarkan ide segar. Perlahan kuulur punggung hingga wajahku memangkas jarak dengan wajahnya. Dion nampak terkesiap tapi diusahakan tetap tenang. Bergeming dengan aktivitas sebelumnya dan mengabaikan posisiku yang sungguh dekat di atasnya.


Merasa diabaikan, aku bersiap untuk menggila. Perlahan tapi pasti, semakin kudekatkan bibirku ke bibirnya. Mengambil napas sebentar dan kemudian mengecupnya sekilas. Ketika tautan ingin kulepaskan, Dion justru menarik tengkukku dan memperdalam sentuhan.


Bibir yang awalnya hanya kutempelkan kini dia manjakan dengan lum*tan. Mencecap berulang hingga kekeringan yang awalnya mendera kini basah dan semakin memantik gairah. Permainan pada benda kenyal itu perlahan membuka tabir untuk terus bergerilya. Menggulung lidah dalam gerakan-gerakan indah. Membelit dengan lembut menghadirkan gejolak yang ingin terus dibalas.


Aku terbuai, melayang oleh sambutan kelembutan yang Dion berikan. Saat diriku tengah melambung, tiba-tiba Dion melepaskan tautan. Tersenyum smirk dan mencubit hidungku dengan gemas.


"Mau berbuat curang, ya, Sayang? Menjebakku untuk memuluskan perintah Abangmu itu, hm?" sindir Dion kemudian.


Dion bangun dari rebahannya. Menarikku ke dalan rangkulannya. "Kenapa aku harus menurutinya?"


"Bukankah tinggal dengan keluarga itu menyenangkan?" Kalimat provokasi mulai kukeluarkan. Berharap hati Dion melunak dan menyetujui untuk tetap tinggal di apartemen ini.


"Kalau kamu ingin tinggal dengan keluarga, apakah tidak sebaiknya kita tinggal di rumah Mama?" tawar Dion mengikuti alur pemikiran yang kusempitkan.

__ADS_1


"Bukannya aku menolak, Sayang. Namun itu tidak mandiri. Paling enak seperti sekarang, tinggal sendiri tapi tetanggaan dengan saudara," ucapku terus merayu.


"Sayang banget sih kamu sama Abangmu, itu," ucap Dion tanpa menoleh wajahku.


Bersikap sangat tenang tapi pertanyaannya tajam menghujam. Ada siratan cemburu yang terselip dalam kalimat yang ia ucapkan. Meskipun terkesan enteng, pasti ada pesan yang mendalam. Disampaikan secara tersembunyi, meninggalkan kesan terang-terangan.


"Bukankah sesama saudara harus saling sayang? Aku menyayanginya tapi aku mencintaimu," ungkapku sambil melingkarkan lengan di pinggangnya. Kusandarkan kepalaku pada dada bidangnya.


Dion mengacak puncak kepalaku. "Aku cemburu."


"Cemburuilah aku semakin banyak, Sayang."


"Tentu saja, semakin aku mencintaimu maka cemburuku akan semakin menggila," terang Dion dengan ekspresi yang membuatku merinding ngeri.


"Jangan, Sayang! Aku takut kamu akan menggilaiku berlebihan. Seperti ini, saja."


Dering telepon menyela obrolan kami, membuat Dion melepaskan tangannya yang menyampir di bahuku. Meraih benda pintarnya yang tadi ia geletakkan di meja. Menggeser gambar telepon berwarna hijau dan menempelkan di telinga.


Kejelasan tentang biodata si pemanggil tak kuketahui dengan pasti. Tanpa nama membuatnya semakin tak kukenali. Apalagi Dion nampak serius menanggapi. Aku semakin dilanda rasa penasaran. Trauma kemarin kembali menjalar. Mengkhawatirkan jika yang datang adalah kabar mengejutkan.


Durasi panggilan yang lumayan lama membuatku terpaku mendengarkan. Walaupun kenyataannya tak ada yang bisa kucuri dengar. Suaranya lirih dan jawaban Dion pun hanya penggalan kata kecil yang tidak bisa dikumpulkan menjadi kalimat yang saling berhubungan.


Mau tak mau, aku setia menunggu hingga telepon itu mencapai masa usai. Namun hingga sepuluh menit waktu berlalu, belum ada tanda-tanda akan menjadi riwayat panggilan. Kutunggu hingga aku melayu.


Lima menit toleransi waktu yang kuberikan pun masih belum mencukupi. Aku menjadi gelisah. Siapa dan apa yang sedang mereka bicarakan? Hanya bisa berdoa semoga dijauhkan dari berita yang tidak menyenangkan.


Kudekatkan telingaku ke telinga Dion yang sedang menempel manja pada benda pintarnya. Tak ada hasil juga. Obrolan mereka seolah menggunakan kode rahasia yang tak dapat ditangkap oleh telinga luar.


Gerutuan bertahta di hatiku. Bukanlagi penasaran, tapi sudah berubah jadi kekesalan.


Huft!


Siapa dia?

__ADS_1


__ADS_2