Tentang Hati

Tentang Hati
Mulai Mengenal


__ADS_3

Senin, kembali menyapa dengan segala cerita. Keengganan untuk kembali ke kantor harus kutepikan. Yang harus kulakukan bukan menghindar tetapi berusaha untuk terus menebar maaf dengan sabar. Begitulah yang selalu Dion katakan agar perjalanan kami nanti menuju Baitullah juga akan dipermudah.


Dengan menaiki ojek online, kusambut hari penuh semangat. Melupakan kusut yang mungkin saja akan kujemput, saat bersua Tya tak mungkin lagi aku hindari. Satu doa yang selalu kupanjatkan, semoga sahabat somplakku yang sedang melupakan tautan hati dalam persahabatan ini segera meluruskan segala kesalahpahaman.


"Naik ojol, Pe?" sapa Anggen saat melihatku turun dari boncengan abang ojek berseragam.


"Iya, Nggen. Mas Dion harus berangkat lebih pagi."


Anggen lebih mendekatkan tubuhnya. Memutarkan pandangan sebentar lalu melirihkan suara dalam tanya. "Pak Aryan ke mana?"


"Dia pulang ke rumahnya," jawabku tak kalah pelan dalam bersuara.


Anggen menepuk bahuku pelan. Dengan senyuman manis dia memperlihatkan binar bahagia dari sorot matanya. "Hari ini kamu beruntung, Pe. Pak Aryan gak ada, Tya pun melanglang buana."


"Apa maksudmu?"


"Tya cuti seminggu."


Kabar yang masuk dalam tangkapan indra pendengaranku ini, termasuk dalam kategori kabar baik ataukah buruk? Ketiadaannya di kantor akan membuatku lolos dari pembullyan. Namun juga akan memperlambat tersampaikannya kata maaf.


"Nggen, menurutmu aku harus berbuat apa biar mendapatkan maaf dari Tya?" tanyaku untuk sahabat yang memang sedari awal lebih dekat kepada Tya tersebut.


"Nikahkan Pak Aryan dengan Tya."

__ADS_1


Ide brilian yang mudah diucapkan tetapi mustahil kulakukan. Jika saja itu gampang, pasti sekarang mereka sudah bersama. Aku tak perlu menjadi korban, dan dia pun tak akan menjadi sumber kekalutan pikiran.


"Kenapa sih, perasaan Tya mentok di Pak Aryan? Bukankah kemarin sudah yakin mau melupakan?" cercaku sambil memperlihatkan rasa penasaran yang tak bertepi.


"Karena pesona Pak Aryan tak tergantikan."


"Aku selalu bersamanya, tapi tak merasakan pesona itu."


"Karena kamu udah mati rasa," terang Anggen seraya mendudukkan diri di kursi kebesarannya.


Keasyikan ngobrol, langkah kami mulai memasuki lobi, lift dan melewati pintu masuk bagian editor berjalan begitu cepat. Hingga meja kami menjadi penghalang untuk segera menghentikan percakapan. Segera berkutat dengan tumpukan pekerjaan di hari Senin yang padat.


Tanpa Tya ketenanganku meraja. Beban pikiran dan perasaan menghilang. Kantor ini kembali menjadi tempat yang menyenangkan. Sama seperti dulu saat aku pertama kali menapakkan kaki. Mengenal Maya, menjadi sahabat setia dan pada akhirnya terjalin jodoh sebagai saudara. Mempunyai sahabat lelaki rasa saudara tertua yang selalu menjaga dari kehadiran lelaki buaya yang suka menebarkan pesona.


Jika begini, rasanya keputusan yang sempat ingin kuambil untuk resign, akan kuurungkan. Tanpa Tya aku bahagia. Meskipun bukan seperti ini bahagia yang ingin kumiliki. Trio Somplak kembali kompak seperti dulu, itu yang kumau. Namun rasanya semua susah terealisasi. Anggen tinggal menghitung hari untuk meninggalkan tempat ini. Sementara Tya masih membenciku sepenuh hati. Maaf yang kuharap juga harus menunggu seminggu lagi setelah Tya kembali. Selama itu, entah aku harus bahagia atau merana, kehilangan sahabat dalam waktu bersamaan. Hanya Pak Aryan tempat untuk curhat.


🍹🍹🍹🍹🍹


"Pe, aku tinggal dulu, ya!" pamit Anggen terburu-buru begitu jam makan siang baru saja memasuki waktu.


"Ke mana?"


Anggen menghentikan langkah sebentar dan menoleh ke arahku, "Makan siang sama Kak Eric."

__ADS_1


Belum juga aku membuka mulut untuk berbicara, Anggen sudah berlalu begitu saja. Kuhela napas panjang dan mendalam. Hari ini memang tenang tapi aku kesepian. Tak ada siapa-siapa yang bisa menemaniku makan siang. Lantaran lelaki terakhir yang biasa kupilih sebagai teman juga tak ada di kantor.


"Bang, tolong beliin Rosa siomaynya Bang Bambang, dong!" pintaku saat Bang Kotan mengangkat telepon.


Jawaban mengiyakan yang keluar dari mulut Bang Kotan membuatku mencari kesibukan untuk mengisi waktu menunggu. Iseng ku-download aplikasi membaca novel gratis, berwarna biru. Noveltoon, platform itu begitu sering aku lihat berwara-wiri di halaman facebookku.


Dengan latar belakang suka membaca sekaligus menulis, aku rasa sangat tepat pilihanku untuk men-download-nya. Beberapa waktu setelah proses selesai, segera aku lihat Beranda. Deretan novel dengan banyak pilihan judul terpampang. Mulai dari genre romantis, action, komedi, horror, time travel, misteri, petualangan, fanfic, sci-fic, teen, semua ada.


Kugeser pilihan ke bawah untuk mencari novel dengan cover dan judul yang menarik minat bacaku. Tak kupungkiri jika cover yang menarik adalah daya pikat. Lelaki-lelaki keturunan Timur Tengah dengan pahatan wajah sempurna, ataupun wajah lelaki cantik ala Korea menjadi pesona yang tak dapat kutampik.


Judul pun adalah salah satu faktor pemikat. Novel rekomendasi didominasi oleh judul-judul serupa. Tentang CEO, pernikahan kontrak dan sesuatu yang dipaksa-paksa. Selain itu cerita dengan banyak adegan dewasa, kuperhatikan akan mendapatkan banyak pembaca.


Dari sekian pilihan, akhirnya kuputuskan untuk memilih genre romantis. Hal itu sesuai dengan jiwaku yang menyukai sesuatu yang lembut yang berdasar pada sebuah ketulusan. Kata-kata manis yang melambungkan angan dan membuat hati terbawa perasaan.


Dengan pasti memilih novel dengan rangking atas. Author-author terkenal seperti LaSheira, Erka, Sifa, Nona Lancaster, Anna, Mayangshu dan masih banyak lagi menjadi novel dengan vote sangat tinggi. Dilanda kebingunga karena banyaknya pilihan, akhirnya mataku berhenti pada sebuah novel dengan popularitas mengagumkan. Terpaksa Menikahi Tuan Muda, novel fenomenal sejagat NT dengan popularitas 540,9 M karya Lasheira akhirnya kupilih sebagai cerita pertama yang akan kubaca.


"Mbak, ini siomaynya." Bang Kotan sudah berdiri di samping mejaku dengan kantong plastik berwarna putih dan sebungkus makanan yang kupesan.


"Makasih, Bang."


Selepas kepergian Bang Kotan, aku segera membuka jatah makan siang. Rasa lapar disertai rasa penasaran pada novel yang belum sempat kubaca, akhirnya aku memilih untuk makan sambil memegang benda pintar. Kebiasaan kaum milenial yang sangat tidak patut dicontoh, tetapi semua kuabaikan lantaran pikiran tak dapat memilih satu yang harus kudahulukan.


Sambil menyuapkan satu potongan siomay ke mulut, mulai kubaca bagian detail cerita. Pernikahan paksa Tuan Saga dan Daniah, begitulah inti ceritanya. Penasaran dengan bumbu apa saja yang mewarnai rumah tangga mereka, mulai kubuka bab pertama, kedua, ketiga dan entah sudah berapa bab kulahap seiring dengan siomay yang mulai habis kusantap.

__ADS_1


Kegiatan membaca terpaksa kuhentikan, saat waktu sudah mengharuskan aku bekerja kembali. Padahal hati terus memprovokasi untuk meneruskan membaca sedikit lagi. Korupsi waktu sesekali kurasa tidak masalah. Lama-lama hatiku tergoda juga. Disela-sela berkutat dengan pekerjaan aku curi waktu untuk meneruskan membaca. Semakin lama, rasa penasaran semakin menggila. Pekerjaan kukesampingkan dan menomorsatukan melanjutkan membaca novel.


"Baca apa 'sih?"


__ADS_2