
Hening masih menyelimuti ruangan. Lima pasang mata masih terfokus pada Dion yang ingin membagikan sebuah kabar yang aku sendiri tak mengetahui itu kabar apa. Semakin menunggu, suami tampanku itu semakin lama menjeda kalimatnya. Raut wajah yang dipasang datar itu pun semakin menebalkan tanya yang bergelayut di pikiran. Seliweran tebakan positif dan negatif membayang tanpa bisa dikendalikan.
Kabar terburuk yang beberapa waktu lalu merusak hari, jangan sampai terulang lagi. Bangkit dari keterpurukan akan lebih sulit dilakukan jika itu terjadi berulang. Menepis akan ada kabar yang akan membuat menangis, kuyakinkan pikiran bahwasanya kabar baiklah yang akan kami dengar.
Sebuah deheman keluar dari mulut Dion. Biasanya orang akan melakukan itu sebelum bercerita. Bias bahagia terpancar dari semua yang sudah menunggu dia berbicara. Namun beberapa detik berganti, tak ada juga yang terucap dari mulutnya.
"Mas, jangan membuat penasaran! Ada apa?" tanyaku saat tak mampu lagi menahan kesabaran.
Dion menundukkan pandangan. Perasaanku semakin membuncah. Firasat buruk kembali bergelayut membuat keyakinan kembali meragu. Masih bisakah jika kami berharap ada kabar bahagia?
"Dua bulan lagi, kita harus meninggalkan Indonesia."
Keheningan semakin menjadi. Kata meninggalkan selalu membuat kesan bahwa perpisahan harus terjadi. Dan itu, adalah hal yang paling kubenci. Berada jauh dari orang yang kusayang, bukan hal mudah yang bisa kulakukan.
"Ke mana?" tanya itu kembali lolos dari bibirku.
Banyak sekali negara yang mungkin dijadikan tujuan. Bisa negara serumpun seperti Malaysia, mungkin juga Korea Selatan sebagai negara maju di Asia, bisa juga ke Eropa, Amerika atau bahkan Afrika. Pilihan itu sangat banyak. Mungkin juga ke Papua Nugini. Selandia Baru juga bisa. Apalagi Australia, itu juga masih bisa menjadi pilihan tempat tinggal kami berikutnya.
"Timur Tengah."
Kawasan yang terkenal sebagai sumber penghasil minyak mentah terbesar di dunia itu terdiri dari banyak negara. Lalu yang mana? Mungkinkah Turki? Arab Saudi? Irak? Pakistan? Qatar? Oman? Yaman?
"Arab Saudi," jelas Dion mempersempit cakupan negara yang akan kami jadikan tujuan kedatangam dua bulan lagi.
"Arab Saudi?" ulangku untuk penjelasan Dion. Pertanyaan semakin merangsek memenuhi pikiranku. Dengan keadaan kami yang sedikit bermasalah dengan keuangan, mendengar kata Arab Saudi maka yang terbayang adalah menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia).
Pekerjaan apa yang akan kami jalani di sana? Mungkinkah kami akan melakoni pekerjaan sebagai asisten rumah tangga, sopir, kuli bangunan, pelayan restoran, pelayan toko, pelayan hotel atau pekerjaan kasar lainnya? Apakah pekerjaan itu bisa kami kerjakan dengan baik? Bukankah kalau sudah kepepet, manusia itu akan bisa melakukan apapun. Keinginan untuk tetap bertahan hidup akan menuntunnya bisa berbuat apa saja yang sebelumnya mustahil dilakukan.
__ADS_1
Bisakah kami memilih pekerjaan yang lebih baik? Mungkin Dion bisa bekerja sebagai manajer perusahaan atau meniti karier sebagai arsitek di sana. Karena jika untuk pekerja profesional seperti pilot, pramugari, perawat, teknisi dan sebagainya kami tak memiliki background pendidikan itu.
"Untuk apa kalian ke Arab Saudi?" tanya Pak Aryan saat aku masih diserbu pikiran yang sudah terbang tak terkendalikan.
"Apakah kita akan bekerja di sana, Mas?"
Dion kembali diam. Hembusan napas kasar penuh beban ia keluarkan. Alamat buruk untuk sesuatu yang akan kami dengar. Rasanya aku tak ingin lagi dikejutkan dengan berita tak mengenakkan. Tak siap jika harus kembali bergelut dengan kalut.
"Mengapa harus ke luar negeri?" Mama ikut mencari tahu.
"Maafkan, Dion Ma."
"Istrimu tengah hamil. Apalagi ini hamil pertama, akan sangat sulit tinggal jauh dari keluarga. Apakah kalian tidak ada pilihan lain? Setidaknya ditunda sampai anak kalian lahir?" terang Mama dengan begitu jelas.
"Tetaplah di sini! Aku bisa membantumu mencari pekerjaan yang sesuai dengan keahlianmu. Atau kita bisa bekerja sama mendirikan sebuah perusahaan," timpal Pak Aryan ikut andil menghentikan keputusan Dion untuk pergi ke luar negeri.
"Kami akan tetap berangkat."
"Aku tak bisa meninggalkannya."
"Aku juga gak mau berjauhan dengan Mas Dion, Kris. Tenanglah, kami pasti bisa berjuang sendiri di sana," ucapku mendukung keputusan Dion.
Tak ada yang salah di sini. Sebagai seorang suami, Dion ingin selalu dekat dengan istri dan juga calon buah hati. Begitupun aku, tak akan sanggup bila jauh darinya. Tertatih bersama itu lebih indah. Memang seperti itulah seninya berumah tangga.
Di sisi lain, keluarga pasti mengkhawatirkan keadaan kami di negara lain. Selain karena kehamilan pertamaku, juga karena bagaimana kami melewati hari di sana. Pekerjaan apa yang akan kami geluti, semuanya masih menjadi misteri. Jadi, tak aneh bila semua menasehati untuk mencari solusi lain.
Pak Aryan memutar badannya agar bisa melihat kami tepat di hadapannya. "Aku pikir Mama Benar. Lebih baik kalian tetap di sini. Hidup di negara lain dengan budaya berbeda, jauh dari keluarga serta kehamilan Rosa, seharusnya membuatmu berpikir ulang."
__ADS_1
"Semua sudah diputuskan, aku sudah setuju. Ini adalah kesempatan terbaik. Belum tentu datang kesempatan kedua seperti ini," jelas Dion dengan wajah datar.
Semua kembali diam. Kami paham karakter Dion yang akan selalu kekeh dengan pendiriannya. Apalagi jika mengenai bantuan orang lain. Dia akan berusaha berdiri dengan kaki sendiri, hingga detik akhir perjuangan.
"Sekarang istrimu sedang hamil, apakah nanti tidak menyusahkanmu di sana?" Papa baru ikut berbicara.
"Dion akan selalu menjaga Rosa, bergandeng tangan agar tak terpisahkan."
Masing-masing kembali berkutat dengan pikiran. Bagaimana lagi membujuk Dion untuk mengurungkan niat. Setidaknya memundurkan jadwal keberangkagan beberapa bulan. Sementara mereka mencari cara menggagalkan misi Dion aku justru mengambil jemari suamiku itu dan menggenggamnya.
"Aku akan menemanimu, Mas. Sejauh apa kamu melangkah maka aku akan ikut pindah. Susah berada di dekatmu akan tetap kupilih dibanding mudah tapi kita terpisah. Karena bersamamu, kuyakin adalah yang terbaik untukku."
Dion mengecup keningku dengan penuh cinta. Aku pun menghambur ke dalam pelukannya. Tempat terbaik seorang istri adalah di sisi sang suami. Berpadu tekad dan keyakinan, menghempas segala halangan untuk tetap bersama menghadapi dunia.
Ketika kami larut dalam permasalahan ini, persetujuanku dan sedikit rasa keberatan dari mereka, tiba-tiba telepon Dion berdering kembali. Nama Isni yang terpampang nyata membuat Pak Aryan mengambil alih panggilan itu sebelum Dion sempat mengangkatnya.
"Bu Isni, apakah Bapak Dion dan Ibu Rosa harus berangkat ke Arab Saudi dua bulan lagi?"
"Tidak bisakah anda memundurkan jadwal penerbangan sampai ibu Rosa melahirkan?"
"Hangus?"
"Jadi, harus sesuai jadwal?"
"Pekerjaan apa yang anda tawarkan di sana? Mungkin saya bisa menggantinya dengan sini?"
"Tidak bisa?"
__ADS_1
"Saya mempunyai banyak kolega yang bisa membantu saya untuk mendapatkan pekerjaan yang sama dengan yang Anda tawarkan, jadi tolong katakan pekerjaan apa yang Anda janjikan pada Bapak Dion Wijaya?"
Pak Aryan nampak terdiam setelah mencerca pertanyaan pada Isni. Dia menutup telepon itu segera dan meraup kasar wajahnya. Melempar benda pipih itu ke sofa dan menatap Dion dengan tatapan tajam. Menarikku lepas dari pelukan suamiku dan membawaku dalam rengkuhannya.