Tentang Hati

Tentang Hati
Dion Bereaksi


__ADS_3

Karena dilanda perasaan sebal, akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan Dion ke dapur. Mencari makanan sebagai pelampiasan. Membuka kulkas dan berganti beberapa laci tapi tak ada yang bisa menggoda nafsu makanku. Mataku berbinar saat menemukan sebungkus mi instan terdampar di laci tertinggi.


Kaki mungil ini kupaksa untuk berjinjit. Namun sayang, aku tak sanggup untuk menggapainya. Tanpa mengenal kata menyerah, tetap kuberusaha mengambilnya. Merasa tak kurang akal, aku mengambil kursi dan segera berdiri di atasnya. Senyumku tersungging saat sejengkal lagi makanan yang mudah diolah itu akan berada di tanganku.


Namun harapanku ambyar saat sebuah uluran tangan mendorong sebungkus mi itu semakin ke belakang. Ia memegangi tubuhku dan bersiap menurunkan. Kuberikan cebikan rasa kesal. Bukannya sebal ia malah menggendongku dan tak segera diturunkan.


"Ibu hamil gak boleh makan mi instan, Sayang."


"Turunkan, aku!"


Sekuat tenaga, aku berusaha lepas dari cengkeramannya. Mengabaikan kekuatanku yang pasti kalah besar, tapi aku tetap semangat untuk bebas dari sekapan. Meskipun pada akhirnya aku hanya bisa mengalah, berdiam manis dalam pangkuannya.


"Mau makan apa? Biar aku masakin. Mulai sekarang, kamu gak bisa makan sembarangan, Sayang."


Raga yang menyerah, belum searah dengan rasa yang melunak. Hati yang masih diliputi kesal dan ditambah pengekangan membuat geram lebih berkuasa daripada sikap hormat pada suami tercinta. "Aku pengen memakanmu."


"Sini, makan aku!" perintah Dion sambil merentangkan tangan membuka pelukan.


Kuamati lelaki tampan yang sedang mengukungku dalam dekapan ini. Memutar badan maksimal ke kanan hingga bisa melihatnya secara sempurna. "Siapa yang telepon tadi?" Kenapa lama sekali."


"Perempuan."


"Nama?"


"Isni."


"Saudaranya Isna?" Istri kedua Tuan Krisna? Apakah ia seperti saudara kembarnya juga? Mau menjadi istri kedua. Maaf, aku bukan Nona Kartika! Tak ada sedikit pun celah yang bisa dimasuki wanita kedua," cercaku dalam satu tarikan napas.


"Katakan pada Isni itu, jangan berani-berani menghubungimu lagi!" perintahku dengan penekanan pada setiap kata yang kuucapkan.


"Atau aku akan melabraknya! Ohya, jangan sedikit pun berpikiran untuk menduakanku, Sayang. Nanti kamu bisa aku empatkan!" cerocosku tanpa henti.


Tiba-tiba bibirku tak lagi bisa memutar kata untuk menceramahinya. Dion membungkamku dengan bibirnya. Sebuah kecupan manis ia berikan dengan tiba-tiba. "Kamu cerewet sekali, Sayang," ujarnya setelah melepaskan tautan bibir kami.


"Aku cemburu," akuku sambil memutar kembali badanku ke posisi semula.

__ADS_1


Seperti sedang deja vu. Dua kata itu, tadi keluar dari mulut Dion dan kini aku mengulanginya. Mendengar itu, suamiku tersenyum dan malah mendekapku erat dalam pelukan. Menempelkan dagunya pada bahu kananku bagian belakang. Hangat napasnya yang berembus, memberikan kehangatan yang menenangkan.


"Cemburuilah aku sebanyak mungkin, Sayang."


Lagi, kalimat seperti itu terulang kembali. Bukan dariku tapi keluar dari mulutnya. Senyumku terukir ketika mendapati kenyataan manis ini. Bagaimana mungkin kami bisa memiliki kosa kata yang sama? Apakah jodoh itu seindah ini?


"Isni, siapa?" selidikku lagi karena belum mendapatkan jawaban biodata perempuan yang membuatku penasaran.


"Kamu gak kenal, Sayang."


"Makanya kasih tahu, biar aku kenal," pintaku sambil menatapnya tajam.


Dion mencubit hidungku gemas. "Kamu tak perlu mengenalnya, cukup kenali aku saja."


"Bagiku, wanita yang terpenting adalah kamu. Jadi, gak perlu risau dengan semua wanita yang ada di sekelilingku. Asalkan aku gak khilaf dan dijebak, kamu aman, Sayang."


Kupukul paha Dion dengan tenaga ekstra. Awal mendamaikan tapi kalimat terakhirnya justru membuat gusar. Suamiku itu, memang selalu punya cara untuk menghidupkan suasana. Wajarlah jika bersamanya tiada hari yang berlalu tanpa kata bahagia. Dia selalu punya cara untuk membangun cerita.


"Awas aja kamu sengaja khilaf, Sayang! Jangan mentang-mentang kamu sudah sukses membuatku berbadan dua lalu kamu mencoba pada lain wanita."


Ancamanku yang dibalas dengan sentilan di kening. "Pikiranmu jangan aneh-aneh, Sayang! Nanti kejadian beneran."


"Tak ada kata maaf untuk pengkhianatan!"


Ya ... setia adalah hal utama yang wajib dijunjung tinggi dalam sebuah hubungan yang berkaitan dengan perasaan. Bagiku, kata tidak setia sama dengan putus ikatan. Setiap hati hanya ingin menjadi satu-satunya di hati pasangannya. Tak ada kata berbagi karena perih akan mengiris jika itu terjadi.


"Tak pernah terlintas sedikit pun di pikiranku untuk mengkhianatimu, Sayang."


Mendengar kalimat pengakuan Dion aku justru merasa dikuliti. Meraba diri sendiri, bahwasanya setia yang diberi sebelum kumeminta mengingatkanku pada kejadian masa lalu. Di mana aku diterpa kegamangan tentang rasa yang ingin kujaga. Antara lelaki yang kini telah resmi menjadi suamiku dan seseorang yang sekarang entah bagaimana keadaannya.


Kala itu, bukan hanya perasaan yang kuduakan tapi bibirku pun telah ternoda oleh sentuhan liar yang tak seharusnya. Aku malu. Dia bisa ikhlas menerimaku meskipun aku sudah mengkhianatinya. Memang bukan pengkhianatan yang fatal tapi itu juga bukan kesetiaan yang patut dibanggakan. Dan Dion menerima itu dengan hati besar. Tak ingin mengungkit apalagi membuatnya bangkit.


Kutundukkan pandangan, merasa tak punya daya untuk menatapnya. "Maaf, Mas."


Dion mengangkat daguku. Hingga pandangan yang kusembunyikan terpaksa menemui manik matanya. Tangannya menangkup pipiku dengan lembut. "Kamu adalah wanita setiaku."

__ADS_1


"Ini, tetap milikku. Dan ini tetaplah atas namaku." Tunjuk Dion pada bibirku kemudian meletakkan tangannya di dadaku.


"Meskipun dulu pernah sedikit terbagi, kini akan kubuktikan bahwa pemilik satu-satunya adalah Dion Wijaya, suami sah yang kamu cinta."


"Adakah yang salah dengan kalimatku?" tanya Dion sambil kembali mengangkat daguku yang tadi kutundukkan kembali.


"Aku yang pernah salah, karena menduakanmu, Mas."


"Jangan selalu mengungkit kisah lalu, Sayang. Sekarang kita akan membuka lembaran baru kehidupan kita. Memulainya dari nol. Perasaan kita tumbuhkan bersama. Hanya ada aku dan kamu, saling mencinta."


Kupeluk tubuh Dion dengan erat. "Mas, aku sudah menyemai benih cinta atas namamu. Dan kini pohon itu sudah tumbuh rindang, menyuplai oksigen bagi kelangsungan napasku. Menjadi tempatku berlindung kala mentari menggila karena panasnya. Menjadi tempat memandang kala malam indah menghadirkan bulan dan ribuan bintang. Kamu adalah cintaku, Mas. I love you."


Dion mencium rambutku. Tangannya mengusap punggungku dengan lembut. "Aku juga sangat mencintaimu, Sayang. Cinta yang semakin berkembang dan bukan malah berkurang. Cinta yang bisa membuatku bangkit saat keadaan datang menghimpit. Cinta yang menjadi kekuatan saat lemah datang menyerang. Cinta Rosa yang menghidupkan Dion dalam bahagia."


Kutatap lembut manik matanya yang penuh kelembutan itu. Menyisir hingga pedalaman, menemukan cinta yang sangat luar biasa besar. Terbuai dalam kasih yang ia sebar hingga aku jatuh cinta berulang. Semakin besar, besar dan besar.


"Tapi, Isni?"


"Nanti akan aku ceritakan pada saat yang tepat!"


"Sekarang saja, Mas!"


"Nanti."


"Sekarang!"


"Hm."


"Mas!"


"...."


💞💞💞💞💞


Kakak semua yang setia membaca Tentang Hati, mampir yuk ke novel temennya Depe!

__ADS_1


Ceritanya bagus, gak pasaran. Gak percaya? Buktiin sendiri!



__ADS_2