Tentang Hati

Tentang Hati
Mie Instan Level terpedas


__ADS_3

" Kok, tumben lembur, Mbak?" tanya Kristy saat aku berjalan melewati ruang keluarga.


"Kerjaan numpuk," jawabku langsung merebahkan diri di sofa.


"Bukan mencari pelampiasan?" tanya Kristy yang membuatku mengernyitkan dahi.


"Kangen Mas Dion," ucap Kristy kemudian.


"Anak kecil, tau apa urusan orang gede?" tukasku sambil melempar bantal sofa kearah Kristy.


"Aku udah gede kali, Mbak. Aku dah bisa memilih cowok ganteng buat ku jadiin pacar," jelas Kristy.


"Kalau Dion masuk kriteria cowok ganteng gak, menurut kamu?" godaku ke Kristy.


"Mas Dion bukan lagi masuk kriteria, tapi emang cowok idaman aku tau. Mbak gak usah takut, aku gak bakalan ngerebut Mas Dion, kok. Aku tau, cintanya Mas Dion gak bakal berpaling dari Mbak. Mbak beruntung dapet Mas Dion. Dia tuh, gak cuman ganteng, tapi aku yakin perutnya sixpack deh," Maya mulai membayangkan.


"Jangan ngayalin pacar Mbak," marahku.


Mendengar kata "sixpack" aku langsung teringat ketika tadi Pak Aryan mengganti kemejanya di depanku. Aku yakin, perutnya juga sixpack.


Aishhh ... pikiran apa ini?


Kenapa jadi mesumin Pak Aryan. Harusnya kan mesumin pacar sendiri. No ... no ... no ...!


Ini juga pikiran kotor, dari mana datangnya coba?


Huss ... hush ... hush ...!


Enyah ... enyah ... enyahlah ...!


Ditengah lamunan, telingaku mendengar ada sesuatu yang mencurigakan.


"Mas Dion, perutmu sixpack, gak?" Kristy mengeraskan suaranya.


Langsung ku tolehkan pandanganku pada Kristy, ku lihat Hpku sedang bertengger manis di indra pendengarannya. Secepat kilat ku sambar HPku, dan segera ku bawa menjauhi adik usilku tersebut.


"Di, jangan dengerin omongan Kristy!" omelku.


"Kenapa kamu sewot sih, Sayangku? Kamu, gak mau denger apa jawabanku atas pertanyaan adik manisku itu?" goda Dion.


"Gak penting," tukasku.


"Yakin? Atau kamu, mau kita ganti Video Call aja, biar bisa liat langsung?" Dion semakin semangat menggodaku.


"Aku, matiin ya, kalau masih bahas ini!" ancamku.


"Jangan dong, nanti kamu bisa membunuhku," gombalannya makin extra.


"Emang, udah siap terbunuh karena cintaku, sekarang?" tanyaku.


"Belum dong, kan aku belum nunjukin perut sixpack-ku ke kamu." goda Dion terus-terusan.

__ADS_1


"Aku tutup ya," ancamku lagi.


Ancaman-ancaman ini sebenarnya tak ingin aku ucapkan. Mana rela aku mematikan teleponnya. Sementara kerinduanku padanya, membuncah hebat di dadaku. Aku belum terbiasa tanpa perhatiannya, tanpa keromantisannya dan terlebih aku kangen mendengar lembut suaranya yang selalu menggodaku. Ancaman ini, sebenarnya isyarat jika aku ingin diteleponnya lagi dan lagi.


"Video call, yuk!" pintanya lagi.


"Jangan, aku belum mandi," jujurku.


Tiba-tiba saja, teleponnya langsung di matiin. Baru mau ku taruh HPku, dia malah video call. Pacarku, kamu memang begitu menggemaskan.


"Apa?" tanyaku lembut setelah mengangkatnya.


"Kamu beneran belum mandi? Jangan bilang, kalau baru pulang," Dion memberondongiku pertanyaan.


Aku mengulaskan senyum termanisku. Ini taktik, agar dia tidak memarahiku. Aku sudah bersamanya dalam waktu yang lama, aku sudah mengenal karakternya. Jika aku begini, dia akan menasihatiku mulai dari blablaba, bliblibli bahkan blublublu, lengkap pokoknya.


"Baru sehari aku tinggal, kamu udah begini, besok aku akan pulang!" ucapannya tak meleset sedikitpun dari apa yang ku pikirkan.


"Tidak usah terburu-buru, Sayangku, nikmati liburanmu. Hari ini, aku memang sengaja lembur, agar aku gak selalu memikirkanmu, aku sungguh merindukanmu, Sayang."


Keadaan kepepet, membuatku bisa merayunya. Entah setan apa yang merasukiku, hingga panggilan sayang itu bermunculan dari mulut ketusku. Nampaknya usahaku merayunya tak sia-sia, ku lihat Dion mengembangkan senyum dari bibirnya.


"Baiklah, aku memaafkanmu kali ini, tapi tidak untuk lain kali." tegasnya.


"Tapi tetap saja, aku akan pulang malam ini. Mendengarmu begitu merindukanku, hatiku rasanya teriris," ucapnya lagi.


"Di ...." aku menekan seruanku.


"Jangan kamu pikir, hanya kamu yang merindukanku. Di sini aku lebih merindukanmu, Sayang! Mencintaimu tanpa kepastian itu sakit, tapi nyatanya merindukanmu saat ini, terasa lebih menyakitkan." ungkap Dion serius.


Aku menatapnya penuh kasih, "Kenapa kamu jadi lemah begini, Di?"


"Rinduku padamu melemahkanku, Sayang. Ternyata rindu yang ku rasakan ini, lebih berat dari yang Dilan katakan." ucapnya.


"Jika kerinduan kita melemahkanmu, apakah aku harus membuangnya?" tanyaku.


"Rindukan aku sebesar yang kamu mampu, Sayangku. Aku rela menjadi lemah, bahkan terbujur membiru, asalkan kerinduanmu selalu kamu alamatkan padaku." rayu Dion yang justru melemahkanku.


" Di, bisakah kamu tidak seromantis ini? Manismu, bukannya membuatku muak, tapi malah membuatku semakin mencintaimu." jujurku.


"Sungguh?" mata Dion semakin berbinar.


"Aku takut, aku akan semakin tergila-gila padamu," jujurku lagi.


"Akan ku pastikan, ketakutanmu itu menjadi kenyataan, Sayang!" Dion meyakinkan.


Mulutku terkunci. Bibirku terasa beku untuk sanggup melelehkan kata. Menemukan lelaki seromantis Dion, seolah membuatku hidup dalam usia yang tak akan pernah menua. Aku tau keromantisan Dion bukan hanya sekedar kata, tapi fakta yang akan ia wujudkan. Dan aku teramat bahagia, bisa memilikinya.


"Ini sudah malam, segeralah mandi pakai air anget, ya! Jangan lupa makan, aku tau kamu belum makan," kata Dion kemudian


"Aku tidak mau mendengar, kamu makan mie instan malam ini!" ancamnya.

__ADS_1


"Baiklah," aku menuruti kalimatnya.


"Aku matiin, ya," pintaku.


"Aku sudah tak sanggup lagi mendengar gombalanmu," kataku kemudian.


"Sisihkan sebentar rindu yang kamu miliki untukku, malam ini. Aku tak bisa menahan diri untuk pulang, jika kamu terus saja merindukanku. Sebentar saja," pesannya nakal.


Senyumnya kembali menjadi penutup video call-nya. Hatiku kembali membuncah dengan pesona senyum yang akhir-akhir ini menggetarkan hatiku. Pacar baruku, benarkah aku mulai menggilaimu?


*****


Malam ini, adalah jam termalamku untuk rutinitas yang bernama mandi. Sebelumnya, aku tak pernah mengguyur tubuhku dengan air diatas pukul 19.00 WIB. Ini sudah pukul 21.00 dan aku melakukannya.


Kedinginan?


Pasti!


Walaupun aku memakai air anget, tapi tetap saja dinginnya udara malam membuatku menggigil.


"Mbak, gak takut dimarahin, Mas Dion? Makan mie instan lagi," ingat Kristy karena melihatku melahap semangkuk mie kuah pedas yang masih panas.


"Maafnya, akan selalu ada untukku," jawabku enteng.


"Bukannya Minggu pagi kemarin, Mas Dion marahin Mbak karena makan mie instan, gak kapok apa?" lagi-lagi Kristy mengingatkanku.


Aku pun melayangkan ingatanku pada waktu yang dijelaskan Kristy. Memang iya, Dion melembutkan suaranya tapi tetap saja kalimatnya tegas melarangku. Dia sudah memahami, bahwasanya aku keras kepala. Semakin dikekang, maka akan semakin menggila. Oleh karena itulah, dia tau banget bagaimana cara menghadapiku.


"Apa kamu mau, aku segera menikahimu? Biar mie instan ini, gak sering-sering kamu makan. Aku akan bekerja keras untuk membelikanmu makanan sehat, ini akan membuatmu kehilangan waktu panjang untuk hidup. Dan aku gak mau menua tanpamu. Aku bisa menemanimu makan ini, tapi hanya sesekali. Jadi bersiaplah, aku akan segera menikahimu!" tuturnya yang lembut menyudutkanku.


"Sssttt ...." aku merapatkan jari telunjukku ke bibirku sendiri, mengisyaratkan agar Kristy tak mengulang tutur lembut Dion yang menyudutkanku itu.


"Kalau kamu gak bilang, dia gak akan tau," ancamku.


Kristy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Adikku yang bawel itu, memang seringkali mengingatkanku, setipe dengan Dion. Aku terkadang sebel, tapi aku juga teramat menyayanginya.


"Biarkan aku menikmati ini, malam ini, kalau sudah menikah dengannya, ini makanan yang amat aku rindukan!" ucapku memelas.


"Aku menatap adikku, "Hari sabtu aku akan membelikanmu sepatu baru!" suapku pada Kristy.


Kristy nampak berpikir. Aku tau adikku itu tak bisa menolak, jika berhubungan dengan sepatu. Dan aku menjadikan itu sebagai senjataku untuk melumpuhkannya.


"Baiklah, hanya kali ini," dia menerima permintaanku.


"Gak masalah," jawabku kegirangan.


Aku kembali bermain dengan mie panjang di bibirku, " Ini cukup mengobati kangenku pada mie instan favoritku, aku pastikan, jika ini akan aku rindukan!" ucapku lebay.


"Lebay mbak," Kristy seolah membaca nada bicaraku.


"Tak sembarang orang bisa makan mie instan, Sayangku. Hanya orang-orang beruntung macam kita ini, yang terpilih. Kau ingat, Rianti, temenmu kuliah yang sering lomba makan mie instan dengan level terpedas sama Mbak? Mana bisa dia menikmatinya sekarang? Tuan Alexander Kemal Malik itu, mana mengizinkan istri cantiknya menyentuh mie instan. Aku rasa Rianti merindukan mie instan ini." aku berapi-api dengan kalimat panjangku.

__ADS_1


Aku kembali tersenyum ambigu, "Semoga, Rianti ngidam makan mie instan level terpedas bersamaku, biar Tuan Alex yang tampan itu kelabakan,"


__ADS_2