Tentang Hati

Tentang Hati
Kebaya


__ADS_3

Kristy PoV


"Kris, nanti kasih ini ke Rosa ya!" Mas Dion memberikan sebuah paper bag kepadaku.


"Apaan nih, Mas?" tanyaku.


"Kebaya buat acara lamarannya Maya!" jawab Mas Dion.


"Owgh ... gak Mas kasih sendiri aja!" saranku.


"Biarin dia nostalgia sama perasaannya!" jawab Mas Dion.


Mas Dion melihat sekeliling.


"Mama, mana?" tanya Mas Dion kemudian.


"Ada acara pengajian pernikahan, Mas, tuh di rumah paling ujung," jelasku.


"Kalau gitu, nih buat kamu dan mama!" martabak MASka begitu yang tertulis di box yang Dion serahkan padaku.


"Makasih mas," ucapku.


"Aku pulang dulu ya! Salam buat mama," pamit Mas Dion.


*****


Kristy melihat paper bag di tangannya. Pintu kamarku yang tertutup, membuat Kristy ragu untuk memberikannya padaku.


"Kasih sekarang atau besok ya?" Kristy ragu.


Kristy berjalan bolak-balik di depan pintu kamarku.


Krek!


Kristy kaget ketika pintu kamarku terbuka dan aku keluar kamar.

__ADS_1


"Mbak, nih ada titipan!'' Kristy menyerahkan paper bag tersebut.


"Dari?" tanyaku.


"Mas Dion," jawab Kristy.


Aku mengernyitkan dahi. Bertanya-tanya apa isi paper bag dari Dion. Kenapa mesti dititipin? Bukannya tadi dia udah masuk kamarku?


Oh iya tadi aku mengusirnya!


Tanpa menunggu lama, aku membuka paper bag di sofa ruang keluarga.


"Bagus banget Mbak kebayanya!" nilai Kristy saat melihat isi paper bagku.


Aku menyetujui penilaian Kristy. Kebaya yang memiliki perpaduan warna biru tosca dan abu-abu gelap ini, memang kalem dan elegan.


"Cobain, Mbak!" pinta Kristy.


"Besok aja, ya! Mbak lagi gak mood nih, tolakku.


Aku pun memasukkan kembali kebaya tersebut, ke dalam paper bag dan membawanya ke kamar. Ku letakkan sembarang di sofa dan aku memilih membaringkan tubuhku di ranjang.


"Kebaya!" gumamku.


Pikirku terbang ke suatu hari, dimana Mas Rud mengajakku membeli kebaya couple-an.


Manis sekali! Pujian dari banyak mata di butik itu tentang serasinya kami, masih teringat segar di benakku. Lantunan-lantunan doa dari mereka, agar kami bisa segera melangkah ke pelaminan pun, yang waktu itu terdengar merdu, kini rasanya benar benar jadi sayatan luka yang pedih.


"Arrrgghhhh!" aku menggelengkan kepalaku mencoba menepis kenangan itu.


Kebaya darinya kala itu adalah awal mimpi kami untuk dapat kembali memakainya di acara lamaran dan selanjutnya di pesta pernikahan yang sakral.


Aahhh ... Mimpi indah yang akhirnya harus terbangun disaat mimpi tengah indah-indahnya itu, terus saja menghantui pikiranku.


"Mas, masihkah engkau ingat mimpi-mimpi indah, yang ingin kita rajut bersama?" tanyaku pada angin malam yang berhembus.

__ADS_1


Meleleh lagi air mataku. Terlintas lagi senyumnya yang manis, menemani janji-janji indah yang ia tawarkan.


Benar-benar sulit menghapus jejak cintanya dari dalam hati dan pikiranku..Ku menarik nafas dalam-dalam..Perlahan melepaskan tentang kebaya dari Mas Rud dan mengalihkan pandanganku pada paper bag dari Dion.


"Kebaya," gumamku.


Lagi-lagi kebaya!


Kali ini kebaya dari lelaki yang berbeda.


Lelaki yang sama-sama memberiku cinta.


Dion yang ku tolak dan Mas Rud yang kini menolakku.


Di, tak ada yang salah dengan kebaya darimu. Yang salah adalah aku yang masih saja tertawan, oleh janji dibalik kebaya yang Mas Rud berikan. Bukan aku tak mau menyentuh kebayamu! Tapi aku takut, kebaya mu akan meninggalkan kisah, yang nantinya akan sulit aku hapuskan!


Kebaya!


Dapatkah engkau kabarkan, kapan cinta akan membawaku berhenti mencari?


Bisakah engkau tunjukkan, di mana hati yang akan selamanya bisa ku singgahi?


Dan sanggupkah, engkau menuntunku, kepada siapa pemilik rasa yang akhirnya aku miliki?


*****


Mas Rud PoV


Hamparan ingatanku, tergambar jelas, saat almari dengan desain modern ini menampakkan kemeja batik yang tergantung sendiri tanpa teman.


Aku tak berhenti menatapnya. Pandanganku fokus, seolah membaca dengan jelas, sebuah kisah yang ada dibalik kepemilikan kemeja tersebut.


"Ini adalah mimpi kita. Mimpi yang baru dimulai dan harus segera usai! Mimpi indah yang menyakitkan." aku berbicara sendiri.


"Jangan kau tanyakan lagi tentang janjiku padamu!" aku menahan genangan air mataku.

__ADS_1


"Sungguh, aku amat pengecut! Mempertahankanmu saja aku tak kuasa!" aku marah kepada diriku sendiri.


Aku menghempaskan tubuhku ke ranjang. Ku pejamkan mataku lagi, berharap segala kenangan yang membelenggu pikiranku bisa segera ku bebaskan.


__ADS_2