Tentang Hati

Tentang Hati
Puncak Keyakinan


__ADS_3

Lima hari berlalu tanpa terasa.


Setelah melewati perjalanan panjang konflik hati, akhirnya cinta membawa kami, Aku dan Dion pada muara yang bahagia. Sebuah janji suci yang bukan hanya sah dimata agama tetapi juga dimata negara. Dua buah buku kecil itu sudah bisa kami pamerkan sebagai bukti halalnya hubungan kami. Tak kan ada lagi bully yang mengambil latar belakang nikah siri.


Aku bahagia, sungguh bahagia. Diberi kesempatan untuk bisa membahagiakannya. Lelaki yang puluhan tahun kuabaikan, tapi tetap setia berada di sisiku. Menjadi tameng luka saat kesedihan mendera.


"Aku tak pernah membayangkan bisa berada di titik ini bersamamu, Sayang," ungkap Dion sambil mencium keningku.


"Apalagi aku, aku memikirkannya dengan orang lain. Eh ... taunya jodohku kamu," ucapku dengan senyum menggodanya.


Dion mencubit hidungku seperti biasanya. "Takdirmu adalah aku, sejauh mana kamu menghindar , Tuhan akan mengembalikanmu ke sisiku."


Kalimatnya melelehkan hatiku untuk kesekian kali. Jika saja hatiku ini tak mampu untuk kembali merapikan kepingan yang selalu tercecer karena rayuannya, pasti aku sudah terasing di negeri tanpa manusia sebagai penghuni.


"Bersiap malam pertama, ya!" godanya sambil berbisik di telingaku.


Kucubit perutnya yang minim gelambir daging itu. "Season empat, pertama dari mana?"


"Season empat rasa pertama, Sayang," ucap Dion dengan senyum smirknya.


"Hei, Kalian! Ngapain bisik-bisik, gitu? Biasanya juga los dol di depanku," seru Pak Aryan yang menepati janjinya, menyupiri kami ke KUA dan juga sekalian pulangnya seperti detik ini.


"Biar kamu penasaran, terus praktekin sama Tya Gunawan," timpal Dion dengan menaikturunkan kedua alisnya.


"Aku sudah minta dia berhenti mengejarku," aku Pak Aryan yang langsung membuat kami memaku pandang padanya.


"Abang, kenapa bisa begitu?" selidikku seakan gak terima dengan keputusannya.


Pak Aryan menoleh ke arah kami dengan santai. Tak sejalan denganku yang heboh sendiri. Sementara Dion hanya bermuka datar. Aku pun menatapnya dengan memicingkan sebelah mata.


"Abang kalau kayak gini terus, bakalan jadi bujang lapuk. Udah bener-bener dipepet Tya, dihempas gitu aja. Kurang apa dia? Cantik? Paripurna. Asyik? Luar biasa. Menggoda? Tentu saja. Dion aja mau, kenapa Abang sok jual mahal, sih?" cercaku tanpa henti.


"Aww ...," pekikku saat tiba-tiba Dion mencubit hidungku.


"Ngomong apa tadi, Sayang? Aku mau sama Tya? Hmm? Jangan asal!" lagi, Dion mencubit hidungku yang baru saja selesai kupegangi.


"He-he-he ...," aku memamerkan cengiran senyum.


"Abang!" seruku pada Pak Aryan yang tak menanggapi omelanku.


Dia kembali menoleh dan tersenyum manis. Tak ada juga kata yang keluar dari mulutnya. Kelakuannya itu membuatku semakin gemas saja. Hingga aku berkali-kali memanggilnya dengan nada makin tinggi. Sebelum akhirnya aku ngambek karena merasa tak ditanggapi.

__ADS_1


"Sa, kok ngambek, sih?" tanya Pak Aryan dari balik kemudinya.


Diam saja, aku memilih untuk membalas sikapnya tadi saat aku cerca dengan pertanyaan tentang Tya. Kuarahkan pandanganku pada sisi kiri mobil yang menampilkan jalanan yang mulai lengang karena sudah menjelang waktu jumatan.


"Hatiku belum klik sama Tya. Aku tidak akan memaksa cinta. Biarkan aku begini, bahagia dengan caraku," jelas Pak Aryan berikutnya saat aku tak merespon panggilannya.


"Aku mengerti, Bang," timpal Dion menanggapi pengakuan Pak aryan.


"Sa," panggil Pak Aryan lagi.


Kuhela napas panjang sebelum melihatnya. "Seorang adik hanya ingin melihat Abangnya menikah kemudian punya anak."


Pak Aryan menoleh ke arahku dan mengembangkan senyum sempurnanya. "Nanti ada saatnya, tapi bukan sekarang, ya Adik Abang."


"Hm," balasanku pada alasannya.


Suasana menjadi hening. Aku yang menjadi pembuat ricuh sedang mengunci mulut. Aku bukan marah tapi hanya ingin Pak Aryan segera mengakhiri masa lajangnya. Merasa kecewa karena keputusannya buru-buru menolak Tya, kenapa tak mencoba mengenalnya terlebih dahulu.


"Sayang, jangan ngambek, dong! Ini kan hari bahagia kita," bujuk Dion sembari menggenggam jemariku.


"Hm," jawabku dengan gumaman.


Dan begitulah hingga mobil yang kami kendarai berhenti di basemen apartemen. Aku memilih turun duluan dan meninggalkan mereka berdua. Melangkah menyusuri lorong lantai di mana kediaman kami berada.


Segera menghempaskan badan di sofa begitu memasuki apartemen. Menyalakan televisi dan tersajilah channel ikan terbang yang lagi booming dengan tayangan "kumenangis". Suasana hati yang sedang Badmood menjadi semakin kacau. Akhirnya kupilih untuk menggantinya, 1,2,3 dan tak ada yang menarik perhatianku. Dasar hati sedang dipenuhi amarah, semua seolah menjadi salah.


"Masih marah?" tanya Dion yang baru saja duduk di sampingku.


"Kenapa kamu bisa semarah ini, Sayang? Biarkan saja Abangmu itu menentukan bahagianya sendiri," ujar Dion seraya membelai rambutku.


"Aku gemes sama dia, Mas. Seneng banget jadi jomblo," terangku dengan tetap setia dengan huruf U pada bibirku.


"Temui sana! Kamu ngambek di sini, gak ada gunanya," perintah Dion santai.


Dengan senyum yang langsung terkembang, aku segera bangkit dari posisi malasku. "Boleh?" tanyaku dengan wajah berbinar.


"Iya," balas Dion dengan santainya.


Apakah hatinya sesantai itu melihat istrinya akan menemui lelaki lain? Jika lelaki itu pernah menyimpan rasa dan kini berstatus sebagai abang ala-ala? Ah ... bukan Dion namanya kalau tidak berhati malaikat. Dengan Mas Rud saja yang notabene getol ingin balikan dia masih berbaik hati, apalagi dengan Pak Aryan yang kini sudah dianggapnya sebagai penasihat hati pengganti. Toh dia juga tahu jika aku tak macam-macam melainkan hanya satu macam. Mau mengintrogasi Pak Aryan tentang Tya, hanya itu.


Secepat langkah aku meninggalkan Dion begitu restu itu kudapatkan. Keluar dari satu pintu apartemen dan akan memasuki pintu apartemen yang lain. Setelah menunggu beberapa saat sampai pintu dibuka sang pemilik, aku langsung masuk tanpa memedulikan si pembuka pintu yang masih terpaku.

__ADS_1


Memilih duduk di sofa sambil menunggu Pak Aryan tiba, aku mengambil sebotol air mineral dan meneguknya. Menyiapkan amunisi untuk mengomeli Abangku ketemu mateng itu.


"Pak, buka hati untuk Tya, dong!" perintahku mengawali kalimat omelan.


"Anakku butuh aunty," celetukku berikutnya.


"Aku gak mau Abangku jadi bujang lapuk," cerewetku semakin membabi buta.


Pak Aryan mengacak puncak kepalaku. "Ciee ... aku. Gak pake saya lagi?"


Aku tepiskan tangannya dan kembali bersiap berbicara lebih serius. "Ayo dong, move on! Dion dan Rosa tak ingin bahagia sendiri. Bapak juga harus bahagia dengan istri."


"Aku bahagia melihatmu bahagia. Berada di sini, memastikan kebahagiaanmu dan Dion adalah rasa yang tak bisa digantikan dengan kehadiran seorang istri untuk saat ini. Aku menyiapkan diri untuk menjadi Uncle terbaik untuk anak kalian," ucap Pak Aryan yang membuatku harus menghela nafas mendalam.


"Pak!" seruku yang membuatnya malah tersenyum semakin manis.


"Apa," jawabnya dengan penuh kelembutan.


"Terima Tya!" perintahku.


"Kamu pikir, cinta segampang itu? Menerima ataupun menolak itu harus hati yang mengambil keputusan. Aku tak bisa menuruti kemauanmu untuk yang satu ini, Adik Abang yang tersayang," ujar Pak Aryan mengacak puncak kepalaku untuk kali kedua.


"Saya pernah menyesal karena mengabaikan perasaan Mas Dion, jangan sampai itu terjadi pada Bapak," jelasku berikutnya.


"Kamu menyesal karena tanpa kamu sadari Dion itu adalah tempatmu bersandar dan berbagi. Berbeda cerita antara aku dan Tya. Aku tidak membutuhkan sandaran karena aku ingin menjadi tempat bersandar untuk seseorang yang aku cintai. Sayangnya belum ada yang bisa menggantikan posisimu sebagai wanita itu," ungkap Pak Aryan yang membuatku bungkam.


Mendengarnya aku menjadi kikuk sendiri. Pengakuannya seakan membuka kembali kerumitan perasaan diantara kami. Kutundukkan kepalaku. "Mas Rud sudah kuhapuskan dari hatiku. Membiarkan dia menemukan bahagia meskipun sakit pada awalnya. Sekarang, fokusku adalah melepaskan perasaanmu, Bang," jelasku dengan mimik serius.


Pak Aryan tersenyum. "Anggap aku sudah melepaskan cintaku dan beralih jadi rasa sayang sebagai abang. Biarkan aku tetap menjagamu dari dekat sebagai saudaramu."


"Aku baik-baik saja. Apakah hatimu juga baik-baik saja dengan melupakan Rud?" Pak Aryan kembali bertanya setelah aku tak menanggapi kalimat penjelasannya.


"Hm,"


Pak Aryan menatapku dengan lembut. "Yakin dengan semua keputusanmu? Apakah segala misteri tentang kepergian Rud telah kamu ikhlaskan?"


"Segala tentangnya sudah kukubur. Semua yang belum kuketahui biarlah aku tak mengetahuinya. Itu lebih baik," jelasku penuh keyakinan.


Ya ... aku membiarkan segala misteri tentangnya tetap menjadi misteri. Alasan dia pergi dan kembali datang lagi biarlah menjadi cerita kelam cinta yang pernah kami miliki. Lupakan! Hanya itu yang harus kulakukan.


"Berbahagialah dengan suamimu, dia pria terbaik yang Tuhan kirim dalam hidupmu. Sekarang, balik apartemenmu. Kasihan dia pengen berduaan malah kamu tinggalkan," pinta Pak Aryan segera meraih tanganku dan menuntun untuk beranjak dari dudukku. Membawaku menuju pintu apartemen dan menyuruhku pulang.

__ADS_1


__ADS_2