Tentang Hati

Tentang Hati
Gagal Puasa


__ADS_3

Aku terkesiap saat tiba-tiba saja Pak Aryan membawaku dalam rangkulannya. Menatapnya penuh tanya, mencari tahu alasan apa yang membuatnya menjauhkanku dari pelukan suamiku. Cerita apa yang baru saja ia dapatkan dari seorang Isni?


"Lepaskan istriku! Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan, ya!" ancam Dion tetapi tak beranjak dari posisinya semula.


"Apa salahnya aku memeluk adikku sendiri? Kamu pikir aku gak shock, dia akan pergi jauh meninggalkanku?" timpal Pak Aryan tak mau kalah bicara.


Mendapati perdebatan dua lelakiku itu, aku hanya melempar putaran bola mata jengah. Kehadiran mereka, selalu memberi warna dalam hidupku. Keterkejutan yang dirasakan Pak Aryan rasanya juga sama seperti yang mengusik hati. Tak siap jika dalam waktu singkat harus melewati hari tanpa perdebatan dan perhatian mereka.


"Hanya sepuluh hari."


"Mengapa hanya sepuluh hari?" celetuk Kristy bertambah penasaran.


"Kalian ke tanah suci?" tebak Mama yang segera dipastikan Dion sebagai kebenaran jawaban.


Mendengar kepastian itu, semua orang bernapas lega. Namun karena merasa dipermainkan, mereka berlagak sok tak terima. Memasang wajah sedang merajuk, Mama, Kristy dan Papa Najendra memilih berlalu menuju meja makan. Memilih mempersiapkan hidangan untuk makan bersama. Waktu yang sudah mengintip sebutan sore, menjadikan acara makan kali ini pun menjadi tak bernama. Makan siang kelewatan, makan malam belum menjelang.


"Shock sih shock, tapi jangan kelamaan itu rangkulan!" ingat Dion ketika melihatku masih berada dalam rengkuhan Pak Aryan.


Bukannya melonggarkan, Pak Aryan justru mengeratkan. Tak sekedar dirangkul tapi rambutku juga diacaknya di depan Dion tanpa merasa bersalah. "Sekali-kali menyayangi adik sendiri kan wajar, iya gak?"


Perlakuan Pak Aryan semakin keluar dari batas toleransi Dion. Sebelum suamiku itu bertindak aku memilih untuk melepaskan tangan si Abang. "Abang, kalau pengen ada yang dipeluk setiap hari, cari istri!" godaku seraya melebarkan jarak dengannya.


"Mas, benarkah kita akan umroh?" tanyaku memastikan sambil duduk di samping Dion.


"Rezeki di balik ujian, Sayang. Alhamdulillah," jawab Dion sambil mengecup keningku.


Selalu ada hikmah dari setiap musibah. Akan ada tawa setelah datangnya duka. Ketika sabar kita lebarkan maka ujian tidak akan terasa berat tetapi akan menjadi nikmat. Hati yang ikhlas akan menjadi penuntun jalan untuk menuju pada kerelaan.

__ADS_1


"Terimakasih, Sayang. Mendengar penuturanmu tadi bahwa kamu akan mengikuti kemanapun aku pergi, rasanya aku sangat bahagia." ungkap Dion sambil memelukku kembali.


"Kusandarkan kepalaku pada dadanya. "Karena aku mencintaimu, maka dimanapun ada kamu maka akan ada aku."


"Co cuit," goda Pak Aryan yang duduk di sofa seberang kami.


Dion semakin meningkatkan kemesraan. Tak sekedar memeluk, dia juga menghujaniku dengan ciuman. Sentuhan-sentuhan bibirnya silih berganti, bermain di rambutku dengan berpindah-pindah sisi. Terkadang di puncak kepala, tak jarang di belakang telinga.


Tak sedikit pun merasa risih, Pak Aryan terus saja menatap kami. Seraya memakan cemilan, dia mengulas senyuman. Seolah menjadi penonton film romantis secara eksklusif. Dion pun tak canggung mengumbar perhatian di depan si Abang. Justru aku yang lama-lama merasa malu.


"Kalian suami istri paling romantis, ayo makan dulu, baru kalian saling makan!" goda Papa Najendra yang baru saja kembali dari dapur. Sengaja memanggil kami bertiga untuk makan bersama.


Merasa disebut nama, aku dan Dion melepaskan pelukan dan segera beranjak meninggalkan ruang yang dari tadi kami tempati. Sementara Pak Aryan juga segera mengikuti langkah kami. Bersama menuju meja makan di mana berbagai jenis makanan menggiurkan telah terhidang.


Sambil terus berbincang, kami mengabaikan adab makan. Cerita dan tawa menjadi selingan. Ini seperti benar-benar sebuah keluarga besar. Ada Papa, Mama dan keempat anaknya yang tengah menikmati kebersamaan. Meskipun tanpa ada ikatan pernikahan dan hubungan darah, kekompakan ini sudah bisa menyaingi keluarga sungguhan.


Ya Allah, terimakasih.


💗💗💗💗💗


Rintik hujan yang perlahan makin menguatkan derainya, menebarkan hawa dingin yang menusuk kulit. Ranjang yang biasa menjadi ladang mencari pahala, kini sedang merayu untuk diberi tahta. Aku telah bersembunyi di balik selimut, tengah mengistirahatkan raga yang lelah. Seharian tanpa meluruskan punggung, rasanya ada letih yang mengungkung.


"Capek, Sayang?" selidik Dion yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Malam memang baru saja menginjak pukul delapan. Dion baru pulang dari menemui temannya membahas pekerjaan yang sedang ditawarkan kepadanya. Memilih langsung mandi dan sekarang berdiri di sini, samping ranjang. Sedang proses memakai kaos polos hitamnya.


Rupanya mataku salah fokus. Tergiur oleh butiran-butiran air yang menetes darj ujung rambutnya yang masih basah. Mengalir turun melewati leher dan dada bidangnya. Pandanganku berhenti pada lekukan seksi di perutnya. Hingga tak sadar aku telah berulangkali menelan saliva.

__ADS_1


"Perlu aku buka lagi kaosku, Sayang?" goda Dion karena mencidukku yang tengah disusupi gejolak.


Senyuman canggung kuhamparkan sebagai balasan. Seharusnya aku tak perlu malu karena dia adalah milikku. Tak ada yang salah jika aku ingin menikmatinya. Jangankan sekedar hal kecil itu, yang lebih saja tak ada dosa, justru berpahala.


Aku malu, apalagi tanpa bicara Dion naik ke ranjang dan membuka selimut yang sedang menutupi bagian tubuh bawahku. Menggesernya dan ia pun beringsut ke kakiku. Mulai memainkan kelihaian jemarinya untuk memijit.


"Apakah kakimu merasa pegal-pegal?"


Kupejamkan mataku. Merasa konyol dengan pikiran liarku yang sudah salah menduga. Aku malu. Akhir-akhir ini, rasanya aku semakin tergila-gila olehnya. Bukan hanya oleh perhatian, cinta dan kasih sayangnya tetapi juga oleh keseksian tubuhnya. Sepertinya aku sedang kemasukan jin mesum.


"Apakah kamu menginginkan pijitan di tempat lain?" celetuk Dion yang membuatku melemparkan bantal ke arahnya.


"Bagian tangan mungkin? Karena kulihat dari tadi kamu memelukku seharian," goda Dion dengan senyum smirknya.


"Bukankah kamu yang memelukku, Sayang? Apakah kamu sedang menyindirku untuk balik memijitimu?"


"Aku memerlukan pijitan di tempat lain, Sayang."


Ternyata kemesuman tak hanya bertandang pada otakku tetapi juga melingkupi otak suamiku. Hasrat ini sepertinya sedang bersatu, ingin saling memanjakan dengan sentuhan kehangatan. Mata yang saling memandang, membiaskan gairah yang mulai menentukan arah. Memantik api gejolak yang akan berkobar menjadi panas birahi.


Pijitan lembut Dion perlahan beralih, dari ujung bawah menyusuri kemulusan jalan. Melewati lekukan-lekukan tajam yang rawan. Melewati rimbunnya wangi mawar dan mencari kuncup ranum yang siap dikecup. Luasnya taman berbunga, membuat sang kumbang dimanjakan dengan banyak keindahan yang ingin dicicipi setiap inci.


Puas berterbangan mengitari warna-warni bunga yang berkembang, sang kumbang hinggap dikuntum yang memperlihatkan belah menggiurkan. Sebuah hisapan kecil ia berikan, memulai pesta berburu madu. Seketika terbang rendah, mencari legitnya madu yang ditawarkan oleh kuntum lain. Mengepakkan sayap lagi mencari putik dan benangsari dari bunga yang tumbuh di lahan yang berbukit. Melayang berputar-putar, sesekali menukik tajam dan tak jarang memainkan hisapan.


Dengan hati-hati mendekati bunga yang telah sempurna merekah. Tawaran madu paling manis yang diinginkam sang kumbang, membuatnya terjerat dalam lubang. Tak sabar ingin menikmati puncak kenikmatan tetapi ia teringat akan duri yang harus dia hindari. Hingga sebuah kelembutan tingkat tinggi, ia pilih untuk menjaga agar bisa menghisap sari madu tanpa tertusuk durinya.


Begitulah sang kumbang melepaskan haus dan dahaganya. Dengan bahagia ia tersenyum melihat bunga yang dikasihinya telah memberinya sebuah kenikmatan yang tiada terkira. "Terimakasih, Sayang."

__ADS_1


__ADS_2