Tentang Hati

Tentang Hati
Morning Kiss?


__ADS_3

Suara kicau burung yang entah milik siapa, merdu memecah sepinya pagi. Dingin yang menyergap kali ini terasa berbeda, tak seperti biasanya. Menukik tajam pada sumsum tulang. Hangat pelukan yang biasanya mendekap, terasa tak sama di indera penciumanku. Bukan aura maskulin yang menguar melainkan aroma khas iler yang meninggalkan warna putih di sekitar area bibir.


"Tya, jorok banget, sih!" pekikku saat wanita yang berhasil di buat patah hati oleh Pak Aryan itu menguap dengan begitu lebarnya.


"Berisik amat sih, Pe. Tidur lagi, masih malem," racau Tya tanpa membuka mata.


Kujitak dahinya sekuat tenaga. "Lihat tuh, matahari! Udah memanjakan kulit Pak Aryan hingga nampak seksi," cerocosku untuk membangunkan Tya sekaligus mendeteksi sinyal cintanya, masihkah atas nama Pak Aryan atau sudah bukan.


"Mana yang seksi?" tanya Anggen memakan pancinganku yang sebenarnya kuarahkan pada Tya.


"Bibirnya Tuan Eric begitu seksi, udah kamu cicipi?" celetuk Tya yang sedang menguletkan badannya sambil duduk.


"Tuan Eric yang mana, sih? Lihat fotonya dong, Nggen!" pintaku setengah memaksa.


"Nih," tunjuk Tya sambil menyalakan benda pipih Anggen yang terdapat Tuan Eric sebagai wallpaper-nya.


"Tampan, gitu mata kamu masih aja jelalatan," sindirku pada Anggen yang hanya dibalas dengan sebuah cèngiran.


"Kamu juga, Pe. Dion dah sempurna gitu, masih aja muji lelaki lain," sindir Tya sambil merapikan rambutnya yang berantakan.


Rumput tetangga seringkali memang nampak lebih hijau. Namun itu bukan berarti akan melupakan rumput sendiri. Dion memang begitu sempurna. Memuji lelaki lain yang memang sesuai dengan fakta bukan berarti jatuh cinta. Hanya menyelaraskan antara penglihatan dan pengucapan. Itu tidak berdosa justru sebuah pahala, mempraktikkan sebuah kejujuran.


Sejalan denganku, Anggen pun sama. Memiliki calon suami bukan berarti membiarkan vitamin yang menyehatkan terlewat tanpa dimanfaatkan. Sekadar memuji di bibir tanpa memberikan nyawa dalam bentuk rasa yang bisa berubah menjadi cinta, itu manusiawi. Mata tak bisa berdusta, begitu juga dengan hati, tak akan bisa dipaksa. Meskipun tampan kalau hati tidak nyaman juga akan dihempaskan.

__ADS_1


"Dion selalu di hati. Tapi yang lewat depan mata, rugi dong kalau dibiarkan begitu saja. Ya nggak, Nggen?" tanyaku mencari teman dalam kelaknatan pandangan.


Sambil bercermin, Anggen mengiyakan kalimat pernyataanku. Tya yang sendirian dengan keyakinannya, memilih keluar tenda yang kami gunakan sebagai tempat untuk menghabiskan malam. Ya ... selain bermain api unggun kami juga bermalam di bawah tenda.


Selesai mematut diri, aku dan Anggen menyusul Tya keluar tenda. Sepi. Tak ada satu orang pun berada di sana. Setelah saling melempar pandang, akhirnya aku memutuskan untuk mencari Dion di tenda kaum adam. Alas kaki yang tinggal sepasang, membuatku tak ragu untuk segera merangsek masuk. Itu adalah sandal Dion, jadi rasanya akan sangat wajar jika aku nyelonong begitu saja.


Benarlah naluriku. Di sana, Dion masih memejamkan matanya. Tanpa teman, ia tengah santai dengan posisi tidurnya. Perlahan kudekati dan mengusap lembut pipinya. Memanggil lirih namanya, berniat untuk membangunkan lelakiku itu dengan bahagia.


Sekali, dua kali dan ini terakhir kali aku akan memanggilnya.


"Mas," sebutku lembut sambil mengusap lengannya.


Mata Dion masih menutup, tak jua bereaksi saat aku bangunkan. Kuulangi hingga kali ketiga tapi tetap sama. Aku jadi teringat dengan kisah manis di pagi hari yang selalu aku baca di novel romantis dewasa. Membangungkan dengan sentuhan di bibir. Mungkin bisa aku coba. Kutatap bibir penuhnya yang nampak sangat kenyal jika dimainkan. Belum apa-apa pikiran liarku sudah meraja.


Cup!


Aku terkesiap ketika serangan fajarku gagal. Dion justru lebih dulu bergerilya mendahuluiku yang sudah menyiapkan senjata. Hanya sebuah sentuhan luar dengan sedikit kecupan. Manis yang pas tanpa gejolak panas.


Cup!


"Morning kiss," ucap lirih Dion sambil mengulas senyum tanpa memperlihatkan deretan rapi gigi putihnya.


Cup!

__ADS_1


Sebuah ciuman di indera penglihatan Dion aku berikan agar dia bersedia membuka mata. "Apa aku sudah tidak cantik lagi hingga kamu tak sudi melihatku?" gerutuku sebal karena lelaki yang terbaring ini tetap setia menutup mata meskipun sudah berulangkali aku mengecupnya, bergantian dari mata kiri dan kanan.


Sindiranku yang diabaikan membuatku meringankan badan untuk bangkit dari duduk. Berdiri melihat wajah pulasnya yang menggoda tapi tak peka. Memutar langkah dan seketika tubuhku oleng saat tanganku ditarik seseorang. Aku jatuh tepat di atas dadanya. Dion tersenyum nakal dengan mata bulatnya yang terbuka sempurna.


"Mau ke mana? Tempatmu di sini, di hatiku," ucapnya sambil mengecup pipi kiriku, berganti yang kanan dan berhenti saat tinggal beberapa jari bibirnya akan menyentuh bibir polosku.


"Lanjut di sini atau ...?" tanyanya dengan senyum smirk.


"Dasar pengantin baru, pagi-pagi udah menghangatkan diri," seru Mas Rendra yang tiba-tiba masuk tenda saat posisi badan atasku masih menimpa di atas dadanya


Dengan wajah malu kugeser tubuhku dari tubuhnya. Tersenyum canggung pada tamu yang masuk tanpa mengucap kata permisi. Lirih bersuara untuk meminta izin keluar lebih dulu. Namun terhalang oleh lengannya yang justru melingkar di perut langsingku. Dion bangun dari rebahannya dan semakin menyamankan posisinya mendekapku dalam pelukan. Tak canggung dengan saudara sepupunya yang masih ada di dalam tenda, memperhatikan jeli.


"Sarapan dulu, Sayang," pinta Dion sambil mengembus napas hangat di belakang telingaku.


Mendengar permintaannya, aku putar sedikit tubuhku hingga bisa melihat wajahnya. "Aku siapin sarapannya dulu, ya. Kamu ngobrol aja sama Mas Rendra."


Bukannya mengendurkan rengkuhan, dia malah semakin mengeratkan. "Sarapan ini aja, Sayang," ungkap Dion sejalan dengan bibirnya yang kembali mengambil ciuman di bibirku.


Mukaku merona seketika. Dasar suami mesumku, menyalurkan hasrat tepat di depat Mas Rendra yang langsung mengumpat. Dion tetap santai. Perlahan mengendurkan ikatannya dan membiarkanku lepas dari pelukan. Kesempatan ini harus segera kuambil untuk meloloskan diri. Dia membiarkanku pergi.


Kuhela napas panjang begitu aku sudah berada di luar tenda. Rupanya napas yang kubuang sebagai wujud kelegaan ditangkap oleh indera penglihatan seorang Pak Aryan yang hendak masuk ke tempat yang baru aku tinggalkan. Kuusap dadaku, merasa beruntung karena ulah kami tak tertangkap juga oleh matanya.


"Habis ngapain, sih? Berat amat napasnya?" selidiknya.

__ADS_1


"Olahraga, senam pacu jantung," balasku sambil ngeloyor pergi meninggalkan dia yang paham maksudku, terlihat dari senyumannya yang manis tapi matanya tak bisa bohong jika ia menangkap jelas kalimatku yang ambigu.


__ADS_2