Tentang Hati

Tentang Hati
Menomorsatukan Novel


__ADS_3

Hari Sabtu sudah hadir lagi. Saatnya berkutat dengan hobi baruku. Ngedraf. Menulis rangkaian kalimat dengan diksi yang indah adalah ciri khasku. Setidaknya itu bukan hanya sekadar omong kosong tetapi banyak pembacaku yang bilang begitu. Mereka tertarik membaca novelku karena terhanyut oleh kata demi kata yang kususun.


Gencarnya promo yang dilakukan oleh geng Teletubbies, berpengaruh besar pada cepat melejitnya popularitas novel baruku. Belum genap seminggu lahir, sudah nangkring di lima puluh besar karya baru. Pencapaian yang patut aku banggakan. Persaingan di dunia karya seni online ini memang begitu besar dipengaruhi oleh relasi. Semakin banyak sahabat yang dimemiliki, maka akan semakin banyak dukungan yang akan membantumu menjadi famous. Mungkin itulah manfaat silaturahmi yang selalu dianjurkan dalam kehidupan kita sebagai makhluk sosial.


Selain itu keberuntungan juga punya andil besar terhadap laris atau tidaknya novelmu di hadapan pembaca. Banyak karya yang biasa tetapi pembacanya luar biasa. Namun tak sedikit karya dengan alur cerita menarik, menulis dengan menggunakan ilmu yang tinggi tetapi sepi dari peminat.


Oleh karena itu menulislah dengan hati. Karena sesungguhnya penulis itu bukan hanya berorientasi pada materi tetapi lebih dalam, kepuasan batin. Menjadi terkenal itu adalah bonus. Begitulah prinsipku. Di luar sana banyak penulis yang memaksa diri untuk cepat menjadi kaya. Itu tidak salah, tetapi semua butuh proses. Instan itu tidak direkomendasikan untuk kesehatan.


"Jalan-jalan ke taman, yuk!" ajak Dion dengan pakaian yang disesuaikan untuk jogging.


Dari balik laptop, kuangkat pandangan hingga singgah di mata Dion. Senyum permohonan maaf kupamerkan. Menolak permintaannya dan memilih untuk melanjutkan bermain dengan kata-kata. Tak patah arang, Dion membujukku dengan banyak alasan. Mulai dari penawaran makanan kesukaanku sampai mengajak shopping ke Mall. Sayangnya tak sedikit pun aku terusik. Hobi baruku ini terlalu asyik untuk ditukar dengan hal lain yang dulu sangat menarik.


"Nanti kan bisa kamu lanjutkan kembali."


"Lagi ngalir idenya. Nanti kalau ganti aktivitas, lupa."


"Yakin gak mau?"

__ADS_1


"Hm."


Tak ada lagi rayuan seperti biasanya. Kekeh yang biasa Dion lakukan, kali ini menghilang. Sejenak aku tertegun. Apakah ada sesuatu yang terjadi?


Perasaan yang mengatakan tak ada sesuatu yang salah dengan sikapku, selain menolak ajakannya membuatku mengabaikan sikap Dion yang tak biasa. Kembali kutarikan jemariku di atas keyboard.


Satu jam berlalu, Dion belum juga kembali. Kumasih santai. Mungkin saja ia masih membeli makanan atau bertemu seorang kawan. Atau bisa saja masih berolahraga. Setelah jogging mungkin tertarik untuk bergabung main basket atau pun futsal di lapangan taman.


Kuteruskan kembali kegiatan menulisku. Mengabaikan jam sarapan yang sudah terlewat beberapa jam. Tenggelam dalam kehaluan. Rasanya bukan berusaha untuk keluar dari kolam tetapi ingin mengendap semakin dalam. Menjangkau dasar dan bertahan dalam keabadian.


Ketika waktu menjelang pukul sepuluh dan dia belum juga kembali, aku mulai panik. Bukan khawatir dengan keselamatan raganya, melainkan was-was dengan keadaan perasaannya. Bukan Dion namanya jika bisa jauh dariku hanya untuk urusan sepele.


Kuraih benda pipihku. Namun sayangnya aku juga menemukan benda serupa milik Dion yang berjejer di sebelahnya. Gagal sudah niatku untuk menghubunginya. Sepertinya dia sengaja meninggalkan benda itu agar aku semakin merasa khawatir. Akhirnya kupilih untuk beranjak dari posisi duduk. Mengambil kemeja flanel Dion yang kebetulan terserak di sandaran sofa untuk kugunakan sebagai luaran dari dressku yang tanpa lengan.


Segera keluar dari apartemen dan menyusuri sepanjang jalan untuk menuju ke taman. Mencari ke sana kemari dan tak ada juga Dion di sana. Kulanjutkan pencarian di gerobak-gerobak penjual makanan. Berharap dia sedang mengisi perutnya yang diserang rasa lapar. Sayangnya dia tak ada di mana-mana.


Aku istirahatkan diriku sebentar. Mendudukkan diri di bangku taman yang berada di antara pohon-pohon rindang. Merasakan sedikit sakit karena perutku rasanya melilit. Aku lupa belum sarapan. Tadi hanya minum susu hamil dan menelan vitamin. Setelahnya kukuras lagi lewat pemikiran keras.

__ADS_1


Rasanya, tak sanggup jika harus berjalan kembali ke atas. Memilih untuk beristirahat. Mau memesan makanan tetapi aku lupa gak bawa uang. Kuhindari untuk berutang, mengikuti prinsip Dion yang anti dengan jerat yang keparat. Namun, bagaimana keadaan ini harus kuatasi jika benda pipihku juga lupa untuk kubawa.


Setelah beberapa saat, rasa sakit di perutku mulai menghilang. Kupaksakan untuk melangkah. Ketika perjalanan melewati setengah jarak yang harus kutempuh, perutku kembali merasakan perih. Terus kutahan hingga pintu apartemen mulai nampak di penglihatanku. Semakin kupaksakan untuk segera mencapainya. Meskipun sedikit tersendat akhirnya langkahku berhasil melewati pintu itu. Segera menghambur ke sofa dan berbaring lemah di sana.


Sakit terus melilit. Tenaga semakin tiada. Ingin meraih air putih di meja nampun tanganku tak bisa menjangkaunya. Kupaksa untuk sedikit mengulurkan lengan. Sayang, masih jauh juga dari genggaman. Terus kugeser pelan badan namun yang terjadi justru tubuhku yang terjatuh ke lantai.


Dalam keadaan yang makin kesakitan, kutetap berusaha untuk meraih air minumku di mejaku. Tinggal sedikit lagi sampai tetapi tiba-tiba pandanganku menghitam. Gelap.


Tetap kuberingsut dengan mata terpejam, kepalaku rasanya masih pusing dan tenaga masih lemas. Kupaksakan untuk terus menggapai minum. Rasanya haus sekali. Keperihan perut kuabaikan. Fokusku sekarang adalah minum dan menghubungi seseorang yang bisa kumintai bantuan. Benda pintarku, itu adalah hal kedua yang harus kuambil setelah ini.


Setelah berusaha sekuat tenaga, akhirnya air minum itu berhasil kuambil. Bergegas meneguk hingga tak sedikitpun meninggalkan sisa. Membasahi kekeringan yang melanda organ. Rasanya sedikit lebih baik. Kukumpulkan tenaga untuk melanjutkan misi kedua. Mengambil benda pintar.


Tenaga yang sedikit menunjukkan diri, kumanfaatkan untuk berjalan. Meskipun sedikit menahan sakit, tetapi terus kuayunkan. Beberapa langkah maju dan segera merebah kembali di sofa.


Kuembuskan napas panjang. Sedikit langkah saja sudah membuat tenaga yang tadi ada kini sudah kembali sirna. Detak jantung yang tidak beraturan, perlahan kunormalkan. Mengumpulkan lagi kekuatan untuk mengetikkan sesuatu di benda pintar. Mencari pertolongan, untuk sekedar mengambilkanku makanan. Kontak yang kucari pertama adalah si Abang.


Berharap dia ada di apartemen, walaupun kutahu semalam ia pulang ke rumah Papa. Berdoa semoga dia telah kembali sehingga dapat segera membantuku keluar dari masalah ini. Baru sempat mengetik beberapa kata, rasanya aku diserang pusing lagi. Mata berkunang-kunang dan pandangan seketika menghilang. Gelap. Kali ini benar-benar gelap.

__ADS_1


__ADS_2