
Detik demi detik jarum jam yang berputar kurasakan begitu terseok hingga waktu terasa berjalan sangat lama. Menantinya kembali membuatku diliputi kecemasan yang tiada habisnya. Aku benar-benar tak tenang, berulangkali duduk tapi berulangkali juga aku kembali berdiri dan mondar-mandir tiada henti.
"Tenanglah, Sa!" suruh Mbak Sharika entah untuk kali keberapa.
Masih mondar-mandir dari pintu kemudian mengintip ke arah luar lewat dinding kaca yang lebar, tak kutemukan juga sosoknya. "Hatiku gak enak, Mbak. Firasatku bilang, kali ini Mas Dion main tangan," akuku seraya tiada henti melihat jam yang tergantung di dinding.
"Mereka sudah dewasa, pasti tahu cara menyelesaikan masalah. Kekerasan memang bukan langkah yang dibenarkan tapi jika itu adalah langkah terakhir untuk membuat jera, kurasa aku juga akan melakukannya," terang Mbak Sharika yang makin membuatku gelisah.
Dion bukan orang yang suka menggunakan keahlian bela dirinya sembarangan. Namun emosi yang sudah lama diredam, pasti akan membabi buta jika selalu disulut bara perkelahian. Apalagi mereka pernah baku hantam sebelumnya, ya ... saat di pertunangan Mas Rendra. Wajah mereka babak belur, tak ubahnya hati yang bersarang di dalam raganya. Itu artinya kekhawatiranku tak berlebihan.
"Tetap saja Mbak, aku gak mau mereka berkelahi," pertegasku sambil berjalan ke arah pintu yang terbuka.
"Sayang, kau baik-baik, saja?" sambutku begitu Dion masuk ruangan dengan tenangnya, tanpa amarah dan malah tersenyum seperti biasa.
"Dia, yang gak baik-baik, saja," jawab Dion santai seraya berjalan ke arah sofa yang ada di ruangan Mbak Sharika dan mendudukkan dirinya di sana.
Firasatku tidak meleset, jawabannya jelas merujuk pada luka yang diderita Mas Rud. Kuhela napasku, memilih langkah apa yang sebaiknya kuambil. Aku tak mau gegabah dan terulang lagi kesalahan yang sama. Dulu, Dion marah besar karena aku menanyakan keadaan Mas Rud yang baru saja terlibat saling pukul dengannya. Kini, bagaimana aku harus bersikap?
"Apakah kamu juga terluka?" aku memilih bertanya tentang keadaannya yang tidak menampakkan luka di area yang terlihat mata.
Dion berdiri dan menggandeng tanganku untuk mengikutinya. "Ayo, kita pulang!"
"Mbak, kami pulang, dulu" pamitku seraya berjalan menuju pintu keluar ruangannya.
"Hati-hati!" nasihat Mbak Sharika dengan raut wajah yang menampakkan gurat kekhawatiran.
Kuangguki, ucapan yang baru saja Mbak Sharika katakan. Melempar pandang padanya dan perlahan memutar mata kembali untuk melihat Dion yang sudah berjalan di depanku. Tepat di pintu kami berpapasan dengan Mas Rud. Tak sengaja putaran mataku tepat menghujam di manik matanya. Sendu. Tak ada noda darah yang kutemukan, meskipun ada lebam yang tak bisa ia sembunyikan. Darah bisa dihapus tapi bekas pukulan tak bisa bohong. Tak ada kata yang kuucap, begitupun kakiku tetap melangkah mengikuti Dion yang berjalan tanpa memedulikan Mas Rud.
*****
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang. Aku masih terdiam, merasa canggung untuk mengawali bicara. Mencegah salah tanya, itulah yang sebenarnya sedang aku lakukan. Menunggu Dion untuk memulai kata tapi tak jua ia bicara. Kumenatap jalanan di depan sambil sesekali melirik kepadanya. Wajahnya memulas senyum seperti biasa seolah tak ada sesuatu yang baru saja terjadi.
Tiba-tiba jemari tangan kananku diraihnya. Ia hangatkan dengan tautan jemarinya. Ada kehangatan yang coba ia alirkan lewat sentuhannya. Aku bisa merasakan. Kupandang wajahnya tapi ia fokus menatap ke depan. Kembali kualihkan pandanganku pada jalanan yang lengang.
Langit yang memang sedari tadi mendung, perlahan menitikkan airmatanya. Hujan. Musim yang seharusnya sudah memasuki kemarau, tiba-tiba ada hujan. Sedikit aneh tapi menyenangkan. Titik-titik air yang mulai jatuh dan bergulir di kaca mobil sebelah kiriku, membuka ingatan tentang cintaku yang selalu bersanding dengan derai hujan.
Hujan pertama tentang penolakan terakhirku kepada Dion yang akhirnya membuatkan slide deja vu dengan Mas Rud. Mengakhirkan perasaan pada sang pejuang cinta dan menjadi awal untuk cinta yang tak pernah terlintas, terskenario begitu dalam, penuh suka dan berujung luka.
__ADS_1
Hujan kedua, hujan yang indah bersama gombalan ala Dilan dan Milea. Merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya dengan seseorang yang tak pernah terlintas. Indah meskipun hanya sekejap saja. Berakhir dengan luka yang kini masih menghujam hingga mengendapkan lara.
Hujan ini seperti rangkaian kisah perjalanan cintaku. Dan derai air yang turun kali ini, menjadi sesi terbarunya. Mengisahkan dua lelaki yang menjadi pemain utama dalam kisah cinta derai hujan dua episode sebelumnya.
Lamunanku tentang hujan membuatku tak menyadari jika kami sudah berhenti di parkiran apartemen. Terlalu larut dengan pikiranku sendiri hingga tak kusadari saat Dion melepaskan seat bealt-ku.
"Mau turun, gak, Yang?" tanyanya lembut yang mengusik khayal senduku.
Aku terkesiap dan terbata dengan kalimat yang ingin kuucapkan padanya. "Hm," hanya gumaman itu yang akhirnya keluar dari mulutku.
"Apakah kamu memikirkan yang baru saja terjadi antara aku dan Rud?" tanya Dion mengulik pikiranku yang tidak fokus.
"Iya," jawabku lemah tanpa memandangnya.
"Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Aku baik-baik, saja," tuturnya seraya menunjukkan wajahnya yang tak ada bekas kekerasan sama sekali.
"Kamu memukuli bodyguard Tuan Alex, apakah itu akan baik-baik, saja?" aku mencoba memperluas cakupan orang yang akan bereaksi dengan kejadian ini.
"Kamu mengkhawatirkan aku atau dia?" satu pertanyaan Dion yang aku hindari akhirnya tercetus juga.
"Apakah kamu yakin jika dia akan menikah?" pertanyaan Dion yang sebenarnya juga menggantung di pikiranku dari tadi.
"Kenapa aku harus meragukannya?" tanyaku balik.
"Karena dia masih menginginkanmu. Rasanya aneh jika tiba-tiba saja dia akan menyerahkan dirinya pada wanita lain," papar Dion dengan gaya detektifnya.
"Mungkin itu caranya move on," analisaku yang ditanggapi penolakan oleh Dion.
"Itu namanya kejahatan hati, Sayang," tegas Dion.
Tipe kejahatan apa lagi itu? Apakah ada pasalnya dalam hukum perundang-undangan? Apakah ada contoh kasus sebelumnya? Apakah bisa dihukum para pelakunya? Ah ....
"Bukankah keputusannya untuk menjadi penjahat hati akan menguntungkan, kita?" tanyaku yang menjadikan hati seperti sebuah hukum untung dan rugi.
"Tentu saja aku beruntung karena mendapatkanmu," ucap Dion penuh kebanggan.
"Menurutmu, aku beruntung atau rugi?" selidikku seraya mengikuti Dion yang keluar mobil dan segera menekan tombol pengunci pintu yang berada di tangannya.
__ADS_1
"Keberuntunganmu lebih-lebih, Sayang. Aku adalah lelaki limited edition abad ini," akunya songong.
Memang aku beruntung, sangat beruntung, dan mungkin menjadi wanita paling beruntung pada abad ini. Dicintai oleh hati dengan sepenuh hati tanpa memedulikan hatinya terluka dan selalu ada untuk hati yang mencintai hati yang lain dan pada akhirnya hati itu terluka dan dia membawa hati yang penuh cinta untuk mengobati hati yang terluka itu menjadi hati yang penuh cinta.
Ruwet, kan? Ya begitulah aku beruntung dalam keruwetan hati yang dibalut cinta.
"Hai, suamiku yang limited edition, tunggu aku!" seruku seraya mengejar Dion yang menambah kecepatan berjalannya.
Bruk!
Karena fokus berlari, mataku tak sempat menangkap langkah Dion yang tiba-tiba berhenti. "Sudah kubilang jangan mengejarku! Aku yang akan selalu mengejarmu."
Senyum penuh kelicikan pun aku sunggingkan. Menatapnya nakal dan segera ku berlari meninggalkannya. Menyusuri lorong apartemen di lantai tempat kamar kami berada. Napasku yang mulai ngos-ngosan terpaksa tetap kuajak berlari untuk menghindar dari tangkapannya. Sejengkal lagi jarakku dengannya, tiba -tiba Pak Aryan muncul dari balik pintu apartemen Mas Rendra. Tanpa pikir panjang, langsung kuberlari kebelakang tubuhnya mencari perlindungan.
"Kalian ngapain lari-lari, sih?" bingung Pak Aryan yang terkejut dengan ulahku bersembunyi di balik punggungnya, sementara Dion sudah berdiri di depannya dengan napas terengah.
"Kok, kamu keluar dari apartemen Rendra?" tanya Dion begitu menyadari keganjilan yang baru aku sadari juga.
"Hu uh," timpalku tak sadar telah berpindah ke samping Pak Aryan dan menyelidik tajam pada wajahnya.
"Kena, kau!" tangkap Dion, meraih bahuku dan merangkulnya ke dalam apartemen Mas Rendra.
"Aku tinggal di sini sekarang," ungkap Pak Aryan yang mengikuti kami berjalan duluan.
"Mau ngintip, ya?" tuduhku dengan tatapan garang.
"Besok, periksain istrimu, Bro! Otaknya konslet beneran kayaknya," ucap santai Pak Aryan sambil membawakan cemilan dari area dapur.
"Biar aja konslet, Bro. Aku suka konsletnya," seloroh Dion dengan senyum nakalnya.
"Ih ... kalian menyebalkan! Cantik-cantik begini, dibilang konslet," gerutuku sambil mencari pembuka akses pintu apartemen kami di berbagai saku pakaian yang melekat di tubuh Dion. Dari saku kemeja hingga saku celana tak ada yang luput dari sentuhan tanganku.
"Sayang, kenapa menggeray*ngiku?" goda nakal Dion dengan senyum ambigunya.
"Nyari ini!" pamerku saat benda yang ku cari sudah ku temukan di meja dekat sofa yang kami duduki. Aku pun berjalan mengarah ke pintu keluar. Membuka pintu dan berlalu. Meninggalkan dua lelaki yang sempat berseteru dan kini menjadi saudara lelaki ala Mama.
*****
__ADS_1