
Aura keteganganku benar-benar sulit ku kendalikan. Entah kenapa, kali ini aku merasa berada pada situasi yang amat mirip, ketika harus bertemu Dion, di acara lamaran Tria dan Rio kala itu. Dan juga, ketegangan ini seperti saat aku harus bertemu dengannya, di acara wisuda kami 4 bulan yang lalu.
"Apakah ini pengaruh dari kebaya yang ku pakai? batinku.
Iya kan? Tiap memakai kebaya, selalu ada perasaan berdebar. Dag dig dug tak karuan.
"Sa, kok kayaknya kamu gelisah banget? Ada apa?" tanya Dion.
Harus bagaimana aku menjawab pertanyaan Dion? Apa iya, aku harus jujur kalau aku tegang karena situasi ini. Situasi di mana hatiku bergetar hebat karena harus pakai kebaya couple-an. Lebay banget gak sih?
"Hei ... santai aja!" kata Dion.
"Di, emang kamu diundang, kok dateng?" tanyaku ngasal untuk mencairkan suasana dan mengkamuflasekan perasaaanku yang campur aduk.
Dion menatapku penuh selidik. Mungkin tak menduga akan mendapatkan pertanyaan sereceh ini dariku.
"Setegang itukah kamu Sa? Santailah kayak waktu aku menjagamu di rumah sakit kemarin!" ucap Dion dengan mengaitkan jemari kirinya di jemari kananku
Bukannya semakin santai, aku justru makin tegang. Genggaman tangannya malah membuat ritme jantungku semakin cepat.
Kenapa ini?
"Aku pengen, kamu menganggapku sebagai tempatmu berbagi dan kembali!" jelas Dion lagi.
Aku mencermati kalimatnya Dion. Aku jadi teringat saat di rumah sakit kemarin. Bagaimana awalnya, tapi secara tiba-tiba saja aku benar-benar nyaman di dekatnya bahkan tak ragu memeluknya dan menceritakan perasaanku.
Padahal sebelum itu, gak pernah ada kedekatan perasaan antara aku dan Dion. Kontak fisik pun, palingan sekedar genggaman tangan, itu pun terjadi saat penembakannya yang terakhir.
Itu saja!
__ADS_1
Tapi kemarin itu betapa memalukannya. Aku yang secara enteng banget, berkali-kali menjatuhkan diri di pelukannya.
Apakah wanita rapuh itu adalah alarm untuk diambil hatinya?
Entahlah ...!
"Rendra itu sepupuku!" jawab Dion untuk mengurai lamunanku.
"Jangan ngarang, kamu!" aku mulai terbawa arus candaannya.
"Ini beneran! Makanya kemarin aku langsung akrab," jelas Dion.
Itu memang benar, aku mengakuinya.
Kemarin aku melihat mereka terlibat obrolan, yang jelas terbaca, jika itu bukan obrolan orang yang baru saja saling mengenal.
"Sejak kapan, kamu tertarik dengan urusan pribadiku?" tanya Dion balik.
Iya ... aku memang tak pernah peduli mengenai Dion dan segala tentangnya.
Rendra itu anaknya om aku, yang tinggal di Yogya. Makanya, kemarin itu Maya ngilang 4 hari, karena pulang ke Yogya sama Rendra. Niatnya cuma kenalan, tapi malah langsung disuruh lamaran," Dion menjelaskan.
"Kenapa kamu justru tau lebih banyak?" gerutuku.
"Karena kamu sibuk ngurusin hatimu sendiri!" jawabnya menyentakku.
Aku mengalihkan pandanganku. Benarkah sakitku kemarin membuat semua orang benar-benar harus menjaga perasaanku?
"Sudahlah! Ayo senyum lagi! Kamu cantik banget dengan pakaian ini," puji Dion membuatku kembali dag dig dug.
__ADS_1
Aku tersenyum, entah darimana asal muasal senyum ini, tapi aku senang mendengar pujiannya padaku. Dan sepertinya pipiku menampakkan rona merah saking tersipunya. Ini kali pertama, aku gak marah dan ketus dengan rayuannya. Dan justru aku merasa senang.
Benar-benar, hati manusia itu mudah dibolak-balikkan.
*****
Kristy PoV
Setelah Mbak Rosa dan Mas Dion berangkat, aku dan mama terlibat obrolan di teras rumah.
"Ma, nanti Kristy pengen deh, punya suami yang kayak Mas Dion," curhatku.
"Kok, Dion? Bukan oppa-oppa korea yang kamu elu-elukan itu?" tanya mama.
"Yang nyata lebih terjamin, Ma," jawabku.
"Dion memang anak yang baik," Mama mengungkapkan.
"Mas Rud sebenarnya juga baik, sih, Ma, tapi sayang, dia bukan pejuang!" terangku.
"Kita gak tau, apa yang dialaminya, jadi gak berhak menghakimi keputusannya," Mama bijak.
"Pokoknya, buat Kristy, Mas Dion yang paling the best!"nilaiku.
"Apa Mama perlu jodohin, kamu sama Mas Dionmu, itu?" goda Mama.
"Gak ah, Ma! Cintanya mas Dion, kan cuma buat Mbak Rosa," jelasku.
Mama tersenyum mendengar penjelasanku. Mama pun tahu betul, bahwa semua yang aku ungkapkan adalah kebenaran. Terlebih dengan kejadian di rumah sakit kemarin, itu adalah bukti terkuat bahwasanya Mas Dion adalah lelaki yang tulus mencintai Mbak Rosa. Setidaknya, begitulah penilaianku dan mama pada Mas Dion.
__ADS_1