Tentang Hati

Tentang Hati
Putus


__ADS_3

"Kita saling mencintai," jelasku.


"Aku yang mencintaimu sepenuh hati, tapi kamu tidak," sindirnya yang membuatku mengingat lagi semua yang telah memicu pertengkaran kami.


"Aku mencintaimu," akuku dengan memaksimalkan ekspresi penuh cinta.


"Dan juga mencintainya," tohoknya yang sayangnya itu adalah sebuah kenyataan.


Kenyataan yang tak kupungkiri kebenarannya untuk beberapa waktu lalu. Namun aku menyangkalnya untuk sekarang. Aku sudah putuskan untuk mencintai Dion sepenuh hati. Sedang berusaha dan akan terus berusaha menjadikan dia satu-satunya.


"Kenapa diam?"


Aku memang diam. Diam untuk mencari jawaban yang paling tepat agar bisa diterima olehnya.


"Kamu mengakuinya?" cercanya lagi dengan ekspresi dinginnya.


"Bukankah kamu tahu bagaimana dan seberapa besar aku mencintainya?" jawabku yang pasti akan memperbesar kemarahannya.


"Bukankah kamu sudah memilihku? Apakah kamu tidak tahu jika martabat wanita itu terletak pada kesetiaannya?" lagi-lagi dia menohokku dengan pernyataannya yang menyudutkanku.


Aku sedikit meradang mendengar pernyataannya. Seolah aku sudah menghianatinya. "Maksudmu aku selingkuh?"


"Apakah ada nama lain selain selingkuh untuk perbuatan yang kalian lakukan?" kata-kata Dion semakin tak enak kudengar.


Sabar, Sa! Sabar! Sabar! Sabar!


Menunduk. "Aku hanya berciuman. Apakah itu tidak bisa kamu maafkan? Aku juga tidak ingin melakukannya, aku terbawa suasana waktu itu," jelasku penuh rasa bersalah.


"Ciumanmu salah, tapi yang lebih salah adalah perasaan yang masih kamu simpan untuknya," ucap Dion yang makin membuatku merasa bersalah.


"Bagaimana aku harus menebus kesalahanku?" tanyaku sendu.


"Cium, aku!" pinta Dion yang membuatku kaget.


Upaya menghapus jejak? Dia melakukannya lagi? Aku masih belum bisa mencerna motif dibalik kalimat perintahnya. Menciumnya? Di mana? Di bibir? Bukankah itu pantangan dalam hubungan kami. Apakah ia akan melanggar aturan yang ia buat sendiri.

__ADS_1


"Apakah ciumanmu itu hanya akan kamu berikan padanya?" tanyanya saat aku bergeming, tak bergerak dari posisiku.


Sejak kapan kamu menginginkan aku menjadi liar, Di? Apakah kamu ingin menjebakku? Apakah sekarang aku menjadi wanita murahan di hadapanmu, yang akan dengan mudah mencium sembarang lelaki.


"Kalau dia mengambil semua yang seharusnya menjadi hakku, lantas apa yang akan kamu berikan padaku?" kata-katanya semakin menohok, benar-benar menjadikanku seorang yang bejat, penghianat.


Diriku masih utuh, Di! Mas Rud tak pernah menyentuhku lebih dari malam itu. Bahkan waktu pacaran pun dia tak pernah melakukannya. Malam itu adalah pertama kalinya. Pertama yang harusnya menjadi milikmu tapi aku malah menyerahkan padanya tanpa sengaja.


Aku tinggalkan posisi dudukku. Entah dapat bisikan dari mana, aku merangsek ke dalam pangkuan Dion dan kemudian mengalungkan kedua tanganku ke lehernya.


Cup!


Kukecup bibirnya yang terus-terusan memojokkan adegan tak senonohku dengan Mas Rud.


Kutemukan raut wajah kaget yang sekejap kemudian berhasil dia kuasai sehingga bisa bersikap normal kembali.


"Siapa yang kamu lihat?" tanyanya sok dingin.


Kutarik wajahku, memberi jarak tiga jari dari wajahnya. "Kamu!"


Cup!


"Kamu!" jawabku.


Aku tahu maksud dia menanyakan itu. Dia hanya ingin meyakinkan dirinya bahwa aku menciumnya tanpa bayang-bayang Mas Rud. Aku melakukannya secara sadar, itu yang ingin dia pastikan.


Dion melepaskan gayutan tanganku di lehernya. "Kenapa kamu jadi liar? Apakah aku gagal menjinakkanmu?"


Aku kalungkan lagi tanganku di lehernya. "Karena kamu memancingku menjadi liar."


Kutatap penuh manik matanya yang mulai mencairkan tatapan dinginnya. "Beri aku kesempatan untuk membuktikan padamu bahwa mulai detik ini aku hanya ingin mencintaimu."


"Bagaimana jika aku mulai mencintai wanita lain?" selidiknya.


"Siapa? Syala? Wanita yang gelayutan manja tadi? Kamu suka wanita model begitu?" cercaku tanpa henti.

__ADS_1


"Dia wanita yang manis dan menggemaskan. Aku lelaki mandiri, aku suka wanita manja yang bersandar hanya padaku," Dion kembali menguntai sindiran.


"Kalau gitu cari saja ABG labil, sepertinya kamu suka daun muda," gerutuku.


"Aku anti sama anak kecil apalagi tante-tante, aku suka yang mengkel," terang Dion entah apa maksudnya.


Mengkel? Itu berarti usia sebayanya. Apa yang dimaksud Syala? ataukah Arni? Ataukah wanita-wanita lain yang belum pernah ku kenal?


Haish!


"Aku mau kamu tapi kamu mau dia," lagi-lagi dia mengungkit perasaanku yang salah menempatkan rasa.


Perlahan aku menarik diriku dari pangkuannya. Memilih posisi duduk lurus dengan tubuh menyandar di sofa. Pandanganku fokus ke depan, berbicara tanpa menatapnya. "Kalau kamu memang terus mengungkit kesalahanku yang kamu anggap sebagai penghianatan tak termaafkan, baiklah, aku terima kita putus."


"Terimakasih untuk waktu puluhan tahun yang telah kamu habiskan untuk mencintaiku. Maafkan aku tak bisa membahagiakanmu. Aku memang salah, aku tidak pantas untuk terus kamu perjuangkan. Malam ini juga aku bakalan balik ke Jakarta, kamu tidak perlu mengantarkanku dan Mama."


Bangkit dan berlalu tanpa mengharap lagi. Mungkin memang cinta Dion sudah berada di penghujung waktu. Kesabarannya telah habis dan tak ada stok lagi yang bisa ia jadikan alasan untuk tetap mempertahankanku di sisinya. Ya sudahlah, aku memang terlambat menyadari. Terlambat membuang dan terlambat menggenggam yang sudah ada di tangan.


*****


Kusandarkan tubuhku di balik pintu kamar. Air mata mengalir, membawa cerita yang terpaksa kutamatkan. Inginku tersesat di season dua menjalani cinta bersamanya, biar aku tak bisa lagi pulang, terjerembab dalam endapan lara masa lalu yang tidak berujung. Ternyata begini perihnya hati yang tersakiti.


Bulir bening ini tak mau berhenti menjelajah pipiku. Mengalirkan cerita tentang hati yang tak bisa dipahami oleh hati yang lain. Tentang sakitnya rasa jika harus berbagi dengan rasa yang lain. Dan tentang kisah cinta sendiri yang harus aku akhiri.


Mengapa aku bisa begitu bod*h? Tak pernah menyadari jika selama ini aku bahagia karenamu. Selalu melihat dia yang menaruh luka padahal kamulah yang mengobatinya. Selalu mengharap masa lalu padahal kamulah masa depan yang akan selalu membahagiakanku.


Terduduk aku di lantai. Memeluk kedua kaki yang kutekuk. Menyesali semua kegagalanku dalam memilah rasa. Ku pikir, aku akan bahagia. Bahagia dengan mencintai Dion meski masih ada sisa rasa untuk Mas Rud. Ternyata aku salah, Dion tak bisa menerima bahagia yang ku pikirkan.


Penyesalan memang selalu datang terlambat. Menyesakkan. Sesuatu yang seharusnya lebih awal kusadari, sekarang semua hanyalah tinggal mimpi, mimpi indah yang kusia-siakan begitu saja.


Kutelungkupkan kepalaku di ujung lututku. Mataku semakin sembab dimanjakan oleh air mata yang semakin deras mengalirkan luka. Rasa ini mungkin adalah rasa terakhir yang aku lahirkan karenamu.


Kuangkat kepalaku dan berakhir menyandar pada daun pintu. Berusaha menguatkan hati, menerima segala akibat dari sebab yang aku pilih sendiri. Menghapus airmata, menyeka luka agar bisa kuat menghadapi hari. Meluruska semua tulang-belulangku, berdiri. Kuhampiri lemari yang ada di dekat ranjang. Rasanya berat tapi kupaksakan untuk membuka dan mengambil tanpa menyisakan pakaian yang tergantung di sana. Kupindahkan ke dalam koper kecilku, seperti hati, akan ku alihkan dari mencintai menjadi sempat memiliki.


Terluka!

__ADS_1


__ADS_2