
Pengkhianatan?
Berkhianat dan berbuat curang? Ketidakberesan yang tiba-tiba terjadi ataukah sudah lama tapi baru terendus? Memang sesuatu yang janggal. Kinerja perusahaan yang berada dalam grafik menanjak, oleng seketika. Apalagi kalau bukan kejahatan terselubung dari orang-orang berdasi di balik meja.
Memang dunia usaha itu kejam. Tak ubahnya dunia politik, dalam berbisnis tak akan ada teman sejati. Yang ada adalah lawan dalam persaingan yang kadang berkamuflase menjadi seorang teman. Tak ada kawan abadi, begitulah sadisnya persaingan.
"Apakah Aulia itu seorang wanita?" selidik Pak Aryan untuk mencari motif kejahatan yang menjadi latar belakang kecurangan di perusahaan Dion.
"Aulia Putra Handika, laki-laki," jelasku gamblang.
Pak Aryan melipat kedua tangannya di dada. "Motif asmara, tanda silang. Hm ... atau dia mencintaimu?"
"Aku tidak mengenalnya dengan baik, hanya pernah bertemu beberapa kali. Setahuku dia sudah punya kekasih. Aku gak selaku itu, motif asmara lewat," timpalku yakin.
"Ekonomi?"
"Aku gak tahu banyak tentang dia. Yang kutahu dia seangkatan sama Mas Dion terus merekΓ bikin usaha bareng."
"Iri? Sakit hati? Balas dendam?" ucap Pak Aryan mengeja faktor yang mungkin menjadi penyebab pengkhianatan terjadi.
Sayangnya, aku tidak mengetahui bagaimana kedekatan mereka di luar urusan pekerjaan. Dion pun tak suka membagi cerita detail tentang rekan bisnisnya itu. Baginya, pekerjaan adalah dunianya di luar rumah yang gak akan di bawa pulang secara berlebihan. Jadi dia juga hanya sekadar mengenalkan aku pada rekan-rekannya. Sebatas nama dan cerita umum semacam status. Namun tak akan ada cerita lebih mendalam karena memang Dion tak hobby ghibah dan mengulas kehidupan orang lain.
"Suamimu, tuh!" ujar Pak Aryan sambil menunjuk seorang lelaki yang baru saja melewati taman dan berjalan memasuki tower apartemen kami.
"Aku tinggal dulu!" ucapku seraya bergegas menyusul Dion dengan langkah yang sedikit kupercepat dari biasanya.
Rasanya ingin berlari agar bisa memangkas jarak yang semakin melebar. Jika saja tak mengingat keadaanku, itu pasti sudah kulakukan. Akhirnya aku menyerah saat dia sudah menghilang di balik pintu lift. Menormalkan langkah dan membiarkan dia sampai lebih dulu.
πββοΈπββοΈπββοΈπββοΈπββοΈ
__ADS_1
Langkahku terhenti saat mendapati Dion tengah merebahkan diri di sofa. Salah satu tangannya ia jadikan bantal, sementara tangan yang lain ia letakkan di dahinya dengan mata yang terpejam. Wajahnya nampak lelah. Menyimpan beban berat yang semakin pelik.
kutekuk kakiku hingga bersimpuh di sisi sofa. Pipinya kusentuh dengan lembut. Melihatnya seperti ini, perasaanku berkecamuk. Ingin berbuat lebih tapi dia menolaknya. Membantu hanya dengan berada di sisinya, apakah itu cukup?
"Mas," lirihku memanggilnya.
"Biarkan aku tidur sebentar," balas Dion dengan mata yang masih terpejam.
Kuusap pipinya sekali lagi. "Tidurlah, Mas," ucapku sesaat sebelum memberikan ciuman di keningnya.
Wajah penat itu kupandangi sebentar. Mencoba memahami kelelahan jiwa raga yang sedang menderanya. Masalah yang datang bertubi, tak kupungkiri membuatnya tertekan. Kebahagiaan yang baru saja dirasakan kini sedang ditimpa kesusahan yang berat. Memang hidup tak akan lepas dari masalah, tapi jika datang bertubi-tubi pasti rasanya juga sulit.
π¦π¦π¦π¦π¦
"Sa, bagaiman keadaan Dion?" tanya pertama Mbak Sharika begitu teleponnya kuangkat.
"Suamimu itu keras kepala sekali. Semua bantuan dari keluarga ditolaknya. Lalu bagaimana usahanya? Masih kurang berapa?"
"Aku belum menanyakannya lagi, Mbak. Dia baru pulang. Sedang tidur tak ingin diganggu," jujurku menyimpan kegetiran.
"Anak itu, selalu saja tak ingin bergantung. Lebih suka pusing sendiri dibanding berhutang budi. Padahal kita ini keluarga, masih saja dianggap merepotkan," gerutu Mbak Sharika.
Begitulah suamiku itu. Didikan keluarga dan perjalanan hidup menempa hidupnya selalu mandiri. Mengandalkan kemampuan sendiri adalah caranya berjuang selama ini. Baik untuk mendapatkanku ataupun membangun usahanya yang kini telah terenggut dari genggaman.
"Kalau ada apa-apa, kabari aku, Sa! Teleponku diabaikannya sedari tadi. Makanya aku telepon kamu," tutur Mbak Sharika.
"Iya, Mbak."
Helaan napas kuembuskan dengan penuh kedalaman. Menghirup napas dengan mata terpejam dan mengeluarkannya dengan penuh kelegaan. Baru mau beranjak, teleponku lagi-lagi berdering. Mami, begitulah pemanggil yang sedang menunggu telepon kuangkat. Sudah bisa kutebak jika aku akan kembali mendapatkan pertanyaan yang sama.
__ADS_1
"Sayang, kamu baik-baik, saja?" tanya Mami yang justru menanyakan kabarku, bukan Dion yang sedang didera musibah.
"Alhamdulillah, Mi. Rosa baik-baik, saja. Tapi ...," balasku yang awalnya yakin akhirnya aku putuskan untuk tak melanjutkan.
"Suamimu, bukan? Biarkan saja! Dia memang seperti itu. Mami sama Papi sudah memberikan jalan keluar tapi ia masih penasaran untuk menyelesaikan sendiri. Yang penting kamu dukung dia, hanya itu kekuatannya," nasihat Mami yang membuatku sedikit lega dengan keadaan Dion.
"Mi, apakah Mas Dion akan baik-baik, saja? Rosa khawatir."
"Dia akan baik-baik saja selama kamu ada bersamanya. Kebiasannya tinggal sendiri sejak SMP membuat kemandiriannya akut, Sayang. Tenang saja!" hibur Mami menenangkan keresahan yang bertahan di hati dan pikiranku.
Rupanya aku belum memahami Dion sepenuhnya. Terlalu banyak sifat uniknya yang masih tersimpan. Bukan hal buruk tapi justru suatu sikap pantang menyerah dalam menghadapi hidup yang tak mudah. Suami yang sangat istimewa ini, untung saja tidak kulewatkan kehadirannya. Tuhan sangat baik karena memberiku kesempatan untuk bisa membahagiakannya.
Telepon Mami kupikir telepon terakhir yang akan menghubungiku. Namun ternyata Masih ada Mas Rendra yang juga mengalihkan panggilan padaku.Bukannya menanyakan Dion, sama seperti Mami, tapi ia justru menyebut nama yang lain. Jika Mami mengkhawatirkanku maka sepupunya itu mencari Pak Aryan.
"Mas Ren, gak menanyakan kabarku?" gerutuku yang sama sekali tak hadir dalam kalimatnya.
"Selama ada Dion kamu aman. Ketika Dion terguncang tapi Aryan ada, kamu pasti juga aman," terang Mas Rendra dengan yakin.
"Bagaimana Mas bisa berpikiran begitu?"
"Karena kedua lelaki itu adalah bodyguardmu," jawab Mas Rendra sambil tertawa.
Bodyguard? Ah ... stop!
Kuakui jika Dion dan Pak Aryan adalah lelaki baik yang sama-sama ingin melihatku senang. Tentu saja dalam bingkai status yang berbeda meskipun mungkin dengan kedalaman rasa yang sama.
Telepon Mas Rendra sedikit meredam gelisah yang terus saja bertahta. Mungkin pikiran harus ditarik ulur, dinaikkan dan diturunkan. Masalah tidak akan selesai jika kita hanya memikirkan tanpa mencari jalan penyelesaian. Tawa sesekali juga penting agar pikiran tak terjebak dalam tekanan yang berlebihan.
Percaya, jika masalah tidak mungkin datang sendiri. Seperti adam dan hawa, dia juga diciptakan berpasangan. Mungkin sekarang sedang dipisahkan tapi nanti pasti akan dipertemukan. Secara pandangan, seolah kita yang sedang diuji dengam masalah, padahal sebenarnya masalah yang sedang mendapatkan ujian. Ia dipisahkan dengan belahan jiwanya yang bernama jalan keluar. Kita harus sabar seperti sabarnya masalah menemukan solusi. Karena sesungguhnya hidup kita adalah penuh kisah yang tersirat. Saling wang sinawang, begitu pepatah Jawa mengatakan.
__ADS_1