Tentang Hati

Tentang Hati
Penilaian


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang,kondisi hatiku sudah lebih baik dari tadi sewaktu berangkat. Bertemu dengan Dion tak seseram yang ku bayangkan. Walaupun sempat bergemuruh, nyatanya hatiku bisa lega setelah bisa ngobrol dengannya.


"Sudah bisa senyum?" goda Mas Rud.


"Aku takut kamu merindukan senyumku, Mas!" gombalku.


"Jadi itu yang namanya Dion?" Mas Rud menelisik.


"Gantengkan?" tanyaku.


"Ganteng sih, tapi gak bisalah nyaingin ketampananku ini!" PDnya.


"Huekkk!" gayaku ingin muntah.


"Jangan sok gak tertarik padaku!"


"Emang gak!" tegasku.


"Tapi matamu gak bisa bohong!" Mas Rud menyimpulkan.


"Aku gak akan sanggup, bersaing dengan mereka untuk menyentuh ketampananmu," jelasku.


"Huekkk!" Mas Rud membalasku.


"Mas, jangan menggodaku terus, nanti aku jatuh cinta beneran!"


Mas Rud hanya tersenyum mendengar permintaanku.Aku sendiri juga bingung kenapa begitu berani mengeluarkan kata-kata seperti itu.Kenapa aku jadi suka menggombalinya? merayunya? menggodanya? atau apalah disebutnya.Pokoknya candaan modus yang sebenarnya juga sekedar candaan semata.Karena pada dasarnya aku tipe orang yang suka bercanda dengan orang yang candaannya setipe.

__ADS_1


"Mas, setelah tadi ketemu Dion, apa pendapat mas tentang dia?" tanyaku serius.


"Kenapa mau mendengar penilaianku tentangnya?" tanya Mas Rud.


"Second opinion!" jawabku.


Memang aku sengaja bertanya pada mas Rud agar objektif.Biasanya aku curhat sama Tria,tau sendirikan sesama perempuan akan cenderung subjektif.Makanya aku ingin meminta pendapat dari seorang lelaki.


"Aku baru sekali bertemu dengannya, mana bisa menilainya!" tukas mas Rud.


"First impression mas!" aku kekeh bertanya.


"Dia mencintaimu!"


"Itu aku sudah tau, Mas!" selidikku lebih dalam.


"Ituu aku juga sudah tau, Mas!" aku mulai geram.


"Dia menjagamu!" jawab Mas Rud kemudian.


"Maksud mas?"


"Walaupun dia gak bisa didekatmu karena status kalian, tapi dia tetap memastikan kalau kamu bahagia," terang Mas Rud.


Aku memikirkan perkataan mas Rud.Benarkah? Sampai sedalam itukah dia mencintaiku? Aku pikir dia sudah tidak peduli lagi padaku sejak kejadian terakhir itu.Aku bahkan berpikir mungkin dia membenciku sekarang. Tetapi mengapa mas Rud memberikan penilaian seperti itu?


"Yakinkah dengan penilaianmu, Mas?" aku semakin penasaran.

__ADS_1


"Aku laki-laki Sa, aku mengerti tanpa harus mendengar dia berbicara. Bahkan dari cara dia menatapmu saja aku bisa membaca apa yang ada dihatinya." yakinnya.


"Apa kau menyesal?" tanya mas Rud.


"Menyesal kenapa, Mas?" tanyaku pura-pura tak tau.


"Aku tau semuanya, Sa, benarkah kau menyesal?" mas Rud mencari jawab lewat mataku.


"Tau apa?"


"Kamu dan Dion."


Aku menghela nafas.Mulut ember siapa yang sudah membocorkan kisah kelam kesadisanku pada Dion? Aku hanya bisa menggumam.


"Iya aku nyesel, tapi aku gak tau aku nyesel karena aku jatuh cinta padanya ataukah sekedar rasa kasihan," jujurku sambil menunduk.


"Bisa jadi juga, itu rasa sesal karena kamu merindukan kasih sayangnya!" ucap Mas Rud.


Benar juga argumen mas Rud kali ini.Apakah aku sekedar merindukan perhatian yang dulu selalu Dion berikan padaku? Rasanya memang tidak salah.Kini gak ada lagi yang memberiku perhatian seperti dia.Kenapa aku jadi kangen masa-masa itu? Padahal waktu itu,aku sangat risih dengan perhatiannya.Kenapa sekarang justru aku rindukan?


"Aku bingung mas dengan perasaanku saat ini," terangku.


"Gak usah bingung! Lakukan saja hal yang bisa membuatmu tanpa beban. Kamu harus bisa membuat dirimu sendiri bahagia!" nasihat Mas Rud.


Aku mengangguk. Aku memang harus bahagia. Bukankah Dion melepaskanku agar aku bahagia? Aku mengembangkan senyumku dan melihat ke arah mas Rud. Mengisyaratkan bahwa aku mengamini apa yang baru saja dia ucapkan.


"Ini baru Rosa yang ku mau!" ucap mas Rud sambil tersenyum dan tangannya mengusap puncak kepalaku.

__ADS_1


__ADS_2