
Lelaki yang kusebut namanya itu menoleh. Dia terkesiap begitu melihatku di hadapannya. Namun keterkejutannya sedikit berkurang saat melihat ada Pak Aryan berdiri di belakangku. Lelakiku segera berdiri dan memelukku dengan hangat. Entah pelukan dengan tujuan apa tapi aku segera membalasnya. Apakah karena kehadiranku yang tak dia pikirkan ataukah untuk menguatkan dirinya sendiri.
"Mengapa kamu di sini, Sayang? Bukankah aku memintamu menunggu," selidik Dion setelah melepaskan pelukan.
"Aku tak bisa berhenti memikirkanmu, Mas. Hatiku justru gak tenang," jelasku sambil memeriksa raut mukanya.
Bayangan wajah kacau milik Dion nyatanya tak kutemukan. Justru dia bisa tersenyum di hadapanku. Sungguh ekspresi di luar ekspektasi. Entah ini senyum tulus atau sekedar sebagai cara untuk membuatku membuang was-was, tapi aku bersyukur bahwasanya ia tidak jatuh terpuruk. Setidaknya saat ini dia masih bisa berpikir jernih dan mampu berdiri kokoh menopang jiwanya yang sedang rapuh.
Dia usap rambutku dan kemudian merangkul bahu. "Jangan cemas, Sayang! Lihatlah kalau aku baik-baik, saja."
"Terimakasih sudah mengantarkan Rosa ke sini," ucap Dion pada Pak Aryan yang masih setia berdiri di dekat kami.
Pak Aryan membalas dengan senyuman. "Jangan pikirkan, kalian adikku sudah semestinya aku melakukan ini. Bagaimana kejadian awalnya?"
"Menurut security api berasal dari ruang arsip. Api cepat sekali membesar. Saksi mata mengatakan ada bau bahan bakar. Namun aku tak mau banyak bicara. Biarlah diurus sama pihak yang berwajib saja. Terlepas dari campur tangan manusia, ini adalah musibah," tutur Dion bijak.
Masih saja Dion bisa sebijak ini. Padahal jelas, kantornya sudah dihabiskan oleh api yang tidak berhenti berkobar. Tempat ini adalah ladang uangnya. Jika sekarang sudah dihancurkan si jago merah, lalu bagaimana dengan masa depannya?
"Sabar, kalau perlu bantuan jangan sungkan hubungi aku," pesan Pak Aryan sambil menepuk pelan bahu Dion.
"Hm, terimakasih," balas Dion dengan senyumnya.
"Terimakasih, Pak. Selalu merepotkan" ucapku sambil menunduk hormat padanya.
"Sekali lagi kalian mengucapkan terimakasih, aku bakal memutuskan tali persaudaraan," ancam Pak Aryan sambil memutar tubuhnya menjauhi kami. Melihat keadaan gedung yang sudah mulai berkurang kobaran apinya.
Kutebak dia memang sengaja meninggalkan kami berdua. Lelaki itu selalu bisa menerka apa yang ada di pikiran orang-orang di sekitarnya. Dia peka dan kadang terlalu peka. Mengalahkan cenayang dalam membaca maksud dari lawan bicaranya.
__ADS_1
"Mas, kamu sungguh baik-baik, saja?" selidikku memastikan.
"Kamu takut aku terguncang karena ini? Tidak, Sayang. Aku justru takut musibah ini berpengaruh pada kehamilanmu," timpal Dion sambil kembali merangkulku.
Aku hanya tersenyum. Dalam kondisi seperti ini, melihatnya bisa tersenyum saja sudah nikmat luar biasa. Ancaman kehilangan pekerjaan adalah momok paling menakutkan. Penopang biaya hidup direnggut, bagaimana pikiran tidak carut marut?
Ketegaran Dion, entah itu asli ataupun hanya untuk membuatku tak bersedih setidaknya menunjukkan pikirannya masih bisa dikuasai. Kami duduk menunggu, menyaksikan bagaimana gedung itu kini menjadi puing. Masihkah ada yang tersisa?
Perasaan sedih yang tersisa di hati kami.
🍃🍃🍃🍃🍃
Dion PoV
Seperti daun hijau yang terpaksa jatuh berguguran, begitulah sekarang aku diandaikan. Usaha yang tengah berkembang, tiba-tiba diserang oleh kecurangan dan berakhir dengan kebakaran. Habis, semua yang kumulai dari nol kini kembali menjadi kosong. Tak ada lagi DR art yang kubanggakan.
Aarrgghh!
Ya Allah, pantaskah aku menggerutu? Bolehkah aku marah padaMu? Ini berat Ya Allah, terlalu berat. Aku terlalu lemah jika Engkau berikan cobaan sebuah kehilangan. Cobaan? Apakah aku boleh berbesar kepala jika ini adalah caraMu menguji keimananku? Sedangkan aku sadar jika aku terlalu sering melalaikan perintahMu. Lantas apakah ini peringatan karena kelalaianku?
Kehilangan DR art sebagai tulang punggung penghasilan, badanku rasanya melunglai karena kehilangan tulang belakang. Seketika aku seperti hewan invertebrata, lunak dan dan kehilangan kekuatan. Bagaimana hidupku harus berlanjut?
Harus mulai dari nol, lagi? Merintis?
Kubuang kasar napas lelahku. Bukan hal gampang untuk bangkit lagi? Namun jika aku terjatuh dan menyerah, maka bangkit adalah hal tersulit. Mengapa terjadi saat aku sedang diterpa bahagia. Apakah memang kebahagiaan itu tak ada yang abadi?
Istriku? Calon anakku? Jika aku terikat dalam keterpurukan, lantas bagaimana mereka mengahadapi hari? Ini tanggung jawabku. Seberat apapun harus kupikul. Sesulit jalan yang harus kutempuh, aku harus terus mengayuh. Tinggalkan kerapuhan dan harus tetap semangat!
__ADS_1
💤💤💤💤💤
"Mas, tidurlah! Ini sudah jam empat, sebentar lagi subuh. Pejamkanlah matamu walau hanya sebentar," pintaku begitu terbangun dan mendapati Dion masih terjaga.
"Kamu, tidurlah lagi," balasnya sembari membelai rambutku lembut.
"Mas," lirihku memanggilnya.
"Panggilah aku dengan senyum, Sayang. Aku tak semenyedihkan itu," pinta Dion yang justru membuatku melumerkan kristal bening.
Tangisku jatuh di hadapannya. "Mas," panggilku lagi sambil menghambur ke pelukannya.
Dion mencium rambut di puncak kepalaku. "Sayang, aku sedang terjatuh, tidak bisa lagi membahagiakanmu seperti dulu. Apakah kamu masih ingin tetap tertawa denganku?"
"Menangis saja aku menghambur di pelukanmu, maka tawaku pun akan tetap bersamamu."
"Bagaimana caraku membuatmu tertawa? Jika aku saja kehilangan semua yang aku miliki," tutur Dion dengan pandangan nanar.
Baru kali ini aku melihat Dion kehilangan rasa percaya diri. Senyum yang biasa tersungging sempurna, kali ini tak ada lagi. Dia bukan seperti dirinya. Aku mengerti, dia sedang dirundung kegetiran yang sangat dalam. Pekerjaannya, kebanggaannya, martabatnya sebagai lelaki sedang dijatuhkan hingga lantai dasar.
"Apakah aku bukan milikmu yang berharga? Tak bisakah aku menjadi sumber tawamu? Apakah kamu pikir aku hanya akan tertawa dengan milikmu yang kini telah kembali pada sang Pemberi? Tidak, Sayang. Yang membuatku tertawa ketika di dekatmu bukan karena harta yang kamu miliki, tapi karena kamu, Dionku."
"Aku mempersiapkan kesuksesan untukmu, Yang. Namun saat aku harus membahagiakanmu, justru aku kehilangan. Bagaimana aku harus mewujudkan janjiku padamu?" papar Dion dengan menahan butir air mata yang hendak terjatuh.
"Janji yang kuingat dari seorang lelaki bernama Dion adalah selalu ada saat aku membutuhkannya. Aku butuh kamu, perhatianmu, kasihmu, sayangmu, cintamu, suamiku, Papa dari anak-anakku, aku mencintaimu bukan hartamu, Sayang," celotehku dalam tangis yang semakin menjadi.
Dion tak lagi berkata untuk menyangkal kalimat-kalimatku. Dia hanya memelukku erat dan berkali menciumi puncak rambutku. Airmata berderai tanpa henti, mengalir serasi di kedua pipiku dan pipinya. Kami tenggelam dalam perasaan yang bercampur aduk. Meyakinkan jika cinta ini bukan karena harta tapi memang rasa yang terlahir sempurna di hati dua insan keturunan adam dan hawa.
__ADS_1