Tentang Hati

Tentang Hati
Mendadak Terpaku


__ADS_3

Langkah kami yang awalnya sejajar berganti menjadi beriringan begitu memasuki butik. Dion berjalan duluan dan aku mengikuti di belakangnya. Menyapa ramah dengan tebaran senyum setiap kali bertemu dengan penjaga butik. Dan anehnya mereka seperti sudah saling mengenal. Itu terlihat dari sapaan balik yang memanggil Dion dengan sapaan Mas.


Hanya kuamati semua pemandangan itu. Keramahtamahan dan keakraban yang kurasa lebih dari antara tamu dan tuan rumah. Namun tak kuambil pusing, karena Dion memang orang yang murah senyum. Aku pun ikut menawarkan senyum yang disambut dengan senyum balik yang tak kalah ramahnya. Melewati ruangan luas penuh gaun yang melaparkan mata, Dion menaiki tangga menuju lantai dua. Seolah sudah menguasai medan, ia melenggang tanpa perlu bertanya dan takut tersesat.


Sebuah ketukan ia tujukan pada sebuah pintu berwarna putih. Terdengar sebuah suara wanita yang mempersilakan masuk dari dalam ruangan. Dion segera meraih tanganku dan menggandeng masuk menemui sang pemilik ruangan.


"Mbak Sharika," kagetku karena menemukan kakak iparku sedang duduk di kursi yang kuyakini sebagai milik dari sang desainer butik ini.


Mbak Sharika meninggalkan kursinya dan berjalan ke arah sofa yang ada di sudut ruangan. "Hai, pengantin baru."


Dion menuntunku untuk berjalan mengikuti Mbak Sharika, duduk santai di sofa. Setelah cupika-cupiki, aku memilih duduk bersebelahan dengan Dion di sofa berwarna abu-abu muda. Mendengarkan obrolan mereka berdua yang bertegur sapa dalam tawa.


"Ini, butik Mbak?" tanyaku karena diserang rasa penasaran.


"Iya, Sa, Kenapa? Kamu pernah ke sini, ya?" tebak Mbak Sharika yang harus kujawab jujur, iya.


"Kamu pernah ke sini?" Dion ikut mengulik.


Kupandang mereka berdua secara bergantian dan kemudian membuat anggukan kecil. Meluncur kata iya dalam suara yang tak terlalu keras tapi aku yakin bisa jelas terdengar. "Aku pernah diajak Maya ke sini." akuku tanpa menjelaskan kali kedua ke sini dengan Mas Rud.


"Oh ... yang sama Rendra itu, ya?" timpal Mbak Sharika.


"Aku ke sini berdua sih, Mbak. Meskipun akhirnya emang ketemu juga sama Mas Rendra di sini. Lalu mereka memutuskan pulang berdu ... a," kujeda kata terakhirku karena menyadari jika aku sudah keceplosan yang bisa mengakibatkan sebuah introgasi yang panjang.


Dion memutar tubuhnya agar lebih leluasa menatapku. "Kamu, pulang sendirian?"


"Aku, diantar Mas Rud," akuku lirih sambil menundukkan kepala.


"Sudah, jangan berantem! Rud sebentar lagi juga bakalan menikah, kok," terang Mbak Sharika dengan tenangnya seraya mengambil sebuah buku dari mejanya.


Mas Rud akan menikah? Kenapa mendadak sekali? Ah ... bukankah pernikahanku juga mendadak? Namun, mengapa ia ikut-ikutan? Apakah itu pelampiasan?


"Yang, kamu pilih yang mana?" tanya Dion yang hanya samar terdengar di telingaku tapi kuabaikan.


Sebuah sentuhan lembut di lengan, perlahan membawa kesadaranku kembali pada tempatnya. Aku terkesiap dan menghela napas dalam untuk menetralkan kekagetanku. Mengulas senyum untuk mengurangi kecanggunganku karena telah terciduk sedang melamun.


"Apa?" tanyaku kemudian karena aku tahu jika sampai dipegang lenganku pasti aku mengabaikan suatu pertanyaan yang harusnya sudah aku jawab.


Dion menyodorkan buku yang bergambar beberapa baju pengantin kepadaku. "Pilih yang mana?"


Kubalas senyumnya seraya menerima buku bergambar tersebut. Melihat satu per satu dengan seksama. Membandingkannya secara detail agar bisa memilih satu yang benar-benar mewakili keinginanku, sederhana tapi tetap elegan.


"Bantu pilihin bisa, gak?" tanyaku setelah ada kebingungan yang menyergap pikiranku.

__ADS_1


Dion membolak-balik kertas di tangannya. Menajamkan penglihatan untuk diselaraskan dengan selera yang kuinginkan. Pandangannya terhenti pada sebuah gambar yang memvisualisasikan sebuah gaun berlengan panjang transparan. Terlihat indah dengan lekukan dibagian tubuh atas dan mengembang di bagian roknya. Sexy yang elegan tidak seronok. "Menurutku, ini cocok untukmu, Sayang."


"Aku juga menyukai itu, hanya saja masih ragu dengan yang ini," tunjukku pada daun bermodel sabrina yang mengekspos leher dan pundak secara maksimal.


"Itu terlalu terbuka, Sayang. Jangan biarkan indahmu dinikmati mata lelaki lain secara berlebihan," terang Dion yang membuatku merasa amat dijaga.


"Baiklah, kalau gitu aku pilih yang ini, aja," tunjukku pada gaun yang dipilih Dion.


"Buatmu mana, mas?" penasaranku karena Dion nampak santai, tak direpotkan dengan memilih setelannya.


"Buat pengantin lelaki sudah satu paket sama gaun yang perempuan, Sa," terang Mbak Sharika yang dari tadi sibuk dengan pensil dan kertas di tangannya, menggambar.


"Owgh ...." balasku.


"Lagian aku akan tetap tampan memakai pakaian model apapun, Sayang," sombongnya seraya tersenyum sempurna.


"Jangan ngegombal mulu, nanti Rosa muntah ngedengernya," sindir Mbak Sharika.


"Aku seneng Mbak kalau Rosa muntah, itu artinya aku perkasa," kekeh Dion yang kuhadiahi cubitan di perutnya.


"Sa, sekali-kali bungkam 'tuh mulut suamimu, ngegombal gak tau tempat," seloroh Mbak Sharika tanpa ragu.


Dion mengerucutkan bibirnya dan mendekati wajahku. "Sini, Sayang, bungkam mulutku!"


Mbak Sharika berdiri dari duduknya. "Ayo ke bawah, gaunnya sudah ada di fitting room."


Kami mengikuti langkah Mbak Sharika. Keluar ruangan dan menuruni tangga. Kembali memasuki ruangan yang cukup luas dengan setengah ruangan yang disekat menjadi dua, fitting room laki-laki dan wanita. Sementara ada sofa yang tertata di sudut ruangan untuk menunggu.


"Sa, kamu cobain dulu, ya! Biar dibantu sama Mbak Sita," tutur Mbak Sharika seraya mengenalkan seorang wanita yang sedang membawakan sebuah gaun putih untukku.


"Mari, Mbak," ucap Mbak Sita sopan.


Kami segera memasuki fitting room. Dengan telaten dan sabar Mbak Sita membantuku memakai gaun indah itu. Kulihat pantulan diriku di cermin besar yang menempel di dinding. Gaun yang indah sesuai dengan yang aku inginkan. Sederhana tapi elegan. Ternyata pilihan Dion sangat tepat.


"Sangat cantik dan pas, Mbak," puji Mbak Sita setelah melihatku mengenakannya.


Memutar tubuhku ke kanan dan ke kiri, sekali-kali memutar. Senyumku terpancar. "Cantik, ya, Mbak?" tanyaku meminta penilaian.


"Mbak selalu cantik memakai rancangan Mbak Sharika," nilai Mbak Sita yang membuatku bingung.


Kukernyitkan dahiku dan menatap Mbak Sita. "Selalu?"


Raut wajah Mbak Sita tampak berubah. Ia membungkam mulutnya seolah sedang keceplosan bicara. Ketidaktenangan sedang menghinggapinya hingga bisa terbaca dari gesturnya.

__ADS_1


"Ada apa, Mbak?" tanyaku seraya mendekatinya.


"Maaf, Mbak. Saya masih ingat kalau dulu Mbak pernah ke sini membeli kebaya dengan seorang lelaki tapi bukan Mas Dion. Saya masih ingat betul bagaimana serasinya kalian hingga saya selalu terbayang," aku Mbak Sita dengan wajah menunduknya.


"Kenapa Mbak ketakutan? Yang dulu itu mantan saya, Mbak," jelasku sesantai mungkin.


Perlahan senyum mulai mengembang di bibir Mbak Sita. Kecemasannya mulai memudar dan bisa bersikap biasa seperti sebelumnya.


"Mbak beruntung banget, kehilangan Mas yang tampan mendapatkan Mas Dion yang gak hanya tampan tapi juga ramah."


"Benarkah?" kupastikan pujian itu untuk mendengar cerita berikutnya.


Mbak Sita mengangguk. "Mas Dion sering ke sini Mbak, orangnya ramah dan suka bercanda dengan kami yang hanya karyawan ini. Bahkan tak jarang membawa banyak makanan untuk kita makan bareng-bareng."


Sebaik itukah suamiku? Dia memang baik.


"Mbak, tunjukin sama Mas Dion," ucap Mbak Sita yang membuatku segera meninggalkan fitting room.


"Gimana, Mas?" tanyaku segera saat pintu kubuka.


Deg!


Lelaki yang tengah duduk di sofa itu terpaku melihatku. Dan aku pun sama, terpaku melihatnya. Rupanya kami sama-sama terkejut. Aku tak mengira jika sofa itu sudah berganti penghuni, bukan lagi Dion tapi Mas Rud. Iya ... Mas Rud.


"Cantik," gumamnya yang masih terdengar sayup-sayup di telingaku.


Pujian itu terasa mencekatku. Menggulung bersama gelombang menghempas ke tengah lautan, lalu kembali lagi menyapu pasir di pantai. Tak bisa menemukan rasa yang berbuih di hatiku. Berniat membalik langkah, menghindar darinya.


"Kamu cantik, Sayang!" pujian kembali terdengar di telingaku saat baru saja badanku hendak kuputar.


Dion telah menggamit pinggangku. "Maaf, tadi aku angkat telepon di luar."


"Iya, aku kaget aja, kamu gak ada tapi ada dia," jelasku seraya mengisyaratkan mata menunjuk Mas Rud.


"Rud, ini punyamu, kamu coba dulu, ya!" pinta Mbak Sharika dengan 2 setel jas di kedua tangannya. Dia ulurkan jas berwarna hitam di tangan kanannya. Sementara jas berwarna sama yang ada di tangan kirinya diulurkan untuk Dion.


Kedua lelaki itu menerima setelan jas yang diberikan Mbak Sharika.


"Kalian coba barengan aja! fitting room kosong semua kan? Sa, kamu duduk dulu di sini! Mbak tinggal sebentar, ada tamu," pinta Mbak Sharika.


Aku pun segera menuju sofa untuk menunggu Dion memperlihatkan setelan jasnya. Kuambil HPku untuk mengusir sepi. Mengambil fotoku sendiri, mengabadikan sebagai kenangan. Setelah beberapa foto kudapatkan, aku dikagetkan oleh terbukanya pintu fitting room. Dua lelaki keluar bersamaan seolah sudah diskenario.


"Tampan,"

__ADS_1


__ADS_2