
"Maaf Sa, aku gak bisa nemenin makan siang," WA Mas Rud.
"Gak 'pa 'pa, Mas! Aku tau, Mas ada meeting di luar," jawabku.
"Nanti aku anter pulang," tawar Mas Rud.
"Emang Mas Rud masih balik kantor lagi?" aku penasaran.
"Sebenernya meeting paling selesai jam 1. Habis itu, sekalian kita makan siang. Bisa sih langsung pulang, tapi ada yang ketinggalan di kantor." jelas Mas Rud.
"Biar aku bawain aja, Mas! Ini kan hari jumat, besok tinggal Mas ambil ke rumah!" aku menawarkan alternatif.
"Yang ketinggalan kamu, sayangku!" jelas Mas Rud.
Aku tersipu membaca WA darinya. Gombalan receh gini, nyatanya sudah bisa bikin hatiku kembang kempis. Aku hanya mengirimkan emoticon penuh hati berwarna merah untuk WA yang berhasil membuatku tak berdaya oleh cintanya.
*****
Sebuah meja panjang berkapasitas 20 orang tersebut telah dipenuhi oleh beraneka makanan. Mulai dari bebek goreng sambel ijo, gudeg jogya, rawon setan, ayam betutu, rendang dan teman-temannya dari seluruh indonesia. Meeting yang awalnya diadakan di meja tersebut, telah usai sejak 15 menit yang lalu. Dan akan berganti agenda untuk makan siang. Wajah-wajah kusut sehabis meeting bercampur lapar itu, sudah mulai mengisi piring-piring dihadapan mereka dengan variasi menu yang berbeda-beda.
"Kapan ya, kita terakhir berkumpul dengan formasi lengkap kayak begini?" tanya sekretaris direktur yang bernama Arella.
__ADS_1
"Saat pernikahannya Pak Andi, manajer pemasaran kita yang kayak Abimana ini lho!"jawab manajer keuangan cantik yang bernama Bu Silviana.
"Oh iya, yang waktu itu ada cinlok antara wakil direktur dan sekretarisnya kan ya?" ingat sang Direktur yang berhasil merona merahkan wajah Pak Nico dan Davina.
"Pak Rud, kapan nih kita dapat undangan?" pertanyaan Bu Silviana berhasil membuat mas Rud sedikit membulatkan mata.
"Siapa yang berhasil menaklukkan hati manajer ganteng idola kita ini?" Pak Direktur ikutan kepo.
"Anak editing Pak!" jawab Mas Rendra yang juga ikut rapat hari ini.
"Patah hati saya Pak!" jujur sekretaris Arella.
"Bu Arella, saya siap menggantikan posisi Pak Rud!" jawab Mas Rendra cengengesan.
"Jadi pengen main ke bagian editing! Kayaknya banyak yang bening-bening!" kelakar Direktur yang bernama Rahardi Gunawan tersebut.
"Jangan lupa calling-calling ya Pak kalau mau ke sana!" pinta Pak Kevin yang dari tadi diam saja menikmati gudeg jogyanya.
"Wah Pak Kevin, akhirnya tergoda juga sama cewek bening!" ungkap Mas Rud yang membuat semua orang tertawa.
"Pak Rud, undangannya jangan lama-lama ya!" ingat Bu Silviana.
__ADS_1
Mas Rud hanya tersenyum menanggapi obrolan mereka. Suasana makan siang kali ini terasa sangat kekeluargaan. Tidak ada suasana kaku yang khas antara atasan dan bawahan. Rentang umur milenial memang menjadikan kantor ini seperti cafe tempat nongkrong kaum muda, bukan lagi seperti kantor yang kental aroma kerja.
*****
"Nebeng ke kantor ya!" ucap Mas Rendra setelah duduk di kursi samping kemudi.
"Kirain langsung pulang!" kata Mas Rud.
"Emang lo aja yang kangen pacar, gue juga kali!" celetuk Mas Rendra.
"Kayaknya kita perlu bikin grup WA baru deh PENAKLUK CEWEK EDITING!" ide Mas Rendra.
"Grup yang kemarin aja rusuh, apalagi bikin grup baru lagi, gak gak! Pusing gue!" tolak Mas Rud.
"Gue bikin sekarang ya!" izin Mas Rendra.
"Mau gue turunin disini!" ancam Mas Rud.
"Lo gak asyik men!" kata Mas Rendra.
"Bodo!" jawab Mas Rud yang akhirnya
__ADS_1
berhasil menggagalkan niatan mas Rendra untuk membuat grup baru.
Setidaknya berhasil untuk kali ini, tapi entah untuk waktu berikutnya.