Tentang Hati

Tentang Hati
Rasa yang Membuncah


__ADS_3

Aku menghamburkan diriku ke sofa, begitu sampai di apartemen Dion. Hari ini, rasanya aku lelah sekali, lelah lahir batin, jiwa dan raga. Ku pejamkan mataku, kelelahan ini membuatku tak bisa menahan rasa kantukku. Berulang kali, aku menguap sejak di mobil tadi.


"Mau dimasakin apa?" tanya Dion yang sudah mengganti kemejanya dengan kaos santai.


"Aku kembali menguap. "Apa aja, yang penting enak."


"Kamu, mandi aja dulu, biar badanmu seger!" saran Dion.


"Hmmm ...." jawabku setengah sadar.


*****


Dion PoV


Aku sedang meeting, meeting dadakan. Seharusnya aku baru meeting besok, tapi karena klienku harus segera ke Singapura untuk mengantar ibunya berobat, jadi meeting ini dimajukan dari jadwal seharusnya.


Semuanya berjalan lancar dan sudah hampir selesai. Tiba-tiba saja, HPku berdering. Aku pantang mengangkat telepon ketika aku sedang sibuk dengan klien. Namun, karena kamu yang menelepon, maka aturan itu wajib aku langgar.


"Di, bisakah kamu datang ke Rumah Sakit "Pusat Persahabatan"? Aku dan Pak Aryan mengantarkan Mas Rud yang terluka tembak. Bawakan aku baju ganti, ya." jelasmu beruntun.


Banyak tanya yang ingin ku perjelas, tapi aku urungkan. Ini bukan situasi yang tepat. Yang ku lakukan selanjutnya setelah teleponmu kamu matikan adalah meminta Rio, asistenku untuk meneruskan meeting.


Aku segera menuju di mana kamu berada. Baju gantimu, itu tidak masalah. Aku sudah menyiapkan beberapa baju ganti di mobilku semenjak dulu. Sengaja, agar jika sewaktu-waktu kamu membutuhkannya, maka tidak kebingungan lagi. Sama seperti malam itu di apartemenku.


Ku lajukan mobilku diatas kecepatan rata-rata biasanya aku menyetir. Aku sudah tidak tenang, memikirkan bagaimana keadaanmu hingga semua ini bisa terjadi.


''Sayang, bagaimana keadanmu?'' itulah kalimat yang ku utarakan saat ku sudah menghampirimu.


Berbagai pertanyaan yang awalnya ingin segera ku tanyakan, menjadi buyar saat ku lihat gaunmu penuh dengan noda darah. Aku yakin, itu adalah darah Rud. Tak hanya itu, sebuah jas juga menempel di badanmu, ahh ... ambyar semua pikiranku.


Apakah aku cemburu?


Cemburu pada Rud, yang bisa melelehkan darah di gaunmu.


Ataukah cemburu pada Aryan, karena kamu biarkan jasnya menghangatkan tubuhmu.


Aarrggghhh ....


Aku jelas cemburu.


Namun sebisa mungkin ku tenangkan diriku. Aku melihat kamu begitu khawatir, gak mungkin aku membuatmu lebih khawatir lagi dengan pertanyaanku yang mungkin akan menyudutkanmu. Keadaanmu lebih penting dari rasa cemburuku yang sedang berusaha ku singkirkan. Kamu harus segera membersihkan dirimu, itulah yang harus segera kamu lakukan. Ku serahkan paper bag yang berisi baju gantimu.


"Apa yang terjadi?" tanyaku pada Aryan sesaat setelah kamu meninggalkanku berdua dengannya.


"Maafkan, aku. Acaranya tiba-tiba menjadi kacau. Ada baku tembak yang brutal. Waktu itu Rosa ada di toilet, aku buru-buru mencarinya. Saat ku temukan, dia sedang memapah lelaki yang sekarang ada di dalam. Kami pun membawa lelaki itu kemari karena ia tertembak di dada kanannya." jelas Aryan padaku.


Aku memahami apa yang dijelaskan Aryan. " Terimakasih, kamu sudah menjaganya."

__ADS_1


Aryan tersenyum padaku. "Dia temanku, aku yang mengajaknya ke sana, maka aku wajib menjaganya. Aryan melihatku dan ragu-ragu bertanya. " Siapa lelaki itu?"


"Rud," jawabku singkat.


Aryan diam, tak menambah pertanyaannya lagi. Ku acungi jempol kematangan lelaki ini. Dia sepertinya tau, jika Rud tak sekedar sesingkat namanya. Ada kisah dibaliknya yang tak aku ungkapkan. Kami terdiam lagi sampai kamu kembali dari toilet dengan wajah yang lebih segar.


*****


Ku buka perlahan mataku. Ku pandang sekeliling, bukan pemandangan yang biasa ku temukan saat aku bangun tidur.


Di mana aku?


Ku edarkan pandanganku untuk menjangkau titik yang lebih jauh. Ku lihat dua lelaki yang sedang mengobrol. Melihat desain ruangan ini, aku bisa mengingat, bahwa ini adalah apartemen Dion. Dan dua lelaki itu adalah saudara sepupu yang doyan menggombal, Dion dan Mas Rendra.


"Kalian, sedang apa?" tanyaku saat sudah menghampiri mereka.


Dion melihatku dengan lengkungan manis di bibirnya. "Udah bangun, Sayang?"


Aku melihat jam yang bersandar di dinding ruang makan. Pukul 20.00, hah, benarkah? Aku mengucek-ucek mataku. Itu berarti aku sudah tidur selama dua jam. Aduh, kemalaman lagi, nih, aku pulang. Mana belum mandi lagi. Aku menggaruk-garuk kepalaku yang sebenarnya gak gatal.


"Mandi, dulu. Setelah itu, baru kita makan." nasihat Dion.


Aku pun beranjak meninggalkan mereka dan menuju ke kamar Dion. Kali ini, aku tak perlu lagi diantar, karena ini adalah kali kedua aku mandi di sini.


Ku hempaskan tubuhku di bawah guyuran air. Terbayang lagi, bagaimana aku dan Mas Rud terjebak rasa yang dulu sempat membelenggu. Sentuhan lembut darinya, entah kenapa tak sedikitpun ku tolak, tapi malah aku nikmati.


Bukankah perasaanku untuknya sudah ku kubur dalam-dalam. Namun, kenapa begitu gampang tersemai lagi. Ini tidak benar. Tuhan ... aku tahu, Mas Rud adalah rasa pertama yang ku serahkan pada lelaki, cinta indah yang ku impikan. Namun, caranya meninggalkanku, bukankah itu terlalu menyakitkan untuk kembali ku kenang.


Tok-tok-tok!


"Sayang, mandinya jangan lama-lama! Nanti kamu kedinginan." suara Dion dari luar kamar mandi.


Aku tak menyahut suaranya. Ku hentikan pancuran air yang membasahiku. Ku keringkan badanku, rambutku pun segera ku manjakan dengan balutan handuk. Ku pakai kembali pakaianku tadi.


Ceklek!


Dion berdiri menyender di tembok samping pintu kamar mandi. Tanpa kata, langsung ku peluk tubuhnya.


Dia terkejut dengan pelukanku. Namun dia kemudian merespon sentuhanku dengan hangat. "Apa kamu mau menggodaku?"


Aku tahu dia sengaja bicara begitu. Aku bisa membaca maksudnya. Dia pasti tahu jika suasana hatiku sedang tak baik. Dia berusaha meluruhkan rasa yang mengganggu pikiranku. Namun, aku tak menghiraukannya. Tetap ku peluk erat tubuhnya.


Dion melepaskan pelukanku. "Bicaralah sambil ku keringkan rambutku!" Ia menuntunku untuk duduk di tepi ranjang. Dia mengambil hairdryer dan kembali mendekat ke arahku. Dia melepaskan handuk yang melilit rambut basahku.


"Kenapa tiba-tiba kamu manja padaku?" tanya Dion seraya mulai mengeringkan rambutku.


Aku harus menjawab apa? Haruskah aku jujur? Itu akan melukainya. Namun, kalau aku menyembunyikannya? Itu juga akan tetap melukainya.

__ADS_1


"Mas Rud, Di," aku mulai bercerita.


"Kamu, masih mencintainya?" ucapan to the point dari Dion itu membuatku semakin merasa bersalah.


Dia tahu, dia mengetahui apa yang sedang berkecamuk dalam hati dan pikiranku. Namun, kenapa ia masih bisa tersenyum? Kenapa ia tak menghujaniku rasa cemburu seperti waktu itu? Sesungguhnya aku lebih lega jika kamu mencemburuiku, Di.


Aku membalik badanku untuk menghadapnya. Langsung ku tenggelamkan lagi tubuhku di pelukannya "Aku gak ingin kamu tersakiti,"


Dion meletakkan hairdryer-nya dan membelai lembut rambutku. "Cinta itu adalah kebahagiaan, Sayang. Kalau kamu gak bahagia bersamaku, berarti aku gagal mencintaimu. Jika kamu bahagia dengannya, berarti memang cinta itu milik kalian berdua."


Aku semakin mengeratkan pelukanku. "Apakah kamu tidak ingin memperjuangkanku untuk tetap di sampingmu selamanya?"


"Apakah aku di sini sekarang, bukan berarti aku memperjuangkanmu tanpa henti? Apakah kamu mau, aku membelenggumu untuk tak bisa melihatnya, baru kamu yakin jika aku memperjuangkanmu?" Dion mengecup rambut di puncak kepalaku.


Aku bingung untuk membalas kalimat Dion. "Aku harus bagaimana, Di?"


Dion melepaskan pelukanku. "Biar ku selesaikan mengeringkan rambutmu, habis itu kita makan."


Aku mengangguk. Tak henti ku pandangi wajah lelakiku ini di cermin. Tak seharusnya aku melukai lelaki sebaik ini. Lelaki limited edition yang Tuhan anugerahkan untuk hadir di hidupku. Seharusnya, aku tak menyia-nyiakannya hanya untuk seorang Mas Rud, lelaki yang meninggalkanku.


"Ayo, makan." ajaknya setelah merapikan rambutku. Dia menggandeng tanganku untuk segera turun ke meja makan.


"Kalian, ngapain sih, setengah jam di kamar?" Laper tau nungguin." Mas Rendra ngomel-ngomel.


"ML," jawab Dion singkat.


Mas Rendra segera menghentikan gerakan tangannya yang mulai mengambil nasi. "Kalian?"


Dion memberiku segelas air putih. "Mengeringkan Lambut,"


Dion terkekeh melihat ekspresi Mas Rendra, karena merasa berhasil mengerjai sepupunya yang dipenuhi piktor itu. Aku pun ikut tersenyum melihat candaan yang ditawarkan Dion. Lelaki ini, bukan hanya selalu bisa menenangkanku. Namun sanggup membuatku tertawa. Aku tak boleh melepaskanmu, Di!


"Kirain beneran," tutur Mas Rendra.


"Udah, buruan makan, terus pulang, sana! Jangan ganggu di sini," tegas Dion.


Mas Rendra mengunyah makanan di mulutnya. "Emang, kalian mau ngapain kok terganggu dengan keberadaanku di sini?"


"Mau tidurlah, ngapain lagi?" jawab Dion.


"Sepupuku, kamu, mulai nakal, ya." ucap Mas Rendra dengan lirikannya seraya berjalan menuju pintu keluar.


"Ohya, tadi Kristy telepon, katanya dia nginep di rumah Ayu." Dion bercerita sambil membersihkan sisa makanan yang belepotan di sekitar bibirku. "Kamu, mau nginep di mana? Di sini atau di rumah? Toh ujung-ujungnya kita berdua juga."


"Aku, gak mau tidur berdua denganmu," tolakku.


Dion mencubit hidungku. Dia menatap dalam pada manik mataku. Digenggamnya jemari dari kedua tanganku. "Apa kamu percaya dengan ucapan Rendra, kalau aku mulai nakal?".

__ADS_1


"Siapa tahu?" jawabku enteng.


"Aku akan menikahimu secepatnya jika aku sudah tak bisa lagi menahan diri." Dion memamerkan senyumnya yang selalu bisa membuatku terhipnotis oleh pesonanya itu. Ah ... sayang ... kamu benar-benar telah menjeratku dengan manisnya cintamu. Kamu terlalu indah untuk ku abaikan begitu saja.


__ADS_2