Tentang Hati

Tentang Hati
Sahabat Baru


__ADS_3

Selasa pagi, hari yang kunantikan untuk memulai lagi pekerjaanku setelah berlibur selama dua minggu. Tak ada yang tahu status baruku di sini. Dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirku, aku mencium punggung tangan suamiku. Ya ... pagi ini aku diantarkan Dion ke kantor.


"Jangan ganjen, ya!" pesan Dion seraya mencium keningku.


"Ganjenlah, masa cowok ganteng berserakan dianggurin," godaku dengan mengerlingkan mata.


"Masih ada yang lebih ganteng dari aku?" ujar Dion dengan percaya dirinya.


"Ada, Bang Kotan," balasku segera memutar tubuh untuk segera keluar dari mobil.


"Dari namanya aja udah gak ganteng, dia," ejek Dion.


"Jangan picik, Sayang! Dia memang serupa dengan namanya, ha-ha-ha ...," gelakku membenarkan kalimatnya.


Sebuah lambaian tangan dan senyum kuantarkan sebagai pengiring mobilnya yang mulai melaju meninggalkan kantorku. Begitu menghilang dari pandangan, aku melangkah masuk. Menyapa setiap orang yang kutemui dengan ramah. Berlalu dari lobi dan memasuki lift yang akan mengantarkan ke ruanganku.


Ada seorang gadis berkulit putih dengan tinggi sekitar 164 cm sedang berdiri di sana. Menyenderkan tubuhnya di dinding dengan sebuah benda bertali panjang menutup kedua telinganya. Ia asyik menikmati dunianya hingga tak menganggap keberadaanku. Karena aku sedang bahagia jadi aku juga tak ambil pusing dengan kesongongannya.


Pintu lift terbuka dan segera kulangkahkan kakiku menuju ruangan yang sudah kurindukan. Mejaku, itulah tujuan langkahku. Kursi empuk itu segera akan berpenghuni, itulah pikiranku. Dan itulah yang akan terjadi sekarang. Namun khayalanku berhenti saat gadis yang kutemui di lift tadi melewatiku dan mendudukkan dirinya di kursi yang dulu ditempati Maya.


"Anak baru, ya?" sapaku seraya menyunggingkan senyum.


Tak ada jawaban. Dia asyik dengan dunianya dan mengabaikanku. Mulai menyalakan laptop dengan santainya tanpa melihatku sama sekali. Aku mulai geram, junior songong. Ada senior gak dianggap. Kan sakit, hati aku. Haist ... lebainya diriku.


Dengan rasa kesal kulangkahkan kaki meninggalkannya dan berjalan menuju ruangan Pak Aryan. Mau bertanya keberadaannya pada sang sekretaris tapi tak bisa kulakukan, karena dia tak ada di mejanya. Hendak mengetuk pintu tapi aku dikagetkan oleh suara dari belakangku.


"Ayo, masuk!" perintah yang kuyakin berasal dari sang manajer yang kucari, Pak Aryan.


Tanpa menjawab, langsung kuikuti langkahnya, masuk ke ruangan setelah terlebih dahulu membuka pintunya. "Itu yang duduk di meja Maya, karyawan baru, Pak?" cerocosku sambil berjalan di belakangnya.


"Namanya Anggen," terang Pak Aryan sebelum aku bertanya siapa namanya.


"Oooo ...," aku menanggapi dengan mengucap o yang panjang.


"Dia bisa gantiin Maya sebagai sahabatmu, orangnya asyik kok," timpal Pak Aryan sambil menyalakan laptopnya.


"Bisa juga gantiin posisiku di hati Bapak berarti. Ayo, Pak! Semangat!" komporku yang hanya dibalas senyuman olehnya.


"Masuk!" perintah Pak Aryan tepat setelah aku selesai berucap dan ada suara ketukan di pintu.


Mataku membelalak melihat siapa yang baru saja membuka pintu. Seorang wanita berusia sekitar akhir dua puluhan dengan kategori cantik melenggang penuh gaya seakan sedang berjalan di catwalk. Bibirnya yang merah membara menyunggingkan senyum menggoda untuk Pak Aryan. Aku tak berhenti menatapnya sampai dikejutkan oleh suara Pak Aryan.


"Dia Tya, Sa. Leader divisimu, pengganti Rendra," papar Pak Aryan yang kuangguki tanpa jawaban.


"Halo Bu Tya, saya Rosa," kenalku sambil mengulurkan tangan pada wanita yang berdandan full make up itu.


"Rosa? Yang nyanyi tegar itu? Gak mirip. Hmmm ... lebih mirip Depe," celetuknya.


Hanya kubalas senyuman semua kicauannya. "Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak, Bu," undur diriku dengan sesopan mungkin.


*****

__ADS_1


"Bang, bikinan aku kopi, deh," pintaku pada Bang Kotan begitu aku sampai di pantry.


"Mbak Rosa kemana aja? Dua minggu gak masuk," tanya Bang Kotan sambil membuatkan pesananku.


"Ada, deh," jawabku sok misterius.


"Ada dua karyawati baru, loh Mbak. Cantik-cantik, berasa ingin aku goda, Mbak," gurau Bang Kotan.


"Iya, aku baru kenalan tadi," jelasku sambil mengecek HPku.


"Kayaknya Bu Tya naksir Pak Aryan, deh, Mbak?" Bang Kotan mulai mengghibah.


Kuhentikan aktivitasku di dunia perHpan. "Masa?"


"Orang sekantor juga tau, Mbak. Bu Tya suka mepet-mepet Pak Aryan seminggu ini," cerita Bang Kotan penuh semangat.


"Terus, Pak Aryan gimana?" tanyaku mulai terbawa arus ghibahnya Bang Kotan.


Rasanya aku sungguh penasaran. Pak Aryan yang kalem dan terkadang selengekan dipepet sama Bu Tya yang beringas dan nampak haus kasih sayang. Astaga! Bukankah itu benar-benar menggelikan. Tak sadar aku senyum-senyum sendiri membayangkannya.


"Pak Aryan santai aja, sih, Mbak. Dia tetep kalem," timpal Bang Kotan kemudian.


"Aku gak sabar melihatnya sendiri, Bang," selorohku seraya melambaikan tangan padanya begitu secangkir kopi telah selesai dibuatkan Bang Kotan. Merangsek keluar berharap bisa beruntung menyaksikan adegan hot pada pagi ini.


*****


"Pagi-pagi dah ngopi? Semalam begadang, ya?" cewek songong yang dibilang Pak Aryan bernama Anggen itu duluan menyapaku.


Kukernyitkan dahiku, bingung. Tadi disapa cuek, sekali dicuekin malah nyapa. Ajaib sekali ini pengganti Maya. "Semalam aku tidur cepet malah."


"Itu, benar sekali," jawabnya penuh senyum ramah.


"Kupikir kamu songong, ternyata gak juga," jujurku.


"Aku lebih somplak dari yang kamu pikir, ha-ha-ha ...," ketawanya tanpa malu.


Gadis ini memang berbeda. Kupikir songong taunya gesrek juga. Rasanya bakalan cocok aku temenan sama dia. Aku suka jiwa-jiwa yang somplak begini. Bikin hari berwarna dan penuh tawa.


"Kamu, Rosa, kan?" tebaknya pasti.


"Gak mirip, Rosa, sih kalau aku bilang. Malah lebih mirip Depe. Kalau gitu aku panggil Depe aja, ya?" celetuknya tanpa terjeda.


"Omonganmu sama kayak Bu Tya, dia bilang aku lebih mirip Depe daripada Rosa. Kenapa omongan kalian sama?" bingungku.


"Benarkah? Mungkin kami saudara kembar non identik," jawabnya santai.


Obrolan konyol kami makin tak terkendali. Merambah ke mana-mana tanpa jelas apa yang menjadi topiknya. Ternyata benar kata Pak Aryan, Anggen adalah teman yang asyik. Sepertinya aku cocok dengannya.


"Halo, para gadis! Kerja, Sayang, jangan rumpi!" ucap Bu Tya dengan gaya centilnya yang berlalu begitu saja mengindahkan kami yang bengong menatapnya.


*****

__ADS_1


Hari baru yang indah, begitulah aku menyebutnya. Kembali bekerja setelah melalui hiruk-pikuk masalah hati adalah obat mujarab. Apalagi mendapatkan teman baru yang easy going, sempurnalah hariku. Waktu kerja yang kemarin terasa panjang tanpa Maya dan Mas Rendra, kali ini terasa begitu cepat berlalu. Hingga waktu makan siang pun sudah tiba. Kuajak Anggen untuk makan siang bersama di kantin kantor.


"Sa, aku denger kamu deket ya sama Pak Aryan? Hati-hati tuh sama Bu Tya, dia naksir Pak Aryan juga kayaknya," beritahu Anggen persis kayak yang dibilang Bang Kotan.


"Kenapa aku harus hati-hati?" tanyaku santai.


"Saingan, tau,” ingat Anggen dengan wajah seriusnya.


Kupandang dia dengan penuh senyum. "Aku udah punya suami."


Mendengar pengakuanku, Anggen nampak terkejut. Dia menghentikan langkah dan terlihat berpikir. "Kamu jangan bercanda."


"Siapa yang bercanda? Tanya aja Pak Aryan, dia tau semua, kok," jelasku menarik tangannya agar lekas sampai di kantin.


"Pak Aryan bisa aku sikat, dong?" celetuk Anggen begitu saja.


"Dia udah disikat duluan sama Bu Tya, 'tuh," ucapku pada Anggen tapi tanganku membalas lambaian tangan Pak Aryan yang memanggilku.


"Sa, sini!" panggil Pak Aryan yang langsung kutanggapi dengan langkah yang ku arahkan pada tempatnya duduk. Kulihat raut wajah Bu Tya berubah menjadi masam padahal awalnya begitu ceria.


"Makan rame-rame, yuk!" ajak Pak Aryan begitu kami sampai di mejanya.


"Gak, ah, Pak. Gangguin orang PDKT itu dosa," godaku yang membuat wajah Bu Tya merona.


Ih ... dasar! Bu Tya merona, ketahuan banget mupeng (muka pengen).


"Sa, duduk! Ini perintah sebagai manajer," ucap Pak Aryan santai tapi menusuk.


Aku pun memilih duduk daripada harus kembali berdebat dengannya. Tahu sendirikan, kalau aku dan Pak Aryan gak debat itu rasanya dunia menjadi hampa. Anggen pun kusuruh duduk. Jadilah kami berempat satu meja, ramai. Ada yang mendamba makan siang berdua tetapi gatot. Ada yang bersyukur karena dihindarkan dari rayuan maut sang pencinta. Dan ada aku yang usil menggoda dua insan yang baru saja kusebutkan tanpa menyebut inisial.


"Pak Aryan, Bu Tya cantik, ya?" tembakku yang membuat Pak Aryan gugup. Dengan segera ia meneguk air putih yang ada di depannya.


Tak puas menggoda Pak Aryan, Bu Tya pun tak luput dari serangan keisenganku. "Bu Tya sependapat dengan saya, bukan?" tembakan keduaku tepat sasaran.


Ekspresi wanita yang doyan berdandan menor itu seketika memerah. Bukan hanya karena pengaruh warna blush on-nya tapi juga karena rasa malu karena kugoda. Rasanya tawaku mau meledak tapi sekuat hati kutahan. Ah ... kenapa aku jadi usil begini? Inikah sisi lain Rosa yang lama terpendam?


Senyumku berubah menjadi rasa penasaran saat kudapati Anggen yang ganti berwajah masam. Adakah sesuatu yang salah dengan hatinya? Jangan sampai jika ia juga mendamba Pak Aryan seperti Bu Tya. Oh ... betapa rumitnya kalau itu terjadi.


*****


Akankah Rosa mendapatkan panggilan baru "Depe" dari Anggen dan Tya? Itu mungkin saja terjadi karena sesungguhnya Tya Gunawan, Linanda Anggen dan Aldekha Depe adalah sahabat yang dipertemukan dalam dunia pernovelan. Entah bagaimana awalnya, tapi pada akhirnya kami merasakan kecocokan diluar nalar yang membuat kami seakan tak terpisahkan. Dan disini, persahabatan online ini akan diabadikan.


Ini visual kami bertiga. Aslinya kami lebih cantik dan konyol, tapi biar lebih manusiawi, kami pilih visual yang ini saja.


Depe yang kece



Anggen yang keren


__ADS_1


Tya yang menggoda



__ADS_2