Tentang Hati

Tentang Hati
Malamnya Para Pria


__ADS_3

Dion PoV


Empat lelaki tampan sedang berkumpul di kamar Rendra. Siapa? Tentu saja aku sebagai pria paling tampan karena bisa mengalahkan dua lelaki yang katanya juga tampan. Rendra menempati posisi kedua karena ia lelaki pertama yang akan sold out di antara kami berempat. Rud? Dengan berat hati ku perbolehkan dia mendapatkan medali perunggu. Bagaimanapun ia lebih unggul daripada Aryan. Rud sempat memiliki hatimu, tidak seperti Aryan yang harus puas berstatus teman.


"Eh, tadi kemana? Main ngilang-ngilang, aja," Rendra mengintrogasiku.


"Bercinta, dong," jawabku tanpa rasa malu.


Rendra meneguk kopi panasnya. "Omdo. Rud, apa tadi kamu juga bercinta? Ikutan ngilang," Rendra berlagak seolah jadi polisi yang menyelidiki sebuah kasus menghilangnya para lelaki tampan dari acara midodareni. Sorot matanya tajam, begitu mendalami perannya yang harus terlihat garang.


"Mungkin, mereka bercinta, berdua," celetuk Aryan yang membuatku merasa jijik.


"Aku punya wanita yang bisa ku ajak bercinta, ngapain ngajakin, dia? Emang aku udah gak normal, apa?" sergahku.


"Aku juga pernah bercinta dengan wanita ...," Rud tak meneruskan kalimatnya.


Namun aku tahu apa kelanjutan yang ada di pikirannya. Kalimat yang sengaja digantungnya itu, justru membuatku geram. Namun aku memilih menahan diri. Aku tahu, dia memang sengaja mau menyulut emosiku. Padahal sebenarnya dia mau menunjukkan pada semua bahwa dia telah menang satu langkah karena pernah melakukan itu padamu.


Rupanya Rendra dapat melihat bara api pergulatan hati yang mulai disulut oleh Rud. "Kalian berdua jangan merusak hari bahagiaku!"


"Kalau aku berniat merusak hari bahagiamu, lelaki di sebelahku ini gak ada di sini sekarang," selorohku santai.


Aryan tiba-tiba memilih duduk diantara aku dan Rud. Senyumnya terkembang tanpa merasa berdosa. "Kalian berdua selow aja kenapa, sih. Untuk malam ini, hentikan memperebutkan Rosa! Kita happy-happy dengan pesta bujang buat Rendra season dua."


"Setuju! Malam ini kita lupakan yang namanya wanita!" Rendra membuat peraturan.


Aryan berpindah lagi, rebahan di karpet bulu dari duduknya di sofa. "Ren, rasanya mau nikah gimana, sih?"


"Deg-degan," aku Rendra. "Aku gak nyangka bisa nikah diumurku yang sekarang, menjelang dua puluh enam tahun. Padahal dulu aku berpikir bakalan nikah menjelang kepala tiga," curhat Rendra.


Aryan menerawang. "Aku justru pengen nikah muda, lulus kuliah pengen langsung nikah. Eh, malah udah kadaluwarsa enam tahun lebih dari targetku."


"Apa mungkin jodoh kita tertukar?" Rendra tersenyum nyengir dan justru disambut kekehan dari Aryan.


Menertawakan diri mereka sendiri akan jodoh yang datang tak sesuai dengan harapan. Dua lelaki itu tenggelam dalam canda tentang nasib percintaan mereka yang berlawanan arah. Mereka tak sadar jika di dekat mereka juga ada dua lelaki yang sedang memperebutkan satu wanita yang sama.


Aku tak memperdulikan dua lelaki yang sedang menertawakan diri mereka sendiri itu. Aku fokus dengan HPku. Menyampaikan rindu pada pemilik hatiku. Memang belum setengah jam aku bercanda denganmu tapi rasanya aku selalu ketagihan menikmati tawamu. Selalu ingin berada di sisimu, melihat wajahmu, menikmati senyummu dan mendengar suaramu yang menggoda.


"Ren, sepupumu kok bisa bucin, gitu, gimana ceritanya?" Aryan mengulik kisah percintaanku denganmu.


"Tanya aja orangnya, tuh paling lagi gombalin Rosa," jawab Rendra enteng.


Aku letakkan HPku karena sebenarnya kamu udah offline. Ku rasa kamu sudah bermain di alam mimpi sekarang. Oleh karenanya, lebih baik aku bergabung dalam obrolan dua lelaki ini. "Aryan, kamu beneran mau tahu?"


"Hmmmm," jawabnya seraya beringsut memutar tubuhnya ke arahku.


"Aku jatuh cinta karena keketusannya," awal ceritaku.


Aryan semakin tertarik untuk mendengar ceritaku selanjutnya. "Lanjut!"


Ku lirik Rud yang tengah sok asyik menikmati acara televisi. Ku yakin dia hanya pura-pura padahal ingin juga mendengar ceritaku berikutnya. "Ada yang bilang jika banyak wanita yang lebih cantik dari Rosa di luaran sana, aku membenarkannya," ku hentikan kalimatku untuk melihat reaksi Rud.

__ADS_1


Dan ... masuk jebakan! Dia menoleh ke arahku. Ku sambut dengan seringai senyum. "Bagiku, semakin ketus, Rosa semakin cantik. Dan aku semakin jatuh cinta," paparku berikutnya.


Rud kembali melengos. Berlagak tak terpengaruh oleh apa yang baru saja aku ucapkan. Mengambil HPnya dan bermain dengan benda pintar itu.


"Ketusnya Rosa berbahaya, ya, berarti?" gumam Aryan.


"Hati-hati kalau kamu diketusin Rosa! Bisa-bisa makin jatuh cinta, makin sakit hatimu nanti," ingat Rendra pada Aryan.


Aryan tersenyum. "Biarlah aku patah hati asal dia bahagia."


"Sepupu bucinku, saingan yang harus kamu waspadain nambah satu," ledek Rendra padaku.


Tak ku tanggapi hasil perhitungan mutakhir Rendra tentang jumlah terbaru hati yang bersaing untuk memperebutkanmu. Tidak penting! Mau berapapun itu, tak akan berpengaruh pada perjuanganku untuk segera meminangmu sebagai istriku. Sepanjang waktu yang ku lalui dalam penolakanmu, aku yakin telah berhasil menyingkirkan saingan-sainganku tanpa harus merasa tersaingi. Kehadiranku di sisimu meski hanya sebagai pencinta yang tak dicintai, nyatanya sukses membuat lelaki-lelaki yang akan mendekatimu sedikit ciut nyali.


"Cinta itu harus diperjuangkan!" celetuk Rud yang entah ditujukan untuk siapa.


Aryan angkat bicara dengan gaya santainya. "Sekarang, aku juga sedang berjuang untuk kebahagiaannya. Berjuang untuk ikhlas, dia akan menjadi milik penguasa hatinya."


Aryan! Pantaskah aku juga menganggapnya sebagai saingan? Benar, dia menaruh hati padamu. Namun ia adalah pemanjat doa untuk kebahagiaan kita. Jadi seharusnya aku juga berdoa untuk kebahagiaannya. Bukankah begitu etikanya?


"Berjuang itu jangan nanggung, Bro! Tali jodoh itu panjang. Pernikahan bukan jeruji yang menghalangi jodoh yang belum sempat divonis. Apalagi yang masih belum menikah," Rud menebarkan racun-racun pada keikhlasan cinta Aryan.


"Pernikahan itu suci dan aku menjunjung tinggi itu," singkat tapi menohok, itulah kalimat manis Aryan untuk membalas racun Rud.


"Sok ngomongin pernikahan, pada nikah aja, belum," celetuk Rendra melonggarkan ketegangan yang makin menjadi.


Rud berdiri dari duduknya dan berjalan menuju jendela. "Untuk berbicara pernikahan, tidak harus menunggu menikah."


"Aku pernah mundur dan ternyata aku menyesal. Aku bukan orang bodoh yang akan melakukannya dua kali," ungkap Rud sambil memperlihatkan senyum seringainya.


"Orang pinter gak akan menyambut uluran tangan dari orang yang pernah menyentakkan tangannya. Dan aku yakin Rosa bukan termasuk orang bodoh yang akan terperangkap cinta yang menyakitkan untuk kedua kalinya," skakmatku.


Rud memutar tubuhnya ke arahku. "Kita, lihat! Siapa yang akhirnya menjadi penghuni terakhir hati tunanganmu, itu?" tukas Rud sebelum beranjak pergi dari hadapan kami semua, masuk kamar mandi.


Batu! Aku seperti sedang melihat cerminanku pada dirinya. Nekat berjuang tanpa memperdulikan rasa sakit yang siap menggerogoti. Tak putus berharap meskipun keputusannya sendiri tak bisa ku pastikan. Bedanya, batuku sudah berlumut dan akan semakin hijau dengan beraneka tumbuhan yang menghijaukan. Sementara batumu tinggal menunggu pecah dan lahirlah makhluk lain berjenis siluman yang bernama Sun Go Kong (Si Kera Sakti), Selamat Menikmati Kejamnya Rasa Sakit Hati.


Tunggu, waktu itu, datang!


"Halo, para bujang! Tidakkah kalian membiarkan calon pengantin untuk beristirahat," sapa Ayah dari pintu yang setengah terbuka.


"Lagi seru, yah," jawab Rendra.


Ayah melangkah masuk dengan senyum sumringahnya. "Boleh gabung, gak?"


"Gabung aja, Om. Sekalian kita bisa sharing sama masternya," Aryan menimpali.


"Ngobrolin apa, sih?" tanya Ayah setelah duduk bersama kami. "Rud udah tidur? Kok, gak ikut gabung."


"Ke kamar mandi, Yah. Dia kegerahan kayaknya," celetuk Rendra.


Ayah melihat AC dan nampak bingung setelah mendapati AC itu tengah menyala tapi Rud masih merasa kegerahan. Apalagi, di luar udara juga lumayan dingin. "Kenapa dia bisa kegerahan? tanya Ayah yang tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

__ADS_1


"Biasa, Yah, masalah cewek," jelas Rendra tanpa basa-basi.


"Rud sudah punya pacar?" Ayah semakin kepo.


"Mantan, Yah," Rendra tak bosan menjawab pertanyaan Ayahnya.


"Udah mantan kok masih dibahas, cari yang lain, dong!" tukas Ayah.


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka. Rud keluar dengan ujung-ujung rambutnya yang basah. Dia berjalan ke arah kami dan memilih duduk di tempatnya semula. Meraih HPnya dan mulai tenggelam dengan dunianya sendiri.


"Rud, besok dandan yang paling tampan! Ayah kenalin sama cewek cantik. Mantan jangan terus dikenang!" papar Ayah menampakkan ke-playboy-annya semasa muda.


Rud menengok dan tersenyum. "Terimakasih, Ayah, tapi mantan yang ini gak akan tergantikan.


"Kenalin, dong, sama Ayah!" pinta Ayah dengan mengangkat kedua alisnya.


Rendra membuka tabir rahasia tanpa pikir panjang. "Ayah udah kenal."


Ayah mengerutkan kening. "Siapa?"


Diam!


Hening!


"Siapa?" Ayah mengulang pertanyaannya.


Rendra mengedarkan pandangannya pada semua penghuni kamar. Melihat Rud, cuek tak menggubris apa yang akan dia jawab. Berhenti di aku, dan mengangkat alisnya meminta persetujuan.


"Rosa," jawabku tanpa rasa ragu.


Ayah terlihat terkejut. Sepertinya jawaban itu sama sekali tak terlintas di pikirannya. "Rosa, calon istri kamu?" Ayah memastikan.


"Kasus berat, ini! Ayah angkat tangan! Aryan, putra Ayah yang tampan, kamu jangan terlibat cinta rumit mereka, ya! Carilah gadis single! Kalau kamu gak bisa cari sendiri, nanti Ayah carikan," tutur Ayah yang menyuruh semua lelaki di hadapannya ini memanggilnya Ayah.


"Ayah terlambat," celetuk Rendra.


Ayah menoleh ke arah Rendra. Mendapati sang anak yang sedang cengengesan. Berganti menatap Aryan, menelisik kebenaran yang baru saja Rendra ungkapkan. Senyum penuh pesona lelaki itu, membuat Ayah menggeleng-gelengkan kepalanya. Ayah menyadari bahwa Aryan juga membenarkan pengakuan Rendra.


"Oh My God! Kepala Ayah rasanya mau pecah. Kenapa ketiga putra Ayah terlibat cinta dengan satu wanita yang sama? My sons, kalian luar biasa! Seharusnya, jangan rebutan bertiga, jadikan Ayah sebagai saingan kalian yang keempat, Ha-ha-ha ...,"


"Ayah, kan juga mau," aku Ayah seraya berlari kecil dari kamar Rendra dan memilih keluar, takut kena timpukan dari keempat anaknya.


"Ayaaaaaaaaaahhhhh ...!" teriak Rendra penuh kegeraman.


*****


Author Tentang Hati itu orangnya santuy, upnya sehari sekali aja. Nah, pasti geregetan, kan? hehehe


Daripada esmosi, mending baca deh novel temen author yang satu ini.

__ADS_1



__ADS_2