
Dion kemudian memelukku, " Aku cemburu, Sayangku!"
Aku memaku di dalam pelukannya.Tak tau bagaimana harus merespon perlakuannya ini.
"Diamlah," ucapnya saat aku hendak pelepaskan pelukannya.
Aku diam, tak lagi berniat untuk jauh dari dekapannya. Ku biarkan dia melepaskan kecemburuan yang begitu kuat menderanya.
"Kamu milikku, hanya milikku,"
Cup!
Aku tersentak saat tiba-tiba saja, dion mengecup bibirku sekilas. Lembut dan sanggup membuat hatiku berdesir hebat. Tak pernah sedikitpun terlintas jika Dion akan melakukan ini. Aku masih mematung dengan tindakan spontannya tadi.
"Maafkan, aku!" Dion lantas mencium keningku sangat lembut.
Dia kemudian menuntunku untuk duduk. Dia lepaskan jemariku, dan ményenderkan punggungnya di sofa. Dia menengadahkan kepalanya dan menutup matanya.
Aku kembali terpaku, aku tak pernah melihat Dion begitu cemburu pada lelaki yang mendekatiku. Dulu, dia sering bilang cemburu saat ada lelaki yang coba mendekatiku. Bilang langsung padaku, tapi tak pernah sekalipun menyentuhku, apalagi menyentuh bibirku.
Bibirku!
Ya ... aku amat menjaga bibirku dari sentuhan siapapun.
Dan tadi ... Dion mengambilnya begitu saja.
Bukan sesuatu yang lebih dalam, tapi cukup membuatku menilai jika aku sudah tak becus menjaganya.
Aku merasa ternoda.
Ternoda, hanya karena ada sesuatu yang mengambilnya tanpa izinku.
Ahh ..
"Maafkan, aku terbawa emosi," Dion berucap masih dalam posisinya tadi.
Dia kemudian membuka matanya, "aku tak seharusnya melakukan itu."
Diam.
Aku diam.
Dia pun terdiam.
Ku lihat dia begitu frustasi, entah frustasi karena kecemburuan yang menyerang hatinya ataukah karena bibirnya yang spontan menyerang bibirku.
"Sudahlah, jangan meminta maaf lagi," aku menatap ke arahnya.
__ADS_1
Aku mengambil tangan kirinya dan menggenggamnya, "bibirku tidak terluka tapi nampaknya hatimu terluka parah."
Aku menempelkan tanganku di dadanya, "sedalam itukah sikapku melukaimu?"
"Tidak," Dion menjeda kalimatnya.
"Aku yang melukai diriku sendiri, aku yang tak bisa mengendalikan perasaanku." jelas Dion.
"Di, mencintaiku bukan berarti kamu selalu menyalahkan dirimu sendiri jika kamu terluka karenaku. Ini hubungan kita, jika kamu terluka, itu berarti karena aku yang melukaimu, dan begitu juga sebaliknya. Tidak ada luka yang tercipta dan sembuh dengan sendirinya, jika tidak pernah diobati." jelasku.
Kami saling terdiam, mengintrospeksi diri dengan kalimat-kalimat yang baru saja terlantunkan, entah dariku atau darinya.
"Aryan," Dion memberikan clue atas kecemburuannya.
Dion membiarkan punggungnya menjauhi sandaran sofa,dia tegakkan posturnya dan memutar badan ke hadapanku. Dia menatapku, menghujam tepat di bening hitam pupil mataku.
"Aku cemburu melihatmu dengan Aryan," jujur Dion.
"Dia atasanku, pengganti Mas Rud." jelasku.
"Jangan beri kesempatan dia untuk menggantikan posisi Rud, di hatimu," pintanya.
"Mana mungkin, ada kamu di hatiku," ungkapku.
"Aku percaya kamu, tapi aku tidak percaya dengan ketulusannya berteman denganmu," Dion curiga.
Dion masih menatapku. Mata yang biasanya teduh itu, kini memancarkan bias rasa yang bercampur. Kecemburuan dan kegamangan rasa yang mendera sang pemilik. Ku tangkupkan kedua telapak tanganku di pipinya. Ku tatap lembut mata yang penuh gelora itu.
"Sayang, selama kamu di sampingku, sebelum kita berkomitmen, pernahkah aku bermain-main dengan perasaan mereka yang kamu cemburui? Pernahkan aku memberikan mereka harapan palsu?" tanyaku.
"Kamu ... aku selalu ketus padamu, karena aku memang tidak menyimpan rasa untukmu, dan bukankah aku juga melakukan hal yang sama pada mereka yang menyukaiku. Pernahkah aku memintamu atau mereka untuk menunggu sampai cintaku ada untuk kalian? Pernahkah?"
Dion terus saja menatapku. Ku melihat matanya mulai berkaca-kaca. Titik-titik air mulai berkumpul untuk membentuk awan yang akan berubah menjadi derai air mata.
"Dulu, aku menolak semua lelaki yang tak ku sukai, dan sekarang aku masih orang yang sama. Aku mencintaimu, tak akan ku biarkan kamu yang selalu terus memperjuangkan hatimu, sekarang percayakan aku untuk menjaga hatiku hanya untukmu." ungkapku.
Ku turunkan kedua tanganku ke lehernya, "Aku mencintaimu."
Cup!
Aku mengecup bibirnya sekilas.
Entah darimana keberanian itu datang.
Aku yang tadi merutuki dia yang mencuri bibirku, kini justru aku yang menjadi pencurinya.
Dion nampak sekali terkejut dengan keberanianku. Namun, dia secepat mungkin menguasai perasaannya. Menormalkan lagi ekspresi wajahnya yang sempat tersentak.
__ADS_1
Dion menempelkan telunjuknya di bibirku, "Simpan ini setelah aku menghalalkanmu."
"Kesalahanku karena telah mencurinya dan pembalasan yang kau berikan, adalah kesalahan yang jangan sampai kita ulangi lagi, sebelum aku merengkuhmu dalam tanggung jawabku sebagai imammu. Aku khilaf telah mengambil hal yang amat kau jaga, aku gagal menjagamu, maafkan, aku!" Dion melepaskan tanganku yang masih melingkar di lehernya.
Aku malu. Ku tundukkan kepalaku. Ku rasakan sebuah kecupan menempel manis di keningku. Dion mengacak rambut di puncak kepalaku, "jadilah Rosa yang menggemaskan, jangan agresif!"
Aku cemberut mendengar perkataan Dion. Senyum yang mulai terkembang di bibirnya itu seolah menyindirku halus. Ku pukul manja dadanya. Dia malah menangkap pergelangan tangan kiriku.
"Aku ada sesuatu untukmu," ungkapnya.
Dion mengambil sebuah kotak berbentuk hati dari laci di deket kami duduk, "Ku titipkan ini padamu!"
Dion memakaikan sebuah gelang rantai berwarna silver bermata biru di pergelangan tangan kiriku. Dia tersenyum manis, saat gelang itu nampak cantik di tanganku.
Mengapa Dion suka sekali menitipkan perhiasan padaku. Anting waktu itu saja, masih menjadi misteri, ini sudah ada gelang lagi. Aku harus mencari tau penjelasan dari semua ini.
"Apa maksud dari anting dan gelang yang kau titipkan padaku, Di?" aku penasaran.
Bukannya menjawab, Dion malah berdiri dan berjalan ke arah dapur. Aku pun mengikutinya dan terus menunggu jawaban atas pertanyaanku. Sesekali aku memanggilnya, tapi dia malah asyik meneguk air putih yang baru diambilnya.
"Di," seruku manja.
"Minumlah!" perintahnya.
Dion menyodorkan gelas di tangannya ke bibirku, "Basahi kerongkonganmu, hari ini kamu cerewet sekali, Sayang."
Aku menghabiskan air yang ada di gelas tersebut. Dion tersenyum puas, aku curiga, pasti ada sesuatu yang salah. Oh My Good!
Bukankah ini gelasnya tadi? Ini air yang tidak dia habiskan, dan aku yang meminumnya.
"Kenapa kamu membiarkanku minum di bekas bibirmu?" gerutuku.
"Apa kamu keberatan?" tanyanya menggodaku.
"Kamu pikir?" aku balik bertanya.
"Rasulullah saja meminum di bekas gelas Sayyida Aisyah, kenapa kamu harus keberatan minum di bekas bibirku?" godanya.
Aku berusaha meninju lengannya. Namun, yang terjadi, justru aku yang terhuyung jatuh ke dalam pelukannya. Aku hendak melepaskan diri, tapi dia mengeratkan pelukannya. Dia membalik badanku, sehingga bisa memelukku dari belakang.
"Anting, aku ingin telingamu hanya mendengar bisikan-bisikan cinta dariku, bukan dari lelaki lain." bisik Dion di telinga kananku.
Aku mendongakkan kepalaku. Perbedaan tinggiku dengannya membuat dia harus sedikit menunduk untuk kembali mencium rambut di puncak kepalaku.
"Aku memang egois, aku melepaskanmu waktu itu, agar kamu bisa merasakan bagaimana harimu tanpaku. Aku yakin kamu akan kembali ke sisiku, dan itu terwujud meski kamu harus terluka karenanya." ungkap Dion.
Aku membalikkan badanku. Ku tengadahkan kepalaku agar pandanganku bisa menjangkau matanya.Ku menunjuk gelang di tangan kiriku, "Lalu, ini?"
__ADS_1