Tentang Hati

Tentang Hati
Permainan Rasa


__ADS_3

Dion tersenyum dan lagi-lagi mengambil jemariku untuk digenggamnya. Dion masih memposisikan dirinya menghadapku dari arah kananku.


"Semoga kecupan yang ku ambil tadi adalah awalan dari kecupan lain, yang nanti aku dapatkan selanjutnya atas izinmu," Dion membisikkan kalimatnya di telinga kananku.


Bisikan lirih Dion itu membuatku seolah teraliri sengatan listrik, aku kesetrum oleh kata-kata romantisnya. Ku rasakan sepersekian detik, waktuku terhenti. Aliran darahku seolah membeku, digantikan oleh lelehan rayuan puitisnya.


"Kalau ngelamun lagi, aku cium lagi nih," ancam Dion.


Kata "CIUM" dari Dion itu, berhasil membuat darahku yang beku kembali mengalir normal.


"Aku gak izinin," jelasku tiba-tiba.


Masih terberkas jelas bagaimana aku kelu karena kecupannya beberapa menit yang lalu. Apa yang akan terjadi jika ia akan mengambilnya lagi? Rasanya aku akan langsung berubah menjadi patung es.


"Gak masalah, aku akan sabar sampai izinmu turun," Dion tersenyum manja.


"Kalau aku ngizininnya 50 tahun lagi, gimana," tanyaku.


"Itu berarti, aku akan menua bersamamu. Aku akan menghabiskan hari-hari bahagia denganmu. Itu memang mimpi yang ingin aku wujudkan, dan kau akan mengabulkannya. Bukankah aku seharusnya bahagia?" tukas Dion yang terus saja mengeluarkan rayuannya.


Aku menghela nafas dalam-dalam. Mendebat soal perasaannya kepadaku itu, mustahil akan ku menangkan. Dan 1 hal yang bisa ku lakukan hanyalah menghentikan debat itu, percuma dilanjutkan, hanya akan capek hati dan pikiran tentunya.


"Kalau izin menciummu belum keluar, apakah posting foto ini di Instagram kamu izinin?" Dion menunjukkan foto kami berdua yang baru diambil tadi.


"Terserah, asal kamu gak baper aja," izinku.


"Baper? Bukannya kamu yang udah baper karena foto ini," Dion menggodaku.


"Aku gak pernah bilang gitu," jawabku.


"Emang gak bilang, tapi aku bisa ngerasain kalau kamu udah baper. Kamu salah tingkah di depanku, masa aku gak tau. Udahlah, akuin aja kalau kamu mulai jatuh cinta sama aku," Dion berucap dengan PDnya.


Aku mengakui, aku tadi memang sempat baper waktu foto. Itu terjadi karena karena pose kami yang terlalu intim menurutku. Hanya sebatas itu, gak lebih. Apalagi kalau sampai dikatakan aku mulai jatuh cinta sama dia. Gak ada itu!


"Jangan membohongi perasaanmu sendiri. Kalau kamu memang mulai cinta sama aku, nikmati saja. Aku gak akan memaksamu untuk mengakui perasaanmu padaku." tutur Dion sambil menatap mataku.


Aku tak kuasa untuk menatapnya balik dalam jangka waktu yang lama. Segera ku tundukkan pandanganku. Aku tak mengerti apa yang terjadi denganku. Tapi satu yang jelas, aku nyaman bila dia berada di dekatku. Apakah nyaman itu, bagian dari perasaan yang bernama CINTA?


"Aku gak menuntut bibirmu untuk mengucap cinta untukku. Aku hanya butuh ikhlasmu, untuk membiarkanku selamanya di sampingmu." Dion mengangkat daguku sehingga pandangan mataku kembali ke matanya.


Ku temukan binar mata yang benar-benar dipenuhi oleh cinta di indra penglihatannya. Aku terpesona, hatiku berdesir, ada gelora aneh yang bergelombang menghantam aliran darahku. Pasokan Oksigen ke otakku sepertinya menipis, nafasku tercekat, aku merasakan cinta yang over dosis itu menjalar ke tubuhku.


"I love you," ucap Dion lembut yang semakin membuatku melayang terbawa perasaan cintanya.


Aku perlahan menyadari, telah begitu lama terhipnotis oleh tatapannya. Aku mengalihkan arah penglihatanku.

__ADS_1


"Apa kamu menembakku lagi," tanyaku tanpa menatap mata Dion.


"Apa kamu membutuhkan itu untuk status kedekatan kita selanjutnya," Dion selalu begitu, tiap ku tanya, dia akan bertanya balik.


Aku tergagap. Aku selalu kalah, bila harus berbicara padanya tentang rasaku dan dia.


"Kamu menganggapku sebagai apa?" Dion bertanya lagi.


Kebingungan adalah jawab atas pertanyaan Dion kali ini. Aku menunduk lagi. Ku remas jemariku karena terjebak dengan pertanyaanku sendiri.


"Kamu gak bisa menjawab," Dion lagi- lagi bertanya.


Aku mengangguk. Ku tengadahkan pandanganku, mendapati Dion masih menatapku. Aku kembali mengalihkan pandanganku.


Sesungguhnya, aku juga bingung dengan hubungan kami. Dia jelas, mencintaiku.


Aku?


Aku bahkan tidak tau, bagaimana perasaanku terhadapnya.


Teman?


Jika hanya teman, tak kan ada pelukannya yang ku balas dengan pelukan penuh kenyamanan rasa.


Sahabat?


Kekasih?


Dion selalu mengutarakan perasaannya, tapi aku juga selalu menampik perasaannya.


HTS?


Ku rasa aku yang membuat status hubungan kami gak jelas.


Melihatku terkungkung dalam lamunan, Dion merengkuhku dalam pelukannya.


"Aku adalah tempatmu kembali, bukankah aku sudah berulangkali mengatakan itu. Kenapa kamu masih tak mengingatnya juga." ucap Dion sambil mencubit hidungku mesra.


"Tersenyumlah, dari tadi aku hanya melihatmu tertegun," Dion berusaha mencairkan suasana diantara kami.


"Sini HPmu," Dion meminta.


"Untuk apa," tanyaku.


"Sini dulu," pintanya tanpa memberi jawaban atas tanyaku.

__ADS_1


Aku pun menyerahkan ponsel berchasing biru mudaku ke tangannya. Dia melepaskan pelukannya dan mulai mengutak-atik HPku. Tak butuh waktu lebih dari 5 menit, dia sudah menyerahkan HPku lagi. Ku tatap Dion penuh selidik.


"Aku gak melakukan apa pun, kenapa kamu melihatku begitu," Dion membenarkan posisi duduknya.


Aku merasa kalau Dion pasti melakukan sesuatu terhadap ponselku. Aku pun lantas mengecek HPku. Oh ... rupanya ini yang dia lakukan?


"Apa ini maksudnya," tanyaku sambil menunjukkan wallpaperku pada Dion.


"Obat kangen," jawab Dion enteng.


"Ngapain kangen, tiap hari kamu juga gentayangin aku," jawabku.


"Jadi, kalau aku gak ada, kamu bakalan kangen," tanya Dion.


"Ya bukan gitu juga," ungkapku.


Senyum manis itu kembali menghias bibirnya.


"Aku mau ke Yogya, kamu jangan kangen ya," tukasnya.


"Kapan?" tanyaku.


"Besok pagi," jawabnya kemudian.


Aku mengangguk tanda mengerti. Ku teguk kembali air mineralku, membasahi kerongkonganku yang sedari tadi kering karena harus melayani debatnya. Sebenarnya, ku sengaja minum untuk mengurangi pikiranku yang sedikit terguncang dengan rencana kepergiannya.


Selama ini, aku tak pernah peduli dengan keberadaannya. Dia datang atau pergi, tak ku anggap. Ini pertama kalinya, dia meminta izin padaku, dan rasanya ada gejala aneh di relung hatiku. Seperti rasa takut ditinggalkan.


"Haruskah kamu ke Yogya," aku memberanikan untuk kepo.


Dia melihatku dan mulai mengatur nafasnya. Aku menangkap sinyal gak baik, dari gelagatnya. Jangan sampai, dia mengatakan sesuatu yang ku pikirkan.


"Iya, maafkan, aku, ini keputusan yang harus ku ambil meskipun aku gak mau," ungkapnya dengan siratan wajah penuh kesedihan.


Jangan teruskan! Kata-katamu semakin menjurus pada apa yang ku pikirkan. Aku gak siap mendengarkan!


"Aku pasti kembali untukmu, jangan kau pindahkan hatimu," Dion semakin serius.


Tidak ... tidak ....


Aku rasa mataku mulai berkaca-kaca. Aku sudah tak mampu menahan sesak perasaanku. Akankah aku kembali ditinggalkan saat aku sedang sayang-sayangnya.


Sayang-sayangnya?


Apakah aku juga sayang Dion?

__ADS_1


Entahlah ....


__ADS_2