Tentang Hati

Tentang Hati
Calon Imamku


__ADS_3

Adzan subuh sudah berkumandang. Terdengar sayup-sayup merdu di telingaku. Ku paksakan membuka mataku yang masih mengendapkan rasa kantuk. Sedikit terbuka tapi perlahan akan kembali melukis mimpi. Namun sebelum sukses bermain di alam mimpi, terdengar suara ketukan dari pintu kamarku.


Tumben, siapa yang membangunkanku jam segini? Kristy dan Mama gak pernah melakukan itu lagi, semenjak aku dewasa. Aku sudah bisa melakukan kewajibanku menghadap Sang Illahi tanpa perlu diingatkan lagi. Selalu dan tepat waktu.


''Aku, udah bangun," jawabku memberi tanda agar siapa pun di luar sana tak lagi mengetuk pintu.


"Ayo, salat jamaah," suara balasannya.


Hah ... salat jamaah? Suara lelaki? Dion? Bagaimana mungkin? Aku pun langsung turun dari ranjangku. Tak memedulikan penampilanku yang entah bagaimana semrawutnya.


Ceklek!


Pintu kamarku terbuka setengahnya. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Tak percaya dengan apa yang tertangkap oleh indra penglihatanku. Lelaki bersarung, baju koko dan berkopyah. Tampan sekali.


"Cepetan wudhu, masih aja kaget lihat ketampananku," perintah Dion dengan kerlingan matanya.


Aku pun menutup pintu kamarku. Banyak tanya menggantung di pikiranku. Siapa? Mengapa? Bagaimana? Kapan? Aahhhh ... pokoknya semua kata tanya itu sukses memenuhi otakku.


Ku basuh anggota badanku dengan air wudhu. Menjernihkan pikiranku dari berbagai pertanyaan tentang kekasih yang tiba-tiba saja bisa ada di rumahku untuk mengajak salat subuh berjamaah. Ku segera menyelesaikan wudhuku dan menutupnya dengan sebuah doa. Lantas ku ringankan langkahku menuju ruang salat menemui calon imamku. Ku lihat Dion sudah menungguku dengan melafadzkan dzikirnya.


Sayang, inikah sisi lain dari dirimu yang begitu indah?


"Udah siap?" tanya Dion saat menyadari aku sudah berada di belakangnya.


Aku mengangguk, masih kelu mendapati kenyataan kala subuh menyapaku ini. Kenyataan bahwa kesalehan Dionku di atas ekspektasiku.


Salat yang terdiri dari dua rakaat ini, seperti ibadah panjang yang menghanyutkanku dalam kekhusyukan. Kedamaian pagi yang dihiasi oleh merdunya suara Dion melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an membawaku pada ketenangan yang memenuhi seluruh jiwaku.


Assalamu'alaikum warahmatullah ... salam penutup salat mengakhiri ibadah yang ingin ku dirikan lagi bersamanya. Bersamamu sebagai imam halalku. Dia mengulurkan tangan kanannya. Ku sambut dengan senyum dan segera ku bawa menemui indra penciumanku.


Dion tersenyum, ''Aku merasa seperti suamimu."


"Jadikan, aku, istrimu," pintaku dalam ketidaksadaran bicara.


"Sesegera mungkin," janji Dion sambil mengecup keningku.


Baper ... baper ... baper ....

__ADS_1


Di, aku gak tahan kalau kamu selalu seromantis ini. Aku takut kamu akan direbut pelakor, jika saja mereka tahu kamu sesempurna ini.


Cepat halalin, aku!


Otakku sepertinya mulai konslet. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku pelan, mengusir pikiran-pikiran di luar batas yang menyerangku.


Dion memandangku seraya tersenyum, "Bayangin udah jadi istriku?"


Kenapa pertanyaannya itu jleb banget. Tepat menyasar pada hasil hayalku. Haruskah aku malu atau malah senang? Tapi rasanya percuma saja aku malu, toh Dion bisa tahu tanpa aku harus menjelaskannya.


"Nikah yuk, Sayang!" ucap Dion sembari tersenyum lembut.


Tuh, ditembak gini aku jadi kelabakan, kan? Pasti nampak jelas kalau aku salah tingkah. Cinta sih cinta, tapi untuk menyatukan dalam mahligai bahagia? Aku masih perlu waktu.


Dion mengusap kembali kepalaku yang masih bersembunyi di balik mukena. "Gak usah dipikirin, aku akan menunggumu siap untuk menjadi istriku, berapa lama pun itu. Entah bulan depan, tahun depan atau di kehidupanku mendatang."


Waktu berlalu tanpa kata. Aku terhenyak oleh katanya yang kembali membuatku bahagia menjadi ratu di hatinya. Dia pun diam karena memperhatikanku yang juga terdiam.


"Ayo, kita olahraga," ajak Dion. Dia kemudian meraih tanganku untuk berdiri. Dia melihatku dengan senyum smirknya, "aku sudah lama tidak berkeringat."


"Mbak Rosa, jangan racuni Mas Dion dengan pikiran kotor," celetuk Kristy semalam kembali teriang di telingaku.


Ish ...!


*****


Suasana masih gelap, udara dingin yang menyejukkan menjadi saksi kami berolahraga. Iya ... olahraga pagi ... bersepeda. Sebenarnya lebih tepat disebut Dion yang berolahraga. Dia yang mengayuh sepeda dan aku duduk santai di belakangnya. Kami menyusuri jalan-jalan di sepanjang komplek rumahku, melewati sebuah danau kecil dan menghentikan roda sepeda di sana.


"Aku mau lari, kamu ikut gak?" tawar Dion.


Aku tak menjawab, hanya memberikan tanda silang dengan kedua tanganku. Dion malah tersenyum, "Kamu gak berubah, ya, susah banget di ajak olahraga dari dulu. Kamu di sini aja, jangan lari dari cintaku."


Ku perhatikan lelaki itu. Langkah panjangnya yang berteman peluh keringat itu nampak sangat menggoda mataku. Kenapa dulu aku tak melihat pesona menawannya? Bisa-bisanya aku buta selama sepuluh tahun. Apakah rasa benci bisa menutupi kesempurnaannya?


Aku terlalu asyik menikmati indahnya, hinggga tak sadar ia telah duduk di dekatku. Ia mengambil sebotol air minum dan meneguknya. Oh ... aku semakin tergoda. Jakunnya yang naik turun itu, rambutnya yang basah oleh keringat, aahhh ... sungguh meruntuhkan imanku!


"Apa kita harus pulang sekarang?" tanya Dion membuyarkan hayalanku.

__ADS_1


"Kenapa?" tanyaku balik.


"Kamu terlalu berhasrat melihatku," jawabnya enteng.


Blast!


Aku terciduk untuk kesekian kalinya. Malu? Mungkin malu sudah bosan menjadi kambing hitam akibat ulahku. Ahh ... bodo amatlah. Percuma juga aku berkelit. Haruskah aku malu di depannya?


"Nikah aja, yuk!" lagi-lagi Dion melakukan penawaran padaku.


"Aku punya tiga permintaan," tantangku bercanda.


"Aku berasa jadi jin," gurau Dion.


"Iya, kamu jin, gentayangin aku puluhan tahun, gak bosen-bosen." jelasku.


Dion tersenyum smirk, "Tapi kan ujung-ujungnya cinta, tergila-gila malah."


"Gak ada, ya, begitu! Kamu tuh yang tergila-gila sama aku," kilahku sambil mengambil sepeda dan menaikinya.


Ku kayuh santai sepeda pink-ku. Sepeda kesayangan yang ku beli dengan gaji pertamaku. "Loh, kok, jadi berat?" aku menoleh ke belakang dan ku lihat Dion sudah duduk di boncengan. Senyum manisnya melawan ekspresi kecutku.


"Turun, aku mana kuat bonceng kamu!" perintahku.


"Kalau cinta itu harus seiring jalan, Sayang. Kadang aku di depan untuk membimbingmu, tapi juga bisa di belakang untuk mendukungmu. Aku di belakang bukan berarti menyerahkan seutuhnya di langkahmu, aku akan tetap meringankan jalanmu." Dion melelehkan lagi hatiku.


"Pagi-pagi jangan gombal, nanti aku mual," gerutuku.


"Apakah sentuhanku semalam bisa membuatku menjadi calon Bapak secepat ini?" lagi-lagi Dion menggodaku.


Kata-kata terakhirnya ini, memerahkan telingaku. Godaannya sudah gak lucu lagi. Bagaimana jika kalimatnya itu di dengar orang lain? Apakah tidak akan menjadi fitnah? Apakah ia lupa jika nyinyiran netijen itu pedesnya melebihi cabe Moruga Scorpion dari Trinidad dan Tobago, cabe terpedas sedunia yang bukan hanya bikin sesek lahir batin, tapi juga mematikan.


Aku hendak mengayuh lagi sepeda yang sempat terhenti. Tiba-tiba saja, Dion mengambil alih setang sepedaku. "Kamu gak boleh capek-capek, Sayang, kamu harus menjaga janin kita."


Sayang, kamu semakin membuatku ingin memakanmu, godaanmu semakin membuatku malu. Tapi sejujurnya, di sudut hati terjauhku, aku merasa bahagia dengan hayalan masa depan yang ingin dia wujudkan bersamaku.


'Pegangan yang erat, ya, Sayang!" Dion mengusap tanganku yang melingkar di perutnya. Dia tersenyum, "Selalulah bahagia di sampingku!"

__ADS_1


__ADS_2