
Meniti karier kembali, banyak waktu yang Dion habiskan di luar rumah. Berangkat lebih pagi dan pulang lebih malam. Bahkan sekarang, saat waktu menunjukkan dua jam menjelang tengah malam, ia belum juga kembali. Aku mengkhawatirkan kesehatannya. Badan yang terlalu letih dan selalu berteman dengan angin malam, kutakutkan akan mendatangkan penyakit.
Meskipun waktu semakin larut, mataku belum juga bisa menutup. Kebiasaanku terlelap dalam dekapan, menjadikanku tak bisa tidur tanpa kehadirannya di kasur. Tak ada hal lain yang akhirnya kupilih sebagai teman untuk menanti, kecuali kembali membaca novel online.
Satu bab terlewat, dua berikutnya hingga lebih dari sepuluh bab telah selesai kubaca. Satu jam berlalu tetapi Dion belum juga datang untuk menghentikan penantianku. Dalam kekhawatiran, kucoba untuk menghubunginya. Namun, teleponku tak diangkat. Kutumbuhkan pikiran positif jika dia sedang di jalan dan tak mengetahui jika aku membuat panggilan.
Saat aku keluar kamar, tepat sekali kulihat Dion memasuki ruang santai. Ia lemparkan tubuhnya kasar di sofa. Kepalanya ia sandarkan dan mata ia pejamkan. Nampak sekali ada letih yang coba ia singkirkan. Dengan segelas air putih, kudekati dirinya. Duduk di sebelah kanan dan mengusap wajah lelahnya.
"Mas, minum dulu!"
"Kamu, belum tidur, Sayang?" tanya Dion seraya menegakkan kepala. Mengambil gelas yang kubawa dan mengalirkan pada kerongkongannya.
Kugelengkan kepala. "Mas, pulangnya kok malem banget? Besok pagi-pagi udah berangkat lagi. Aku takut kalau Mas kecapekan terus sakit," tuturku sambil membantunya melepaskan kancing kemeja.
"Demi kalian, aku rela." Dion mencium keningku kemudian mengusap perut yang masih belum menampakkan tanda kehamilan.
"Mau mandi, gak?" tanyaku setelah kemeja Dion sudah lepas dari badan.
Dion menarikku ke dalam pangkuannya. Melingkarkan kedua tangan untuk menghangatkan tubuhku. Dagunya ia letakkan di bahu belakangku. "Aku ingin seperti ini."
Kuusap lengannya, "Mas, jangan terlalu memaksakan diri! Jaga kesehatan!"
"Tanpa kamu suruh, aku pasti akan memastikan diriku sendiri sehat, Sayang. Jangan mengkhawatirkanku!" ucap Dion sambil menciumi rambutku.
__ADS_1
"Kenapa kamu belum tidur?"
"Mau dipeluk," jujurku dengan nada sangat manja.
"Lelahku hilang seketika kalau kamu manja begini," timpal Dion sambil terus menciumi rambutku.
Kumemutar tubuh dan memeluk Dion dengan posisi saling berhadapan. Merasakan kulit polos dan mencium aromanya yang menguar. Menelusupkan kepala pada kehangatan pelukan. Mendapatkan ketenangan yang sungguh tak dapat kuwakilkan lewat kata dan ungkapan manja.
"Aku belum mandi, Sayang. Badanku lengket oleh keringat," aku Dion sambil mengusap pipiku lembut.
"Sepertinya, buah hati kita ini sangat dekat denganmu, Mas. Bawaannya ingin kamu sayang," ucapku seraya mengeratkan pelukan.
Dion membelai rambutku. Mengusapnya naik-turun dan berulang-ulang. Melengkungkan senyum termanisnya. "Aku mandi dulu, sebentar. Nanti aku akan menemani tidur."
"Sayang, Papa mandi dulu, ya! Sebenarnya, ingin sekali mengajakmu berendam bersama, tetapi Papa takut nanti mamamu masuk angin," ucap Dion sambil mengerling manja.
"Ikut," rengekku sambil memainkan telunjuk di bagian atas tubuh dion yang bertel*njang dada.
"Sayang, lihatlah! Mamamu mulai manja. Bagaimana Papa bisa gak bahagia jika seperti ini," curhat Dion sambil mengusap perutku lagi dan lagi.
"Mas," sebutku lirih dengan nada menggoda.
Dion menatapku dengan begitu lembut. Senyum terindah lahir dari kedua sudut bibirnya. Ia bangkit dari posisinya dan memilih duduk di sebahku. Ia geser tubuhku dengan sangat hati-hati hingga menghadapnya. Ia rapikan rambut hingga tergerai indah menutupi punggung indahku.
__ADS_1
Dion kembali memamerkan pesonanya lewat sebuah senyum sempurna. Aku terbawa suasana, hingga tanpa kusadari wajah kami sudah semakin dekat hingga tak ada lagi jarak yang memisah. Ia miringkan sedikit kepala dan mengecup bibirku dengan penuh kelembutan. Rasanya aku melayang. Sengaja kupejamkan mata, mengikuti indra penglihatannya yang terpejam lebih dulu.
Sekali lagi, bibir kenyalnya melembut di bibirku. Menyesap dengan kedalaman rasa hingga pertautan itu semakin memantik gejolak. Basah yang sudah melumuri belahan indah kami, menguatkan birahi untuk terus dimanja lebih hangat lagi. Mata kami perlahan terbuka bersama saat Dion melepaskan penyatuan.
"Sayang, aku mandi dulu, ya," ucap Dion yang langsung kubalas dengan gelengan.
Kukerucutkan bibir menandakan bahwa aku tak ingin dia tinggal mandi. Dengan berani aku beringsut duduk di pangkuannya. Mengalungkan kedua lengan di belakang leher dan dengan cepat mengecup pipinya. Bergantian antara yang kanan dan kiri. Dengan nakal aku kecup bibirnya. Sekali, dua kali dan ketika akan memasuki kali ketiga, tiba- tiba saja Dion menarik tengkukku. Seketika ciuman di permukaan bibir itu mulai merangsek menuju kedalaman ruang yang akan memicu lum*tan-lum*atan menggairahkan.
Lidah yang saling membelit membuat desir semakin mengukir. Liukan semakin erot*s, memicu napas semakin melahirkan desah-desah sek*i. Mengabaikan napas yang mulai tersengal dan terus mel*mat dengan begitu erat.
Dion semakin menunjukkan kelihaian permainan. Sentuhan hangat kini semakin memanas. Deru yang semakin menggebu, terus dipicu hingga gairah semakin terpacu. Belitan dan liukan terus berseteru menunjukkan siapa yang lebih berkuasa hingga mengokohkan diri sebagai pemilik singgasana.
Tubuh Dion yang kudorong pelan tanpa perlawanan, membuatku berada di atas tubuhnya. Kulit tubuhku yang hanya dibalut kain tipis dapat merasakan sentuhan kulitnya yang bebas tanpa busana. Ada gelenyar aneh, menyusup dan mengambil alih rasa maluku. Kumainkan jemari di dadang bidangnya saat pertautan bibir kami masih menyatukan rasa.
"Sayang, kamu nakal sekali malam ini," ucap Dion dengan desahan napas yang masih terpacu.
Kusembunyikan wajahku di dada bidangnya. Malu tapi aku masih mau. Kuusap-usap perut Dion yang memiliki sekat-sekat yang sek*i. Kubuat gerakan memutar dan perlahan melepaskan ikat pinggang yang masih terpasang rapi di celananya. Dion tak bereaksi, dia hanya mengulaskan senyuman.
"Sekangen itukah kamu padaku, Sayang?" goda Dion begitu aku selesai melepaskan sabuk pengaman kain penutup bagian bawah tubuhnya.
Dion melipat kedua tangannya di belakang kepala. Sengaja memberiku kebebasan untuk bermain dengan tubuhnya sesuka hati. Matanya ia pejamkan. Dan aku tahu, saat dia sudah seperti itu maka dia mempersilakanku untuk mencabiknya. Meninggalkan berbagai tanda dan menanggalkan apa yang masih ada.
Kuusap rambut tebalnya yang sedikit bergelombang. Wajah tampannya tiada henti kupandangi. Perlahan kelopak mata yang terpejam itu kuberikan sebuah sentuhan. Bibir lembutku mencium sisi wajahnya yang jarang aku beri kehangatan itu. Satu di kiri dan satu lagi di sebelah kanan.
__ADS_1
"Sayang, mau aku lanjutkan?" goda Dion dengan seringai senyuman.