
Kotak berpita pink itu masih menarik perhatianku. Penasaran apa isinya? Mungkin bukan hanya sekedar ingin mengetahui apa yang ada di dalamnya tapi penasaran tentang sosok di balik sang pemberi, Pak Aryan. Lelaki yang hadir sebagai driver online itu, pada akhirnya ku ketahui sebagai seorang yang tak bisa ku anggap remeh. Seorang teman yang sesungguhnya menyimpan sebuah perasaan.
Dia mengajarkanku bagaimana cinta itu bukan sekedar aku mencintaimu dan aku harus mendapatkanmu dengan segala cara. Namun, dia menghadirkan cinta dalam hidupnya sebagai sumber kebahagiaan. Bahagia dengan jalan melepasku bahagia dengan orang yang ku cintai. Kebahagiaan yang susah ku mengerti tapi pantas untuk ku hargai.
Tidak ada seorang pun yang bisa memilih dengan siapa cinta akan menjatuhkan perasaannya. Jadi, aku pun juga tidak mungkin bisa menjatuhkan vonis mati untuk cintanya padaku. Aku juga tak perlu menjatuhkan hukuman kurungan pada cintanya karena ia sendiri sudah memenjarakan rasanya di sel-sel pertemanan. Biarkan cintanya tumbuh sampai masanya habis dan ia akan bisa bebas menghirup bahagia dengan cinta yang lain.
Perlahan ku buka kotak yang membuatku penasaran sejak dari kantor tadi. Bahkan Maya yang ngotot memintaku untuk membukanya pun, aku acuhkan. Warna putih yang membiaskan kilau, menarik perhatian mataku. Ku sentuh dan ku rasakan betapa lembut dan halus di permukaan kulit tanganku. Apakah ini kain sutra mulberry yang terkenal dengan keindahannya itu? Segera ku raih alat yang bisa membantuku menghubungi sang pemberi keindahan ini.
"Pak, hadiah dari Bapak begitu indah, saya rasa, saya tidak pantas untuk menerimanya," ucapku.
"Kamu adalah pemilik yang pas untuk kain itu, jangan ditolak!" jelas Pak Aryan.
"Bapak bisa memberikan kain ini untuk saudara perempuan atau Ibu Bapak," usulku.
"Perempuan yang ku miliki, hanya dirimu," ucapnya.
Maksudnya?
Apakah Pak Aryan seorang anak tunggal yang sudah kehilangan ibunya? Apakah karena itu, dia bilang hidupnya monoton selama ini? Apakah dia kekurangan kasih seorang perempuan hingga ketika aku datang menawarkan pertemanan, dia langsung terbawa perasaan?
"Maaf, Pak," hanya itu yang bisa ku katakan.
"Kamu tak perlu minta maaf, aku bukan seorang yang perlu kamu kasihani," tutur Pak Aryan.
"Jadi, saya harus bilang apa, Pak?" tanyaku untuk meredam suasana yang berubah canggung.
"Kamu cukup berterimakasih padaku, bagaimana?" tawarnya.
"Sepertinya, Bapak tidak tulus dengan hadiah ini, Bapak hanya mengharapkan pujian dari saya," selorohku.
"Rosa, kamu jangan pernah meragukan ketulusan yang ku berikan untukmu. Entah hadiah ini, terlebih perasaanku padamu," tegas Pak Aryan.
Obrolan ini harus segera distop. Kalau tidak, akan merambah ke lahan lain dan akan mengobarkan api bahaya. "Terimakasih Pak Aryan, untuk setiap ketulusan yang Bapak berikan pada saya. Semoga dibalas dengan kebahagiaan. Aamiin ... Selamat malam, Pak, Assalamualaikum." Dan akhirnya berhasil ku akhiri perbincangan itu.
*****
Ku lipat kembali sehelai kain sutra hadiah dari Pak Aryan. Memasukkan kembali pada kotaknya dan menyimpannya itulah yang kemudian ku lakukan. Biarlah ini menjadi kenangan manis masa mudaku darinya.
Waktu yang baru menunjukkan pukul 20.00 belum membuatku berniat untuk segera menenggelamkan diri di alam bawah sadarku.
Jika sudah begini, maka hal yang paling seru ku lakukan adalah menikmati siaran televisi.
Acara malam yang didominasi oleh acara sinetron ataupun talkshow tak sedikitpun menarik perhatianku. Yang membuat semangatku kembali membara adalah menonton sepakbola lokal, pertandingan kasta tertinggi liga indonesia itu baru berjalan separuh musim. Kebetulan malam ini tim favoritku sedang bertanding. Klub asal pulau dewata sedang berebut nilai dengan klub pemilik suporter bondo nekat asal ibu kota provinsi di jawa sebelah timur.
"Mbak, lihat tuh Nadeo mirip banget ya, sama Mas Dion?" tutur Kristy memperhatikan kiper ganteng timnas yang sedang membela klub asal Pulau Dewata itu.
Kami berdua adalah bagian kecil dari penggemar perempuan olahraga olah kaki ini. Namun kami bukan penikmat liga luar negeri, kami adalah lingkaran perempuan yang cinta produk lokal. Bagiku dan Kristy menonton liga indonesia itu lebih seru karena wajah wajah manis khas nusantara bisa memanjakan mata kami sepanjang pertandingan.
__ADS_1
"Dion kali yang mirip nadeo," aku membenarkan.
Kristy sibuk mengunyah klanting sambil terus nyerocos. "Sama aja, Mbak, yang jelas Nadeo Argawinata dan Mas Dion Wijaya itu sama-sama ganteng. Mbak, nemu Mas Dion di mana sih?"
"Nemu? Dion kali yang menemukanku," ucapku tetap fokus pada sang kiper ganteng yang mulai nampak menggoda dengan lelehan keringat di tubuhnya.
"Aduh ... Nadeo keringetan gitu, bikin aku jadi klepek-klepek," Kristy makin meracau.
"Emang tuh, Kris, ganteng banget. Aku makin jatuh cinta," aku ikutan semakin gila.
Memang benar pepatah yang mengatakan kalau cinta itu bisa membuat pelakonnya melupakan seisi dunia. Keasyikanku dan Kristy menikmati keindahan Nadeo, telah membuat Kristy mengabaikan dering telepon yang sudah berkali-kali bersuara. Aku pun seolah tak terganggu dengan jerit nyaringnya.
"HPmu bunyi, tuh, Kris!" ingat Mama yang kebetulan lewat ruang keluarga.
"Biarin aja, Ma. Lagi seru, nih," jawab Kristy.
Mama mengambil HP Kristy yang tergeletak sembarang di karpet. "Masmu, yang telepon."
"Kasih Mbak, aja, Ma! Pasti nyariin Mbak Rosa, tuh," pinta Kristy.
"Iya, Di," angkatku masih fokus pada Nadeo Argawinata yang juga sedang fokus menghalau bola dari tendangan pinalti tim lawan.
"Kalian, lagi ngapin, sih, Sayang? Aku telepon dari tadi gak diangkat-angkat," gerutu Dion.
"Nadeo lagi main, Di," jawabku singkat.
"Gara-gara dia lagi, terus, aku kamu cuekin?" Dion cemburu dengan Nadeo untuk kesekian kalinya.
"Ganteng banget, Di," pujiku.
"Ya udah, deh, kamu puas-puasin dulu sama dia!" putus Dion.
Tut-tut-tut!
Cuek!
Kembali ku fokuskan mataku pada siaran televisi. Waktu pertandingan yang tersisa lima menit waktu normal, tak ku ikhlaskan untuk berlalu begitu saja. Dion masih bisa ku telepon nanti tapi Nadeo tak akan menungguku dalam waktu dekat. Biarlah kekasihku itu menjadi yang kedua untuk sesaat.
"Ye ... menang! Nadeo, i lopyu," sorak Kristy begitu tim Nadeo berhasil meraih 3 angka untuk pertandingan malam ini.
Nadeo?
Dion?
Ingatanku langsung melukiskan visual kekasihku yang pasti sedang dilanda patah hati. Lagi-lagi aku lebih memilih Nadeo dibandingkan dirinya.
Ku tinggalkan Kristy yang masih setia memandangi Nadeo di layar televisi. Langkahku, perlahan meninggalkan ruang keluarga dan menaiki tangga untuk sampai ke kamarku di lantai dua. Pintu kamar minimalis itu ku buka dan segera ku ambil HP yang tergeletak di nakas. Segera ku sentuh nomor pemilik hatiku.
__ADS_1
"Sayang ...," sapaku setelah melihat wajah datarnya.
Dion masih belum menunjukkan senyumnya. "Hmmm."
"Marah?" tanyaku seraya memasang wajah seimut-imutnya.
"Aku lebih ganteng dari dia, kenapa kamu malah mengacuhkanku dan memilihnya?" ucapnya cemburu.
"Kamu jauh, Sayang, sementara dia ada di depan mata," jelasku dalam balutan senyum manja.
"Kamu, 'gitu sekarang? Jadi, mentang-mentang aku jauh terus kamu nyari yang deket. Pantesan tadi pagi kamu berduaan sama Aryan," beber Dion.
"Kok, Pak Aryan, sih, Di? Aku bahas Nadeo," aku mulai gerah dengan kecemburuan Dion yang membabi buta.
"Kamu menduakanku," vonis Dion.
Ku hela napas lebih dalam, berusaha tak terpancing dengan kecemburuannya. "Kalau aku mau, aku gak cuma menduakanmu, Di."
"Siapa? Aryan? Rud?" Dion menatapku tajam.
Manik mata Dion yang terlalu kuat menatapku itu, membuatku tak bisa lama-lama membalas tatapannya. Bukan berarti aku kalah dan mengakui apa yang ia tuduhkan. Namun terus menatapnya akan menanamkan pikiran jika aku menantangnya.
"Apa kamu mengakui yang ku bilang, Sayang?" marahnya.
Salah lagi, kan? Diam salah, apalagi kalau aku membantahnya. Dion jarang sekali begini, mengeluarkan emosinya padaku. Yang ku ingat, dia marah padaku saat aku menanyakan keadaan Mas Rud yang baru ia pukuli dan juga saat ia cemburu pada Pak Aryan. Dan sekarang dia marah padaku karena mereka berdua.
"Bukankah kamu yang mengizinkanku pergi dengan Pak Aryan? Kamu juga yang menemaniku menjenguk Mas Rud. Apakah kamu melihatku main hati dengan mereka?" aku mengingatkan.
"Kamu membuatku cemburu, apakah aku tidak boleh marah karena itu?" tanya Dion.
"Bagian mana yang membuatmu cemburu, Di?" aku terus berusaha melembutkan suaraku.
"Kamu terlalu perhatian dengan mereka," jujur Dion.
Ku tatap matanya lembut. "Aku hanya berterimakasih karena dia menolong nyawaku. Dia tertembak karena aku. Itu pun sudah kemarin, kenapa baru kamu masalahkan sekarang?"
Arrgghh!
Dion mengacak rambutnya, wajahnya pun tak luput dari sapuan kedua telapak tangannya. "Teruslah berterimakasih sampai kamu puas, sampai dia menguasai hatimu lagi, tapi jangan salahkan aku jika kamu kembali menangis karenanya."
Kesabaranku sudah sampai puncaknya. "Kenapa kamu bilang begitu, apa kamu pikir aku masih sedalam itu menginginkannya? Aku sudah berusaha sekuat mungkin melupannya karenamu, tapi kenapa kamu sama sekali gak mengerti?"
Airmataku sudah jatuh tak tertahankan. Hatiku begitu sesak karena tuduhannya. Namun, berusaha ku kuasai hatiku untuk bisa kuat berbicara padanya. "Kalau kamu masih berpikiran begitu, baiklah, kita koreksi ulang hubungan kita. Aku gak bisa berhubungan dengan orang yang tidak percaya padaku."
Ku tutup teleponku. Rasanya hatiku begitu lelah, lelah karena berusaha untuk mengabaikan panggilan dari hati yang lain. Namun hati yang ku perjuangkan malah menuduhku main hati.
Mengapa ia tak meneleponku balik? Mengapa ia tak berusaha membujukku? Mengapa ia diam saja saat aku memutuskan untuk mengoreksi ulang hubungan ini? Mengapa?
__ADS_1