
"Rawooon ...," seruku penuh kegirangan saat baru saja mendudukkan diri di kursi dan melihat masakan khas jawa timuran yang berkuah hitam itu.
"Mbak, please, deh! Jangan lebay. Ketemu rawon aja senengnya ngalah-ngalahin ketemu Nadeo," cerewet Kristy seperti biasanya.
Tanganku sibuk mengambil nasi padahal yang lain masih asyik mengobrol. "Aku belum pernah ketemu Nadeo."
"Buat apa ketemu Nadeo? Aku kan sama, aja," terang Dion seraya menerima sepiring nasi dengan kuah rawon yang kusiram di atasnya.
"Beda rasa, Sayang," celetukku tanpa rasa sungkan memanggil sayang di hadapan Mama dan Kristy.
"Rasa apa? Kamu jangan nakal," ucap Dion seraya mencubit hidungku gemas.
"Ma, besok kita beli planet Jupiter aja, yuk! Ngontrak terus di dunia, gak pernah dianggap," celetuk Kristy dengan santai menyindir kami yang asyik mesra-mesraan tanpa merasa malu.
Mama hanya senyum-senyum menanggapi celetukan Kristy. "Kamu nanti kalau sudah mengenal cinta pasti juga begitu."
"Skak mat," ucapku tanpa melihat raut wajah adikku itu.
Dalam hati aku terbahak, emang enak? Cinta itu membuatmu menjadi seperti robot. Bedanya, cinta itu bukan dikendalikan program komputer tapi dikendalikan oleh hati. Jika robot hanya terpaku pada program yang diciptakan untuknya, cinta justru membuat pelakunya menjadi bucin. Sama sama dikendalikan oleh pemiliknya. Begitulah cinta dan robot dalam persamaan.
"Mas, kalau Mas gak suka rawon jangan dipaksa suka karena Mbak Rosa," sindir Kristy tak kenal pantang menyerah.
"Awalnya aku gak minat, Kris, tapi jadi pengen nyoba karena selalu dipamerin Dahlia kalau rawon bikinan emaknya Abi enaknya gak ketulungan," Dion mulai bercerita sejarah panjang petualangannya bersama si kuah hitam.
"Dahlia siapa?" tanyaku merasa asing dengan nama yang kuyakin milik seorang wanita itu.
"Saudara jauhku yang tinggal di Surabaya, Sayang," jelas Dion seraya membelai rambutku, menenangkan kecemburuan yang mulai menyeruak.
"Gak tanya Abi siapa, Mbak?" sela Kristy
"Abi itu brondongnya Dahlia," jawab Dion santai.
Brondong? Ish ... nggak banget, deh. Dalam kamusku gak ada tuh cinta untuk kaum adam di bawah usiaku. Minimal sama? Lebih baik-baik mateng dikit kayak Pak Aryan daripada dedek-dedek gemes. Ups! Kenapa jadi bawa-bawa Pak Aryan, sih? Bagiku usia yang pas itu tiga tahun di atasku. Bukankah itu berarti Mas Rud? Tidak-tidak-tidak! Kenapa kebetulan begitu. Yang sempurna untuk Rosa adalah Dion, sudah TITIK.
"Pasti si abi gebetannya banyak, tuh? Mbak-mbak aja dijabanin," tebakku menyudutkan, terbawa pikiranku yang anti mencintai lelaki lebih muda.
"Sensi, banget sih, Mbak. Mereka aja yang jalanin gak masalah, kok," timpal Kristy.
"Kamu suka brondong, juga?" selidikku siap melarang jika itu benar adanya.
"Mending pilih yang usianya di atasmu, Kris. Memang kedewasaan gak ditentukan oleh usia tapi pengalaman hidup tetap beda," saran Dion yang kusetujui.
"Mas Aryan masuk berarti, ya?" celetuk Kristy dengan senyum smirknya.
Mama yang sedari tadi memilih menjadi pendengar akhirnya mulai tertarik dengan obrolan kami. "Apakah semua ànak laki-laki Mama beneran naik level nih? Dari abang jadi sayang," goda Mama pada kami semua.
"Ohya, Tya tadi beneran naksir Aryan?" tanya Dion yang mungkin tiba-tiba teringat wanita yang tadi sore baru dikenalnya, ketika Mama menyebut anak laki-lakinya.
"Bigos kantor bilang 'gitu, sih. Dan aku lihat juga emang begitu," jelasku sambil menambah porsi makanku.
__ADS_1
"Bigos?" Dion tak mengerti singkatan kata yang kupakai.
"Biang gosip," jawabku singkat karena bicara sambil mengunyah.
"Aku punya saingan?" sela Kristy penasaran.
"Orangnya cantik, kamu kalah saing, mundur, aja!" perintahku.
"Jangan menyerah, Kris! Tiru Mas Dionmu, ini," semangat Dion seraya mengangkat tangan kanannya.
"Semangat, Mas!" Kristy pun ikut mengangkat tangan seperti Dion.
Akankah adik kecilku ini menjadi pejuang cinta seperti kakak iparnya? Ah, bodo amatlah. Menjadi kakak ipar Pak Aryan rasanya juga bukan hal yang dosa. Itu tidak masalah. Yang akan menjadi masalah adalah jika aku tidak bisa menikmati rawon sedap buatan Mama ini. Semangat, makan!
*****
"Liat tuh, Mbak Rosa! Kalau kekenyangan bawaannya ngantuk," celetuk Kristy begitu melihatku menguap berulang kali.
"Tidur duluan, aja, Yang," saran Dion yang langsung kujawab dengan merebahkan tubuhku di karpet depan televisi.
"Jumat depan, kalian siap-siap pemberkasan untuk mencatatkan pernikahan kalian, ya. Malam minggunya, baru resepsi," terang Mama mulai membahas perayaan pernikahan kami.
"Iya, Ma. Daftar undangan dari teman-teman kami juga udah Dion kirimkan ke Kristy, kok, Ma," jelas Dion yang direpotkan hanya untuk urusan fitting baju yang dilakukan tadi siang dan juga mendaftar calon tamu undangan dari pihak kenalan kami.
"Bagus, kalian tinggal siapkan kesehatan. Jangan capek-capek!" pesan Mama yang diangguki Dion dengan senyum ramahnya.
"Sepertinya istrimu sudah gak kuat melek, pindah ke kamar, aja, sana!" perintah Mama. Besok kan kalian harus kerja," ingat Mama lagi.
Nyawaku yang sudah menyeberang setengahnya ke alam mimpi, belum seutuhnya kembali saat Dion menggandengku berjalan meninggalkan Mama dan Kristy, menaiki tangga dan memasuki kamar. Kembali merebahkan tubuh sembarang di ranjang.
"Sikat gigi dulu sebelum tidur," ingat Dion yang langsung masuk kamar mandi begitu aku rebahan.
Aku rasanya menjadi miss jorok kalau udah berhadapan dengan suamiku yang benar-benar menjaga kebersihan itu. Mungkin begitulah jodoh, saling. Saling melengkapi, saling mengingatkan, saling semuanya dan yang saling itu selalu dia yang melakukan. Benar-benar heran aku, kenapa lelakiku itu begitu sempurna tanpa cela.
Memikirkan itu semua membuat rasa kantukku menghilang seketika. Aku yang awalnya menerawang menatap langit-langit kamar, berguling dan memilih tengkurap sambil senyum-senyum layaknya ABG baru terkena virus cinta pertama.
Begitu dalamnya khayalanku hingga tak menyadari jika tokoh yang membuatku melayang sudah duduk di tepi ranjang sambil mengamati tingkah konyolku. Belaian lembutnya pada rambutku justru semakin mendalamkan pikiran liar yang tengah berkelana.
"Yang, bersihin diri dulu," bisiknya lembut di telingaku.
Suara merdu itu justru sanggup menerobos celah-celah khayalanku. Perlahan membawa kembali pada dunia nyata. Kusadari jika aku telah diamati oleh sepasang mata yang sedari tadi tersenyum bahagia. Dengan malu-malu aku menampakkan senyum canggung dan segera beranjak untuk bergerak cepat ke kamar mandi. Aku malu, karena semua tingkah konyolku tak lepas dari pandangannya. Dan semua itu hanya ditanggapi dengan senyuman sempurnanya.
*****
"Mas ...," panggilku lembut.
"Hmm," jawab Dion singkat dengan melingkarkan tangannya di perutku sementara dagunya ia sentuhkan pada kulit bahuku.
"Bolehlah aku bertanya?" tanyaku penuh kehati-hatian.
__ADS_1
"Rud?" tebaknya langsung tanpa menunggu pertanyaanku.
Kubalikkan tubuhku, menghadapnya. Menatap bulatan hitam dan putihnya dengan lembut. "Mengapa kamu tak membiarkanku kembali padanya?"
"Karena aku gak mau melihatmu kembali terluka karenanya," jawabnya seraya membelai lembut pipiku.
"Kenapa kamu yakin jika dia akan kembali melukaiku?" pertanyaan lanjutan yang berani kutanyakan setelah melihat reaksinya dengan pertanyaan pertamaku.
"Aku tidak bisa menjamin dia tidak akan melukaimu lagi. Namun aku bisa memastikan jika aku melepaskanmu, maka aku akan benar-benar meninggalkanmu sendiri. Oleh karenanya aku tidak mau ambil resiko, bahagiamu tidak boleh diganggu gugat," terang Dion yang membuatku tak bisa menahan air mata, terharu.
Kuambil tangannya yang membelai pipiku. Mendekapnya ke dalam dadaku. "Jangan tinggalkan aku, lagi!"
"Aku di sini, untukmu." tegasnya meyakinkan, sebuah kecupan di kening ia sentuhkan dengan penuh perasaan.
"Mas, aku penuh kekurangan. Menyesalkah kamu telah memperjuangkanku sejauh ini?" pertanyaanku semakin berkesinambungan.
"Aku bahkan telah mencintai kekuranganmu. Kekhawatiranmu percuma, Sayang," jawabnya yang semakin menyadarkanku bahwasanya tak ada alasan untukku menggantinya dengan orang lain yang kini masih mengejarku.
"Termasuk hatiku?" selidikku.
"Aku sudah berdamai dengan hatimu yang selalu tak ada tempat untukku lebih dari sepuluh tahun ini," lagi, Dion membungkam hatiku yang selalu ragu.
"Pantaskah aku meminta untuk kau cintai selamanya? Seperti ini, sama tanpa henti," permintaanku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tanpa kamu minta, aku sudah dan akan tetap melakukannya," ungkapnya dengan lembut seraya makin mendekatkan wajahnya pada wajahku.
Deru napasnya makin terasa hangat. Membangkitkan suatu gejolak yang melahirkan hasrat ingin dirasuki sebuah kelembutan. Bibir itu semakin mendekat dan membuatku tak kuasa untuk menggigit bibir bawahku sendiri.
"Ayo, kita membuat cerita di sini!"
"Bukankah kita sudah bercerita di sini dari tadi?" tanyaku membelokkan arah tujuan pembicaraannya.
"Cerita season ketiga, Sayang," jawabnya dengan suara yang menggoda.
"Jangan, keseringan, Sayang. Kasihan author kita, dibilang nakal sama Kak Jo Whylant author "Dunia Abimanyu" gara-gara season dua kita kemarin," alasanku yang dibalas senyum licik dari Dion.
"Kak Jo itu iri, Sayang. Abaikan!" timpal Dion tak menerima penolakanku.
"Begini, saja! Pasti dia gak bisa menebak apa yang terjadi," ide Dion dengan menyembunyikan diri di bawah selimut. Berdua meraba-raba dalam kehangatan.
"Jangan banyak bergerak diluar aturan,Sayang," ingat Dion mengunci pergerakanku dalam kegelapan.
"Tenang,Sayang, ranjangku kokoh. Bukan ranjang berderitnya Rianti di "Nikah Kontrak".
******
Penasaran dengan tokoh diluar "Tentang Hati"?
Kunjungi dua novel beda genre di bawah ini, ya!
__ADS_1