Tentang Hati

Tentang Hati
Keraguan Bicara


__ADS_3

Obrolan dan sarapan Dion kali ini ibarat jatuh cinta dan patah hati, saling terikat dan tak terpisahkan.


"Makan yang banyak, Di! Kayaknya kamu kurusan deh, jagain aku di rumah sakit," kataku.


"Aku seneng kamu perhatian ke aku," tandas Dion.


"Aku gak mau, kamu ganti sakit! Karena aku sadar, aku gak bisa jagain kamu, seperti kamu jagain aku," ungkapku jujur.


"Aku gak ngarepin balas budi," ucap Dion.


"Bukan balas budi, tapi balas Dion," gurauku.


Dion mengerutkan keningnya dan kembali tersenyum.


"Ohya ... mau dateng ke lamarannya Maya gak?" tanya Dion hati-hati.


"Harus dong!" tegasku.


"Kuat?" Dion menelisik.


"Ini udah sehat," jawabku.


"Bukan itu! Hatimu kuat, kalau harus ketemu Rud?" tanya Dion memastikan.


Aku berpikir kemudian. Benar juga kata Dion. Aku pasti bakalan ketemu Mas Rud di sana.


"Butuh bantuan?" Dion membuyarkan lamunanku.


"Gak perlu!"jawabku PD.


"Baiklah! Tapi nanti jangan sibuk mencari bahuku, kalau nangis-nangis," goda Dion.

__ADS_1


"Itu gak akan terjadi!" aku menguatkan diriku maksimal.


"Aku suka itu!" ungkap Dion sambil mengacungkan jempolnya.


*****


Mobil Dion sudah memasuki halaman rumahku. Rasanya ada keraguan untuk melangkah turun. Aku jadi sedikit canggung untuk bertemu mama. Sulit tapi tetap harus ku hadapi.


"Kok, sepi ya, Di?" tanyaku karena pintu depan yang biasanya selalu terbuka, ini masih tertutup.


"Mungkin lagi di belakang, jadi pintu depan ditutup," Dion memberikan pendapat.


Aku menyetujui pendapat Dion kali ini.


"Kamu ikut turun, kan?" tanyaku.


Sebenarnya aku masih begitu canggung. Aku pikir dengan kehadiran Dion, akan membuatku lebih nyaman. Meskipun aku sadar, ini masalah keluarga. Dan Dion bukan bagian dari keluargaku.


Kami mengetuk pintu berulang kali, tapi tak ada jawaban.


"Gak ada orang, Di!" aku kecewa.


"Ya udah, kita tunggu di sini!" Dion mengajakku duduk di kursi teras.


"Gak usah tegang, kamu kan mau bertemu sama mamamu sendiri, bukan orang lain," Dion menyamankanku.


"Dari dulu, aku lebih deket ke papa, Di! Jadi jarang ngobrol sama mama!" jujurku.


"Aku tau! Anak perempuan emang cenderung lebih deket ke bokap, sih," Dion menyetujuiku.


"Tapi, untuk masalah ini, harus kamu obrolin sampai ketemu jalan keluarnya. Jangan sampai menggantung gak selesai!" nasehat Dion.

__ADS_1


"Aku bingung, Di, mama pendiam, aku orangnya gak bisa dipaksa! Susah ngobrolnya! Harus ada penengah!" jelasku.


"Aku orang lain, gakak enak kalau ikut campur," ucap Dion seakan tau apa yang aku pikirkan.


Aku membenarkan itu. Aku pun terdiam. Memikirkan apa yang nanti harus aku bicarakan sama mama. Tiba-tiba aku mendengar Dion berbicara dengan suara yang mirip mama. Dan benar, itu adalah mama. Apakah aku terlalu menghayati lamunanku hingga tak menyadari kehadiran mama.


"Ya udah, ayo masuk!" mama membukakan pintu dan mengajak kami masuk.


"Terimakasih ya, Nak! Kamu sudah membantu Tante menjaga Rosa selama di rumah sakit!" ucap mama pada Dion.


"Sama-sama, Tante. Saya senang bisa menjaga Rosa. Tante tidak perlu sungkan. Lain kali, kalau ada yang bisa saya bantu, silakan Tante hubungi saya!" Dion menawarkan bantuan.


Mama tersenyum. Nampak kelegaan yang terukir dari senyumnya. Mama menatapku dan kembali tersenyum


"Mama senang, anak mama nampak sehat. Bahkan lebih sehat dari sebelum masuk rumah sakit!" ungkap mama.


Aku tersenyum. Kata-kata mama memang benar. Dan sungguh membuatku malu.


"Mama juga gimana?" aku mengkhawatirkan kesehatan mama.


"Mama udah sehat, ini sudah bisa pergi-pergi!" jelas mama.


"Alhamdulillah," ucapku dan Dion bersamaan.


"Karena Tante dan Rosa sudah sehat semua, jadi saya mau pamit dulu!" izin Dion.


Dion sudah bangun dari duduknya untuk pamitan dengan mama.


"Nak, bisakah kita ngobrol bertiga dulu! Ada sesuatu yang ingin Tante bicarakan!" pinta mama.


Dion memandangku penuh tanya. Aku pun mengangkat bahu, tanda tak tau apa yang mama ingin bicarakan.

__ADS_1


__ADS_2