Tentang Hati

Tentang Hati
Manja


__ADS_3

"Akhirnya kalian dateng juga! Aku pikir kalau udah sibuk pacaran jadi gak butuh makan!" sarkas Mas Rendra.


"Kalian udah jadian?" Maya memastikan.


Mas Rud hanya tersenyum. Dia memang tipe orang yang gak suka banyak omong untuk masalah kayak begini. Dia orang yang lebih suka menunjukkan kasih sayang melalui perhatian.


Dia mengangkat tangan kami yang saling berpegangan.Itu sudah cukup, untuk menunjukkan bahwa kami punya hubungan lebih.


"Asyik, kita makan gratis hari ini!" seru Maya.


"Pesen yang banyak sayang, kalau perlu mbungkus!" Mas Rendra menimpali.


"Silakan suka-suka kalian, tapi ini hutang nanti kita tagih ganti!" jelas Mas Rud.


"Mas Rud gak ikhlas ya, nraktir kita?" Maya cemberut.


"Bukan gak ikhlas, May, tapi ini doa kami agar kamu cepet ditembak!" kode ku.


Mendengar kata-kataku, Mas Rendra tiba-tiba batuk-batuk.


"Kalian rese nih! mentang mentang dah selangkah lebih maju!" gerutu Mas Rendra.


"Makanya mas, jangan kebanyakan gombal mulu!" terangku.


"Kalau kamu ada cowok lain nembak, buruan terima May, jangan mau di PHP in dia!" tunjuk Mas Rud pada Mas Rendra.


"Tunggu aku, datang melamarmu sayang, jangan dengarkan mereka!" tunjuk balik Mas Rendra padaku dan Mas Rud.

__ADS_1


Sementara kami bertiga berdebat seru, Maya hanya memakan baksonya sambil senyum-senyum sendiri.


"Kalian pada gak laper? Dari tadi berdebat mulu," celetuk Maya.


"Ini makan!" Mas Rud tiba-tiba nyuapin bakso ke mulutku.


Aku pun terpaksa membuka mulut untuk menerima suapannya.


"Mas Rud, diem-diem romantis banget," seru Maya.


"Kamu jangan tertipu wajah-wajah kalem model Rud, begini sayang," timpal Mas Rendra.


"Sirik," balas Mas Rud.


Acara makan bakso siang ini harusnya jadi double date yang seru. Eh, malah jadi ajang ngecengin Mas Rendra yang malang.


Sore ini, aku sepakat untuk pulang bareng Mas Rud naik motor. Suasana sore yang mendung, bukan menjadi penghalang kami untuk menikmati jalanan dengan berkendaraan roda 2 tersebut.


"Maaf ya, Sa, aku agak telat keluar kantor tadi," Mas Rud membuka percakapan, padahal baru jalan 100 m dari parkiran.


"Banyak kerjaan ya mas?" tanyaku.


"Iya nih," jawab Mas Rud sambil memperlihatkan jari-jarinya.


"Gak kenapa-kenapa," kataku, karena memang jari-jari tangan kiri Mas Rud yang diperlihatkan padaku, terlihat normal.


"Capek Sa, dari pagi ngetik terus, coba deh pegang," pinta Mas Rud.

__ADS_1


"Ah ... Mas modus, bilang aja pengen aku pegang," vonisku.


"Kalau dilihat, emang gak kelihatan sakit Sa.Tapi kalau kamu pegang, kamu baru bisa rasain bedanya." kilah Mas Rud.


Mas Rud emang pinter banget cari alasan. Entah kenapa lelaki ini seolah menawarkan diri untuk ku sentuh. Aku pun membolak-balikkan jemari tangannya. Dan tetap saja, jemari itu baik-baik saja. Karena pada dasarnya, emang gak ada yang terluka.


"Gak ada yang luka mas," jawabku sabar.


Dia pun menggenggam jemariku.


"Luka ini kayak cinta aku ke kamu, Sa. Kalau cuma kamu lihat, gak bakal begitu nampak, tapi kalau kamu sentuh, kamu akan tahu seberapa besar rasa sayangku ke kamu!" rayunya.


"hari ini mulutmu manis sekali, Mas," godaku.


Mas Rud menoleh ke arahku dan tersenyum.


Tiba-tiba mendung yang sedari pagi sudah menggantung di langit, perlahan mulai menitikkan butir air matanya.


"Sa, gerimis,kita neduh dulu ya," ajak Mas Rud.


"Lanjut aja ya mas, aku dah lama gak hujan-hujanan," ajakku.


"Nanti kalau sakit gimana?" tanya Mas Rud.


"Kamu adalah obat dari sakitku, Mas!" godaku sambil senyum-senyum.


"Ngawur kamu! Berteduh aja," putus Mas Rud.

__ADS_1


Mas Rud menghentikan motornya di depan sebuah toko buku yang kebetulan tidak jauh dari lokasi rintik hujan yang mulai turun.


__ADS_2