Tentang Hati

Tentang Hati
Jangan Salahkan Pikiran


__ADS_3

Malam masih belum berlalu dari pukul tujuh. Perut pun belum dimanjakan dengan suguhan makan malam. Dion sedang memasak di dapur. Sementara aku dimintanya untuk merebahkan diri sambil menonton televisi. Bahkan tadi kakiku pun sempat dipijatnya. Kenikmatan apalagi yang bisa kusangkal jika dihadiahkan suami sesempurna ini oleh Tuhan.


Sajian acara tawa yang kusaksikan berhasil melupakan sejenak pikiran yang beberapa hari ini dipenuhi oleh tekanan perasaan. Tya, sikap dan kata-katanya membuatku malas untuk berangkat. Pekerjaan yang dulu selalu membuatku bahagia, sekarang rasanya ingin resign saja. Namun kondisi yang mengharuskan tetap mengais rezeki, membuatku harus bertahan sekuat hati.


Ingin mencurahkan rasa pada Dion tapi aku enggan. Bercerita padanya sama saja dengan semakin menambah beban pikiran, bukan hanya aku tapi juga dia. Saat ini, hasil jerih payahku sangat dibutuhkan untuk menopang kelanjutan kehidupan kami. Memang, dia masih berpenghasilan dari proyek kecil-kecilan, tetapi kalau dibandingkan dari nominal yang dulu dia hasilkan, masih sangat jauh. Oleh karenanya, sokongan dariku masih sangat diperlukan agar tidak mengambil dana yang masih tersisa di tabungan.


Kulihat ada notifikasi chat masuk di benda pintarku. Nama Abang Depan, terpampang dengan jelas sebagai pengirimnya. Baru berniat untuk membuka, panggilan Dion mengalihkan perhatianku. Dia datang dengan dua piring nasi goreng di tangannya. Dua gelas jus alpukat pun berada di genggamannya saat dia kembali untuk kali kedua.


"Makan dulu, Sayang! Maaf ya hanya ini yang bisa kita makan."


Kuterima sepiring nasi goreng yang Dion berikan. Bukannya langsung makan, aku justru tertarik untuk mencoba jus yang dibuatnya.


"Mas, Enak," pujiku dengan nada manja.


"Makan aku lebih enak," timpal Dion dengan senyum nakalnya.


"Puasa, Sayang. Trimester pertama masih rawan," jawabku menjelaskan tentang kehamilan yang kurasa masih belum begitu Dion pahami.


Berbeda dengan calon uncle Aryan, jomblo satu itu entah dapat ilmu darimana tentang dunia wanita. Mungkin dia sudah melahap ilmu dari banyak buku yang selalu dibelinya. Atau dia sudah mempersiapkan diri sematang mungkin untuk menjadi suami, sayangnya istrinya lupa dia siapkan.


"Puasa setengah, ya?" ucap Dion ambigu.


Setengah? Waktu kecil aku puasa setengah hari, saat azan zuhur berkumandang aku makan dan akan meneruskan puasa setelahnya hingga magrib tiba. Namun aku yakin puasa yang dimaksud Dion bukan seperti itu.


Kukernyitkan dahi sambil menatapnya yang masih setia dengan senyum smirknya. Bukannya mendapatkan jawaban justru aku terjatuh dengan pesonanya. Tak lagi ingin memburu tahu, membelok menginginkan itu. Iya, itu. Bibir yang sedang mengunyah, nampak sangat seksi dengan gerakan yang bikin melunglai. Rasanya ingin kugigit saja.


"Kamu mesum, Sayang? Begitu banget lihat bibirku" sindir Dion tetap santai meneruskan makan.


"Kenapa kamu tampak lebih menggoda ya?" balasku enteng.


"Pertanyaanmu salah, Sayang. Aku memang terlahir menggoda. Hanya kamu saja yang baru menyadarinya," ejek Dion di belakang pengakuannya.


"Masa?"


"Aku dari dulu anti kucel, walaupun wajah kalah sedikitlah sama Mas Rudmu itu, tapi penampilan kerenan aku lah." ucap Dion tanpa sadar menyebutkan nama lelaki yang menjadi rival nomor satunya.


Kulekatkan pandangan pada manik hitamnya. Lelaki di hadapanku ini sama sekali gak merasa telah menyebut nama yang tak seharusnya dia ingatkan. Akupun berusaha tak ikut terpengaruh. Sejujurnya aku tak bermasalah, hanya saja jadi mengingat. Pikiran jadi ingin sedikit mengerti bagaimana kabarnya. Sekadar tahu apakah dia baik-baik saja karena semenjak penculikan itu ia seperti sengaja menghilang.

__ADS_1


"Padahal dulu aku kucel, kenapa mau?" selidikku tetap fokus pada bahasan awal, mengabaikan nama yang sedikit menggelitik ingatan.


"Kamu punya inner beauty, kepolosan dan kecàntikan dalam kesederhanaan. Ditunjang kecerdasan dan keketusan tingkat tinggi. Memacu jiwa pantang menyerahku terus ingin menjelajah dan menjajah."


"Menjajah? Kamu mau nyari pacar apa pembantu, Sayang?"


"Pacar yang membantuku menghabiskan hari dalam tawa bahagia, Sayang," ujar Dion sambil meneguk air putih setelah nasi gorengnya tak tersisa.


"Kamu pinter banget ngeles, Sayang?"


Dion mengambil piring yang kupegang. Membuat sebuah suapan dengan sendok yang tadi aku pegang. Ya ... dia menyuruhku membuka mulut untuk segera mengunyah makanan yang baru saja ia siapkan. Menghabiskan nasi goreng tanpa sisa dengan keromantisan yang ia tawarkan. "Setelah ini adalah jam untuk pelajaran praktek biologi, Sayang. Guru Lesnya sudah siap, ayo muridnya jangan sampai telat."


Kupukul gemas pahanya. "Hari ini aku bolos les, Pak."


"Murid nakal, ya. Sini biar Bapak hukum!" ujar Dion seraya mendekatkan diri dan mulai menggelitik pingganggku tanpa ampun.


Mengetahui kelemahanku, dia semakin liar dengan perlakuannya. Serangan dengan tak tik menyebar ia gunakan untuk mengalahkanku. Bertekuk lutut itulah yang ia harapkan. Menurut dengan semua keinginannya. Merasa kemenangan sudah semakin dekat dan kekalahan tak mungkin dielakkan, aku memilih mengeluarkan jurus andalan, diam.


"Begini, kan manis. Pak Guru tak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk menambah ilmumu," terang Dion sambil memeluk dan mencium rambutku dari arah belakang.


"Sayang, bagaimana pekerjaanmu?" tanya Dion seraya meletakkan dagunya di bahuku.


Tak biasanya dia menanyakan hal itu. Mungkin saja maksudnya mengarah pada hubunganku dan Tya. Aku memang belum menceritakan secara gamblang. Namun aku pernah sedikit bicara jika Tya sedang bermasalah dengan hatinya dan itu berimbas padaku.


"Anggen resign, Sayang. Tinggal seminggu lagi dia di kantor," ceritaku lebih memilih tokoh lain untuk aku bahas. Menghindari bercerita tentang Tya yang akan membuat hatinya tak rela jika aku terus bekerja dengan suasana penuh tekanan.


"Suaminya melarang?"


"Hm," jawabku dengan gumaman lirih.


Dion merapikan rambut dan membiarkan menjadi satu di bahu kiriku. "Seharusnya kamu pun begitu, Sayang. Maafkan aku belum bisa bertindak seperti suaminya Anggen."


Kutolehkan kepala dan sedikit memutar tubuh. "Bukankah hari ini jadwalnya biologi? Kenapa jadi membahas PKn?"


Dion memulas senyuman. "Karena Biologi dan PKn itu saling berhubungan. Seperti aku dan kamu yang tak terpisahkan, tak bisa berdiri sendiri. Karena takutnya dikira jomblo lalu ada yang mendekati," gurau Dion yang awalnya kukira akan kembali menguntai gombalan.


Kucubit hidung mancungnya itu. Kebiasaan yang selalu dia lakukan kini aku ganti membalaskan. "Kalau yang deketin lebih tampan, kenapa tidak?" balasku sambil memberikan senyuman nakal.

__ADS_1


"Kamu jangan nakal, Sayang! Nanti aku adakan ulangan dadakan, loh."


"Ih, Pak Guru. Jangan sembarangan semua harus mengikuti jadwal."


"Jadilah murid yang penurut!" perintah Dion kembali mendekap, tak ingin aku lepas.


Kehangatan saat berada dalam rengkuhan tubuhnya membuatku tak bisa menolak semua perhatiannya. "Kalau Anggen gak ada, Trio Somplak tinggal berdua, dong? Mau cari personel baru atau dibubarkan?" selidik Dion yang mulai membuat hatiku ketar-ketir.


Aku yakin kalau pertanyaan ini kujawab lugas, maka akan sampai pada kenyataan yang harus kuceritakan. Jika aku berbohong maka aku akan terus berbohong untuk menutupi kebohonganku pertama. Keputusan yang sangat sulit untuk kuambil.


"Belum tau, Mas," jawabku mencari aman.


"Bukankah tadi siang kalian bertemu, ayo ceritakan gimana hasilnya? Tadi kamu belum sempat bercerita," pinta Dion yang membuatku harus mendesahkan napas berat.


"Tya masih marah. Dia bilang kalau Pak Aryan menolak cintanya maka dia gak rela kalau aku mendapatkan perhatian lebih dari Pak Aryan."


"Memangnya seperhatian apa Aryan sama kamu? Sampai Tya merasa cemburu?" telisik Dion sambil kembali meletakkan dagunya di bahuku.


Aku kembali dipaksa untuk memilih. Jujur yang mungkin bisa membuat Dion ikut cemburu ataukah sedikit berbohong untuk mengamankan perasaannya. Kuberpikir sebentar agar bisa menjawab dengan sangat bijak.


"Kami beberapa kali datang dan pulang bersama kalau kamu sedang ada kesibukan, Mas," jawabku dengan sebuah kejujuran.


"Hanya karena itu?"


"Itu sudah cukup membuatnya membenciku, Mas," jelasku seraya menundukkan kepala.


Rasanya berat, dianggap salah padahal aku tak berniat seperti itu. Semua dilakukan Pak Aryan tanpa aku memintanya. Dan Dion pun sebagai suami juga tahu. Namun kenapa Tya justru keberatan?


"Mas, apakah kedekatanku dengan Pak Aryan juga mengusik ketenanganmu?" tanyaku ingin membandingkan dengan perasaan Tya.


"Kalau kalian hanya sebatas yang aku tahu, berangkat dan pulang bareng, aku tidak masalah. Bercandaan kalian pun masih bisa aku terima. Asalkan tidak kontak fisik diluar kewajaran," terang Dion dengan nada sedang, tenang tanpa ada perasaan yang disembunyikan.


Usapan Pak Aryan di puncak kepalaku? Kebiasaannya yang satu itu masihkah bisa ditoleransi. Sebatas bentuk kasih sayang dari seorang Abang. Seingatku dia tak pernah melampaui batas itu. Tak ada pelukan yang pernah dia berikan. Sepertinya ....


"Kalau Mas saja tidak masalah, kenapa Tya justru merasa gerah?" tanyaku mencari tahu.


Dion mengangkat kedua bahunya bersamaan. "Sudahlah, jangan kamu pikirkan! Berbahagialah agar buah hati kita juga bahagia!"

__ADS_1


__ADS_2