Tentang Hati

Tentang Hati
19 dan 20


__ADS_3

Kesejukan pagi menerobos jendela kamarku dan memberikan ketenangan pikiran. Kekalutan semalam sudah tak lagi menggangguku. Ku sambut Sabtu pagi ini dengan semangat untuk segera bersiap jalan.


Ya ... ketika bangun tadi pagi aku dapati WA dari Maya yang mengajakku ke pantai. Tempat favorit yang sudah beberapa tahun tak pernah lagi kukunjungi. Memang mendadak, tapi aku tak akan melewatkannya meskipun tanpa persiapan. Itung-itung refreshing!


"Jadi pergi, Sa?" tanya Mama saat melihatku sudah menggendong ranselku.


"Iya, Ma," jawabku sambil mencium tangan mama.


"Dijemput kan?" tanya Mama lagi.


"Rosa yang kesana, Ma, kasihan kalau mesti jemput kesini, nanti kan jalannya balik lagi kesana," jelasku.


"Ya udah, hati-hati! Kabarin Mama kalau sudah sampai," pesan Mama ketika mendengar suara ojol memanggilku.


"Baik, Ma, Rosa berangkat dulu!" pamitku sambil memeluk Mama.


*****


"Kenapa berhenti, May?" tanyaku saat Maya menepikan mobilnya di depan sebuah rumah berwarna biru.


"Halo semua, butuh sopir kan?" sapa Mas Rendra yang keluar dari gerbang rumah bercat biru tersebut.


"Mas Rendra ikut?" tanyaku pada Maya.


Maya membalas tanyaku dengan senyuman. Waah ... alamat jadi obat nyamuk ini! Bukannya refreshing tapi malah bikin tambah fushiiiingg!


"Tau gini, aku gak ikut," gerutuku yang harus pindah duduk ke bangku belakang.

__ADS_1


Sementara Mas Rendra dan Maya menguasai bangku kemudi dan sebelahnya. 'Tu kan, belum apa-apa udah jadi korban!


Bete tau!


"Sa, tu muka jangan ditekuk mulu napa," ucap Mas Rendra.


"Hmmm ...." jawabku.


"Sekali-kali gak ada Rud gak pa-pa kali," timpal Mas Rendra.


"Siapa yang nyari dia?" gerutuku.


"Nyari sih gak, tapi bete mulu! Itu sih 19 20 kali!" cerocos Maya.


Maya dan mas Rendra tertawa cekikikan. Aku menyenderkan kepalaku ke sandaran kursi dan memejamkan mata. Mencoba menipiskan penat yang makin lama pasti akan semakin tebal karena menyaksikan kelakuan mereka berdua.


"Hooaaam," aku menguap dan mencoba melihat jam di HPku.


Aku mengerjapkan mata! Perlahan mulai nampak sesosok lelaki yang samar dan semakin jelas itu milik Mas Rud.


"Iler tuh iler!" celetuk Maya.


"Mas Rud," aku mencoba mencari kebenaran dari hasil penglihatanku dan mengabaikan ocehan Maya


Mas Rud hanya tersenyum ke arahku dan mengacak rambut di puncak kepalaku seperti biasanya.


"Senyum mana senyum!" goda Mas Rendra

__ADS_1


*****


Menanti sunset! Itulah jadwal wajib kami setelah tiba di pantai yang menghabiskan waktu 3 jam perjalanan untuk sampai di sana.


Aku bisa menemukan birunya laut dan putihnya pasir pantai yang terhampar sepanjang mata memandang. Sebuah maha karya yang luar biasa fantastis.


"Kita makan dulu, baru kesana nanti!"kata Mas Rud yang berdiri menemaniku di balkon resort tempat kami akan menginap.


"Aku udah kenyang, Mas!" celetukku sambil senyum iseng ke arah Mas Rud.


"Kenyang karena melihatku? Dah kebaca! Ayo makan!" ajak Mas Rud sambil menggandeng lenganku meninggalkan balkon.


Aku tersenyum melihat ulah mas Rud. Merasa geli tapi aku juga menikmati perhatiannya.


"Gandengan terus," ucap Mas Rendra yang melihat kami baru sampai di tempat makan yang sudah dipesan Mas Rendra.


"Punya pacar cakep mesti digandeng, Mas," jelasku.


"Takut khilafnya udahan ya?" ucap Maya yang baru dateng dari toilet.


"Mana ada begitu! Yang ada juga aku yang khilaf!" tegasku.


"Aku bener-bener gak nyangka loh bisa liat kalian begini! sama- sama pendiam tapi begitu jadian eh bisa juga lebay alay melambai-lambai," ungkap Mas Rendra.


"Itulah kekuatan cinta!" seru Maya.


"Nah, itu tau!" Mas Rud bersuara.

__ADS_1


"Kalian kapan nikah? Dah tua, malu kalau pacaran mulu!" selidik Mas Rendra.


Aku dan Mas Rud sama-sama saling berpandangan. Seolah saling mengisyaratkan sama-sama menemukan sesuatu dibalik pertanyaan mas Rendra tadi. Mata kami sepertiny saling bicara. Menumpahkan kegamangan rasa yang belum mampu untuk sama-sama kami utarakan.


__ADS_2