Tentang Hati

Tentang Hati
Rahasia Mimpi Masa Depan Bersamaku


__ADS_3

Aku merasa seperti adegan drama korea dalam dunia nyata. Bersepeda di tepi danau dalam canda yang lepas tanpa beban. Ini seperti mimpi bagiku, dan mungkin juga bagi Dion. Tak pernah terlintas dalam pikirku jika pada akhirnya aku bisa jatuh ke dalam rengkuhan cintanya. Lelaki yang dulu selalu ku abaikan perasaannya, tapi tak pernah jera mengejarku. Sesuatu yang amat manis untuk ku kenang.


"Lihat deh, ABG yang lagi pacaran di sana!" Dion mengarahkan pandanganku pada sepasang sejoli yang tengah duduk di tepi danau.


Aku memperhatikan mereka, "Gak ada yang aneh.'' Aku kemudian mencari jawaban dari mulut Dion.


Dia melihatku dan kembali melihat dua sejoli tersebut.


''Aku dulu ingin sekali seperti mereka,'' tutur Dion.


''Gak kesampaian?'' tanyaku setelah melihat raut kekecewaan di parasnya.


Dion menyentil hidungku, ''Kamu menolakku, bukan hanya sekali tapi berulang kali.''


Aku tersenyum nyengir mendengar pengakuannya. Aku lupa jika Dion sudah mulai mengejarku semenjak SMP kelas satu. Seumuran dengan pasangan yang kami perhatikan tengah asyik memadu kasih itu.


''Sakitnya lagi tuh, kamu malah seringkali bercanda dengan cowok-cowok di depan mataku, aku jealous,'' ungkap Dion.


''Maaf, ya, aku tak bermaksud begitu. Kamu kan tahu kalau mereka hanya teman-temanku, gak lebih dari itu.'' jelasku.


Dion meraih daguku dengan jarinya, ''Tapi mereka menyukaimu, Sayang.''


''Apakah kecemburuanmu masih ada sampai sekarang, untuk setiap lelaki yang ada di sekitarku?'' tanyaku seraya menatap matanya.


''Kecemburuanku akan selalu ada, Sayang, karena aku mencintaimu.'' terang Dion seraya melepaskan daguku dan berganti membelai rambutkku lembut.


''Asal gak cemburu buta, aja!'' ucapku tajam sambill meliriknya.


''Jangan melirikku begitu,'' tukas Dion.


Bukannya berhenti melirik, tapi aku malah semakin menggodanya dengan lirikan nakalku. Aku memang sengaja memancingnya, karena aku selalu merindukan wajahnya yang menggemaskan itu kala menahan diri dari godaanku.


''Aku jadi lapar kalau kamu lirik begitu,'' ujar Dion sambil menggandeng tanganku berjalan beriringan. Dion menunjuk gerobak biru di dekat kami, ''Bubur ayam, mau?''


''Aku gak suka bubur ayam,'' tolakku.

__ADS_1


''Kalau jatuh cinta padaku saja kamu bisa, masa suka sama bubur ayam itu sulit?'' Dion memaparkan.


Ya jelas beda dong! emang sih, bubur ayam dan kamu itu punya persamaan, sama-sama bisa kunikmati. Namun kamu itu penuh pesona, sementara bubur ayam penuh kelembekan yang membuatku merasa huek.


''Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?'' tanyaku.


''Aku bahagia, akhirnya kamu mengakui kalau aku penuh pesona,'' ungkap Dion lalu merangkulku dan membawaku ke sebuah tenda makanan.


''Lepasin, badanmu penuh keringat,'' alasanku.


Dion menguatkan rangkulannya dan mendekatkan bibirnya ke telingaku. ''Cowok penuh keringat itu sexy.''


Hatiku berdesir mendengar untaian katanya. Tubuhku seakan kesetrum aliran listrik, mendadak bergetar. Aku berusaha melenyapkan seliweran adegan-adegan abnormal yang tiba-tiba memenuhi pikiranku. Adegan yang dipenuhi oleh keringat-keringat yang mengucur di wajah dan mengalir hebat ke sekujur tubuh seorang lelaki berpredikat sexy. Ish ...!


''Kenapa kamu jadi mesum sekali, sih, Di?" tanyaku membalikkan fakta.


Dion tergelak mendengar pertanyaanku. ''Aku laki-laki normal, Sayang.''


Laki-laki normal? Tentu saja Dion laki-laki normal. Sayangnya, aku melupakan fakta itu. Lupa karena selama dia bersamaku, ia tak pernah memperlihatkan aura kemesuman dari pikirannya.


''Selama ini aku menahannya, Sayang,'' jelasnya seperti bisa membaca pikiranku. Dion mengerlingkan matanya seraya tersenyum smirk. ''Tapi sekarang pertahananku mulai runtuh.''


''Kalau aku gak nakal, bagaimana Dion junior ini bisa ada diperutmu, Sayang.'' terang Dion mengungkit candaan kami sebelumnya.


Aku sudah tak menggubris Dion dan kata-kata nakalnya. Segera ku hadapi kenyataan untuk menyantap sepiring nasi pecel kembang turi yang tersaji di mejaku. Ini makanan favoritku yang sudah lama ku rindukan, dan Dion membawaku melepas kerinduan. Manis sekali, dia memang selalu mengerti apa mauku bahkan sebelum aku mengutarakannya.


''Dion ... kamu ... Dion ... kan?'' suara seorang perempuan mengusikku.


Aku menoleh ke arah Dion, karena aku yakin suara itu memanggil Dionku. Wow ... seorang perempuan cantik usia tiga puluhan awal sedang berdiri di hadapan Dion. Perempuan itu nampak sexy dengan pakaian olahraga yang serba ketat.


Mata! Kondisikan matamu, Sayang!


Pikiranku langsung teringat dengan mata Dion. Jangan sampai matanya bermain liar dengan pemandangan indah di hadapannya. Bagaimanapun, Dion lelaki normal yang gak akan melewatkan begitu saja vitamin yang menyehatkan ini.


Dion tersenyum melihat perempuan itu. ''Iya, Bu, aku Dion. Bagaimana kabar, Ibu?''

__ADS_1


''Aku bahagia dan semakin bahagia bisa bertemu denganmu di sini. Berapa lama ya, kita tidak bertemu?'' tukas perempuan itu dengan gaya sexy-nya.


Kenapa, sih, gayanya kayak ikan lele kekurangan air begitu?


Ih ... sok kecakepan banget. Tapi, dia emang cakep, sih.


Perempuan ini memang mempunyai wajah yang cantik. Meskipun ku nilai terlalu berlebihan dengan make up-nya untuk ukuran acara olahraga. Badannya juga bagus, padat berisi. Wah, alarm bahaya ini!


Nampaknya Dion mendeteksi sinyal kecemburuan di hatiku. Dia melihatku lembut dan tersenyum. Perempuan itu rupanya juga jeli dengan arah pandangan Dion padaku.


''Ini, pacarmu?'' tanya perempuan itu seraya melihatku.


Dion melihatku. ''Bukan, Bu.''


Aku kaget dengan jawaban Dion. Padahal, aku sudah siap membusungkan dada untuk berbangga hati disebut sebagai pacarnya. Oh ... jadi gini, ya! Tega kamu gak ngakuin, aku. Baiklah, awas saja kalau makhluk penggoda ini sudah enyah. Aku putus kamu jadi pacarku! berani-beraninya menolakku mentah-mentah di hadapan sainganku.


''Ibu, masih punya kesempatan berarti?'' perempuan itu semakin ganas menggoda kekasihku, setidaknya itulah yang ku tangkap dari gerak-gerik dan kata manisnya.


Kalian ... kalian ...!


Awas, ya, Kalian! Mau main di depanku? Oke! Kau, Di, jangan mengharap kesempatan kedua dariku.


Hatiku sudah dipenuhi oleh asap-asap kekasih yang tak dianggap, yang sebentar lagi akan menguap menjadi barisan para mantan.


Dia, calon istri, saya, Bu.'' Dion memeluk pinggangku.


Cess!


Hatiku langsung adem. Ibarat sayur yang habis di gelar di rak dan langsung menghempas di kulkas. Dan sepertinya, Dion juga sengaja menghempaskanku dari kecemburuan dan melemparkan ke awan. Pacar menyebalkanku, bolehkah aku menciummu sekarang juga? Aku gemes dengan caramu mencintaiku. Ah ... kenapa jadi aku yang mesum?


Aku kaget, saat tiba-tiba saja perempuan itu meraihku ke dalam pelukannya. ''Selamat, ya, adik cantikku! Kamu, pasti Rosa, ya!'' Aku mengangguk dengan pertanyaannya.


Bagaimana dia bisa mengenalku? Siapa wanita ini? Apakah aku sudah membuang waktu dan tenagaku untuk mencemburuinya?


Perempuan itu melepaskan pelukannya padaku. Dia menggenggam jemariku. "Aku adalah psikolog di klub bolanya dulu. Dia sudah ku anggap adikku sendiri. Dia selalu menceritakanmu sepanjang waktunya. Menceritakan bagaimana ia mencintamu dan mimpi-mimpi indah yang ia ingin wujudkan denganmu.''

__ADS_1


''Jangan membocorkan rahasiaku, Bu!'' Dion nampak malu-malu. Dion menatapku lembut. ''Biarlah waktu yang akan membuktikan cintaku padanya .''


Aku penasaran. ''Apa rahasianya untuk masa depan yang ingin dia wujudkan denganku?


__ADS_2