Tentang Hati

Tentang Hati
Keputusan Hatiku


__ADS_3

"Kejarlah jika hatimu masih menjadi miliknya!"


Suara itu mengejutkanku. Segera kutolehkan kepala dan mendapati Dion sudah berdiri di belakangku. Raut wajahnya datar tak ubahnya Mas Rud, melukiskan perasaan yang hampir serupa. Kekacauan perasaan yang bersumber pada satu nama yang disebut cinta. Segitiga rasa yang memiliki sisi-sisi yang masing-masing menceritakan tentang cinta yang penuh kerumitan. Harus bermuara pada satu titik tapi nyatanya kadang masih melirik sisi yang lain.


Kutatap wajah tanpa ekspresinya. Membuatku yakin jika dia melihat semuanya. Terlebih dengan kalimat perintahnya yang sungguh membuatku seolah ditampar dan dihempaskan dari hatinya. Apa ia sudah lelah menghadapi hatiku yang selalu berubah?


"Aku akan tetap di sini!" kutekankan kalimatku untuk membuatnya yakin jika aku tetap memilihnya.


"Pikirkanlah! Sebelum dia pergi dan kamu akan menyesalinya. Aku akan mengantarmu menemuinya, ayo!" ucapnya tak kalah meyakinkan. Berusaha sok tegar padahal aku yakin jika hatinya sedang berada pada titik terlemah.


Kugenggam jemarinya. "Aku tak akan kemana-mana!" sekali lagi kuberi kepastian bahwa hatiku tetap memilihnya.


Tak menyangka jika Dion melepaskan genggamanku. Ini bukan sesuatu yang pernah ia lakukan selama bersamaku. Apakah ini berarti jika ia mulai melemahkan keyakinannya untuk mengakhirkan kisah kami di pelaminan?


"Ayo masuk, jangan di sini! Gak enak dilihat orang," Dion melangkah masuk dan meninggalkanku yang masih mematung.


Dia sudah menghilang dari pandanganku saat aku masuk ke ruang tamu. Dia benar-benar marah hingga tak mau bicara denganku. Aku putuskan untuk kembali ke kamar, merebahkan tubuhku. Sebenarnya ingin juga mengistirahatkan pikiranku untuk sejenak, tapi rasanya teramat susah. Akhirnya kupaksakan mataku untuk tertutup, membawa diri menuju mimpi yang entah buruk atau indah.


Waktu sudah menjelang magrib saat aku terbangun dari tidurku. Rasanya sangat malas untuk segera mengguyurkan diri di bawah shower. Kuraih HPku dan mengecek jika ada pesan yang masuk. Mama meneleponku satu jam yang lalu. Hanya itu, tidak ada pesan lain di sana.


"Ma, tadi telepon Rosa, ada apa?" tanyaku begitu Mama mengangkat telepon.


"Kamu, mau nikah siri sama Dion?" pertanyaan Mama to the point.


"Kok, Mama tanya gitu?" aku merasa aneh dengan pertanyaan Mama.


"Tadi Dion telepon, tanya sama Mama, kalau kalian nikah siri dulu gimana?" jelas Mama yang masih membuatku bingung kenapa Dion menanyakan hal itu.


"Terus?" kukorek jawaban Mama.


"Mama menyerahkan semuanya pada kalian," ungkap Mama menyetujui keinginan Dion.


Tok-tok-tok!


Suara ketukan pintu akhirnya membuatku menutup telepon. Kudengar suara Mami yang memanggil namaku. Segera kubuka pintu dan Mami menampakkan senyum manisnya.


"Baru bangun, ya?" tanya Mami yang kujawab dengan senyuman manis.

__ADS_1


"Boleh Mami masuk?" pinta Mami karena aku hanya membuka setengah pintu tidak mempersilakan Mami ke dalam. Langsung kubuka pintu lebih lebar, menggeser tubuhku dan mempersilakan Mami untuk melangkah masuk.


Mami duduk di pinggir ranjangku. "Kalian bertengkar?"


Aku merasa kikuk, hingga terus berdiri di dekat Mami. Menundukkan kepala, aku tak kuasa untuk menatap mata Mami. "Rosa yang salah, Mi."


"Tidak penting siapa yang salah, yang harus kalian lakukan adalah saling bicara," papar Mami seraya menepuk sisi ranjang di sebelahnya mempersilakan aku duduk.


"Dion menghindari Rosa, Mi," jujurku.


"Dia memang begitu kalau marah, butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Nanti juga bakalan ngajak kamu ngobrol, cari jalan keluarnya. Kamu sabar, ya, Nak!" Mami menjelaskan sifat anak lelakinya itu.


Kuanggukkan kepalaku, mengiyakan semua yang Mami jelaskan. Sedikit demi sedikit aku sudah memahami bagaimana sifat lelaki itu. Sebelum ini, dia sudah pernah mendiamkanku ketika sedang cemburu.


"Ya sudah, kamu mandi dulu, sebentar lagi magrib! Nanti kamu ikut kita makan malam, ya," tukas Mama mengelus rambutku dan beranjak keluar kamar.


*****


Setelah selesai makan malam, aku, Mami dan Mbak Sharika masih berkutat di ruang makan. Membereskan makanan dan piring-piring kotor untuk segera berpindah ke bak cuci. Aku kemudian mencuci semua peralatan makan yang kotor tersebut.


"Adikmu belum balik, Shar?" Mami bertanya pada Mbak Sharika yang sedang membersihkan meja.


"Kalian berantem masalah Rud?" Mbak Sharika to the point menanyakan pangkal masalahku tanpa canggung meskipun ada Mami.


"Iya, Mbak," jujurku seraya menyelesaikan pekerjaan dan memilih duduk di kursi meja makan.


"Ada apa lagi, sih?" korek Mbak Sharika mengikuti duduk di sebelah kursiku.


"Aku yang salah, Mbak. Gak bisa move on dari Mas Rud. Tadi siang Dion melihatku sedang melihat kepergian Mas Rud dari teras," ceritaku seperti apa yang terjadi tanpa aku tambah atau aku kurangi.


Mbak Sharika menghela napas panjang. "Sebenarnya kamu niat gak sih nikah sama Dion? Kalau kamu masih plin-plan dengan perasaanmu, jangan memberi harapan! Jangankan Dion, aku juga gak terima kalau kamu masih saja berkutat dengan masa lalumu itu."


Mami menghampiri kami, menghangatkan suasana hati Mbak Sharika yang mulai terpancing emosi. "Shar, kamu jangan bicara begitu. Sebagai kakak, seharusnya kamu bantu mencari jalan keluar masalah mereka bukan semakin memperkeruh keadaan."


"Semua keputusan ada di Rosa, Mi. Ngapain dia tetap bersama Dion kalau kenyataannya perasaannya masih sama Rud," Gejolak emosi Mbak Sharika semakin menggelora.


Kalimat demi kalimat Mbak Sharika membuatku semakin merasa bersalah. Semua yang dikatakannya benar. Aku memang pangkal masalah yang tidak berujung ini. "Apa sebaiknya Rosa balik ke Jakarta, saja, Mi?" ucapku seraya menunduk.

__ADS_1


"Kamu mau lari dari masalah, Sa?" tandas Mbak Sharika penuh penghakiman.


Bukan! Bukan seperti itu! Aku hanya tak ingin membuat masalah ini tak berlarut.


"Jika ingin masalah ini gak berlarut-larut, kita selesaikan masalah ini besok. Kami sebagai orang tua akan ikut campur masalah kalian. Karena hubungan kalian bukan sekedar pacaran, tapi tinggal selangkah lagi menuju pernikahan. Sekarang kamu istirahatlah, Nak!" tutur Mami sambil mendekapku ke dalam pelukannya.


Kuturuti permintaan Mami. Meninggalkan Mbak Sharika yang masih marah dengan keraguan cintaku pada adik kesayangannya. Dan juga meninggalkan Mami yang memberiku dukungan hangat layaknya seorang ibu kepada anaknya.


*****


Membaringkan tubuhku di ranjang, mencoba bisa segera mengistirahatkan jiwa ragaku. Namun nyatanya pikiranku yang terus bergelut dengan masalah yang ku hadapi tak bisa ku ajak berdamai. Bayangan tentang ekspresi Dion mampu meluruhkan ekspresi Mas Rud yang sebelumnya selalu mengganggu pikiranku.


Mata yang tak kunjung bisa ku pejamkan, akhirnya membuatku mengambil keputusan untuk menelepon Mama.


"Ada apa?" tanya Mama saat aku diam saja padahal teleponku sudah diangkat beberapa waktu.


"Dion marah sama Rosa, Ma," akhirnya aku mulai curhat sama Mama.


"Bertanggungjawablah dengan sesuatu yang sudah kamu pilih!" nasihat Mama seperti sudah mengetahui masalah apa yang sedang kami alami.


"Bagaimana caranya, Ma? Rosa ingin Dion percaya kalau Rosa memilihnya," terangku sendu.


"Segeralah menikah! Sepertinya hanya dengan itu, kamu bisa melupakan Rud," saran Mama yang membuatku semakin akrab dengan kata itu hari ini, menikah.


"Apakah tidak ada cara lain selain menikah, Ma?" aku mencari second opinion.


Menikah? Itu rasanya hal yang gak bisa kusegerakan dalam waktu dekat. Selain karena hatiku yang belum 100% siap, bukankah pernikahan juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mempersiapkannya.


"Menikah dalam waktu dekat atau mengikhlaskan dia menikah dengan orang lain. Itu pilihanmu, sekarang. Pikirkan dengan matang! Mama tutup dulu teleponnya," tegas Mama sebelum mengakhiri pembicaraan.


Ku buang napas berat. Ingin menipiskan masalah tapi malah menebalkan pikiran. Langkah apa yang harusnya ku ambil? Apakah aku harus secepat ini menikah? Apakah benar jika aku menikah dengan Dion aku bisa melupakan Mas Rud?


*****


Hai readers "Tentang Hati"! Biar gak nyesek terus karena Rosa yang plin-plan, selingin baca novel punya temen author ini, deh!


__ADS_1



__ADS_2