
Sepanjang lorong Rumah Sakit, Dion tak sedetikpun melepaskan genggaman tangannya pada jemariku. Dia seolah mengisyaratkan bahwa tak akan melepaskanku. Dia sepertinya sadar jika terus aku perhatikan. Dia lepaskan genggaman jemari tangannya kemudian merangkul pundakku. "Aku bukan hanya bisa menjadi kekasih yang akan selalu menggenggam jemarimu, tapi aku juga bisa menjadi teman yang merangkul bahumu. Ada aku di sini, kamu tak membutuhkan lelaki lain." Dia ucapkan semua itu dengan senyum di wajahnya dan sebuah sentilan di hidungku.
Aku hanya melihatnya dengan senyuman. Dia lucu jika sedang di dera cemburu. Bukannya marah tapi dia malah semakin menghujaniku dengan keromantisan. Lucunya pacarku ini.
*****
Waktu sudah mendekati pukul 14.00 saat aku menginjakkan kaki di lobi kantor. Ku langkahkan kakiku pasti, ku tinggalkan segala kegalauan yang ingin membelengguku. Ku bersenandung kecil di temani senyum yang tak ku pudarkan dari bibirku.
"Bahagia banget yang habis ketemu mantan?" suara khas Pak Aryan tiba-tiba datang dari belakangku.
Aku menoleh sebentar. "Habis, mantannya ganteng, sih, Pak."
"Aku juga ganteng, bisa daftar juga donk?" celetuk Pak Aryan.
"Daftar aja ... sama Dion," ucapku sambil tersenyum smirk.
Pak Aryan mendahului langkahku. "Ikut ke ruanganku!"
Ke ruangannya lagi? Mau bahas apa lagi? Mentang-mentang atasan, sebentar-sebentar nyuruh ke ruangannya. Hah, untung aku mencintai pekerjaanku. Kalau gak, sudah resign dari kemarin-kemarin. Walaupun dengan ngedumel, aku tetap melangkah mengikutinya.
"Bapak, suka sekali menyuruh saya ke ruangan, Bapak?" tanyaku cuek.
Pak Aryan memilih duduk bersender di mejanya. "Aku memang suka, kamu."
"Saya sudah bilang, Bapak terlalu tua untuk saya, saya gak minat mendua." celetukku.
"Aku tunggu, kamu, menjadikanku yang pertama dan satu-satunya. Sudahlah jangan bercanda, gimana keadaan Mas Rudmu itu?"
Jangan bercanda? Situ gak sadar, Pak, siapa yang mulai? Malah membolak-balikkan fakta. Untung aku sabar.
"Dia udah baikan, Pak. Tinggal pemulihan dan saya rasa bisa secepatnya pulang," jelasku.
"Syukurlah kalau begitu, aku lega mendengarnya. Ya sudah, cepat kerja lagi! Ngapain masih di sini? Kangen sama aku?" ucap Pak Aryan dengan senyum smirknya.
Tanpa banyak kata, aku langsung berdiri dan segera menjauhinya. Sebelum itu aku berhenti di hadapannya dan ku tegaskan kata-kataku. "Bapak belum pernah ditimpuk cewek cantik?"
*****
Aku tengah asyik merebahkan diriku di ranjang. Mendengarkan lagu-lagu pop dari siaran radio favoritku. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba mataku tertuju pada tas kecilku yang berada di atas meja riasku. Itu tas yang kemarin aku pakai ke acara lelang amal. Ku ambil tas itu dan ku cari sesuatu yang baru saja ku ingat. Ya ... HP Mas Rud.
"Kenapa aku bisa melupakan ini?" gumamku.
Berarti aku harus menemuinya lagi. Mengajak Dion lagi? Iya, aku akan mengajak Dion. Aku gak mau sendiri menemuinya. Hatiku tak cukup kuat untuk menghadapi pesonanya. Meskipun aku berusaha menolak sekuat hati, tapi aku tak yakin bisa teguh jika hanya berdua dengannya.
__ADS_1
Segera ku dial nomor Dion.
"Ada apa, Sayang?" Dion langsung mengangkat teleponku.
"Suaramu nampak lelah, kamu belum pulang?" tanyaku.
Dion memperdengarkan tawa khasnya. "Kamu kayak cenayang, Sayang. Iya, aku masih di kantor, ada kerjaan yang harus ku selesaiin. Ada apa?"
"Aku lupa mengembalikan HP Mas Rud. Kapan kamu bisa menemaniku untuk mengembalikannya?" aku berhati-hati memilih kata untuk kalimatku.
Aku menunggu jawaban Dion, tapi dia belum juga bersuara. Aku juga turut diam, aku tak mau jika aku kembali mengulang pertanyaan, maka Dion malah akan marah.
"Maaf, ya, dua hari ke depan aku gak bisa, besok aku harus ke Surabaya," jelas Dion kemudian.
"Enaknya gimana?" aku meminta pendapatnya.
Bagaimanapun, aku harus meminta pendapatnya. Memang hubungan kami masih sebatas pacaran, tapi aku merasa punya tanggung jawab untuk menjaga perasaannya. Aku mencintai Dion, aku serius dengan hubungan ini. Walaupun awalnya kisah ini berasal dari kenyamanan karena ditinggalkan, mungkin bisa disebut pelampiasan, tapi pada akhirnya aku berharap hubungan ini akan berakhir di pelaminan. Meskipun hatiku masih sedikit tergoda oleh Mas Rud, tapi sesungguhnya aku mencintai Dionku.
"Ajak Maya, aja," saran Dion.
Aku tersenyum. "Baiklah, Sayang, besok aku akan mengajak Maya. Kamu masih lama pulangnya? Ini udah malem lo, apalagi besok kamu mau ke Surabaya."
"Aku seneng kalau pacarku perhatian gini," tutur Dion.
"Jangan buru-buru," kataku.
"Kesabaranku mulai menipis," jujur Dion.
"Buruan kelarin tuh kerjaan terus pulang, biar cepet bisa istirahat," aku mengalihkan topik pembahasan.
Tahu sendiri kan, gimana Dion kalau sudah ngomongin perasaan. Bakalan bisa berepisode-episode, bisa nyambung sampai besok pagi.
"Ya udah, kalau gitu aku nerusin kerjaanku lagi, ya. Kamu juga istirahat, jangan main HP terus," ingatnya.
Dion tahu aja kebiasaanku. Sampai pesannya langsung tepat sasaran. Menjadi pacarnya serasa diawasi cenayang. Walaupun begitu, aku menikmatinya. Menikmati setiap perhatian dan keromantisan yang tiada habis dia curahkan untukku.
*****
"Kenapa, kok, celingak-celinguk?" tanya Pak Aryan yang sudah berdiri di samping mejaku.
Aku menoleh ke arahnya. "Nungguin Maya gak dateng-dateng, Pak."
"Hari ini, kedua sahabatmu itu izin, ada urusan keluarga katanya," jelas Pak Aryan.
__ADS_1
Mengapa Pak Aryan bisa tahu? Mereka gak adil banget. Okelah, mereka izin Pak Aryan karena dia atasan kami. Namun aku kan sahabatnya, teganya aku gak dikasih tahu.
"Ada apa, sih, nyari Maya?" Pak Aryan mulai kepo.
"Gak usah kepo, deh, Pak," ucapku enteng.
"Aku bisa gantiin Maya kalau kamu perlu bantuan," tawar Pak Aryan.
"Terimakasih, Pak, saya sendiri saja," jawabku.
Pak Aryan tersenyum. "Aku gak ikhlas kalau temenku, perempuan yang cantik ini pergi sendirian."
"Siapa juga yang mau pergi?" ucapku judes.
Pak Aryan melembutkan suaranya. "Mau kemana, sih?"
"Jenguk Mas Rud," aku spontan menutup mulutku.
Ups! Kenapa aku keceplosan? Pasti aku tak bisa membuatnya mundur kalau dia tahu aku mau kemana, apalagi untuk menjenguk Mas Rud. Dari kemarin dia sudah menawarkan diri untuk ikut. Ah, bagaimana ini?
Aku mencoba menelepon Dion, tapi HPnya gak aktif. Dia pasti di pesawat, karena tadi dia bilang pesawatnya delay tiga jam. Akhirnya ku kirim pesan lewat WA. Ku bilang Maya dan Mas Rendra gak masuk hari ini dan Pak Aryan memaksa ikut menjenguk Mas Rud. Memang begitu kenyataannya, jadi ku rasa aku termaafkan.
"Ayo, berangkat!" ajak Pak Aryan.
Aku menunjuk jam di tanganku. "Masih jam sepuluh, Pak, saya ke sananya waktu makan siang."
Pak Aryan tersenyum lagi. "Ok!"
*****
Pukul 12.00 siang masih kurang lima menit lagi. Aku mulai mematikan laptopku. Ku cek lagi HP yang ingin ku kembalikan, jangan sampai ketinggalan. Tak lupa, ku rapikan sedikit penampilanku.
"Udah cantik, jangan dandan lagi. Nanti Rud bakal jatuh cinta lagi," tiba-tiba Pak Aryan sudah di belakangku.
"Sengaja emang, biar makin cantik. Nanti kan seru kalau dia jatuh cinta lagi, Pak," selorohku.
"Kalau gitu, aku ikut juga dong, biar makin seru," timpal Pak Aryan.
Aku beranjak berdiri dan mulai melangkah meninggalkan Pak Aryan. Dia mengikutiku dan terpaksa berhenti sebentar tiap kali ada karyawan lain yang menyapanya. Terkenal sekali dia, hanya seorang manajer tapi semua orang menghormatinya. Jangan-jangan benar yang dibilang Pak Key kemarin itu?
*****
Jangan lupa like, komen n vote jika berkenan.
__ADS_1