Tentang Hati

Tentang Hati
Mencintaimu Dengan Caraku


__ADS_3

Pak Aryan PoV


Reuni Alumni Harvard University, di sinilah sekarang aku menapakkan kaki. Berada jauh darimu membuatku menyadari bahwasanya bisa berada di dekatmu itu begitu berharga. Meski hanya sekadar menikmati senyummu, rasanya kebahagiaanku sungguh tak terkira.


Berpasangan dengan Lewi (Sekretaris Alex) dan anaknya yang lucu membuatku berteman dengan kata "seandainya".


Seandainya wanita dan malaikat kecil ini adalah kamu dan buah hati kita, alangkah bahagianya. Kamu, Rosa yang ku cintai bisa menjadi istriku. Kita jadi sepasang suami istri yang saling mencintai. Melahirkan anak-anak lucu, yang akan membuat kita tertawa bahagia. Hmmm ... Seandainya.


"Bro, jangan ngelamun, aja! Ayo aku kenalin wanita-wanita cantik," Felix, temanku yang kini jadi CEO Chandra Corp membuyarkan khayal bahagiaku.


Senyuman termanis aku pamerkan. "Aku bisa mencari sendiri wanitaku," kilahku.


"Apa wanitamu itu yang juga jadi incaran Rud, bodyguardku?" Alex si arogan itu mengejekku.


Tentu saja. Wanita itu bernama Rosa, Tuan Alex. Hanya dia wanita yang bisa membuatku jatuh cinta, hanya dia. Dan benar juga jika wanita itu adalah incaran banyak lelaki, tak hanya Rud saja, bahkan Dionlah yang berhasil memenangkan hatinya.


"Aduh, Bro, wanita itu banyak. Untuk apa susah-susah ngejar yang milik orang?" Felix tertawa.


"Aku mencintainya," tukasku.


"Tuan Aryan Satya Dharma, bicara cinta, ckckck! Rupanya kamu benar-benar jatuh cinta, Bro. Siapa wanita, itu?" Felix mengerlingkan matanya.


Aku jatuh cinta, apakah itu sesuatu yang istimewa? Mungkin benar. Selama mengenalku, mereka pasti hanya melihatku bercinta dengan tumpukan buku. Sementara sekarang aku benar-benar jatuh hati dengan seorang wanita. Terlebih wanita itu telah punya pemilik.


Aryan, alangkah mengenaskannya kisah cintamu! Siapa bilang? Aku bahagia, kok, bahagia meskipun hanya bisa mencintaimu sebatas ini.


"Kamu, gak khawatir, Aryan? Aku yakin, Rud sedang menggoda wanitamu itu sekarang. Kamu akan ketinggalan beberapa langkah darinya. Bodyguardku yang satu itu bukan hanya jago menembak musuh tapi dia jago meluluhkan hati wanita," Alex mengejek dengan senyum smirknya.


"Tunangannya tak akan membiarkan itu terjadi," jawabku santai.


"Apa?" Alex dan Felix berteriak bersamaan.


"Aryan ... Aryan ... kamu sungguh membuatku terkejut," ucap Felix tak percaya.


Aku hanya tersenyum menanggapi celotehan sahabat-sahabatku itu. Dunia kami memang dipenuhi oleh gelimangan harta, tahta dan wanita. Bersenang-senang dengan makhluk cantik itu bisa kami lakukan seperti kami menghirup udara, dimana saja dan kapan saja dengan sesuka hati.


Namun, aku bukanlah bagian dari mereka. Seperti Papa yang setia kepada satu wanita yaitu almarhum Mama, maka aku pun juga akan melakukannya. Bagiku, cinta bukan hanya bahagia karena memiliki yang ku inginkan tapi lebih kepada bahagia bisa melihat cintaku bahagia. Aku masih bisa melihatnya tersenyum dan tertawa. Untuk apa aku memaksa memilikinya jika dia kehilangan bahagianya. Terkungkung dalam hidup yang dipenuhi kesedihan dan airmata.


*****


Ku pandang mobil yang baru saja meninggalkanku. Mungkin ini adalah terakhir kalinya kami bertemu. Ketegasanku untuk menolaknya, seharusnya akan membuat dia menjauh dari jangkauan mataku. Apalagi sekarang ia sudah memiliki dunianya sendiri, menjadi bodyguard Tuan Alexander Kemal Malik.


Tin-tin-tin!


Suara klakson mobil mengagetkanku. Ku yakin mobil ini adalah mobil Dion. Buru-buru ku buka gerbang rumahku. Membiarkan mobilnya masuk halaman. Sembari menunggunya selesai memarkir mobil, ku panggil orang rumah tapi sepi. Sepertinya mereka sedang pergi. Ku buka pintu dengan kunci cadangan yang selalu ku bawa.


"Salat Magrib, dulu, yuk!" ajak Dion begitu memasuki rumah.


Dia menggulung lengan kemejanya seraya berjalan. Aku suka sekali melihatnya. Bagiku itu terlihat sangat menggoda.


"Kenapa melihatku, begitu? Tergoda, ya?" tembak Dion melihat ekspresiku.


"Aku mau memuja Rabbku, jangan kamu goda, aku," ucapnya kemudian.

__ADS_1


Diam saja. Aku sungguh tak menyangka reaksinya. Setelah tahu aku pulang diantar Mas Rud, sikapnya sama sekali tak berubah. Tenang, penuh senyum dan suka menggodaku seperti biasanya. Ku pikir, dia akan marah-marah, menghujaniku dengan pertanyaan penuh kecemburuan. Namun nyatanya itu tak terjadi.


"Mau, kan, aku jadi imammu?" tanyanya begitu dia mau memulai salat.


Aku mengangguk. "Cepat halalin, aku ,Bang. Aku sudah gak sabar menjadi makmummu."


"Imam salat, Neng, jangan ketinggian ngayalnya. Siapa juga yang mau punya makmum yang digilai banyak lelaki, makan hati," ucapnya kemudian sebelum memulai takbir.


Salah tafsir, ya? Yang penting bukan salah parkir, parkir hati. Manisnya dia kala bercanda begini, ku rasa akan menjadikanku awet muda dan bahagia sepanjang waktu. Bahagia dengan segala kelembutan dan ketenangannya.


*****


Makanan di meja tak tersedia. Sementara perut sudah mendendangkan nyanyian-nyanyian untuk mendapatkan saweran. Mama juga tak kunjung pulang, tumben sekali Mama gak masak. Ternyata bukan hanya aku yang kelaparan, Dion pun sama.


"Bikinin aku mi instan, dong," pintanya saat melihatku membuka laci meja dapur.


Aku berdiri dan membalikkan badan melihatnya. "Mi instan?"


"Iya, mi instan, makanan favoritmu," terangnya memastikan.


Aku mendekatinya. Rasanya telingaku belum mempercayai apa yang baru saja aku dengar. "Kamu mau makan mi instan?"


"Aku mau makan, kamu," ucapnya sambil mencubit hidungku. "Tapi bikinin mi instan, dulu," ucapnya kemudian.


Berbalik dan melangkah menuju meja kompor. Area di sekitar Dion harus segera di sterilkan, takutnya bercandaannya berubah menjadi kenyataan. Segera ku masak air sambil menyiapkan sayuran pelengkapnya.


"Mau cabai berapa?" tanyaku sambil memotong cabai sebagai penambah rasa pedas.


"Yang bisa bikin ngelupain nekatnya mantannya tunangan butuh berapa cabai, tuh?" pertanyaan Dion membuatku terhenyak.


"Kalau mantannya tunangan nekat ngajak balikan, tunangannya dong nekat ngajak ke pelaminan," celetukku sambil mencuci sayuran yang sudah selesai ku potong.


"Ayo," ajaknya secepat kilat.


"Ke mana?" tanyaku tetap fokus membuat mi pesanannya.


"Pelaminan," jelas Dion dengan kerlingan matanya.


"Ngajak nikah kayak ngajak nonton layar tancep aja, Bang. Tinggal berangkat nyampek sana gelar koran, makan kacang," tukasku.


"Terus, gimana dong pengennya?" Dion mencari jawab.


"Wanita itu, yang dipertuan adalah perasaannya, jadi buat hatinya senang," selorohku.


"Apa yang bikin hati wanita senang?" tanyanya lagi sambil bertopang dagu.


"Punya suami tampan, mapan, dermawan dan beriman," jabarku.


Ku lirik wajah tampan tunanganku itu. Rasanya hatiku ingin tergelak mendengar pembicaraannya. Obrolan yang entah mengambil topik apa tapi ku kira dia sedang menyuarakan kegundahan hatinya.


"Apakah aku kurang tampan?" tanyanya.


"Ku rasa Mas Rud lebih tampan," jujurku sambil berdoa semoga dia tidak mencak-mencak.

__ADS_1


"Apakah aku juga kurang mapan?" tanyanya lagi.


"Setahuku, Pak Aryan lebih mapan, Sayang. Dan dia juga tampan," ucapku dengan mengangkat kedua alisku.


Dion membiarkan tubuhnya menyender di kursi dengan tangannya disedekapkan. "Apakah kekalahanku setelak, itu?"


"Sepertinya," tukasku sambil menambahkan saos dan kecap ke dalm mangkuk mi racikanku.


"Kalau dermawan gimana? Hmmm ... tapi, aku juga tak pernah mengeluarkan uangku lebih banyak untuk berderma," Dion nampak galau sehingga pertanyaannya ia jawab sendiri.


Ku biarkan saja ia bertarung dengan berbagai tanya di pikirannya. Ku dudukkan diriku di seberang kursinya. Semangkuk mi instan ku letakkan di depannya, sementara satu mangkuk lagi mulai ku nikmati sendiri.


"Setidaknya, aku masih punya imanlah, ya," gumamnya kemudian. "Kalau begitu, bagaimana dengan tunanganku? Apakah ia akan meninggalkanku untuk lelaki yang tampan, mapan, dermawan dan beriman? cercanya setelah berhasil menyuapkan mi pertamanya.


"Mungkin saja, wanita sekarang realistis. Kalau cuma mengandalkan ketulusan, nanti kalau lelakinya sudah mapan akan ditinggalkan," jawabku santai.


"Hmmm ... dunia ini kejam, ya! Apakah itu berarti mulai sekarang aku harus siap ditinggalkan? Seorang Dion yang minim kelebihan ini, siapa yang akan mencintai?" keluhnya dengan ekspresi sedih.


"Aku yang akan mencintaimu, Sayang," ucapku seraya mendekatinya.


"Benarkah? Bukankah Rud lebih tampan dan Aryan lebih mapan?" terangnya tanpa mengubah ekspresinya.


"Tapi, Dion lebih mencintaiku dan aku akan mencintainya," ungkapku penuh perasaan.


Dion meletakkan jari telunjuknya di bibirku. "Kamu tak akan pernah bisa mencintaiku lebih besar daripada cinta yang ku berikan untukmu."


Ku tautkan erat manik mataku pada bening matanya. Ketulusan yang baru saja ia yakinkan itu bisa menembus relung hatiku. Dan aku yakin jika aku tak akan mampu mengalahkan besarnya cinta yang ia miliki untukku.


"Aku mencintaimu," bisikku pada telinganya seraya mengalungkan tanganku di lehernya.


"Aku tak akan tergoda oleh gombalanmu," ucapnya santai.


"Aku tidak menggodamu, Sayang, aku hanya menyatakan perasaanku, saja," timpalku


"Apa Rud baru saja meninggalkanmu, hingga kamu beralih padaku?" selidik Dion sambil membenarkan rambutku yang liar bermain di wajahku.


"Aku yang meninggalkannya demi memilihmu," ceritaku.


"Benarkah? Padahal aku sudah siap terluka dan berencana mencari wanita lain untuk ku nikahi," ungkap Dion yang membuatku mulai kesal.


Kenapa seolah-olah dia pasrah? Kenapa sepertinya dia rela jika aku meninggalkannya? Sudah bosankah dia memperjuangkan hatinya?


Bibirku mengerucut sempurna. Dan ...


Cup!


Dia mengecup bibirku sekilas. "Ini kan yang kamu mau? Ingin tahu segila apa aku mencintaimu. Jangan memancing kegilaanku atau kamu akan menyesal karena sudah tak bisa lagi berpaling dariku.


Cup!


Sekali lagi dia mengecupku sekilas. "Masih penasaran? Perlukah aku melanjutkan permainan kita?" ucapnya dengan senyum smirk seraya fokus melihat bibirku.


*****

__ADS_1


Ada felix di sini, yang mau tau siapa dia, kepoin "Married With Big Boss" by Liska Oktaviani. Di jamin novelnya keren!


__ADS_2