
Sepanjang malam, tak genap 5 jam aku dapat memejamkan mata. Namun kurasa sudah cukup menggugurkan kewajiban untuk mengistirahatkan jiwa dan ragaku. Waktu masih menunjukkan pukul 04.00 WIB. Subuh belum tiba namun sangat nanggung jika aku memilih untuk tidur kembali. Kubuka benda pipih yang kuabaikan sejak telepon Mama sebelum magrib kemarin. Tak ada pesan yang menarik perhatianku. Akhirnya kupilih untuk meletakkannya lagi sembarang.
Kupilih untuk masuk ke kamar mandi dan berendam di sana. Merilekskan segala hal yang membuatku kaku dan terpaku pada masalah yang seharusnya sudah ku selesaikan jauh-jauh hari. Masalah hati yang akhirnya menjadi bumerang pada keputusan yang sudah kuambil.
Aku beranjak dari bathtub setelah hampir satu jam memanjakan diri di dalam air. Kehangatan yang kurasakan berganti dingin yang menyeruak. Kupilih menghangatkan diri dengan memakai celana jeans panjang dan jaket hitamku. Sepertinya itu saja belum cukup, aku masih merasa kedinginan.
Memutar handel pintu kamar dan berjalan menuju ke dapur. Teh hangat, hanya itu yang ingin kuteguk untuk menghangatkan badanku. Belum dua langkah kakiku menapaki dapur, kulihat Dion tengah duduk di balik meja makan dengan menyesap secangkir minuman yang entah apa isinya.
Keraguan merasuki pikiranku, harus merangsek masuk atau memutar balik langkah. Belum sempat kumemutuskan, sebuah deheman membuyarkan pikiranku. Dan tentu saja itu membuatku yakin untuk meneruskan langkah. Itu artinya dia menginginkanku untuk ada di dekatnya.
Kududukkan diriku di kursi yang berseberangan dengannya. Sekilas kutatap wajahnya dan sebentar kemudian kualihkan pandanganku pada sembarang arah. Belum ada senyum yang bisa kutemukan terukir di bibirnya meskipun tatapan manik matanya sudah mulai melembut.
"Tumben sekali pakai jaket?" tanyanya melihatku memakai pakaian yang sangat enggan kupakai, kalau tidak benar-benar merasa kedinginan.
"Aku habis berendam," jawabku belum berani fokus menatap wajahnya.
"Minum ini! Di sini gak ada yang bisa merawatmu seperti Rud menjaga cintanya untukmu," sindir Dion seraya bangun dari duduknya dan meninggalkanku sendiri di dapur.
Apa maksudnya coba? Memberiku secangkir teh sisanya dan mengingatkanku pada Mas Rud. Apakah ini pertanda jika dia berniat untuk melepaskanku kembali padanya?
Tanpa ragu, kubiarkan sisa teh di cangkirnya itu mengaliri kerongkonganku. Memberikan kehangatan yang akan menjalar pada seluruh tubuhku. Tak peduli itu hanya teh sisa, yang jelas akan kupastikan jika rasaku padanya bukan sisa rasa yang kumiliki untuk Mas Rud.
*****
Lamunan membawaku berpikir jauh, menjejakkan kisah pada perputaran roda. Sepanjang waktu yang Dion habiskan untuk menemaniku, adilkah jika harus kubandingkan dengan kehadiran Mas Rud yang hanya sekejap. Terlepas dari begitu indahnya pertemuanku dengannya, tapi akhir yang menyakitkan mengapa tak bisa membuatku untuk membuang perasaanku padanya. Mengapa aku begitu bodoh, terbuai olehnya yang hadir untuk menorehkan luka.
" Mbak, Dionnya ada?" suara sapaan seorang wanita cantik yang kurasa sebaya denganku, melemparkan pikiranku sembarang.
Kuperhatikan wanita yang tak kukenali itu dengan seksama. Punya hubungan apa dia sama Dion? Kenapa mencarinya pagi-pagi begini?
"Saya panggilkan sebentar, ya! Maaf, nama Mbak siapa?" tanyaku mengorek keterangan.
"Bilang aja, Syala! Dia mengenalku dengan baik, kok," ucapnya yang membuat goresan kecemburuan di hatiku.
"Silakan duduk, Mbak! Saya panggilkan Dion dulu," ucapku seraya masuk ke dalam rumah.
Aku segera melangkah ke dalam menuju kamar Dion. Hatiku teriris, kedatangan wanita itu sepertinya telah membuatku cemburu. Baru kali ini aku mendapati ada seorang wanita yang mendekatinya. Aku baru tahu ataukah memang baru ada sekarang? Apapun itu tapi hatiku rasanya sakit. Aku gak rela!
Kuketuk pintu kamar berwarna coklat tua itu. Tak ada jawaban meskipun sudah kuketuk berulang-ulang.
__ADS_1
"Masuk aja, Sa! Dion gak pernah ngunci pintu kok kalau lagi tidur," perintah Mami yang kebetulan lewat dengan menempelkan benda pipih di telinganya.
Dengan ragu-ragu, kutekan handel pintu kamarnya. Tak ubahnya seorang maling, aku mengendap-endap masuk dan melihat wajahnya yang tengah terlelap. Tenang dan menggemaskan sekali, membuatku tak ingin membangunkannya. Aku masih ingin menikmati indahnya sebentar saja.
"Di, bangun! Ada yang mencarimu," ucapku sambil menggoyangkan lengannya.
Hanya menggeliat sebentar dan kemudian tertidur lagi. Lucu, lucu sekali! Rasanya aku ingin melihatnya setiap kali aku membuka mata. Mengisi pagiku dengan menikmati muka bantalnya, rasanya sesuatu yang tak ingin kulewatkan.
"Ngapain kamu di sini?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Dicari Syala," terangku kemudian memutuskan untuk segera pergi.
Tiba-tiba saja dia duduk dengan matanya yang terbuka sempurna. Mengapa nama Syala itu sanggup membuatnya bersemangat dengan cepat? Rasanya aku gak terima, secepat itukah dia mendapatkan penggantiku sebagai pelecut hidupnya?
Ish!
"Aku mau mandi dulu, bilang suruh tunggu!" titip pesannya sebelum aku menutup pintu kamarnya dan beranjak pergi.
Tak kujawab permintaannya itu. Mana ada tunangan yang jadi mak comblang, sudah gak waras apa? Kulangkahkan kakiku berteman dengan kedongkolan hati. "Dia lagi mandi, Mbak. Suruh nunggu katanya," jelasku dengan ekspresi yang kumanis-maniskan. Berlakon seolah jadi aktris profesional yang menyembunyikan luka dibalik senyuman.
"Kamu, pembantu baru di sini, ya? Kok aku baru melihatmu?" tanyanya yang membuatku terpaksa menghentikan langkah untuk kembali masuk rumah.
Dalam hatiku mengoceh tak ada hentinya. Mengumpat dengan kalimat yang baru saja ia utarakan dari pikirannya. Penampilan yang sanggup meluluhlantakkan tiga lelaki tampan sekaligus, kok dikira pembantu. Mata kamu masih sehat, Mbak?
"Mbak-Mbak, bikinin aku kopi, dong!" perintahnya tanpa rasa bersalah.
Aseeemm! Udah disebut pembantu, disuruh bikin kopi lagi. Aku bikinin kopi asin ala Sherylnya Marriage Order, kapok kamu, Mbak!
Langsung ku tuju dapur tanpa memberikan jawaban iya padanya. Aku khawatir jika dia akan nambah pesan pisang goreng krispi, roti tawar dengan taburan meses dibentuk hati, atau nasi goreng gila karena cinta Dion yang membara.
Haist!
Pagi-pagi otakku sudah dipaksa berurusan dengan kecemburuan. Apakah karma itu dibayar kontan? Dengan sewot, tetap ku persembahkan kopi ala Rosa spesial untuk Mbak Syala tercinta.
Begitu menginjakkan kaki di teras dimana dia berada, rupanya dia sudah tidak sendiri. Ada Dion yang sudah rapi, wangi, bening, kinclong, keset bak piring yang sudah dicuci pakai moonlight. Haist! Kenapa jadi ngiklan, sih?
Kulihat mereka begitu akrab, bercanda sampai tertawa hingga terpingkal-pingkal. Menyulut api kecemburuanku yang mulai menyala. Apakah Dion sengaja melakukan ini di hadapanku?
"Mbak, kopinya gak jadi, ya. Kami mau pergi soalnya," ucapnya enteng tak peduli dengan segala daya upaya yang ku lakukan untuknya.
__ADS_1
Hanya senyuman yang kulukiskan untuknya, padahal dalam pikiranku sudah merencanakan sebuah pembalasan kejam yang mungkin mengalahkan balas dendam yang direncanakan zeno untuk keluarga Wijaya.
Aarrgghh!
Rosa gak bisa diginiin!
Apalagi itu? Bergelayutan manja di lengan Dion.
Ish!
Dion, kamu mau balas dendam sama aku?
"Ternyata melihat ada orang lain menyentuh kekasih kita itu sakit, ya, Sa?" ucap Om Septian yang entah dari mana datangnya.
Kalimat apalagi itu? Sindiran? atau Sindiran? atau sindiran? Dan aku yakin itu adalah sindiran.
"Dia itu Syala Yaya, ngebet banget sama Dion dari dulu. Mereka temenan dari kecil, makanya akrab gitu. Tiap Dion pulang pasti begitu, tuh! Bakalan di sini terus gak pulang-pulang. Aku pikir mereka bakalan jodoh, ternyata Dionnya milih jodoh yang lain," jelas Om Septian panjang lebar tanpa aku minta.
"Dia itu authornya novel "Istri Kedua Tuan Krisna", aku pikir itu adalah ungkapan hatinya. Dia sudah menyiapkan hati untuk menjadi istri kedua buat Dion. Kamu harus jaga-jaga, Sa!" ingat Om Septian yang membuatku makin nyesek.
Om Septian berlalu begitu saja dari hadapanku. "Waspada, Sa, Istri Kedua Tuan Dion Wijaya!" celetuk Om Septian dengan senyum nakalnya.
Sembarang aja tuh, omongan Si Om! Aku yang pertama dan satu-satunya buat Dion! Benarkah? Mungkin benar tapi apakah Dion juga pertama untukku? Tentu saja bukan? Apakah Dion satu-satunya untukku? Sepertinya aku juga ragu. Hatiku belum sepenuhnya untuknya. Dan ini kembali mengingatkanku bahwa saat ini hubunganku sedang tak baik.
Ku hela napas panjang dan dalam. Mengingat masalahku yang belum ada jalan keluarnya. Untuk apa aku masih di sini kalau Dion tak menganggapku sama sekali? Kapan pembicaraan yang Mami janjikan semalam? Apa Dion akan membuat sebuah keputusan besar?
*****
Mau nyobain kopi asin ala Sheryl? Intip di sini, ya!
Mau tahu balas dendam kocak ala Zeno! Ketuk pintu novel ini, ya!
Mau tahu panduan jadi Istri Kedua? Masuk aja ke rumah tangga keluarga ini!
__ADS_1