
Jam 09.00 aku sudah kembali ke kantor untuk kembali bekerja. Itu pun tak bisa langsung ku kerjakan, karena Maya terus saja menghadiahi beberapa pertanyaan terkait Pak Aryan. Tingkat kekepoannya melonjak naik setelah resmi menyandang status sebagai tunangan Mas Rendra. Mungkin saja, sebentar lagi mereka akan dianugerahi "Kepo's Couple 2020".
"Sa, ayo dong cerita!" pinta Maya dengan ekspresi memelas.
"Aku mau kerja, liat nih kerjaanku numpuk," alasanku.
"Kamu kan habis sakit, jangan memaksakan diri, nanti sakit lagi." alasan Maya.
"Ssssttt ... jangan jadi kompor! tukasku.
Maya terdengar mendengus kesal. Namun, aku tak ambil pusing. Ku lanjutkan menyelesaikan tumpukan pekerjaan yang sempat terbengkalai beberapa hari ini.
Pikiranku sudah mulai jernih, setelah ngobrol dengan Pak Aryan tadi. Bayangan tentang Mas Rud dan ruangannya, perlahan bisa ku gantikan dengan penghuni barunya. Hanya sebatas mengganti penghuni, dari Mas Rud menjadi Pak Aryan. Dan juga menggantikan rasa dari sang pemilik, dari mantan menjadi atasan sekaligus teman.
Aku harus profesional. Ini adalah pekerjaan yang menjadi impianku. Tak 'kan ku lepaskan hanya karena kenangan Mas Rud yang menyakitkan. Hidupku harus terus ku lanjutkan dengan bahagia. Toh, sekarang aku sudah memiliki pacar baru yang ku pastikan amat mencintaiku, Dion.
Baru saja aku membatin, Dion sudah mengisi teleponku dengan dering namanya. Manis banget gak, sih?
"Hai, Di," sapaku seperti biasanya.
"Aku juga, kapan kamu pulang?" aku mulai menggodanya.
"Nikmati liburanmu, jangan nakal, aku menunggumu pulang!" pesanku.
" ... " aku tak membalasnya.
Ku letakkan kembali HPku. Tak ku sadari senyumku mengembang, perasaan bahagia karena bisa mendengar suaranya.
"Kamu berhutang 2 penjelasan padaku!" Maya mengingatkanku.
Ku tolehkan kepalaku. Ku dapati Maya sudah berdiri di belakangku dengan berkacak pinggang. Dia kemudian memutar kursiku.
"Jangan membuatku penasaran!" Maya mengancamku.
Aku mengukir senyum, " Apa sih, yang bisa ku sembunyiin darimu?"
"Siapa, yang baru saja meneleponmu?" selidik awal Maya.
"Dion," jawabku singkat.
"Kalian pacaran?" Maya to the point.
Ku anggukkan kepalaku. Maya terlihat kaget, tapi kemudian menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
Dia lantas memelukku, " Ini adalah keputusanmu yang paling benar, aku mendukungmu."
Aku membalas pelukan Maya dengan erat. Aku bahagia bisa memilikinya, sahabat terbaik yang baru 4 bulan ini menemaniku.
"Sayang, peluk aku juga!" pinta Mas Rendra yang entah dari kapan sudah berdiri di belakang kami.
Maya melepaskan pelukannya, "Mas Ren, Rosa jadian sama Dion, loh."
"Aku dah curiga," jelas Mas Rendra.
"Waktu kamu tau Dion ke Yogya, aku tau kalau kamu sudah berubah perasaan pada sepupuku itu," jelas Mas Rendra lagi.
"Mas Rendra sok tau," timpalku.
"Lantas, apa hubunganmu dengan Pak Aryan?" Mas Rendra mulai mengintrogasiku.
"Aku baru mengenalnya kemarin malam, gak taunya dia malah manajer baru di sini," ceritaku jelas agar mereka tak lagi penasaran.
Mas Rendra menepuk pundakku, "Jangan sampai Dion salah paham dengan Pak Aryan."
"Haruskah aku cerita sama Dion?" tanyaku.
"Harus," jawab Maya yang di angguki Mas Rendra.
"Setiap ada Manajer Baru, akan jatuh cinta sama kamu," Maya yang menjelaskan teka-teki Mas Rendra.
Aku, tak tahu harus bagaimana menanggapi pesan dari kedua sahabat baikku itu. Yang pasti, aku tau jika mereka ingin yang terbaik untuk hubunganku dan Dion. Dan sejujurnya, itu pula yang ku inginkan.
*****
Hari ini, aku memutuskan untuk lembur.Bukan hanya karena tuntutan pekerjaan, tapi juga karena Dion yang lagi ke Yogya. Aku ingin sedikit melebur kangen yang membuncah di dadaku, dengan tumpukan deadline.
Kangen?
Ini rasanya aneh, tapi aku merasakannya. Dan anehnya, aku menyukai perasaan ini. Perasaan yang tak pernah ku alamatkan kepadanya sebelumnya.
"Kamu, belum pulang, Sa? Sudah hampir jam 7, loh," Pak Aryan tiba-tiba sudah berdiri di samping mejaku.
Ku lirik jam tanganku, "Iya, Pak. Sebentar lagi, saya pulang setelah merapikan laporan ini."
"Saya, tunggu di lobi, ya!" pintanya.
"Maaf, Pak, saya bisa pulang sendiri " tolakku.
__ADS_1
"Saya, tunggu di lobi!" perintahnya kemudian pergi meninggalkanku dengan senyumnya itu.
Kembali ku hela nafas panjangku. Kenapa aku harus dihadapkan dengan manajer-manajer yang kalimatnya tak terbantahkan. Mas Rud dan Pak Aryan, sama!
Mas Rud lagi ....
Buang ... buang ... buang ...!
Di ... bantu aku melenyapkan nama itu dari hidupku. Aku benar-benar ingin melupakannya.
"Ayo, pulang, jangan melamun!" tiba-tiba Pak Aryan sudah berdiri di samping mejaku lagi.
Aku tak bisa lagi, menolak ajakan pulangnya kali ini. Ku ikuti langkahnya mulai dari mejaku hingga masuk ke dalam mobilnya.
"Kenapa, kayaknya kamu gak nyaman?" tanya Pak Aryan.
"Saya takut, pacar saya salah paham, Pak," jawabku jujur.
"Apakah pacarmu cemburuan?" dia mengorek informasi.
"Semua laki-laki, pasti akan cemburu, Pak, jika pasangannya akrab dengan lelaki lain, apalagi sampai mengantarkan pulang." aku menjelaskan.
"Bukankah, Bapak juga begitu?" aku balik bertanya sebelum dia bertanya lagi.
"Kamu, benar, tapi aku gak punya niatan untuk merusak hubungan kalian. Aku hanya ingin berteman denganmu, bahkan aku tidak keberatan untuk mengenal pacarmu, jika itu syarat agar aku bisa berteman denganmu." Pak Aryan mengutarakan niatnya.
Aku mengulas senyum untuknya. Laki-laki ini berbeda dengan beberapa lelaki yang pernah hadir di hidupku. Aku tau, tak ada pertemanan sejati antara seorang lelaki dan perempuan, tanpa ada salah satu yang menyimpan perasaan. Entah, ini berlaku untuknya juga atau gak, karena barusan dia mengatakan murni hanya ingin berteman. Haruskah, aku percaya?
"Sebagai bukti bahwa aku tak punya niatan buruk untuk hubunganmu, aku tak akan menggunakan jabatanku untuk menekanmu," kata Pak Aryan.
"Maksud, Bapak?" aku bingung dengan perkataannya.
"Aku akan mengantarmu sebagai driver online," dia mengangkat alisnya sambil tersenyum.
Tak ku sangka, dia melepaskan kancing kemejanya, satu, dua, dan semuanya. Dia keluarkan kemejanya dari ikat pinggang yang memeluknya. Nampak kaos oblong hitam menutupi dadanya yang bidang. Dia lepaskan kemejanya itu, melewati tangannya yang macho dan berakhir di sandaran kursinya. Secepat kilat, dia menggantinya dengan kemeja flanel kotak- kotak hitam putih.
" Begini dah pantes kan jadi abang driver online?" tanyanya sambil memakaikan topi hitam menutupi rambut rapinya.
Aku terpaku melihat apa yang dia lakukan. Bukan pemandangan buruk, tapi sanggup membuat darah sedikit berdesir. Bagaimanapun, aku perempuan, dan pasti normal. Ini bukan sesuatu yang akan membuatku baik-baik saja. Tapi ku pastikan, ini bukan jatuh cinta ya, hanya sekedar mengagumi fisiknya yang good looking.
"Ini lebih baik, tapi bukan sesuatu yang bisa Bapak lakukan setiap Bapak menginginkannya." aku menjelaskan.
"Aku tau, kamu harus menjaga perasaan pacarmu," dia bijak kali ini.
__ADS_1
Entahlah, bagaimana aku harus memulai bercerita pada Dion tentang Pak Aryan. Bisakah dia menerima tawaran pertemanan yang diajukan Pak Aryan untuk kami, terutama untukku.