Tentang Hati

Tentang Hati
Pagi Terakhir Di London


__ADS_3

Sabtu, 06.00 waktu London.


Pergi untuk kembali. Setiap perjalanan pasti akan menemui ujungnya, begitu pun keberadaan kami di London. Hari ini adalah hari terakhir kami untuk menghirup udara di kota yang memberikan kenangan yang tak akan bisa kami lupakan. Awal untuk sebuah hubungan yang indah, ketika sesuatu yang sangat berharga itu, aku serahkan untuknya, suamiku tercinta.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Dion yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Lagi video call sama Maya," terangku sambil duduk manis di depan laptop.


Dion mendekat ke ranjang dimana aku sedang melepas kangen dengan sepupu baruku. Ia pun segera naik ke ranjang dan duduk di sebelahku. "Mana suami tukang gombalmu, May?" sapa Dion to the point tanpa menanyakan kabar.


"Kenapa mencariku? Apa mau tanya jurus jitu?" ucap Mas Rendra yang tiba-tiba saja memperlihatkan dirinya di belakang Maya.


"Aku sudah punya jurus jitu sendiri," sombong Dion dengan senyum seringainya.


"Sudah berapa kali selama seminggu ini? Atau belum sama sekali?" selidik Mas Rendra dengan gaya mengejeknya.


"Setiap bangun, tidur lagi," celetuk Dion tanpa dipikirkan.


"Maklumin aja, sepuluh tahun nunggu," seloroh Mas Rendra skak mat.


Membiarkan kedua sepupu itu berkelakar, aku dan Maya malah asyik dengan HP masing-masing. Kubuka beberapa chat yang belum sempat kubaca. Rata-rata menanyakan bagaimana honeymoon kami di sini. Mulai dari Mama, Kristy, Mami, Mbak Sharika dan juga Pak Aryan. Hah, Pak Aryan? Ngapain dia WA?


Segera kubaca dan ternyata ia memberiku kelonggaran jika masuk kerja hari Selasa saja. Benar-benar seorang atasan yang sangat pengertian. Aku pun membalasnya jika akan tetap masuk Senin. Sudah terlalu lama meninggalkan dunia yang kusukai, aku rindu.


Apakah kamu merindukan temenmu, ini? Ngotot banget masuk hari Senin,


Begitulah balasan darinya saat aku kekeh untuk tak menambah cuti. Tiba-tiba HPku diambil Dion saat aku hendak mengetikkan sanggahan untuk pertanyaannya. Tak kutahan benda yang diambilnya dan aku kembali fokus ke layar laptop. Mati. "Maya?" tanyaku kemudian.


"Kamu, sih, terlalu asyik sama HP, sampai mereka say goodbye gak tahu," jelas Dion seraya mulai membaca pesan di benda pintarku.


"Rupanya dia yang mengalihkan duniamu?" gerutu sebal Dion seraya membuang HPku begitu saja di ranjang.


Sementara ia perintahkan tubuhnya untuk turun dari ranjang dan berjalan kembali ke arah kamar mandi. Kuikuti langkahnya dengan cepat. Dan berhasil menangkap lengannya sebelum ia sempat membuka pintu kamar mandi. "Jangan cemburu, kumohon."


"Siapa yang cemburu? Aku mau mandi, ini udah siang. Kita harus segera sarapan," jelasnya seraya kembali menggerakkan kakinya menuju tempat yang ia mau.


"Wajahmu bilang kalau kamu sedang cemburu, Sayang," jujurku, secepat kilat berdiri menghalangi di depan pintu kamar mandi.


Tanpa menjawab pernyataanku Dion memutar balik langkahnya dan kembali rebahan di ranjang. Meraih remot dan menyalakan televisi. "Kalau aku gak boleh mandi, sini temani aku! panggil Dion sembari tersenyum smirk.


Dengan tersenyum penuh, aku pastikan langkah untuk mendatanginya. Menaiki ranjang dan merebahkan diri di sampingnya. Memeluk tubuhnya dan merasakan aroma maskulin yang menguar tipis. Menelusuri indra penciumanku dan mendatangkan rasa nyaman yang mengaliri seluruh perasaanku.


"Mas," panggilku mesra.


"Mau, minta?" Dion menanggapi sikap manjaku.


"Pak Aryan ...." kataku tercekat sementara.

__ADS_1


"Kenapa dengannya?" Dion mulai mengulik.


Tekadku bulat untuk meluruskan kisah antara aku dan Pak Aryan. Hubungan yang tak lebih dari sekadar pertemanan itu jangan sampai runyam dikemudian hari. Meskipun ada rasa darinya, toh selama ini dia tak pernah mengganggu hubungan kami. Aku tak bisa melarangnya untuk mencintaiku. Yang kumampu hanya membuktikan bahwa cintanya tak akan membuatku berpaling dari Dion.


"Jangan mencemburui Pak Aryan, aku hanya menganggapnya teman, gak lebih dari itu," jelasku seraya memeluknya.


"Aku juga menganggapnya teman. Namun, dia tetap lelaki yang mencintaimu, bagaimanapun jangan berlebihan dekat dengannya," ungkap Dion dengan mengukir senyumnya. Tangannya tak luput dari membelai rambut panjangku yang tergerai.


"Iya," singkatku meyakinkan kepercayaan yang telah ia berikan.


"Aku tahu hatimu bukan tipe yang mudah berpaling. Kamu adalah wanita yang susah jatuh cinta tapi sekali rasa itu datang, akan sangat dalam. Hati yang telah kamu pasrahkan untukku, akan kupastikan jika tak ada hati lain yang memasukinya," tutur Dion dengan penuh ketegasan tapi tetep dengan nada yang lembut.


"Seperti itulah hatiku. Meskipun aku pernah melukaimu dengan keraguan tapi sekarang aku sudah yakin bahwasanya kamu yang terbaik untukku. Masa depan yang membahagiakan, bukan masa lalu yang telah menyakiti," pengakuanku yang mungkin sudah terlambat tapi aku bahagia bisa mengakuinya.


"Tentu saja aku membahagiakan, karena aku yang mengenalkanmu pada surga," ucapnya ambigu.


Kuangkat kepalaku, ingin menangkap ekspresi dari pemilik kalimat yang multi tafsir tersebut. "Surga, apa?"


Hidungku terasa sakit karena dicubitnya. "Kamu paham, ya? Ha-ha-ha ...," tawanya dengan puas.


Balas kucubit perutnya yang tertutup kaos oblong hitam itu. Sebuah pekikan ia suarakan. Bukannya membalas dengan menggelitikku, dia malah mencuri sebuah kecupan kecil di bibirku. Terkesiap, tapi aku suka dan selalu suka dengan dengan tindakan manisnya.


"Semalam, kamu tidur jam berapa, Yang?" tanyaku setelah mengingat jika Dion disibukkan dengan laptopnya saat aku packing, bahkan sampai aku hendak memejamkan mata.


"Tidak lama setelah kamu tidur," jawabnya seraya fokus pada televisi.


"Hmmm ...," Dion seperti baru menyadari jika aku ikut menyimak siaran televisi. Dia menoleh dan kemudian tersenyum.


"Iya, keperawanan. Buat kamu sepenting apa?" tanyaku untuk kedua kali dan semakin kuperjelas kalimatnya.


"Bagiku, bukan masalah keperawanannya tapi bagaimana ia menjaganya. Setiap wanita pasti berusaha untuk menjaga mahkotanya tersebut. Mirisnya, seringkali ia menjadi korban, entah korban janji manis karena pergaulan yang salah ataupun menjadi korban tindak pelecehan. Namun, aku bahagia, karena istriku ini memberikannya untukku. Makasih, Sayang," jelasnya disertai ungkapan sayang dengan sebuah kecupan di keningku.


"Seandainya aku sudah tidak ...? Apakah kamu akan meninggalkanku?" tanyaku memastikan sesuatu yang sebenarnya tak akan berpengaruh apapun.


"Tentu saja, aku nyari yang masih segelanlah, secara aku juga masih segelan," akunya yang justru membuat pertanyaanku menggurita.


"Masa?" ejekku.


"Gak percaya? Sini, aku buktiin!" senyum miring mengukir di bibirnya.


"Kamu bukan mau buktiin tapi modus," timpalku beranjak bangun dari rebahan.


"Kamu meragukanku! Padahal aku menjaganya hanya untukmu, tahu," gerutu Dion.


"Masih segelan tapi kok udah mahir?" selidikku sambil menempelkan jari telunjuk di bibirnya. Mengisyaratkan sebuah ciuman kelas tinggi dari seseorang yang mengaku belum pernah melakukan sebelumnya.


"Aww!" pekikku menahan rasa sakit dan kaget. Tiba-tiba saja telunjukku disambar ke dalam mulutnya dan gigi-giginya dirapatkan dengan jariku diantaranya, digigit. Spontan kupukul pahanya dengan keras dan ia pun ikut berteriak juga.

__ADS_1


"Mantan, petinju kamu, Yang? Pukulanmu sakit," ujarnya sambil mengusap-usap pahanya yang baru saja kupukul dengan sekuat tenaga.


"Baru tahu? Lagian, main gigit-gigit, aja. Sakit tahu," gerutuku sebal dengan mengerucutkan bibirku membentuk huruf U.


"Kamu pikir aku juga gak sakit? Sakit banget tahu," akunya tak kalah sebal.


"Tapi sakitnya gak lebih dari kutolak berkali-kali, kan?" ejekku.


"Lebih sakit saat melihatmu dicium sama Rud di kereta," tiba-tiba saja Dion keceplosan kalimat yang tak pernah diucapkan sebelumnya, bahkan saat kami tengah bertengkar karena Mas Rud di Jojga kemarin.


Segera ku putar tubuhku menghadapnya yang juga sudah duduk menyender di ranjang. Ingin mengurai perasaan yang disembunyikan selama ini. "Kamu, melihatnya?" telisik awalku.


"Lupakan!" perintah Dion tanpa melihatku dan malah berpura-pura sibuk dengan HP yang baru saja diambilnya dari nakas.


Kuambil HPnya dengan lembut. "Kita harus menyelesaikan ini. Melupakan bukan solusi."


"Aku sudah melupakannya," akunya yang kuyakin jika itu adalah sebuah kebohongan.


"Kamu baru saja mengungkitnya, bahkan kamu baru mengakuinya, Sayang," paparku selembut mungkin untuk menghalau pertengkaran.


"Iya, aku melihat kalian, bahkan mungkin Aryan juga mengetahuinya," jujurnya yang membuatku makin tak bisa menahan rasa.


Kuhela napas mendalam. Berusaha keras untuk menetralkan rasa yang mulai campur aduk. "Aku harus apa, agar kamu bisa memaafkanku dan melupakan kejadian itu? Aku tak mengelak, aku memang salah," ungkapku sesuai yang kurasakan.


"Aku tak terima, tapi aku juga tak bisa memukulnya karena telah melakukan itu padamu. Karena yang kulihat, kamu juga menikmatinya," tafsir Dion yang memang sesuai fakta.


Aku memang sempat terbawa oleh kenikmatan ciumannya. Meskipun aku tahu itu salah, tapi alam bawah sadarku tak bisa menolaknya.


"Mungkin aku akan terus mengingatnya. Semoga waktu bisa mengikis marahku karena itu," akunya yang menorehkan luka di hatiku.


Cup!


"Kumohon, lupakan! Bantu aku untuk melupakannya dari ingatanku dan dari ingatanmu!" ucapku setelah mengecup bibirnya lembut.


Cup!


Cup!


Cup!


Bertubi-tubi kusentuhkan bibirku ke permukaan bibirnya. Seperti kesetanan karena rasa marahku atas ciuman yang telah terjadi di kereta. Marah, karena ciuman yang dicuri begitu saja tersebut meninggalkan luka yang dalam di hati suamiku tercinta. Lelaki yang harusnya mendapatkan ciuman pertamaku dan malangnya hanya menjadi yang kedua.


Cup!


Lagi-lagi kucium bibirnya. Bukan sekadar kecupan tapi sentuhan yang liar. Penuh dengan hasrat yang dipenuhi amarah.


Dion melepaskan ciumanku. "Sudah, Sayang. Bukan seperti ini cara melupakannya."

__ADS_1


Napasku yang masih terengah-engah, membuat gerakan naik turun di dadaku sangan kentara. Terkesiap saat tiba-tiba Dion menyentuh bibirku dengan sangat lembut. Sebuah ciuman penuh rasa sayang. Pembuktian cinta tulus yang tertuang dalam nafsu yang terbingkai indah, bukan amarah tapi cinta.


__ADS_2