Tentang Hati

Tentang Hati
Perasaan Sensitif


__ADS_3

Kekhawatiranku mulai mereda saat Dion menghubungi satu jam setelah panggilanku yang diabaikan. Maaf, itu kata yang pertama kali ia ucapkan karena membuat was-was. Begitulah dia, aku yang mengganggu konsentrasinya bekerja tapi tetap dia yang mengucap maaf.


"Malam ini aku pulang lebih malam. Pekerjaanku sedikit lebih banyak, tidurlah lebih dulu. Gak usah menungguku, ya! Sayang, aku baru bisa menemanimu ke dokter hari Sabtu, gak 'pa 'pa, kan?" ujar Dion yang kujawab dengan kata iya.


Kalimatnya yang dirangkum menjadi satu menunjukkan jika dia sedang diburu waktu. "Kembalilah bekerja, Mas. Jangan lupa makan siang," tuturku sebelum menutup telepon.


🕒🕒🕒🕒🕒


"Aku bawa bakso, Mbak mau gak?" tawar Kristy begitu masuk apartemen dengan kantong berwarna putih di tangan.


"Serius? Tahu aja kamu kalau aku pengen bakso," ucapku sambil mengambil bungkusan yang dibawa Kristy dan membawanya ke dapur.


"Biar aku aja, Mbak. Bumil gak boleh capek-capek. Ohya, Mbak resign? Kok 2 hari gak kerja?" cerca Kristy seperti biasa.


Sejujurnya, aku lupa kalau hari ini harus bekerja. Rasa capek yang membuatku bangun siang akhirnya jatuhlah keputusan untuk berbuat nepotisme. Mencari keuntungan dengan mengenal baik Pak Aryan, aku meminta izin untuk hari kedua. Begitulah detail jawaban yang kuberikan untuk pertanyaan Kristy.


Mencetuskan nama Pak Aryan membuatku ingat dengan pengintrogasianku padanya semalam di rumah Mama. Pembahasan tentang kedekatan orang tua kami yang sama-sama hanya hidup seorang diri.


"Kris, kayaknya Mama sama Papanya Pak Aryan kok deket banget, 'sih? Aku curiga," jelasku sambil memasukkan suapan pertama ke mulutku.


"Bagus dong. Mereka bisa jadi teman yang baik," jawab Kristy enteng.


Ya ... emang bagus, sih. Namun aku rasa kedekatan mereka bukan karena niat pertemanan tapi lebih dari itu. Percayalah jika hubungan yang dijalin laki-laki dan perempuan pada rentang usia berapa pun itu tak ada yang tulus, semua modus. Jangankan yang seusia mereka yang mungkin tengah berada pada masa pubertas kedua, anak kecil beda kelamin saja sudah mengenal cinta monyet.


"Bagaimana kalau mereka jatuh cinta, Kris?" tiba-tiba pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku.

__ADS_1


Kristy yang mendengar bukannya merasa risih tetapi dia justru tertawa dengan lebarnya. "Berarti kita akan mempunyai Papa tiri, Mbak."


Kuhentikan suapan baksoku untuk sementara. Reaksi saudara perempuanku itu benar-benar di luar tebakanku. "Kamu, mau?"


"Cinta itu milik siapapun Mbak. Membahagiakan. Selama mereka bahagia, aku juga akan bahagia. Toh siapa yang tidak ingin menjadi keluarga Tuan Najendra Dharma? Lelaki yang paling setia," jelas Kristy yang kubenarkan semua.


Pernyataan Kristy tentang cinta memang benar. Cinta itu adil. Dijatuhkan pada hati semua orang tanpa memandang latar belakang. Usia juga tak bisa dijadikan alasan untuk menolak cinta itu datang, karena cinta dibutuhkan sepanjang usia bukan hanya saat usia muda.


Jika bicara tentang kesetiaan, Tuan Najendra Dharma memang didaulat sebagai lambang kesetiaan pria terhadap istrinya. Hidup dalam keglamoran dunia perfilman tak lantas membuatnya dengan mudah mengganti pemilik singgasana hatinya. Seperti kebanyakan orang yang akan menjatuhkan pilihan pada daun muda. Dan kesetiaan itu sepertinya menurun pada putra semata wayangnya, Pak Aryan Satya Dharma. Kalian tahu sendirilah bagaimana lelaki itu belum juga mengganti namaku di hatinya meskipun kami hanya bisa sebatas hubungan persaudaraan.


"Aku rasanya gak rela Papa digantikan, Kris," jujurku.


Perasaanku tiba-tiba berubah menjadi mellow. Membayangkan jika keberadan Papa sebagai lelaki teristimewa di hati Mama akan digantikan oleh orang lain, membuatku sungguh tak ikhlas.


"Entahlah, Kris. Mengapa aku jadi begitu egois? Perasaanku lebih sensitif dan mudah menangis," ucapku sambil mengerjap-ngerjapkan mata, menahan bulir bening yang sudah mengintip di kedua sudut indera penglihatanku.


"Pengaruh hormon kehamilan itu, Mbak. Perasaan jadi sensitif dan mudah baper. Ayo senyum, bumil harus bahagia!" pinta Kristy sambil menjewer pipiku agar tersenyum.


"Kapan jadinya mau ke dokter?" tanya Kristy tanpa terjeda aku bicara dari penjelasan sebelumnya.


"Sabtu, Kris. Mas Dion sibuk banget. Sebenarnya sejak semalam aku merasa tidak tenang. Sepertinya ada masalah dengan pekerjaannya tapi dia gak mau bilang," curhatku sambil meletakkan sendok dan garpu di mangkuk, menghentikan makan bakso.


"Tenang, Mbak. Percaya sama Mas Dion. Bukankah Mbak sendiri yang bilang kalau Mas Dion itu bukan tipe orang yang suka membagi masalah pekerjaan di rumah? Cukup Mbak berada di sisinya, maka itu adalah dukungan terbesar yang ia butuhkan."


Kalimat nasihat Kristy seperti copy paste dari Dion. Sama. Dan sepertinya aku harus mengabaikan kekhawatiranku yang berlebihan dan mendengarkan mereka. Mungkin aku memang sedang dikuasai oleh hormon kehamilan yang membuatku menjadi lebih terbawa perasaan.

__ADS_1


🥯🥑🥯🥑🥯🥑


Suara bel apartemen berbunyi ketika aku sedang bersantai. Kulihat malam baru menyentuh pukul delapan. Siapa yang berkunjung jam segini? Apakah Abang apartemen depan?


"Donat alpukat, 'nih," ucap Pak Aryan sambil menyodorkan kantong bening dengan cetakan nama sebuah restoran terkenal.


"Emang ada donat alpukat?" celetukku sambil menerima pemberiannya.


"Ada, kalau aku yang bawa. Donat Alpukat Uncle Aryan," guraunya yang kubalas dengan cebikan.


"Dion belum pulang? Kok tumben kamu yang bukain," tanya Pak Aryan sambil melipat lengan kemeja.


"Banyak kerjaan," jawabku singkat.


"Masuklah, makan donat dan alpukatnya terus istirahat! Kalau ada apa-apa, panggil aku!" perintah Pak Aryan yang langsung kuturuti. Menutup pintu dan berkutat di dapur menyiapkan nampan, pisau, gula dan piring saji.


Buah adalah makanan yang sangat bisa kutelan saat rasa mual mulai menyerang. Diterima dengan baik oleh mulut dan perutku. Alhasil tak ada sehari pun berlalu tanpanya. Dan Pak Aryan rajin membawakanku segala jenis buah-buahan dua hari sekali. Kulkas pun tak kalah dengan toko buah.


Meskipun Dion memintaku untuk tidak menunggunya, tapi aku belum tidur sejauh ini. Jam yang belum juga menyentuh pukul sembilan, membuatku masih terjaga di depan televisi. Sembari nyemil buah yang dibawakan Pak Aryan, aku berharap Dion segera datang. Meskipun kenyataannya, hingga mataku tak dapat kutahan untuk tak terpejam, aku masih sendiri.


🌠🌠🌠🌠🌠


Mataku menatap nanar saat netraku yang masih setengah terbuka mendapati Dion tertidur di sofa sebelahku. Kemejanya nampak lebih lusuh. Mukanya kusut dan wajah lelahnya nampak sangat nyata. Kurapikan rambutnya yang nampak berantakan dan kukecup keningnya.


"Mas, ada apa?"

__ADS_1


__ADS_2