
Hujan masih mengguyur. Mas Rud tak akan mau kalau harus menerobos derasnya air, apalagi tanpa jas hujan. Mas Rud memilih memasuki kedai bakso yang terletak bersebelahan dengan toko buku yang tadi kami masuki.
"Sambil nunggu hujan reda, kita makan dulu ya!" tawar Mas Rud.
Aku mengiyakan dan segera mengambil posisi duduk disampingnya. Kedai bakso tersebut penuh pengunjung dan hanya bangku ini yang tersisa untuk kami, 2 bangku di pojokan.
"Aku 'dah pesenin kesukaanmu!" ujar Mas Rud.
"Ok!" jawabku.
"Bilang ke temenmu, kalau minggu minggu ini kamu sibuk, jadi gak bisa beliin kado untuk adiknya," Mas Rud memberiku saran.
Aku sudah mengerti kemana arah pembicaraan mas Rud. Aku pun mengambil HP dan segera mengetik seperti apa yang tadi Mas Rud bilang.
Daann ... sukses terkirim!
Aku menunjukkan WA ku pada Mas Rud. Dia tersenyum dan mengacak rambut pada puncak kepalaku.
Kami pun segera menikmati bakso yang baru saja disajikan. Sesekali kami berbincang sambil bercanda. Dan sesekali juga Mas Rud menyuapkan bakso urat yang ada di mangkuknya ke dalam mulutku. Lelaki ini memang tak terduga. Dia itu manis ... memperlakukanku dengan manis tapi manisnya tak berlebihan. Jadi amanlah! Tidak perlu takut diabetes.
"Jadi, gimana tadi soal security?" Mas Rud mulai mengulik.
__ADS_1
"Dia ngasih aku jempol, Mas," jawabku enteng.
Mas Rud mencerna jawabanku. Nampak dari aksinya menghentikan suapan bakso ke mulutnya. Dia lantas menggeser posisi duduknya, untuk menghadap ke arahku.
"Maksudnya gimana itu?" Mas Rud menatapku.
"Maksudnya ... aku pinter bisa dapet pacar ganteng!" jawabku malu-malu.
Mas Rud tersenyum. Aku yakin ke PDannya naik 100%.
"Berarti kamu harus bangga dong!" Mas Rud tersenyum.
"Justru aku gak PD tau, Mas!" jelasku.
"Aku pinter bisa dapet pacar cakep, tapi ...." aku memutus kalimatku.
Mas Rud menunggu kelanjutan kalimatku.
"Tapi apa?" tanya Mas Rud dengan suara lembut.
"Tapi Mas Rud gak pinter milih aku!" jawabku sambil mengalihkan pandangan ke arah lain.
__ADS_1
Tiba-tiba ada WA masuk. Aku lihat sebentar dan dari notifnya aku tau, itu WA dari Aryan, temenku yang minta tolong untuk beliin kado buat adiknya. Aku menyerahkan HPku pada Mas Rud.
"Apa nih maksudnya?" tanya Mas Rud.
"Aku tau, Mas jealous sama dia!" godaku.
"Buat apa, aku jealous sama dia? Toh yang beruntung dapetin kamu kan aku, bukan dia!" bangga Mas Rud.
Aku tersanjung dengan kata "beruntung" yang diucapkan mas Rud. Aku yang tadinya sempat baper karena pak security, kini jadi tambah laper karena ada Mas Rud yang siap menyuapi. Ehh ... kok jadi ngelantur! Yang bener, aku jadi baper karena ungkapan bangga dari Mas Rud karena bisa memilikiku.Tanpa sadar aku tersenyum-senyum sendiri.
"Nah, gitu dong senyum jangan cemberut aja!
Aku bahagia bisa ada disampingmu," tutur Mas Rud sambil merangkulku.
"Rosaku pinter, pinter karena memilihku, dan aku juga gak kalah pinter, karena bisa dapetin kamu," Mas Rud berusaha mengembalikan rasa kepercayaan diriku.
Bisa banget Mas Rud itu membuatku melambung. Aku benar-benar terbuai oleh manis katanya.
"WA ini adalah buktinya," Mas Rud mengangkat HPku.
"Ini 1 dari lelaki yang menginginkanmu selain aku, padahal diluar sana, pasti lebih banyak lagi yang menginginkanmu. Mungkin 1 dari mereka, hanya sanggup menjadi secret admirermu, mungkin malah ada yang cuma berani menghayalkanmu. Tapi aku bisa memilikimu. Apakah kamu pikir aku gak beruntung?" tutur Mas Rud.
__ADS_1
Mas Rud kembali menggenggam tanganku.
"Ayo pulang! Kita lanjutkan perjalanan kita, biar bisa mengalahkan romantisnya Dilan dan Milea," ucap Mas Rud sambil mengulaskan senyum mautnya