
"Calon pengantin mau diselametin gak, nih, ngakak mulu," gemuruh suara lelaki berbadan gembul itu membuyarkan lamunanku.
"Bahagia, Bro," jawab Mas Rendra menerima toss cool ala-ala lelaki itu.
"Yang mana, nih, calon kakak iparku?" tanya lelaki gembul itu karena melihatku dan Maya berdiri sejajar Mas Rendra.
"Coba tebak!" Mas Rendra meminta.
Lelaki gembul itu memfokuskan pandangannya. Bukan padaku dan Maya, tapi malah pada Dion dan Mas Rendra
"Ini, pasti si Rosa!" ketuk palu lelaki gembul tersebut.
Aku terkejut dengan hasil analisanya yang 100% benar. Cenayang, nih, jangan-jangan si gembul.
"Atas dasar apa?" Mas Rendra mengulik.
"Di matanya Dion, ada gambarnya dia," jelas lelaki gembul itu sambil menunjukku.
Ku alihkan sudut pandang mataku pada Dion. Ingin mendapati apa yang baru saja lelaki itu katakan.Tapi aku tak mampu menemukan apa pun. Matanya Dion, sama seperti mata orang-orang pada umumnya.
"Bener kan?" tanyanya langsung menyalamiku.
"Kakak Ipar, aku mendukungmu! Buat hatinya Dion terkungkung oleh cintanya padamu!" pesan lelaki gembul itu.
"Dia calon pengantinnya Mas Rendra!" jelasku menunjuk Maya, agar si gembul ini lekas pergi dariku.
"Aku, tau! Tapi, aku harus kenal juga dengan kakak ipar yang meluluhlantakkan cinta Dion!" ungkapnya sambil melirik Dion.
Aku ikutan melirik Dion dan tersenyum. Sedalam itukah perasaan Dion ke aku? Segentle itukah Dion mengakui kalau dia jatuh cinta padaku sehingga semua orang mengetahuinya?
"Kakak, ingat, aku! Namaku Igor! Ku tunggu undangan berikutnya dari kalian!" Igor berpesan.
Lagi-lagi aku membalasnya dengan senyum. Karena hanya itulah, yang bisa ku lakukan pada lelaki satu ini yang tak ku ketahui seluk-beluknya, tapi terus-terusan nyerocos.
Akhirnya, Lelaki gembul yang mengaku bernama Igor itu berlalu dari hadapanku dan ganti menghampiri Maya.
"Di, dia siapa?" aku mendekati Dion dan bertanya lirih.
"Dia temenku main futsal," jelas Dion.
"Bisa dia main futsal? Bukankah dia lebih cocok jadi bolanya," celetukku.
Dion menyentil dahiku setelah mendengar celetukanku.
"Jangan ngasal," ucapnya.
Aku nyengir membalas ucapan Dion
__ADS_1
Lelaki gembul itu, Igor maksudku, rupanya tak datang sendiri. Ada 2 orang lelaki lagi di belakangnya. 1 lelaki berkulit coklat berhidung mancung ala-ala shahrukhan, yang ku pastikan keturunan india. Dan 1 lagi, lelaki berkulit putih dengan pancaran mata lembutnya.
Tatapan lembut?
Itu kata yang gak asing di telingaku!
Itu pandangan yang membuatku deja vu
Ya ... deja vu
Mas Rud ...?
Iya ... lelaki itu ku pastikan 2020% adalah Mas Rud
Tunggu sebentar!
Kenapa aku lupa?
Si Igor yang gembul tadi, bukannya salah satu dari lelaki yang bersama Mas Rud di luar ruangan tadi. Mengapa aku tak menyadarinya? Apakah sefokus itu aku padamu, Mas? Hingga Igor yang segitu ukurannya, gak nampak di mataku?
Aku mulai gelisah, mengetahui posisi Mas Rud yang berjarak kurang dari 3 meter di hadapanku. Aku mulai kehilangan fokus.
Fix ... salah tingkah!
Itulah penjelasan dari gerakan-gerakan aneh yang ku lakukan. Rupanya Dion menangkap kerisauanku. Dia lalu mendekatiku dan memeluk lembut pinggangku. Aku sedikit tersentak oleh tindakan Dion. Aku hendak melangkah pergi, tapi Dion malah mempererat sentuhan tangannya yang melingkar di pinggangku.
Aku menguatkan hatiku yang sudah kacau balau. Pandanganku tak mampu menatap mata Mas Rud. Hanya sesekali ku kuatkan mataku untuk bermain di wajahnya. Berharap menemukan matanya yang tak sengaja bermain ke arahku. Tapi nihil! Dia tak pernah sedikitpun melirikku.
Menyedihkan!
Ahh bukan ... Ini menyebalkan!
Bisa-bisanya dia bersikap seolah-olah tak mengenalku!
Bukan ... bukan tak mengenalku!
Tapi tak mau melihatku!
Gejolak rasa dihatiku meluap tak berarah. Kesedihan yang awalnya merajai, berangsur mengalami metamorfosis sempurna. Hatiku yang kecewa dengan sikapnya, semakin menghimpit sudut-sudut pikiranku yang menggaungkan teriakan menyatakan bahwa ini tak benar.
Berani-beraninya dia bersikap begitu padaku!
Mana Rosalia, si gadis ketus di hadapan Dion selama 10 tahun?
"Kamu, mau main-main sama perasaanku, Mas?" gumamku.
"Baiklah, aku ladenin, kamu!" gumamku kemudian.
__ADS_1
Biarlah hati yang sudah tercabik-cabik ini, semakin ambyar.
Ku tarik nafas panjangku, sambil ku pejamkan mataku. Mengumpulkan serpihan-serpihan keketusan dan sikap pura-pura bahagia yang kemarin ku lelehkan di pelukan Dion.
Kalau kamu bisa, aku juga bisa, Mas!
Mari ku sempurnakan sandiwara yang telah kamu mulai.
"Selamat ya, Ren! Bahagiakan Maya! Jangan digombalin terus!" ku dengar Mas Rud berucap pada Mas Rendra
"Jangan digombalin terus?" gumamku menirukan kata-kata Mas Rud.
Hei, Mas! Kamu sudah lupa dengan gombalanmu padaku? Sok banget nasehatin orang! Ini batinku yang berbicara tapi ekspresi mukaku pasti nampak memerah menahan emosi.
"Itu pasti, Bro! Maya adalah pilihan hatiku. Dan aku akan memastikan dia selalu bahagia disampingku!" tegas Mas Rendra
Mas Ren, tekanin tuh kata "selalu bahagia disampingku" pada manusia di depanmu itu. Cuci otaknya, kalau perlu! Bilas semua pemikirannya dan tanam lagi paham-paham kebenaran tentang cinta. Semaikan benih-benih kegentlean pada otaknya itu. Matikan semua kecemenannya, yang membuatnya bisa menghilang tiba-tiba dari orbit cintanya padaku.
Aku terus saja mengomel dalam hatiku. Merutuki perbuatannya, yang tak bisa merealisasikan, semua janji-janji manis yang sempat diumbarnya.
"Ayo, makan dulu!" ajak Dion menghentikan aksi membatinku.
"Ren, kami makan dulu !" Dion sengaja mendekati Mas Rendra dan Maya dulu sebelum pergi.
Dion pasti sengaja melakukan ini. Sudah tau Mas Rendra lagi ngobrol sama Mas Rud, malah disamperin.
"Eh, ada Mas Rud!" aku sok kuat dengan menyapanya duluan.
Mas Rud tersenyum dengan tenangnya menanggapi sapaanku. Aku semakin gemas. Rasanya ingin ku hantam saja bibirnya itu, dengan belasan bahkan mungkin ratusan pertanyaan galauku. Biar bibir yang terus saja tersenyum itu berubah menjadi menangis. Menangis karena menyesal sudah meninggalkanku, yang terjerembab janji-janji fiksinya.
"Baiklah, aku ke sana duluan ya! Selamat mengobrol! Sampai ketemu besok di kantor!" ucapku penuh senyum kepalsuan.
"Sepertinya, kita gak akan ketemu lagi di kantor! Aku, udah resign!" Mas Rud menjelaskan masih dengan senyum penuhnya itu.
Aku kaget!
Teramat kaget!
Tapi sesegera mungkin ku kuasai diriku lagi!
"Owghh begitu! Baiklah, semoga kamu berhasil di tempat yang baru!" doaku penuh senyum padahal hatiku telah berserakan.
Aku membalikkan badanku dan mengambil nafas dalam. Ku genggam tangan Dion dan menariknya pergi.
"Ayo, ke mobil!" ucapku cepat.
Ohh kakiku rasanya menjadi lunglai tak bertulang. Tapi tetap ku paksakan melangkah menjauh. Air mataku rasanya sudah hampir tumpah. Pertahananku hancur, luluh lantah dan entah apa ku sebutnya.
__ADS_1