
"Aku pasti kembali untukmu, jangan kau pindahkan hatimu," Dion semakin serius.
Tidak ... tidak ....
Aku rasa mataku mulai berkaca-kaca. Aku sudah tak mampu menahan sesak perasaanku. Akankah aku kembali ditinggalkan saat aku sedang sayang-sayangnya.
Sayang-sayangnya?
Apakah aku juga sayang Dion?
Entahlah!
Aku juga ragu, bisakah secepat ini aku mengganti sosok Mas Rud dengan Dion?
"Apa kamu gak sanggup sendiri tanpaku?" Dion mengorek rasa dibalik hatiku.
"Tentu saja, tentu saja aku bisa, emang kamu siapa, bisa membuatku tak sanggup tanpamu," aku mencoba membohongi perasaanku.
Dion menelisik kejujuran jawabanku. Dia sematkan manik matanya di manik mataku. Dia mengerutkan keningnya, pertanda ingin mendapatkan kebenaran murni dengan kalimat yang baru saja ku untai.
"Apakah kamu mulai meragukan kejujuranku?" aku mencoba mengelabuhi keraguannya.
Ku kuatkan untuk mengatur nafas senormal mungkin dan mulai bersikap ceria. Ku poles bibirku dengan senyum termanis hasil sandiwaraku.
"Pergilah, aku yakin kamu juga akan segera kembali lagi, kamu gak akan bisa jauh dariku," terangku.
"Bagaimana jika aku pergi lebih lama dari yang kamu pikirkan," Dion kembali bertanya masih dengan memasang muka datarnya.
Deg!
Aku tak bisa mendengar kata itu. Aku tak mau mendengarnya.
"Apakah kamu akan seperti Mas Rud, meninggalkanku sendiri," aku mulai menatapnya dengan riasan mata sembab oleh air mata yang hendak meluncur.
Aku benar-benar tak mampu lagi bersandiwara, berpura- pura tenang dengan apa yang akan terjadi.
"Sejujurnya ... iya, aku akan meninggalkanmu, aku akan tinggal di Yogya," Dion jujur.
Entah kenapa, hatiku tak bisa menerima keputusan Dion.
"Untuk apa kamu menemaniku saat aku ditinggalkannya, jika sekarang pun, kamu akan meninggalkanku?" aku mengambil langkah untuk pergi darinya.
"Pergilah, dan jangan pernah kembali. Kalau ini adalah caramu untuk balas melukaiku, kamu berhasil." aku berkata dalam tangisan yang tak terbendung lagi.
Dion beranjak dari duduknya dan mengambil tanganku yang hampir saja menjauh dari jangkauannya.Dion memelukku.Aku marah, tapi aku juga gak ingin melepaskan pelukannya.Tapi egoku yang lebih menguasai, aku menepis pelukannya.
"Diamlah, biarkan aku memelukmu sebelum nanti kita bertemu lagi," pinta Dion.
Aku tetap berusaha menepis pelukannya, walaupun itu gak ada hasilnya. Pelukannya malah semakin erat, membuatku semakin terkungkung dalam dekapannya yang hangat.
"Sebegitu takutkah kamu ku tinggalkan?" Dion mulai bertanya lagi.
__ADS_1
Aku diam.
"Aku hanya seminggu di Yogya," jelasnya kemudian.
Aku melepaskan pelukannya. Segera ku tinggalkan ia yang masih mematung menatap kepergianku dengan senyumnya yang bahagia itu.
"Awas aja kamu,Di," gumamku sambil berjalan menjauh darinya.
Berani-beraninya kamu mempermainkan perasaanku. Kamu pikir bisa seenaknya saja, datang dan pergi di hatiku.
*****
Dion PoV
"Loh, udah pulang, Mas? Mbak Rosa, mana?" Kristy bertanya padaku yang baru saja keluar dari mobil.
"Dia, belum sampai?" aku balik bertanya.
"Belum, Mas, dari tadi aku disini kok," Kristy menjawab.
Aku kemudian sibuk dengan HPku. Wajahku pasti menampakkan kekhawatiran, aku melangkah mondar-mandir di teras rumahmu.
"Emang ada apa, sih, Mas, kalian berantem," Kristy penasaran.
"Dia marah, sepertinya bercandaanku gak bisa diterimanya," jelasku.
"Mungkin, suasana hati Mbak Rosa lagi gak baik Mas, jadi becandaan Mas Dion dimasukin ke hati," Kristy menghiburku.
*****
"Mbak," sopir taksi online yang ku tumpangi memanggilku.
"Iya, Mas," aku menoleh ke lelaki tersebut
Ku panggil dia mas, karena usianya masih muda, ku tebak mungkin 5 tahun diatasku.
Seharusnya, bukan sekedar ku panggil mas, tapi mas ganteng. Posturnya sebenarnya lebih cocok untuk jadi model, bukan hanya berwajah ganteng tapi badannya juga bagus.
Ups ... malah ngelantur!
"Mbaknya kok duduk di depan, kan saya sopir," dia mengingatkanku.
"Kebiasaan mas, lagian kan saya bukan tuan putri yang harus di sopirin," candaku.
"Habis kondangan ya, Mbak," tanya Sopir ganteng itu.
"Lamaran," jawabku sambil senyum.
Mas sopir ganteng itu melihatku. Aku jadi mengingat kata-kataku, mencari kesalahan kalimat yang membuat reaksi mas sopir ganteng itu kaget.
"Mbak, kabur dari lamaran?" aku membulatkan mata mendengar pertanyaannya.
__ADS_1
"Kabur dari lamaran?" aku mengulang pertanyaannya.
"Oohh ... Bukan mas, maksudku aku dari lamarannya sahabatku." jelasku kemudian.
"Panggil Rosa, aja," aku memintanya.
"Apa itu sopan, jika memanggilmu Rosa," tanyanya lagi.
"Santai aja, Mas, anggap saja kita berteman," kataku.
"Aku, Aryan," kenal mas ganteng itu.
Kami pun terlibat dalam obrolan santai. Bahkan tawa riang hadir di sela cerita kami.
" Tuh, pacarmu dah nungguin kamu," Mas Aryan memberitahuku, saat mobilnya baru saja berhenti di depan rumahku
"Makasih ya, Mas," ucapku sambil membuka pintu mobilnya sambil melambaikan tangan.
*****
Aku turun dari taksi online yang mengantarku. Ku lambaikan tanganku pada Mas Aryan, yang sudah ku jadikan teman. Ku membalik badanku, dan ku temukan Dion yang sedang berdiri di depan gerbang rumahku. Raut wajahnya dipenuhi kekhawatiran terhadapku.
Ku langkahkan kakiku melewati Dion.
"Kenapa gak angkat teleponku," Dion bertanya sambil mengikutiku berjalan masuk rumah.
Aku gak menjawab pertanyaan Dion. Ku terus saja melangkah memasuki rumah, dan berlalu masuk ke dalam kamarku.
"Maafin aku," ucap Dion sebelum aku menutup pintu kamarku.
"Aku mau ganti baju dulu," jawabku sambil menutup pintu.
Aku merebahkan diriku di ranjang. Ku pejamkan mataku, ku menata hati yang sempat terguncang dengan segala kata yang diurai Dion. Debaran yang membuatku sempat baper, Tingkah manisnya yang membuatku melayang, terlebih kepergiannya yang aku takutkan. Perasaan yang membuncah ini, bisakah ku sebut cinta?
Drrt-drrrt-drrt!
"Apa, Di," Dion meneleponku.
"Tunggu 20 menit lagi, aku mau mandi dulu," jawabku mengakhiri telepon Dion.
*****
Aku mengambil posisi duduk di samping kiri Dion. Dia kemudian menggeser tubuhnya, agar sedikit lebih enak untuk kami saling mengobrol.
"Maafin aku," Dion langsung meminta maaf.
"Kamu gak salah kok, Di," aku menjawab maaf dari Dion.
Pikiranku sudah mulai ku buka semenjak mandi tadi. Aku menepikan emosi yang lebih kuat menguasai hatiku. Ku mengingat segala kebaikan Dion selama ini. Dan hal yang membuatku marah tadi, rasanya hanya hal kecil yang gak harus ku besar-besarkan.
"Aku gak bermaksud mempermainkan perasaanmu, Sa. Aku hanya ingin tau, bagaimana perasaanmu padaku. Aku gak mau menebak-nebak, aku gak mau salah menafsirkan sikapmu akhir-akhir ini. Tapi jika yang ku lakukan tadi, membuatmu marah, maka aku minta maaf." Dion mengeluarkan semua isi hatinya.
__ADS_1
Aku menghela nafas.Aku mencermati kata demi kata yang Dion ucapkan. Sudah waktunya aku memberi kejelasan pada status kami yang menggantung ini. Seharusnya, aku sebagai perempuan yang meminta status, ini malah aku yang tak memperjelasnya.