Tentang Hati

Tentang Hati
Sesuatu Yang Janggal


__ADS_3

Malam menunjukkan pukul sembilan saat kami sampai di apartemen. Rencana menginap di rumah Mama batal karena Dion harus berkutat dengan pekerjaan. Laptopnya gak dibawa jadi mau tidak mau kami harus pulang. Sergapan rasa lelah yang menghinggapi raga akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan Dion sendiri dengan mata terbukanya, bekerja.


🌃🌃🌃🌃🌃


Rasa haus akhirnya memaksaku untuk terbangun tengah malam. Gelas berisi air putih yang biasa ada di nakas, kulihat kosong. Aku lupa mengisinya dan rupanya Dion pun tak menyiapkannya. Baru kusadari jika dia tak ada di ranjang. Masihkah ia mengurusi pekerjaannya?


Kulihat jam sudah menunjukkan pukul dua belas. Tak biasanya ia bekerja sampai selarut ini. Apakah ada sesuatu yang sangat penting sehingga tidak bisa dikerjakan esok hari?


"Mas, belum selesai? Udah tengah malam, loh," tanyaku saat melihatnya di meja kerja dengan laptop yang masih menyala.


"Sebentar lagi aku tidur. Kenapa bangun? Mencariku?" goda Dion dengan senyumnya yang menyiratkan kelelahan yang ditahan.


"Haus."


Dion menyodorkan segelas air putih yang ada di mejanya. "Minumlah! Nanti aku akan membawakanmu segelas lagi ke kamar."


Kuambil gelas itu dan meneguknya. Perlahan aku mendekat, duduk di sandaran tangan kursi yang Dion duduki. Menatap monitor yang memperlihatkan angka-angka yang tak kumengerti. Yang bisa kupahami hanya kata laporan yang menjadi judulnya.


"Keuangan kantormu bermasalah, Mas?" tanyaku tetap fokus pada laporan itu, mencoba mengerti meskipun sangat susah kupahami.

__ADS_1


"Tidak usah kamu pikirkan seserius itu. Besok aku akan menyelesaikannya," ucap Dion sambil memeluk pinggangku.


"Kalau ada masalah, jangan dipendam sendiri ya, Mas. Walaupun aku gak bisa membantu urusan pekerjaanmu, setidaknya aku akan selalu ada di sisimu, mendukungmu tanpa henti," ujarku seraya mengusap lengannya yang melingkar di perutku.


Dion tersenyum. Tangannya memulai proses untuk mematikan laptopnya. "Kita akan selalu bersatu hati menjalani rumah tangga kita, Sayang. Aku akan berusaha untuk membahagiakanmu meskipun aku tak bisa memastikan semua berjalan sesuai dengan inginku. Asalkan kamu selalu di sisiku, aku pasti bisa melakukan yang terbaik."


"Aku ambil minum dulu, ya. Mas langsung aja ke kamar," pintaku sambil mengusap pipinya dan mendaratkan sebuah kecupan di salah satu sisinya sebelum beranjak dari duduk dan berlalu meninggalkannya.


💞💞💞💞💞


Kupandangi wajah Dion yang sudah terlelap. Sepertinya kantuk menyerangnya begitu hebat. Wajah pulasnya menampakkan garis kelelahan yang tak bisa lagi ia tahan. kuusap wajahnya dengan penuh kasih. Menyelami pikirannya yang dipenuhi oleh masalah pekerjaan yang mungkin lebih berat dari biasanya.


Kubelai rambut tebalnya yang sedikit memanjang. Terngiang saat rambut itu dibasahi oleh keringat-keringat hasil berpacu dengan waktu saat dia menjadi seorang penyerang saat pertandingan. Gigih, segigih dia ingin mencetakkan gol lewat kakinya, segigih itu pula ia ingin mematokkan cintanya di hatiku. Tak peduli harus terjatuh karena tackling dari musuh, ia akan bangkit lagi dan berlari membawa bola cinta dan melesakkannya pada gawang hatiku dengan begitu cantik.


"Seandainya dulu aku tak menetapkan hati padamu, kupastikan sekarang aku akan menyesal. Lelaki sebaik kamu, pasti tak akan bisa kutemukan lagi. Banyak yang mencintaiku, tapi kuyakin yang mencintaiku setulus kamu gak akan pernah ada. Cinta yang lebih besar dari cinta yang kamu miliki untuk dirimu sendiri."


"Ya Allah, terimakasih telah Engkau kirimkan pencinta berhati malaikat ini untukku. Berilah aku kesempatan untuk dapat membahagiakannya. Jadikan kami pasangan yang akan selalu memiliki cinta yang sempurna di bawah naungan Maha Cintamu."


Terus kuusap pipinya dan menatap tanpa terhenti. Kukecup lagi keningnya dan merebahkan diri. Melingkarkan lengan di perutnya, mencari kehangatan pelukan dari seorang suami yang paling aku sayang. Saat pikiranku masih dibayangi oleh dirinya yang penuh perhatian, tiba-tiba Dion memiringkan tubuh dan mendekapku erat. Dengan lengannya yang kokoh dia melingkupi tubuhku yang jauh lebih kecil darinya.

__ADS_1


Nyaman. Kehangatan yang ia ciptakan seperti menjadi penenang yang mampu menggiringku berlalu dengan cepat meninggalkan dunia nyata dan mengetuk pintu alam mimpi yang begitu indah. Kecupan di puncak kepala, kurasa semakin mengalirkan cinta dari seseorang yang mengirimnya dari alam luar sana. Terlelap, aku menemaninya menjelajah bunga tidur dengan bahagia.


🌄🌄🌄🌄🌄


Pagi tiba, aku terlambat bangun. Terang saja, ini sudah hampir pukul delapan. Tentu saja Dion sudah berangkat kerja. Dia pergi saat aku masih dibuai oleh alam mimpi. Membiarkan aku terlelap tanpa membangunkan.


Meja makan yang seharusnya kuisi dengan sarapan, ternyata juga sudah ia isi lebih dahulu. Nasi goreng seafood yang sangat menggugah selera, tersaji rapi di atas meja. Secarik kertas dengan tulisan tangan, ia sematkan di dekatnya.


"Aku harus berangkat lebih pagi, maaf tidak membangunkanmu. Jangan lupa sarapan, Sayang."


Kapan Dion gak manis? Jawabannya adalah tidak pernah. Bahkan saat dia marah pun manisnya tidak luntur malah semakin lentur. Sepertinya diabetes mengancamku, karena manisnya yang lebih, lebih dan selalu lebih. Namun diabetes karena Dion tidak berbahaya tapi membuat bahagia dan awet muda. Dan aku takut tak pernah menua karenanya. Ah ... betapa lebaynya aku.


Nasi goreng itu pun segera kusantap. Menikmati hasil olahan tangannya seolah sedang dimanjakan dengan suapan. Sepertinya aku mulai menggila, jatuh cinta berulang setiap harinya. Hingga senyum pun selalu terkembang. Dimataku Dion sedang di sini menemaniku. Padahal dia sedang bekerja di kantornya. Rasanya aku sudah di dera rindu hanya karena tak melihatnya pagi ini.


Kutinggalkan makananku yang masih tersisa setengahnya. Segera kembali ke kamar untuk mengambil alat komunikasi pintarku. Dengan cekatan kumengambilnya dari nakas dan kembali ke meja makan. Aku segera melakukan panggilan untuk seseorang yang sangat aku rindukan, suamiku tersayang.


Panggilan pertamaku tak diangkatnya. Aku masih tetap bersemangat untuk meneleponnya kembali. Senyum masih terus kuulas meskipun Dion belum juga menjawab. Seketika rasa khawatir menyergapku. Tidak biasanya Dion mengabaikan teleponku. Ada apa? Apakah dia sedang rapat? Apakah pekerjaannya benar-benar menyita perhatian hingga aku tak bisa menyela untuk mengobrol sebentar?


Hatiku benar-benar gundah. Sejak semalam, kurasakan ada sesuatu yang janggal. Walaupun Dion berusaha bersikap sama seperti biasanya, tapi kubisa merasakan sesuatu yang berbeda. Entahlah, semoga firasatku salah. Ini hanya sebuah kepekaan yang tidak benar. Sekuat aku berusaha positif thinking, sayangnya pikiranku tetap menduga-duga. Apakah begini ataukah begitu? Adakah ketidakberesan yang sedang ia sembunyikan?

__ADS_1


"Ya Allah, permudah urusan suamiku menunaikan kewajibannya mencari rezeki yang halal. Tuntunlah jalannya agar selalu lurus dan jauhkan dari segala niat tidak baik dari orang-orang yang ingin membuatnya celaka."


__ADS_2