Tentang Hati

Tentang Hati
Keputusan Hati


__ADS_3

"Jangan pernah tinggalkan, aku," pintaku memecah hening.


Dion yang mendengar kalimatku, beranjak menggeser kembali posisinya untuk lebih menghadapku.


"Jangan tinggalin aku lagi," pintaku untuk kali kedua.


Aku menundukkan pandanganku. Rasanya, ini bukan aku. Aku yang biasa sesuka hati menyuruhnya melupakanku, kini aku malah mengiba untuk dia jaga. Dion masih diam, ia belum menerima ataupun menolak permintaanku.


"Aku tidak ingin kehilanganmu untuk kali kedua, Di," aku jujur dengan perasaanku.


Dion masih belum juga bersuara. Aneh, biasanya dia akan responsif dengan apa yang ku katakan, apalagi jika itu masalah perasaan. Tapi, kali ini, dia seperti sengaja membiarkanku untuk banyak berbicara tentang perasaan apa yang ku punya untuknya.


"Aku tau, aku selalu mengacuhkanmu selama ini, selama 10 tahun ini. Seharusnya aku sudah tak berhak atas kesempatan kedua darimu. Tapi, sebelum kamu benar-benar pergi lagi dariku, bisakah aku memintamu untuk tetap tinggal di sisiku selamanya." kali ini aku benar- benar seolah sedang nembak Dion.


"Kenapa tiba-tiba hatimu berubah," tanya Dion.


Pertanyaannya sukses menampar pikiranku. Aku tersentak, aku tak tau apa jawaban untuk pertanyaannya itu. Aku hanya mengatakan apa yang ku rasa, bukan apa yang ku pikir. Semua yang ku ucapkan, mengalir begitu saja tanpa aku merencanakannya.


"Kalau aku jawab, aku gak tau, gimana?" tanyaku.


"Kalau aku bilang, bahwa aku takut perasaanmu padaku hanya pelarianmu saja, gimana?" tanya Dion balik.


Pelarian?


Dion kembali datang, saat aku terluka. Aku merasa nyaman bersandar padanya, saat Mas Rud tiba-tiba saja menghilang tanpa alasan. Aku kehilangan keketusanku di hadapan Dion. Aku membuang rasa canggungku dan menyingkirkan harga diri yang selama ini ku junjung tinggi. Ku curahkan semua rasa yang ku derita, ku biarkan dia menguatkanku dengan genggaman jemari dan pelukan hangatnya. Benarkah, ia ku jadikan pelarianku?


"Aku gak tau, Di," jawabku lagi.


"Kalau kamu saja gak tau bagaimana perasaanmu, bagaimana aku bisa yakin jika ucapanmu itu tulus?" tukas Dion.


Benar!


Semua yang diucapkan Dion itu benar. Aku gak tau bagaimana perasaanku sendiri terhadapnya. Yang ku rasa, hanya aku gak ingin kembali kehilangannya. Aku ingin dia disampingku, itu saja.


"Di," panggilku.


"Apa?" jawabnya lembut.


"Apakah ini berarti kamu menolakku?" tanyaku.


"Apa sekarang kamu sedang menyatakan cintamu padaku?" Dion lagi-lagi balik bertanya.


Aku?

__ADS_1


Menyatakan cinta?


Nembak?


Iyakah?


"Apakah menurutmu begitu, aku sedang menembakmu?" aku kembali bertanya.


"Tentu saja," yakin Dion.


Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku malu. Dion yang mengejar-ngejarku selama ini, kenapa sekarang justru aku yang seolah mengiba cintanya.


"Apa kamu, malu?" tanya Dion melepaskan tangan yang kututupkan pada wajahku.


Ku anggukkan kepalaku. Aku tak mampu menatapnya. Sungguh, aku teramat malu. Apakah ini semacam bumerang untukku. Dion kemudian mengambil jemariku. Dia mengarahkan posisi kami untuk saling berhadapan.


"Perasaanmu ini, namanya CINTA." jelas Dion.


"Kamu nyaman di sampingku, tak ingin aku jauh darimu, tapi kamu gak tau alasannya, itulah CINTA." jelas Dion panjang lebar, sambil terus saja menebar senyumnya.


"Benarkah?" aku mencari keyakinan penuh.


"Kamu, benar-benar polos banget sih, sayang," entah kenapa, akhir-akhir ini Dion hobi banget mencubit hidungku.


Apa ini bukan sekedar perasaan pelarian?" aku mengabaikan panggilan "sayang" nya dan terus saja bertanya.


"Sudah ku katakan, aku adalah tempatmu kembali. Ku menerimamu, bagaimanapun perasaan yang kamu miliki untukku." ungkap Dion.


"Apakah hatimu tidak sakit," tanyaku lagi.


"Biarlah sakit ini hanya menjadi milikku, asalkan kamu bahagia, aku rela," jawab Dion masih tetap menggenggam jemariku.


Tiba-tiba saja air mataku berbaris di sudut mataku. Kalimatnya itu, begitu membuatku terharu.


"Jangan lagi menahan sakit untukku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakanmu, meskipun itu hanya sekedar senyum." pintaku


"I Love You," ucap Dion sambil menutup bibirku dengan telunjuknya.


"Aku tak mengizinkanmu untuk menembakku. Aku akan menjaga harga diri yang selama ini kamu agungkan itu. Aku tak rela jika kamu mengiba cintaku, biar aku saja yang akan selalu meminta cintamu, bukan kamu," Dion mengungkapkan kata dengan romantisnya.


Aku tak bisa lagi menunggu sampai Dion kembali meminta cintaku untuk keberapa puluh kalinya dalam 10 tahun dia bersamaku.


Aku langsung menghamburkan diri ke pelukannya.

__ADS_1


"I love you too," balasku.


Ku rasakan debaran jantungku yang berpacu dengan debaran jantungnya. Dekapannya memberiku perasaan nyaman. Ku tak mau lagi menyia-nyiakan waktu untuk terus mengabaikannya. Ku tak mau lagi menghancurkan rasa yang ia simpan untukku. Cintaku memang datang telat, tapi bukan terlambat untuk membalasnya.


Aku memang tidak tahu, jika ini namanya cinta. Tapi, aku akan menggenggam apa yang kini bisa ku genggam. Aku tak mau lagi menyesal karena harus kehilangan.


Dion melepaskan pelukanku. Dia melebarkan senyumnya dan kembali berkata, "Jangan menangis lagi, aku di sini bukan untuk menguras air matamu, aku ingin kamu selalu memberiku senyum, senyum penuh cinta, hanya padaku."


"Kenapa kamu jadi posesif," gerutuku.


"Sesuatu yang sudah menjadi milikku, tak kan ku biarkan dinikmati orang lain," tukas Dion.


"Jangan posesif," pintaku.


Dion tersenyum sambil mengacak puncak kepalaku.


"Kalau aku posesif, kamu gak ku biarkan jadi miliknya Rud waktu itu," ungkap Dion kemudian.


"Iya, seharusnya kamu jadi yang pertama dan terakhir di hatiku. Maaf, kamu hanya mendapatkan sisa perasaanku," aku sedih.


"Sisakan semua perasaanmu hanya untukku. Aku tetap menganggapmu utuh, meskipun aku tak menjadi yang pertama untukmu." Dion membelai rambutku mesra.


"Berapa banyak yang sudah kamu berikan padanya?" Dion sedikit berbisik di telingaku.


Pertanyaan apa ini?


Terlihat lugas, namun sebenarnya adalah jebakan.


"Apa kamu tidak akan cemburu, jika aku mengatakannya?" jawabku dengan sedikit senyum nakal.


Dia membuka matanya lebih lebar. Dia terlihat terkejut mendengar apa yang ku katakan. Aku bisa melihatnya, walaupun dengan cepat ia mengubah ekspresinya menjadi senormal mungkin.


"Baiklah, aku akan menceritakan, ku lihat rasa ingin tau mu besar sekali," lanjutku.


"Hmmmm ... Aku memberikan semua yang ku miliki untuknya, semua cinta daaaann ...." aku sengaja memutus kalimatku dan ku alihkan pandanganku darinya.


Ku lihat Dion masih diam, belum ada perubahan, meskipun aku sudah menjeda lama kalimatku.


"Daann ...!" belum sampai ku meneruskan kata-kataku, telunjuk Dion sudah menutup bibirku.


"Aku tak perlu mendengar ceritamu. Simpan saja dihatimu, jika kamu tak bisa melupakannya. Aku bisa menerimamu, meskipun dia telah mendahuluiku," kata Dion menggenggam jemariku.


"Kamu benar-benar so sweet, Di,"

__ADS_1


Ku balas menggenggam jemarinya, "Kamu akan mendapatkanku utuh, bukan sisa. Kamu bukan yang pertama, tapi kamu akan menjadi yang selamanya untukku.


Dion tersenyum. Aku membalas senyumnya, perasaannya, cintanya, dan segala asa yang ia cipta untukku.


__ADS_2