
Pantry ... tempat yang sangat jarang ku kunjungi. Maklumlah, aku tidak suka minum kopi atau minuman sejenisnya. Dan kalaupun aku menginginkan semua itu, cukup minta tolong OB, Bang Kotan, untuk mengantarkannya ke mejaku.
"Mbak Rosa, tumben ke sini langsung?" Bang Kotan mengajakku ngobrol sambil meracik kopi pesananku.
"Kangen Abang," gurauku.
"Ah, Mbak Rosa, bikin saya keGRan aja," Bang Kotan tersipu malu.
"Mbak, Minggu depan Pak Rendra dan Mbak Maya menikah, ya?" tanya Bang Kotan sambil menyeduh kopinya.
"Iya, Bang, habis menikah mereka pindah ke Yogya, aku bakalan kesepian, deh," keluhku sambil menopang dagu dengan sebelah tangan.
Bang Kotan mulai mengaduk kopi. "Buruan nikah juga, dong, Mbak."
"Sama siapa?" tanyaku ngasal sambil fokus pada gaya luwes Bang Kotan mengaduk kopi.
"Pak Aryan," ucap Bang Kotan.
"Jangan ngawur deh, Bang, masa nikah sama dia," selorohku seraya melihat HP yang tiba-tiba saja bergetar, menandakan ada WA masuk.
Keasyikanku memantau WA grup SMP yang ramai membicarakan acara pernikahan Tria dan Rio, terusik dengan aroma kopi yang menggelitik indra penciumanku. Ku lihat secangkir kopi sudah tersaji di hadapanku.
"Terimakasih, Bang," ucapku sambil mencari keberadaan Bang Kotan, tapi tak ku temukan di seluruh area pantry.
Kemana tuh dia? Main ngilang-ngilang, aja, macam hantunya Lina Agustin di novel "Apa Aku Berbeda?" Serem gak sih? Namun mana ada hantu kelayapan pagi-pagi begini? Apa dia hantu yang tersesat dan gak tau jalan pulang? Atau hantu yang pura-pura lupa? Kenapa jadi mikirin hantu, sih?
"May, kamu udah ketahuan, gak usah main beginian lagi!" ungkapku pada seseorang yang tiba-tiba saja menutup kedua mataku dengan kedua telapak tangan dari arah belakang.
"May siapa?" tanya seseorang yang ku kira Maya itu.
Ya ... yang biasanya main tutup mata begini adalah Maya. Namun kali ini sepertinya aku salah, lagi-lagi ini bukan suara dari seseorang yang ku tebak namanya.
"Lepaskan, Pak!" perintahku begitu menyadari yang menutup mataku bukan Maya tapi Pak Aryan.
"Galak amat temenku yang satu ini," seloroh Pak Aryan sembari melepaskan tangannya dari kedua mataku.
Dia kemudian memilih duduk di hadapanku. Tangannya cekatan sekali mengangkat cangkir kopi yang sempat ku seruput barusan. Dan tanpa ragu diapun menyeruputnya, "Manis."
"Itu kopi saya, Pak," jelasku dan kemudia berusaha merebutnya.
"Aku tidak masalah meminum kopi bekasmu, jika kamu tidak masalah meminum bekasku, silakan saja, aku malah senang," ucap Pak Aryan dengan gaya santainya.
Ish ... kenapa akhir-akhir ini, Pak Aryan lebih nekat dari biasanya. Aku bukan mengkhawatirkan perasaanku yang bisa goyah tapi aku takut jika rasanya makin besar dan akan terluka lebih dalam lagi.
__ADS_1
"Bapak tidak bisa, ya, membiarkan saya menikmati hari terakhir di sini?" tanyaku memperhatikannya lebih dalam.
"Hari terakhir?" tanyanya sambil memicingkan mata.
"Bukankah, Bapak sudah memecat, saya?" jelasku sambil menatapnya ketus.
Kopi itu kembali ia biarkan menyentuh bibirnya. "Ha-ha-ha ... kamu pikir aku siapa? Bisa memecatmu begitu saja, jangan terlalu polos, temanku, Sayang!"
"Saya gak peduli Bapak siapa? Tapi saya peduli dengan panggilan Bapak ke saya. Jangan panggil saya dengan panggilan sayang!" terangku mulai beranjak dari dudukku.
"Terimalah, atau aku akan memberikannya langsung pada Dion!" ancam Pak Aryan sambil meletakkan kotak hadiahnya di meja pantry yang berada di hadapan kami.
Ku tarik napas panjang untuk meredam gejolak amarah yang hendak menggelora. "Baiklah, hadiah seorang teman." Ku tekankan kalimatku pada kata teman. Ku ambil kotak itu dan ku lihat senyum mengembang di wajahnya.
"Ayo," ajaknya pergi dari pantry sambil merangkul pundakku.
"Lepaskan, Pak! Ini kantor, Bapak jangan ambil kesempatan dalam kekuasaan," selorohku menepis tangannya.
"Aku terlalu bahagia punya teman yang bersedia menerima hadiahku," ucapnya melepaskan rangkulannya dan berjalan mensejajariku.
"Hidup Bapak terlalu menyedihkan, kaya harta tapi miskin bahagia," ungkapku mempercepat langkah untuk meninggalkannya.
*****
Setelah menghabiskan pagi dengan Pak Aryan, sisa waktuku seharian ini ku habiskan bergelut dengan tumpukan pekerjaan. Tak terasa, jam pulang kantor pun telah terlewat sepuluh menit. Sesuai rencana, kami akan mengadakan farewell party untuk Maya dan Mas Rendra. Bukan acara rame-rame dengan teman satu divisi tapi malah cuma berempat.
"Menurut kalian kali, bagiku gak, tuh," tegasku dari bangku tengah.
"Anggap aja, iya," celetuk Pak Aryan dari bangku depan sebelah kiri.
"Jangan berdebat, kita seru-seruan malam ini!" seru Maya penuh semangat.
Perjalanan sore ini membawa kami ke apartemen Mas Rendra. Ku pikir kami bakalan menghabiskan waktu di pasar malam, nonton film komedi atau membajak area permainan anak-anak di mall. Gak salah kan aku menarik kesimpulan begitu? Menilik Maya semangat mengucap kata seru-seruan. Tahunya, malah balik kandang.
"Kita makan-makan di sini sambil nonton film," jelas Mas Rendra.
Film? Udah terbayang tuh, rentetan judul film yang lagi happening. Namun semua khayalan indah itu harus kandas saat layar televisi menampilkan sosok Shahrukh Khan, Kajol dan Rani Mukherjee. Tak salah lagi "Kuch-Kuch Hota Hai" adalah film yang akan mencabik perasaan malam ini.
"Gak ada film baru apa, kenapa nonton film ini, sih?" protesku.
Asal tahu saja, mataku sudah puluhan kali ternoda air mata gara-gara menonton film legendaris ini. Part Rahul dan Anjeli yang harus berpisah di kereta api itulah yang sukses membuncahkan perasaanku. Jangan sampai malam ini akan terulang kembali, mengingat ini adalah momen yang pas, farewell party.
"Tonton saja, jangan kebanyakan protes, kita nyanyi dan menari malam ini," terang Maya.
__ADS_1
"Aku gak bisa menari," jawabku jujur.
"Nanti aku ajari, aku jagonya," ungkap Pak Aryan.
Ku pasang wajah garang ke arah Pak Aryan untuk menanggapi kalimatnya barusan.
"Inikah seru-seruan yang kamu maksud, May?" aku meminta penjelasan pada Maya.
Maya menaikkan kedua alisnya dan tersenyum. Ya sudahlah, kita ikuti saja alur yang disiapkan sang sutradara. Toh ini adalah kebersamaan terakhir sebelum mereka menikah. Semoga akan menjadi kenangan indah yang bisa diingat saat kami tua nanti.
"Aku panggil Dion dulu, ya, siapa tahu dia mau gabung," tutur Mas Rendra.
Ku lihat Pak Aryan, kebetulan dia juga sedang menatapku. Aku penasaran bagaimana reaksinya jika Dion ikut bergabung dengan kami. Apakah dia akan kurang nyaman? Diluar perkiraanku, dia malah tersenyum. Susah sekali untuk menebak apa yang dipikirkannya.
"Sa, tumben Dion belum pulang? Lembur ya, dia?" tanya Mas Rendra setelah kembali.
"Tadi pagi emang dia sibuk, Mas. Makanya aku juga belum menghubunginya lagi," jelasku.
"Ya sudah kita mulai saja, nanti aku telepon dia, biar nyusul kalau udah balik," usul Mas Rendra.
"Kalian berdua duduk saja, nikmati filmnya, aku siapin makanan dan minuman dulu," seru Maya kemudian.
Film pun mulai diputar hingga sampai pada scene di mana Rahul dan Tina saling bertatapan penuh cinta. Pikiran liarku tiba-tiba saja menuntunku ke masa lalu. Dimana tatapanku bertemu dengan tatapannya, Mas Rud.
Ish ... segera ku tepis bayang hitam itu. Rosa ... ingat kamu adalah tunangan Dion. Jangan main hati!
"Ada yang keinget masa lalu kayaknya? Inget tuh sama tunangan," goda Pak Aryan.
"Pernah nonton sinetron azab, gak, Pak? Ada tuh yang judulnya "Manajer dikutuk jomblo seumur hidup gara-gara suka godain tunangan orang yang lagi mikirin mantan"," sindirku pada manajerku yang sok tahu itu.
Gelak tawa terlahir dari bibir Pak Aryan, sungguh tawa bahagia dengan kadar maksimal. Mas Rendra yang baru keluar dari dapur kebingungan melihat tingkah Pak Aryan. "Sa, tanggung jawab kamu bikin manajer jadi gila," celetuk Mas Rendra.
"Aku memang penuh pesona, Mas, tapi kalau Pak Aryan gila karena mencintaiku itu diluar tanggung jawabku, ya," seruku dengan senyum smirkku.
"Rosa, jaga hati, tuh, inget tunanganmu!" pesan Mas Rendra.
Tiba-tiba saja suara musik khas India mengalun lebih keras dan semakin keras. "Malam ini kita lupakan status, ayo seru-seruan!" teriak Maya sambil menarik tangan Mas Rendra untuk ikut menari mengikuti hentakan musik.
Sepasang calon pengantin itu gila-gilaan menari menirukan adegan Rahul, Anjeli dan Tina menyanyikan lagu Kuch-Kuch Hota Hai. Ku dengar Pak Aryan juga ikut bersenandung melafalkan lagu tersebut. Ah, menggelitan sekali. Namun ku akui suaranya Pak Aryan merdu juga. Ia begitu fasih dengan tiap kata yang ia senandungkan.
"Ikutin narinya juga dong, Pak! Biar Shahrukh Khan dapet saingan," tantangku.
Dia kemudian menjawab tantanganku. Berdiri dan menarik tanganku untuk mengikutinya.
__ADS_1
"Aku gak mau," tolakku.
Namun Pak Aryan mengabaikan ucapanku, dia menarik tanganku dan memutarkan badanku dilingkaran tangannya. Aku terbawa dengan keriuhan suasana di sini, hingga dengan santainya mengikuti kehebohan mereka. Aku sudah melupakan batas yang harus ku jaga dengan Pak Aryan. Kata seru-seruan yang Maya ucapkan sungguh-sungguh jadi nyata.